My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
33. My Wife Is Mafia



Kania yakin dengan tatapan seperti itu membuatnya mampu merontokan semua hati wanita yang berada di dekatnya. Termasuk Kania.


"Nggak usah, aku nggak suka merepotkan orang lain,".


"Aku kan calon suamimu," timpal Prabu tanpa beban.


Prabu kemudian membuka pintu mobil tersebut dan meraih lengan Kania lembut dan sedikit menariknya untuk keluar dari mobil tersebut. Saat ini posisi Kania sudah berdiri dengan wajah yang di tekuk, tepatnya berusaha di tekuk dengan keadaan jantung yang tidak beraturan.


Tangan Prabu terasa begitu hangat di kulit Kania saat dia menarik Kania pelan meninggalkan kursi pengemudi tersebut. Kania berjalan dengan sedikit di hentakan.


"Punya suami kek kamu itu rasanya seperti mimpi buruk, nightmare!," ucap Kania yang tidak peduli jika Prabu akan tersinggung dengan ucapannya, jika karena hal itu bisa membuat pertunangan mereka putus, great! sesuai harapan pikir Kania.


Mendengar ucapan Kania, Prabu kembali meraih lengan Kania dan sedikit menariknya, Kania yang tidak memiliki persiapan kemudian berbalik dan Prabu tanpa sengaja memeluknya.


Tangan Kanan Prabu menahan tubuh Kania dan tangan kiri Prabu membeli rambut lurus Kania. Dengan tinggi badan Prabu dia sediki menunduk menatap wajah Kania yang pucat dan masih terdiam. Prabu berbisik,


"Kamu tau nggak? film nightmare itu adegannya tidak seram tapi panas, hot seperti ini,".


Kania bahkan tidak tahu ada film dengan judul nightmare. Kania kembali spontan melepaskan pelukan Prabu dengan melangkah mundur tapi Prabu kembali menangkap tangan Kania dengan cepat lalu menghentakan tubuh Kania secara mendadak dan dalam sekejap Kania kembali kedalam dekapan Prabu.


"Demi apa? Demi nenek moyang yang sudah berada di alam baka, situasi macam apa ini," pekik Kania di dalam hati.


Kania seperti di lingkup selimut hidup yang nafasnya hidup berdetak secara teratur. Telinga Kania menempel tepat di jantung Prabu. Kania harus mengabaikan aroma Prabu yang samar dan lembut.


Kembali fokus, apa yang mesti Kania lakukan sekarang? menendang tulang selangkangannya? meninju tulang rusuknya? mendorongnya sejauh dua meter hingga menabrak pohon palemmungil yang berada tidak jauh di belakang Prabu? atau mengeluakran belati kecilnya? "Ah sial, dia tidak membawa benda kecil itu tanpa sadar" batin Kania.


"Astaga pelukannya hangat dan nyaman sekali, tapi Kania stop. Kau harus melakukan sesuatu," batinnya kembali.


Tangan Prabu bergerak ke punggung membuat Kania reflek menginjak kaki Prabu dengan sekuat tenaga. Kaki yang sudah di latih oleh Ayah Guzman dengan lari naik turun perbukitan selama tiga puluh menit setiap pagi dan sore. Di tambah dengan latihan kuda-kuda saat di markas bersama dengan Riska sahabatnya untuk latihan bela diri.


Betis Kania kuat!.


Secara menyeluruh, Kania menguasai banyak bela diri, tendangan Kania bisa mmebuat lawannya pingsan seketika dan dia baru saja menggunakan kaki itu untuk menginjak kaki calon suaminya. Mungkin saja tulang pada ruas jemari kaki Prabu saat itu langsung remuk karena Prabu tanpa sadar menjerit.


"Arrrggggghhhh, Damn it!,".


Para orang tua mereka berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah. sedangkan Kania meletakkan kedua tangannya di dada, menutupnya dengan gaya anak gadis yang sangat tidak berdaya.


Prabu masih melompat kecil, "Ah, sial!, kau wanita sadis, arggghhhh,". ucap Prabu dengan masih menahan sakit di jemari kakinya.


Kania tersenyum dengan sangat tipis. Kania tidak peduli ucapan Prabu entah itu makian atau apapun itu, dia hanya berpikir bahwa Prabu masih harus bersyukur karena yang Kania lakukan hanya sebagian kecil dari apa yang seharusnya.


"Dasar tukang bohong," ucap Kania.


Prabu meloto mendengar ucapan Kania, tapi tanpa rasa takut Kania juga melotot hingga kedua orang tua mereka mendekat.


"Kami akan makan di luar," ucap Prabu cepat dan datar sebelum para orang tua mereka mengeluarkan sepatah kata yang ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Prabu berjalan ke arah mobilnya yang tidak jauh dari tempat tersebut. Mata Kania mengernyit. Cara jalan Prabu sama sekali tidak berubah. DIa mungkin kaget saat kakinya mendadak di injak tapi setelha itu Prabu tidak terlihat mengalami kesakitan sama sekali. Jantung Kania berdesir.


Prabu berbalik ketika menyadari Kania hanya berdiri dan diam memperhatikan kakinya, dengan gemas Prabu berbalik dan berjalan kemudian meraih tangan Kania dan sedikit menariknya dan hanya beberapa langkah Kania sudah duduk berada di dalam mobil mewah Prabu.


Sepanjang perjalanan mereka terdiam, tanpa ada ucapan yang membuat mereka bisa saling tegur, mereka sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing.


Entah perasaan seperti apa yang saat itu melanda mereka. Kania termangung. CInta adalah kegiatan aktif yang di lakukan manusia terhadap objeklain berupa pengorbanan, patuh, setia, kasih sayang, dan sederet hal baik lainnya. Sedangkan benci adalah yang sebaliknya. Kebanyakan orang an membiarkan, hati menentukan cinta atau benci, namun apa yang harus di lakukan bila hati tidak merasakan cinta maupun benci sama sekali?


Kania hanya menundukkan kepala saat tiba di sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai. Prabu menggandeng tangannya saat memasuki restauran tersebut. Mata pengunjung tertuju pada mereka, tidak! tepatnya mata pengunjun tertuju pada Prabu.


Prabu selalu menjadi pusat perhatian karena Prabu adalah salah seorang tokoh terkenal di negaranya.


Tempat makan itu berada di rooftop sebuah gedung pengcakar langit yang menyuguhkan hamparan lampu ibu kota di bawahnya. Hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca besar sehingga para pengunjung tidak perlu menghkhawatirkan angin kencang yang bertiup liar di ketinggian.


Prabu dan Kania sama-sama saling memegang buku menu.


"Mau pesan apa?," tanya Prabu.


"DIa kembali menjadi dirinya," batin Kania.


Kania masih diam dan berkonsentrasi menelusuri daftar makanan Eropa di buku menu tersebut. Kania tiadk berselera, dia hanya ignin makan lalapan, nasi campur, gado-gado dan itu tidak tersedia dalam menu. Kania menutup buku menu tersebut,


"Aku tidak lapar," ucapnya.


"Aku yakin, kau juga nggak lapar kau sudah makan malam bersama dengan bosku tadi," batin Kania.


"Baik, kita minum saja, aku juga kebetulan tidak lapar setelah melihatmu, aku selalu merasa kenyang," timpal Prabu yang nada suaranya tidak terdengar dingin ataupun hangat juga, tapi lebih kepada sikap hati-hati.


Prabu telah memesan minuman untuk mereka berdua dan kembali menatap Kania yang berada di hadapannya.


"Sepertinya aku sangat beruntung jika memiliki istri sepertimu, keuangan rumah tangga kita nanti akan aman, nggak perlu pengeluaran biaya makan banyak untukmu," ucap Prabu lagi.


Pertahanan Kania untuk bersikap kalem dan tenang mulai berada di ujung batas.