
Kania ingin membalas ucapan Prabu tapi dengan cepat Prabu menyingkap kaus Kania dan segera mengeluarkan sebuah kotak sedang dari balik setelan jasnya dan mengolesi luka menganga Kania yang berbentuk garis panjang sepanjang sepuluh sentimeter menggunakan kapas yang telah di siram alkohol.
Prabu juga mengoleskan obat luka ke kasa kemudian menempelkan kasa bersama perban di luka tersebut. Semuanya Prabu lakukan kurang dari lima menit dan akhirnya luka tersebut lumayan membaik.
Kania melihat itu merasa kagum dengan hasil kerja Prabu yang rapi dan cepat. Prabu yang sadar mendapat tatapan sendu dari Kania memberikan senyum terbaiknya.
"Tidak usah merasa utang budi, aku sering terluka jadi aku sudah handal dalam menangani hal seperti ini, aku bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain," jelas Prabu.
Kania sedikit berdehem dan mengalihkan tatapannya karena ada rasa tidak enak hati atas semua perlakuan Kania sebelumnya kepada Prabu.
Dia orang satu-satunya yang selalu bisa membaca isi kepala Kania walau tanpa di suruh bahkan di ganggu gugat, Kania merasa harus waspada untuk itu.
"Di mana Ulfa?," tanya Kania.
Prabu mengabaikan pertanyaan Kania, dia kembali berdiri tegap dan menatap mata Kania, kemudian memeluk Kania spontan, membuat Kania terhenyak dengan jantung yang sudah tidak karuan lagi. Prabu mengelus rambut Kania lembut.
"Aku akan menjagamu dari kejauhan, good luck," bisik Prabu kemudian melangkah pergi meninggalkan Kania.
Kania masih terdiam di tempat, itu pertama kalinya dalam hidup Kania merasakan sisi rapuh dan sisi semangat muncul secara bersamaan, perasaan Kania sulit untuk di gambarkan, tapi Kania masih berharap alangkah dia ingin pria yang tegap dan tinggi itu kembali memeluknya lebih lama lagi kemudian memberikan harapan tentang masa depan yang indah dan damai.
Kania akhirnya kembali fokus dengan tujuannya. DIa melangkah dengan hati-hati ke area parkir yang kosong melompong. Dia meraih ponsel yang berada di sakunya dan berusaha menelpon Papa dan mamanya, sedangkan tangan kiri Kania telah siap dengan senjata dan tangan kanannya menempelkan ponsel di telinganya.
Hasilnya masih sama tidak di angkat. Kania kembali melanjutkan langkahnya dengan pelan agar langkahnya tidak terdengar sama sekali. Tidak berapa jauh di hadapan Kania, pilar-pilar besar dengan huruf berwarna kuning menyala sebagai tanda di mana mobil parkir berpendar.
Kania berdiri menunggu, siap menarik senjatanya yang telah terkokang. Sikap waspada dan telinga yang berusaha menangkap suara sekecil apapun yang berada di sekitar area tersebt.
Tiba-tiba sosok bayangan hitam tidak jauh dari Kania muncul. Dia bisa saja orang asing. Dia juga bisa saja Prabu!
Mata Kania memicing menelusuri sosok tinggi besar yang berada tidak jauh di hadapannya dengan menggunakan pakaian serba hitam dan menggunakan penutup mulut itu. Tanpa menunggu, Kania menarik senjatanya. Kania tidak membidik bagian yang bisa membunuh sosok hitam tinggi tersebut, Kania hanya ingin memastikan siapa musuh yang sebenarnya. Yang Kania lakukan hanyalah tindakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
Tiba-tiba Satu sosok bayangan hitam di tarik keluar oleh sosok tinggi itu, tubuhnya sedikit kurus dan lebih pendek namun menggunakan kostum yang sama dengan sosok pria tinggi yang berada lebih dulu. Begitu cepat dan tepat Kania menarik pelatuk senjatanya dan membuat dia mengeluarkan dua peluru tanpa suara yang membuat salah satu di antara mereka terjatuh.
Sosok yang lebih tinggi melompat dan berlari meninggalkan tempat tersebut, dia menghilang dalam kegelapan, membiarkan lelaki yang satunya tergelatak tak beradaya begiu saja.
Kania berencana ingin menembak lagi tapi firasat Kania mengatakan bahwa dia mengenali sosok itu. Kania berlari kencang mendekat menyingkikan pistol yang berada di tangannya dengan genggaman longgar, kemudian menarik penutup mulut yang di gunakan lelaki itu,
"Papa?!," pekik Kania.
Kania memeluk papanya dan membisikkan dengan perasaan yang geram, "Kamu akan baik-baik saja Pa, kita akan baik-baik saja," ucap Kania yang tertahan.
"Pa, maafkan aku pa,".
"Nia, kita sedang di awasi,".
"Stttt..." Kania berdesis dan menahan diri, dia di landa panik dan rasa khawatir. Papanya bisa saja kehabisan darah di tempat itu dan dia tidak bisa melakukan apapun.
"Kita di awasi di tempat ini, tapi papa tidak tahu di mana tempat persembunyian mereka," ucap Aditama terengah-engah.
"Papa tahu, mama di mana?,".
"Papa nggak tahu...."
Kania mengeratkan rahangnya karena rasa kesal. Kania kemudian mengamati luka tembak di kaki papanya. Kania bisa menangani luka papanya tapi apakah dia masih memiliki bany waktu untuk menyelamatkan mama nya?
Tiba-tiba suara menggema, "Membunuhmu adalah sebuah mimpi yang akan terwujud hari ini, bahkan sudah sejak lama,".
Kania berusaha mengingat, suara itu terdengar familiar dan tedengar dekat dari tempat dia berdiri saat ini.
"Balck Shadow?," gumam Kania yang mengira-ngira resah. Kania kemudian mentaap dengan tajam di setiap sudut area di tempat tersebut tapi tidak menemukan apapun.
"Aku adalah bayanganmu," suara itu lagi.
Kania kemudian meregangkan senjatanya dan mengarahkannya ke bawah. Lelaki itu ternyata berada di arah belakang Kania.
"Dia bayangku? bukan black shadow," Kania tengah sibuk berpikir.
"Aku selalu sendirian, bagaimana bisa aku memiliki bayangan hidup, konyol sekali," gumamnya.
"Jangan marah karena kita belum bertemu, saat kita bertemu, disitulah takdirmu, hidup atau mati," suara itu lagi kembali menggema di setiap sudut.
Kania kembali mengingat suara tersebut, Kania pernah mendengarnya di markas the bloods, tapi Kania masih bingung siapa dia sebenarnya. Kania menahan nafas.
"Ibumu berada di lantai rooftop, " suara itu kembali menggema di sertai dengan suara terkekeh mengejek.
"Kau ingin menyelamatkannya, bawa sekalian pria tua itu atau aku akan membunuhnya di sini," suara itu kembali menggema untuk merusak konsentrasi Kania.
"Bukankah kau yang paling terkuat di semua mafia beradarah dingin? kau tidak memiliki perasaan, kau wanita iblis," ucap pria tersebut dengan suara yang berpindah-pindah di setiap sudut dengan sangat cepat dan terkekeh mengejek Kania.
Dada Kania naik turun menahan amrah, menelan rasa tidak beradaya.
"Dasar penghianat!," gumam Kania dengan menajam.
Bayangan sosok pria itu telah lenyap. Prabu benar, ada seseorang yang sedang bermain dengannya dan ingin menghabiskan tenaganya hingga tidak tersisa lalu membunuh Kania dengan perlahan.
"Di mana Prabu?," pikir Kania.
Kania kembali melihat papa nya yang terduduk Kania kesakitan dengan wajah yang pucat. Kania kemudian terduduk dan menggendong papanya di punggung menuju lift, Kania merangkul pria tua itu dengan lembut selama menunggu lift menuju rooftop.
"Sebenarnya apa yang terjadi Kania?," tanya papanya dengan suara bergetar karena tidak menyangka tubuh ringkih Kania bisa membopongnya.