
Kania sangat marah, dia membanting ponselnya saat itu juga dan menginjak-injaknya penuh emosi yang meluap-luap. Nyaris membabi buta. Kania kemudian berjalan ke area parkir untuk meninggalkan tempat tersebut dengan mencari mobil yang bisa Kania gunakan untuk meninggalkan gedung pencakar langit.
Tiba-tiba betisnya di pukul menggunakan rotan panjang, pinggangnya di sabet dan leher Kania di cekik dari belakang. Rambutnya di tarik secara sadis. Kania saat itu ingat bahwa dia sudah tidak menggunakan kaos lagi, hanya tanktop dan cengkraman kasar itu mulai menusuk daging bahunya.
Kania berontak, tetapi mereka banyak dan sangat kuat. Mata Kania mulai meolotot dan kesulitan bernafas akibat di cekik. Pertahanan Kania runtuh karena kelelahan, Ulu hatinya di tendang tanpa belas kasihan kemudian pipi Kania di tampar tanpa ampun.
Sepuluh meter dari tempatnya di siksa, ponsel Kania terus saja berkedip. Sedangkan posisi Kania berlutut dan membungkuk. Dia menahan kesakitan yang mendera di seluruh tubuhnya. Kania kemudian menjatuhkan diri lalu dalam kondisi tiarap dia berguling dengan cepat meraih ponsel tersebut dan melemparkan tepat di kepala pria yang ingin kembali menyiksanya dengan sangat keras.
Hanya hitungan detik, lampu pada area tersebut menyala dan satu persatu mereka tergelatk jatuh tidak berdaya. Kania merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi. Kania berusaha bangkit dan memeriksa salh satunya. Dia melihat sebuah jarum kecil tertancap di tubuh mereka.
"Tembakan bius?," gumam Kania.
Seseorang sedang membantunya dari tempat yang tidak terlihat. Tanpa ada suara tembakan. Kania kemudian berbalik dengan cepat merasakan ada pergerakan di sebuah lorong yang tidak jauh dari tempat Kania saat itu berdiri.
Kania sekuat tenaga berlari, dia yakin pria dengan siluet hitam itu adalah pimpinan dari semua pria yang menyiksanya. Pria tiba-tiba menghentikan langkahnya di tengah sudut lorong, dia berbalik dengan mengacungkans enjata ke arah Kania.
Pria tersebut membuka penutup wajahnya. Membuat mata Kania meolotot.
"Antonio? bukankah kau sudah mati?,"
Tak, tak, tak..
Seseorang terdengar mendekat dengan langkah yang sedikit anggun. Dia berdiri tepat di belakang pria tersebut kemudian berjalan dan berdiri tepat di samping Antonio.
Kania yang melihat itu tersenyum kecil. Senyum kebencian dan terluka akibat penghianatan.
"Riska? apa kau benar-benar ingin membunuhku?," tanya Kania.
"Ha ha ha, kenapa tidak?," timpal Riska yang merupakan orang kepercayaan Kania yang telah menggantikan posisinya saat itu memimpin the bloods.
"Yolan, yolan.. aku sudah menunggu hari ini,".
"Baiklah, apa alasanmu yang sebenarnya?,".
"Apakah kau pernah bertanya alasan kepada semua korban kejahatanmu saat mereka kau bunuh?, " teriak Riska
"Apa yang kau katakan? hah?,".
"Kau ingat Andrew? yang kau bunuh karena tidak menjalankan misi untuk membunuh pimpinan mafia di lebanon? dia adalah kekasihku! dan aku akan membalsnya untuk itu, lagi pula the bloods tidak akan bertahan tanpa aku bukan kamu." teriak Riska dengan emosi.
"Kekasih?,".
"Ha, kau tidak akan tahu karena kau di didik untuk tidak memiliki hati. Bagaimana rasanya melihat orang yang penting di dalam hidupmu dalam bahaya atau kehilangan mereka?,".
Kania terdiam, dia mencerna ucapan Riska. Ada rasa bersalah yang menyeruak di dalam hatinya. Dia tidak pernah mengetahui hubungan Riska dan Andrew yang ternyata sudah berjalan sangat lama.
Kania terlihat kurang fokus membuat Riska memiliki pelung untuk mengacunkan senjata ke arah Kania dan ingin melepaskan sebuah peluru tapi tiba-tiba dengan kasus yang sama, dia terjatuh di lantai bersama dengan Antonio tanpa sebab yang jelas.
Sosok Prabu berjalan mendekati Kania.
"Yolan semuanya sudah aman,".
Kania hanya terdiam. Prabu yang melihat itu kembali memeluknya dengan erat. Prabu tahu perasaan Kania saat itu, dia telah di hianati oleh orang yang telah di anggap saudaranya sendiri.
Prabu kemudian melepaskan pelukannya dan melihat dua orang yang tengah tergeletak di hadapannya. Prabu seakan bertindak sebagai dokter yang sedang memeriksa pasiennya, dia memeriksa Riska dan Antonio dengan sangat serius, seakan mencari sesuatu di sana.
"Apa yang kau cari?,"
"Aku cuma khawatir ada bom waktu yang terpasang di tubuh mereka,".
Prabu kemudian kembali menjelaskan jika jarum bius ynag berada di tubuhnya mereka akan bertahan selama dua hari, cairan tersebut dengans angat mudah masuk kepembuluh darah dan menyebar di sana menekan sel saraf aktif mereka. Kania yang mendengar itu sudah tidak peduli. Siapa pun Prabu yang sebenarnya dia tidak peduli yang jelas saat itu dia sedang terpesona.yang tidak dapat di gambarkan dengan kata sanjungan sekalipun.
Prabu kemudian kembali mendekati Kania dengan menggunakan sebelah tangannyasaja dan menggamit pinggang Kania, menempelkan tubuhnya. Kembali memeluk dengan hangat. Prabu akhirnya melihat sebuah tato bunga di pundak Kania. Awalnya Prabu ingin mengomentari tato tersebut tapi dia yakin, Kania pasti memiliki alasan untuk pembuatan tato itu sendiri.
Mereka saling memeluk tanpa suara. Mereka bahkan belum pernah sedekat itu tanpa saling menjauh ataupun saling menyakiti.
"Yolan, aku sangat khawatir sama kamu," bisik Prabu.
Mendengar itu pipi Kania merona.
"Thanks. Hmmm, apakah memeluk Ulfa jauh lebih enak dari pada memelukku? siapa yang lebih enak?," tanya Kania.
Prabu terkekeh mendengar ucapan Kania. DIa mengelus kepala Kania dengan menatap Kania gemas.
"Kenapa? bukannya semua perempuan rasanya sama ya?,".
Kania mendengar ucapan Prabu akhirnya mendoorng Prabu dari pelukannya.
Prabu hanya bisa menarik dan mengembuskan nafasnya berat.
"Kenapa sih perempuan paling suka menyanyakan hal-hal yang nggak penting yang bisa nyakitin hati mereka sendiri? ngapain nyebut nama ornag yang seharusnya nggak perlu untuk di sebut selamanya?," ucap Prabu dengan menarik hidung mancung Kania.
Prabu kemudian menarik Kania lagi dalam pelukannya dan memeluk Kania sangat erat dan hangat.
"Aku bisa menyembuhkan semua memar ini," biisk Prabu kemudian melirik Kania kemudian mengernyitkan wajahnya heran dan melepaskan pelukannya.
"Tumben kamu nggak ngamuk?" timpal Prabu kembali.
"Mungkin besok setelah aku cukip istrahat," timpal Kania dengan memutar matanya jengah.
Prabu akhirnya tertawa lepas.
Drrrrttt..
Drrrt.....
Mereka saling menatap dan mencari sesuatu yang terdengar bergerak itu. Kania melihat sebuah cahaya kecil yang tidak jauh dari tempatnya. Dia meraih benda kecil tersebut dengan heran.
"Padahal ponsel ini sudah aku injak dan kujadikan tameng, kenapa masih menyala?,".
"Ya, gara-gara itu aku kesulitan mencarimu," ucap Prabu dengan menghembuskan nafasnya yang terdengar berat.
"Kamu nggak ngangkat telfonku," timpal Prabu lagi.