My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
32. My Wife Is Mafia



Sepanjang perjalanan hanya ada suara alunan musik yang di setel oleh Papa Adiguna. Semuanya lagu kesenangan mereka, terkadang Papa Adiguna dan Mama Sera bernyanyi yang membuat telinga Kania mekak. Kadang Kania terenyum, sunyi dan akhirnya siapa yang bisa mengatur jam tidur sedemikian rupa.


Kania adalah tipekal yang tidak memiliki waktu yang tentu untuk jam tidur dan makannya sendiri seperti wanita pada umumnya, Kania akan tertidur di saat mengantuk entah itu pukul berap sedangkan makan pada saat lapar entah itu pukul berapa.


Kania menguap dan tanpa sadar dia tertidur sepanjang perjalanan, tidur Kania begitu tenang. Matanya mengatup seakan di bubuhi lem tikus. Napasnya teratur dan sebagian otaknya sedang beristirahat dengan tenang mengirimkan fakta dan data.


"Dia tertidur?," tanya Papa Adiguna yang tidak mendengar pergerakan dari arah penumpang.


"Iya Pa, dia sangat tenang dan nyenyak,"


"Aku beruntung memiliki anak perempuan seperti dirinya, aku bisa bayangkan se-menggemaskan apa dia sewaktu kecil di balik raut wajahnya saat ini," timpal Mama Sera kembali.


"Dia anak kita Ma," ucap Adiguna dengan mengecup pundak tangan istrinya.


......................


Beberapa menit kemudian, Kania merasa sedang bermimpi manakala bahunya di guncang perlahan. Seseorang berusaha menariknya ke alam nyata. Kania yakin itu Mama Sera yang sedang menjahilinya. Kania berbicara dengan hatinya bahwa Mama Sera memang tidak pernah bisa membuatnya bisa tenang.


"Ma, please.. aku masih ngantuk," gumam Kania tanpa membuka kelopak matanya.


Bahunya masih tetap di goyangkan namun terasa menyebalkan untuk Kania.


"Pleaseee Ma,... lagian Prabu akan terlambat datang ke acara ini, pleaseee trust me,".


"Bangun, aku di sini,".


Suara maskulin terdengar berbisik lirih namun efeknya seperti petir tanpa petanda membuat Kania membuka matanya secara paksa, tergeragap bangun. Wajah Kania menegang dengan mata yang melotot sempurna lantaran di hadapannya tersuguh wajah aristokrat yang dekat sekali.


"Tidak mungkin," gumam Kania yang setengah sadar.


"Dia hantu atau manusia? atau mungkin punya kembaran? kenapa dia bisa berpindah tempat dengan sangat cepat?," batin Kania.


"Keluar sendiri atau aku keluarkan?," ucap Prabu dengan nada sedikit mengancam dan juga sedikit geli melihat ekspresi Kania.


"Bagaimana kalau....," ucapan Kania terpotong dengan sikap Prabu.


Kania di tarik layaknya sebuah boneka yang hanya berisi dacron yang ringan.


"Stop!," jerit Kania


"Aku keluar sendiri,".


Mendengar itu Prabu menahan senyumnya, "Dasar anak kecil," batin Prabu.


Gaun merah berbahan sutra melekat sempurna di tubuh Kania yang ternyata adalah pilihan Prabu sendiri. Prabu yang mengantarkan sendiri ke rumah Kania dan memberinya kepada Mama Sera dengan alasan itu adalah pemberian dari Mama Prabu. Jika di pikir-pikir aneh juga, mengapa Prabu tidak mengakui saja jika sebenarnya dia adalah orang yang memilihnya sendiri untuk Kania terlepas dia adalah calon suaminya, jadi bebas saja.


Prabu memperhatikan tubuh Kania yang ternyata sedikit berisi dari biasanya, mungkin saja karena keseharian Kania yang mengenakan kaos oblong, bentuk tubuhnya jauh terlihat kecil. Sekali lagi Prabu di buat kagum dengan Kania sama saat Kania mengenakan gaun pengantin saat fitting membuat dia terkesima seperskian detik.


Wajah bangun Kania yang segar terlihat begitu menenangkan, kini tatapan Prabu ke kaki Kania yang ternyata dia mengenakan sepasang sepatu kets yang berbeda warna, membuat Prabu kembali tersenyum.


"Liat sepatumu,"


"Style ini yang lagi booming, kamu aja yang kurang update,".


Kania kembai melirik rumah yang terlihat sepi, berusaha mengalihkan topik.


"Dimana orang tua kita? mengapa terlihat sepi?,"


Prabu mengangkat bahunya, entah mengapa dia terlihat sangat menikmati semua tingkah Kania yang gugup, gelisah dan berusaha mengontrol dirinya, Kania sangat terlihat menggemaskan di matanya.


Lagi-lagi Kania memperlihatkan kegelisahannya di saat aman namun justru berbik berani saat terancam.Prabu sudah sering melihat wajah Kania seperti itu sehingga PRabu lebih penasaran untuk mengenal Kania lebih banyak lagi.


Pekerjaan Prabu di kantor mmebuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan itu kepada Kania, dia di beri tanggung jawab yang besar oleh Papanya sebagai direktur perusahaan dengan pekerjaan yang menumpuk membuat Prabu tidak bisa berbuat apa-apa.


Prabu yang masih duduk di kursi penumpang mobil orang tua Kania dengan menyenderkan tubuhnya, sedangkan Kania berada tepat di depan pintu yang terbuka pada kursi penumpang tersebut merasa aneh, terlebih Prabu yang merasa Kania enggan berada di dekatnya.


"Mau kemana?," tanya Prabu saat melihat Kania berjalan.


"Mencari Papa Mama,".


"Kamu sudah di tinggal disini dan berdua denganku," timpal Prabu.


Prabu kembali menahan tawa saat melihat langkah Kania mendadak berhenti, Kania berbalik dengan wjaah yang pucat tapi sepertinya dia sebentar lai akan menjadi seekor kucing yang sangat galak.


Prabu keluar meninggalkan mobil tersebut, melangkah ke hadapan Kania dan kembali mengamati gaun ynag di kenakan Kania memicu angan Prabu sebagai lelaki mengembara kemana-mana. Dia tidak habis fikir, gadis dingin di hadapannya itu tanpa berbuat apa-apa mampu membuat Prabu berfantasi.


"Aku tidak mungkin di tinggal, mobilnya masih di sini,". ucap Kania dengan memicingkan matanya.


"Benar kan, dia sudah bersiap untuk mengeluarkan cakarnya," batin Prabu.


Prabu heran, mengapa Kania sangat tidak ingin berdua dengannya sedangkan wanita lain di luar sana jungkir balik mengatur strategi untuk mendekati Prabu, apa lagi menciptakan momen berdua seperti ini dengannya.


"Mereka pergi menggunakan mobil kedua orang tuaku, nggak tahu kemana," ucap Prabu dengan nyengir.


"Lagian, emangnya kenapa? aku nggak bakalan gigit," timpal Prabu kembali.


Mendengar ucapan Prabu, Kania kembali meningkatkan kewaspadaannya. Bisa-bisanya dia nyengir di saat seperti itu, di tambah lagi dia memberikan ucapan yang sedikit menggoda., Kania sudah sangat siap mengeluarkan skill nya jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.


"Hm, baiklah. Karena orang tuaku tidak berada di sini lebih baik aku pulang saja,". ucap Kania dengan melangkah memutari mobil Papa nya dan memasuki kursi pengemudi.


Pranggg.....


Kania meraih tempat kunci yang ternyata tidak ada kunci mobil yang tertancap di mobil tersebut. Kania menahan rasa kagetnya.


"Dimana kuncinya, aduhhhhh," batin Kania


Prabu yang melihat Kania sedikit panik kembali tersenyum, dia berjalan mmeutarimobil dan sedikit berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Kania di samping kaca mobil yang tidak terlihat menutup dengan sempurna.


"Aku akan mengantarmu," ucap Prabu


Kania sperskian detik terdiam tatkala melihat tatapan Prabu yang dalam dengan mata hitam pekatnya itu. Kania yakin dengan tatapan seperti itu membuatnya mampu merontokan semua hati wanita yang berada di dekatnya. Termasuk Kania.