
Prabu melanjutkan langkahnya dan merasa ada yang mengikutinya. Tiba-tiba Prabu berhenti, begitu mendadak, Kania berharap dia bisa memiliki set bell seperti saat mengendarai mobil yang mendapat keadaan mendadak bisa tertahan karena set bell. Kania menabrak punggung tunangannya itu. Tidak sampai hitungan sedetik Prabu Prabu sudah berbalik.
"Kenapa dia bisa berputar sangat cepat sedangkan badannya sangat besar?" Pikir Kania.
Mata Prabu memicing penuh selidik, dia berharap menemukan ekspresi menyesal dari wajah Kania dan permintaan maaf di wajah tunangannya itu tapi sayang, Kania menampilkan wajah datar dan dingin.
Mereka bertatapan tanpa satu orang pun berkedip, mereka adu ketahanan, saling menebak-nebak apa yang di pikiran mereka masing-masing.
"Kamu kehilangan kemampuan bicara?," ejek Prabu dengan kemarahan dan kekesalan yang semakin meluap melihat Kania tidak berusaha menjelaskan apa hubungannya dengan Evan.
"Evan itu pacarmu?," tanya Prabu lagi dengan mencengkram lengan kiri Kania yang mendadak terasa nyeri. Lengan itu pernah terluka dan belum sembuh total, membuat Kania setengah mati menahan rasa nyeri dan mempertahankan ekspresi wajahnya di depan Prabu.
Kening Prabu mengkerut kemudian melepaskan cengkramannya.
"Sakit?," tanyanya ketus.
Prabu tidak tahan lagi dengan kecemburuannya kepada Evan.
"Iya sakit. Tapi tidak sesakit melihat kamu bersama dengan Ulfa menghabiskan waktu bermesraan," batin Kania yang saat itu masih dengan ekspresi datar dengan bibir yang tetap mengatup.
Prabu merengkuh Kania dengan cepat dan penuh perhitungan. Sebisa mungkin dia membuat Kania tidak bisa melawan meskipun itu artinya dia harus mengeluarkan ekstra tenaga. Lucu sekali memeluk tunangan sendiri yang harusnya menggunakan kelembutan tapi kini yang dilakukan Prabu berbeda, dia merengkuh tunangannya dengan kekuatan penuh.
DIa seakan sedang mempraktikkan sedang berada di arena tinju dan melawan seorang super woman.
Prabu menunduk seakan bermaksud ingin mencium Kania tanpa ampun dengan hanya perlu satu tarikan nafas untuk menyentuh bibir Kania yang terkatup dna mungil di hadapannya itu tanpa menatap mata bening tanpa ekspresi yang selalu membuatnya kehilangan semangat itu.
Tetapi saat itu Kania juga tengah menatapnya yang tanpa bisa Prabu hindari.
"Sial," desis Prabu dengan menatap mata Kania yang penuh dengan kebingungan di depannya. Pupilnya bening, tidak berwarna hitam, gerakan matanya seakan menjelaskan sebuah perjuangan memendam perasaan dan cemburu di dalam sana.
"Bukan aku kan? yang membuatmu menderita begini?," tanya Prabu dengan berbisik penuh emosi.
Prabu menyadari bahwa sekuat apapun Kania dia tetaplah wanita yang dengan segala kelembutan dan kerapuhannya ada berada dirinya. Tapi membayangkan Evan lah yang berada di kepala Kania, kecemburuan Prabu memenuhi pikirannya.
Dia memang harus mencium Kania saat itu apapun yang terjadi, apapun alasannya, dia harus melepaskannya sekarang tanpa idak melihat matanya. Sejenak Prabu kebingungan. Kania yang merasakan memiliki peluang untuk melepaskan diri karena cekalan Prabu sedikit merenggang sehingga dia bisa meloloskan diri dengan cara merosokan tubuhnya.
Prabu mengecup bibir mungil dan ranum itu, dia mengecup, mencium tanpa bisa membuat Kania berkutip. Dia menikmatinya, rasa manis yang khas telah Prabu dapati dari bibir ranum itu sedangkan Kania jangan di tanya lagi.
Kali pertama, first kiss. Kania tidak bisa melakukan perlawanan apapun selain diam dan syok atas serangan dadakan Prabu dan anehnya lagi Kania merasa syaraf di tubuhnya mati. DIa tidak bisa melakukan apapun, jangan di tanya jantungnya, Mungkin saja saat itu dia membutuhkan tenaga medis ahli jantung untuk memulihkannya.
......................
Beberapa hari berlalu, Kania tidak bertemu dengan Prabu bahkan menghubunginya. Kania menghindari Prabu lebih dingin dan cuek dari pada sebelumnya. Kania memutuskan secara diam-diam meninggalkan Indonesia dan pulang ke rumah yang lama apapun konsekuensinya.
Kania memasuki sebuah rumah yang terlihat kosong. Kania melihat isi ruangan tersebut masih sama saat terakhir kali dia meninggalkannya. Semuanya tersusun sempurna pada tempatnya. Sederetan buku koleksinya tersusun di sudut kiri ruangan pada lemari khusus berwarna putih. Di rak lemari bawah terlihat berjejer belati kecil koleksi dari berbagai negara, beberapa monitor yang terhubung dengan CCTV atau kamera pengintai yang terletak di halaman, ruang tamu, ruang cuci dan balkon.
Beberapa burung terlihat bertengger di pinggir jendela ruang cuci. Seekor burung yang tiba-tiba datang ikut bergabung dan langsung membuang kotorannya membuat Kania tersenyum.
Kania benar mengalami perubahan, tidak biasanya dia tersenyum hanya karena hal sepele, biasanya dia akan meraih senjata laras pendek untuk membunuh seekor burung yang sedang bersantai.
Kania kemudina melangkha memasuki kamarnya. Kasur yang sama sudah setahun lebih tidak tersentuh.
"Ayah memang tidak memiliki waktu untuk mengusik barang-barangku" gumam Kania.
Hati Kania saat itu di penuhi dengan kenangan. Sedikit kenangan manis, sedikit kenagan pahit. Porsi terbesar dari kenangannya terasa hambar yaitu ketika dia berada di berbagai belahan dunia untuk menguntit dan membunuh seseorang.
Kania kemudian berjalan menuju dapur dan mengecek isi kulkas. Dia mendapati sebotol susu putih yang botolnya hanya berisi separuh dari biasanya dan sekotak burger instan. Kania menyalakan oven dan memasukan burger tersebut ke dalamnya. Kania berpikir, apakah dia harus menghangatkan susu? atau sebaiknya di minum dingin saja, atau sebaiknya dia membuat minuma yang lain saja?
Pintu lemari dapur terbuka hanya dengan menendangnya sedikit menggunakan ujung kaki. Saat ini Kania benar-benar harus menjadi dirinya tanpa pelayanan ekstra seperti di kediaman mewah sebelum musuh mengintai.
Saat ini adalah rumah tua yang dulunya Kania huni saat ibunya masih hidup dan terakhir kali Kania kunjungi sebelum ke Indonesia karena dia ingin mengingat banyak kenangan di rumah tersebut.
"Ayah terlalu sibuk mengurus bawahannya, musuh tanpa memperhatikan hidup dan dirinya sendiri," gumam Kania.
Apalagi setahun ini, Kania tahu jika Guzman melakukan penyamaran untuk mengelabuhi musuh, dia menjadi masyarakat biasa, bekerja serabutan dan menjadi salesmen walau sebenarnya dia tidak butuh itu karena dia memiliki uang untuk jaminan hidupnya dengan sangat cukup.
Bisnis di kendalikan dengan diam-diam oelh Riska, orang kepercayaan Kania dengan mengubah identitasnya. Kania sedikit gemas dengan rumah tua itu, jarinya tidak sabaran untuk mencari nomor ukang air, tukang pintu, tukang pipa untuk rumah itu.
Tiba-tiba pintu depan terbuka dan menutup. Pintu itu di lengkapi dengan pemindai sidik jari dan akan mendenging - denging memekakan telinga saat seseorang berusaha membukanya secara paksaa, mencongkel ataupun mendombraknya. Kalau seseorang hanya sekedar menekan-nekan dan mendorongnya itu tidak akan memberi reaksi apa-apa pada pintu tersebut.