
Kania tumbuh semampai dengan tubuh yang seksi ternyata menyembunyikan monster jahat berkepala ular dalam mitos Yunani, Medusa si penyebar kutukan. Kecantikannya adalah sebuah kematian bagi setiap orang yang terlibat.
Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sisi gelap seseorang memang adalah obat mujarab untuk membentuk seseorang menjadi jahat. Persis seperti Kania. Rasa marah yang tergulung-gulung laksana putaran tornado di dadanya justru membuat Kania menjadi malaikat maut cantik yang tidak pernah meleset.
Sebelas dari sepuluh misi atau tugas selalu di selesaikannya dnegan sempurna walau terbilang sadis. Lelaki itu heran, bagaimana dengan tangannya yang terlihat kecil dan lemah itu bisa memegang sebuah belati dan beberapa senjata kesayangannya untuk mengahbisi nyawa musuh dengan sangat sadis.
Potongan anggota tubuh, merobek, menembak dari jarak yang cukup jauh tepat di kening seseorang tanpa melukai orang lain kecuali target itu sendiri, membunuh orang engan sangat halus. Bagaimana bisa dia melukai orang tanpa melukai orang-orang di sekitarnya dan tanpa menimbulkan kecurigaan bagi masyarakat yang berlalu-lalang.
Berbulan-bulan dia memikirkan cara untuk menyingkirkan Kania. Murni bisnis, tidak ada dendam pribadi. Melenyapkannya adalah perintah yang harus di lakukan. Kepuasannya akan setara dengan rakyat yang membunuh pimpinan karena kejahatannya dan membiarkan mayatnya berada di hamparan padang pasir tanpa memperdulikannya. Ya, orang jahat harus merasakan kesakitan seperti itu. Pikirnya!.
Dia melihat seorang pria yang tampan mengejar Kania keluar gedung tersebut. Kepala Kania yang termasuk tinggi hanya bisa mencapai dada bidang pria tersebut. Sungguh aneh, priatersebut sudah mencari tahu informasi tentang pria tersebut tapi tidak tercatat dimana-mana, tidaka da satupun informasi yang penting muncul selain seorang pebisnis yang handal.
"Tidak mungkin, wanita ular itu di pasangkan dengan pria dengan latar belakang yang tidak memiliki pengaruh sama sekali di dunia hitam," batinnya.
Prabu Canan. Lelaki itu mencari tahu informasi tentangnya. DIa hanya bisa merasa aneh dengan beberapa data yang dia temukan tentang Prabu tunangan Kania. Prabu sering melakukan perjalanan ke Amerika tanpa menggunakan paspor.
Dia memperhatiakan Prabu lalu tersenyum di dalam kegelapan, Prabu terlihat menunduk, membisikkan sesuatu ke telinga Kania dan membuat Pipi Kania merona. Dia yakin, jika sedikit bersabar dia bisa melenyapkan Kania hanya dengan sekali tebas saja.
"Ternyata Pria itu yang bisa membuat nona es mencair," gumamnya.
Dia tersenyum dan berpikir bahwa Malaikat pencabut nyawa yang di kenalnya itu kembali menjadi manusia dan itulah tujuan utamanya, bersabar sambil menguntit kemana-mana. MEngetahui apa saja yang paling Kania cintai dan ingin lindungi, seberapa cepat responnya, seberapa peka perasaannya setelah menjalani kehidupan normal selama satu tahun. Dia sudah tahu semuanya. Rumahnya, teman mainnya, tempat kerjanya bahkan kekuatannya.
"Takdirmu adalah membunuh atau di bunuh sebentar lagi..." gumam pria tersebut.
Pria tersebut masih memperhatikan Prabu yang berusaha terlihat bernego dengan Kania, "Ck, ck ck, dia menyukai gadis medusa itu? sebentar lagi dia akan patah hati," gumamnya lagi.
Matanya memicing memperhatikan gerak-gerik Kania, kondisi Kania tidak benar-benar baik. Karena dia sudah berhasil beberapa kali melukai Kania tapi belum berhasil membunuhnya.
"Tidak akan lama lagi dia akan mati di tangan lelaki yang menjadi tunangannya, HA HA HA," gumamnya kembali karena telah memiliki sebuah skenario pembunuhan Kania sedetail mungkin di kepalanya. Ia hanya akan menunggu dengan sabar.
Mobil Prabu terlihat meninggalkan pelantaran gedung, bergabung di keramaian. Sedangkan pria tersebut tetap mengikuti mobil Kania dan Prabu hingga akhirnya dia kehilangan jejak karena Prabu menancap gas sempurna dengan mobil pengeluaran baru tersebut.
"Sial," teriak lelaki tersebut dengan memukul ganggang stirnya.
......................
Minggu pagi, Kania sedang sibuk mengetik di depan lptopnya dengan memanfaatkan waktu membuka internet. Posisi tubuhnya menelungkup santai di atas tempat tidur, di smapingnya tergeletak beberapa cemilan dan susu kotak yang sudah kosong.
Kania sudah berkali-kali mengetik kata kunci
'cara memutuskan petunangan dengan efektif',
'cara mengetahui tunangan selingkuh, 'cara menggagalkan pertunangan,
'cara kabur dari tunangan,'
'cara membenci tunangan,' dan banyak lagi tanpa hasil yang memuaskan. MUngkin saja kata kuncinya terlalu panjang atau mungkin saja sebenarnya permaslaahan itu terlalu mudah sehingga internet tidak menyediakan solusinya.
Kania medesah lelah. Bukankah dia bisa saja terbang ke kota lain saat itu juga walau hanya sekedar untuk menghilangkan penat. Dia hanya menaiki taksi menuju bandara tapi hatinya yang selalu ingin melihat wajah datar dan dingin Prabu membuat Kania merasa berat. Di tambah semalam dia seperti di yakinkan oleh hatinya sendiri untuk mempertahankan persaaannya walau bertepuk sebelah tangan.
"Ah Gila,!", Desis Kania kepada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia masuk kedalam perangkapnya Prabu.
Ponsel Kania berkedip-kedip sebuah pesan teks terpampang di layar depannya dan sebuah panggilan masuk yang bisa di katakan hampir bersamaan dengan pesan teks tersebut,
"Aku free hari ini," ucap Prabu dalam telpon.
"Kamu sudah tau tempat yang akan kita datangi untuk test fod katerhing pernikahan kita kan?" tanya nya lagi.
Kania langsung merasa bahwa mengambil cuti dan tambahan libur dari bonus bantuan Ulfa adalah sebuah kesalahan terbesar sepanjang hidupnya. Sekarang dia malahan seperti tahanan yang harus mengikuti semua jadwal kegiatan penjara dengan Prabu sebagai sipirnya.
"Kamu tau nggak sekarang jam berapa?,".
"Jam delapan, aku sudah di kantor sejam yang lalu, ini sudah siang," ucap Prabu kalem.
"Gini aja, aku nggak ikut test food-nya,aku apa aja suka,lagipula seleramu pasti bagus,". timpal Kania dengan menutup telponnya.
Kania kemudian membaca teks yang belum sempat dia baca saat Prabu menelfon tadi. Pesan teks dari Ulfa.
..."Thanks untuk bantuannya, aku dan Prabu kekasihku sangat bahagia, kami sudah balikan karena bantuanmu"....
Setelah membaca itu, Kania menggerutu. Siapa yang tidak menerima saat meja di tata dengan sedemikian romantis, makanan enak hasil kerja keras kekasihnya, berdua saja di keremangan malam di lantai empat belas apartemen yang mewah. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa pukul 08.30 pria itu sudah ada di rumahnya?
Bagimana bisa Prabu membangunkannya tepat waktu? Bagaimana bisa Prabu masih ingin melanjutkan pertunangan ini kecuali dia sinting, psikopat, atau memiliki kembaran? ahh, atau mungkin saja dia di antara salah satu poin sinting atau psikopat.
Ponsel Kania kembali berdering, dia melihat nama Prabu yang berada di sana.
"Ya," sahut Kania ketus.
"Sebaiknya kita tetap pergi berdua, nggak ada debat. Aku akan jemput kamu satu jam lagi,". ucap Prabu kemudian mematikan telponnya.
Kania hanya terdiam seakan otaknya berusaha mencera dengan baik ucapan Prabu yang mendadak itu.