My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
37. My Wife Is Mafia



Kania mengingat setipa kesedihan mengingat ibunya, Ayah Guzman selalu memberinya hukuman dengan push up seratus kali , lari keliling lapangan sepak bola sebanyak lima kali saat tahu Kania bersedih.


Kania sesekali memperhatikan dedaunan yang berjatuhan di sekelilingnya dia juga melihat beberapa wanita dan pria seusia dirinya sedang bersantai dan membentuk kelompok kecil dengan tertawa, tidak jauh dari itu Kania juga melihat banyak anak kecil yang berlarian dan ada juga yang sedang melakukan banyak adegan lucu yang bisa menghibur mereka.


Selama ini Kania di bentuk untuk fokus dengan perintah untuk mengerjakan misi saja, misi untuk hari ini, hari esok dan tidak memikirkan apa yang telah terjadi sebelumnya. Kania kuat, dia selalu kuat. Hingga orang-orang baru di sekelilingnya datang meruntuhkan pertahanannya, terutama Prabu.


"Aku suka sama kamu Prabu, aku cinta sama kamu,". gumam Kania dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Beberapa menit kemudian, Kania menunggu hingga seluruh luapan emosinya meluap. Air mata di pipinya mengering dan matanya yang memerah dan bengkak kembali normal.


Perlahan di besutnya sisa-sisa air mata itu, di tutupnya kaca jendela mobil kemudian menyalakan mesin dan bersiap untuk kembali ke rumah. Perasaannya jauh lebih baik sekarang. Tangisan malah memberinya kekuatan yang berbeda untuk menghadapi permasalahan hatinya.


Kania bahkan telah merasa kembali menjadi manusia setelah bertahun-tahun yang di jalaninya tanpa melibatkan perasaan.


"Ayah, kalau kau tahu ini apa yang akan kau lakukan?," gumam Kania mengingat Guzman.


Kania kemudian memikirkan Guzman yang sudah sejak lama dia tidak mengirimkan pesan lagi kepadanya, dia memutar-mutar ponselnya dan kembali berpikir. Beberapa saat dia kembali mengecek ternyata ada empat panggiilan tak terjawab Prabu dan juga sebuah pesan teks yang menanyakan keberadaannya.


Vivian mungkin benar, Prabu tidak menyukainya. Dia hanya berperan sebagai tunangan dan bertanggung jawab untuk status itu. Kania kemudian membalas pesan teks Prabu sambil menyetir dan dia berpikir untuk siap berhadapan dengan Prabu. Kania harus stabil, harus normal dan jangan samapai Prabu mengetahui perasaannya.


......................


Beberapa menit kemudian, Kania melihat mobil Prabu terparkir di depan rumahnya, halaman rumah Kania sempit maka dari itu mobil Kania terparkir di tepi jalan rumah. Kania kemudian melangkah masuk dengan pikiran yang berkecamuk.


"Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan dengan wanita lain yang aku peduli saat ini adalah apa yang kamu lakukan bersamaku," batin Kania.


Prabu yang melihat Kania melangkah ke arahnya mengatur nafasnya yang tadi terpancing menguji kesabarannya karena menunggu Kania di halaman rumahnya sangat lama.


"Dari mana kamu?,".


"Apa kita jadi test foodnya?" timpal Kania.


"Aku terserah karena makanan disajikan untuk para tamu bukan untuk pengantin, lagi pula pikirkan tentang teman-temanmu, makanan seperti apa yang mereka sukai,".


Tidak bisa di sangkal lagi pikiran Kania, bahwa benar yang di katakan sahabatnya bahwa Prabu hanya memenuhi tugasnya sebagai tunangan, tidak lebih.


"Jadi kita ke restauran mana terlebih dahulu,?" tanya Prabu.


"Mama sudah mengirim pesan, tunggu...," ucap Kania dengan mencari ponselnya di dalam tas.


"Megarasa," timpal Prabu yang mengingat ucapan Mamanya.


"Hah?"


"Iya, di restauran itu. Sebenarnya aku ingin memilih restauran lain tapi kata Mama restauran itu kokinya bagus dan makanannya enak," timpal Prabu.


"Kamu sepertinya tidak menyukai restaurant tersebut, kamu punya pilihan restauran lain?' timpal Prabu lagi.


"Tentu enak, karena kamu yang sudah putus dengan Ulfa karena masakannya kalian kembali bersama kan?" batin Kania dengan emosi.


"Stop, Kania. Stop emosi." batin Kania kembali dengan batin yang sedang berperang.


"Kamu mau makan siang di sana?," tanya Prabu lagi.


"Tidak. Bagaimana kalau aku masak saja kita makan siang di sini,". ucap Kania dengan sedikit panik.


Apa jadinya jika mereka berdua makan di restaurant tersebut.


Apalagi bertemu dengan Ulfa, dia tidak ingin bernasib sama dengan wanita yang lainnya akan memperebutkan lelaki di tempat umum walaupun sebenarnnya dia akan menjadi pemenang karena dia adalah tunangan Prabu.


"by the way, berani sekali dia mengajakku makan siang di sana, dia tidak takut ketahuan sama Ulfa?,".


"Untuk kesekian kalinya bahkan musuh negara mudah di tebak di banding pikiran Prabu," pikir Kania kembali.


Prabu menatap mata Kania dalam dan menelisik wajah Kania untuk mencari kepastian ucapannya, "Kamu bisa masak?,".


Kania terkekeh mendengar pertanyaan Prabu, "Kalau dia mau romantis, aku bisa melakukannya juga,". batin Kania,


"Kan ada kamu, kamu bisa bantuin masak," timpal Kania.


Prabu melihat Kania terkekeh dia tersenyum tipis dan sedikit takjub dengan gigi yang di tampakan Kania, senyumnya dan suara tawa kecilnya sangat menggemaskan.


"No, aku nggak tahu masak dan nggak suka masak," timpalnya.


"Well,,, jawabannya sudah dapat., kita sudah dapat ketringnya, urusan kita hari ini sudah selesai." ucap Kania yang merasa ingin menangis karena baru saja mendapat penolakan dari Prabu. Sialnya saat itu dia malah berharap Prabu cepat pergi dari hadapannya.


"Baiklah, aku juga sudah sangat, amat lama di sini, nggak enak juga sama pembantumu, bertamu sedari tadi tapi nggak pulang-pulang,"ucap Prabu yang ingin melangkah pergi tapi tiba-tiba sjaa dia meilirik jemari Kania.


"DImana cincinmu?".


Prabu sangat kesal jika perihal cincin itu, dia berusaha memahami Kania, apakah mungkin Kania tidak menyukai cincinnya karena modelnya yang sedikit kuno atau Kania memiliki alasan yang lain.


Bagi Prabu, Kania wajib menggunakannya.


"Aku antar kamu sekarang untuk memesan cincin sesuai yang kamu inginkan supaya cincinnya tidak dilepas-lepas,".


"Tidak usah, aku cuma lupa menggunakannya," timpal Kania kemudian mencari cincin tersebut di dalam tas.


Beberapa menit Kania mengacak tasnya tapi tak kunjung dapat, dia akhirnya menumpah isi tas tersebut di hadapan Prabu dan mencari cincinnya yang ternyata terselip di buku agenda hariannya.


Prabu yang melihat cincin itu terlebih dahulu segera mengambilnya dan meraih tangan Kania "Aku pasangkan,".


Prabu memegang tangan gadis itu lembut dan memasangkan cincinnya perlahan, dia kemudian menatap mata bening tanpa ekspresi di hadapannya itu.


"Thanks," ucap Kania dengan buru-buru menarik tangannya. Bersentuhan dengan Prabu membuatnya berdebar-debar tidak karuan.


"Its okay, memang seharusnya aku yang pasangkan, ". timpal Prabu.


Tiba-tiba dering telfon Prabu berbunyi, di sana tertera nama Ulfa yang sedang menelfonnya. Prabu sedikit mengambil jarak dari Kania untuk menerima telfon tersebut. Walaupun jaraknya tidak membuat suara Prabu terdengar tapi Kania ahli membaca gerakan bibir seeorang karena itu termasuk skill Kania dulu dalam berburu mangsa.