
Kania tahu jika seseorang memasuki rumah, dia berbalik dan tiba-tiba Guzman sudah berada di belakangnya.
"Yolan, kau kabur dan kau membuat kesalahan" ucap Guzman dengan menekan pelipisnya melihat ada Kania tengah berdiri di sana.
Kania mendengar itu tidak peduli, dia berjalan lalu memeluk Guzman, "Ayah, I miss you,".
Guzman terdiam, itu kali pertama anak perempuan yang di didiknya keras selama ini memeluknya dengan sedikit menggunakan perasaa, entah kenapa Guzman merasa tenang, dia mengusap kepala Kania dan membatin, "Maafkan aku, harusnya kau hidup di keluarga yang seharusnya normal dan memberimu kebahgaiaan,".
Mata Kania seakan berembun menahan tangisnya karena merasa hal itu harusnya dia lakukan sejak lama, ayahnya adalah orang yang sangat baik di matanya, dia membunuh sampah-sampah negara, bukan karena semata uang atau kekuasaan, karena orang yang di bunuhnya pantas mendapatkan itu.
Didikannya kepada Kania pun seperti itu. Guzman pun menahan tangisnya, harusnya dia memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya, harusnya dia di didik seperti kodratnya yang memiliki sisi feminim, berbeda dengan didikannya selama ini yang sangat keras dan membuat Kania menutup hatinya rapat-rapat.
Kania tahu betapa beratnya Guzman membesarkan dia seorang diri, di tambah dia adalah anak perempuan dan Guzman tidak tahu menahu tentang dunia perempuan. Karena iu Guzman mendidiknya sebagai anak lelaki dan akhirnya Kania menajdi sosok yang keras.
"Ayah masih berusaha melacak pimpinan Black shadow yang sebenarnya agar kita aman," ucap Guzman.
"Sudahlah Yah, lupakan saja. Aku kembali untuk liburan bukan untuk misi,"
"Sepertinya setahun ini sangat berarti, kau banyak berubah"
"Tidak ayah, aku hanya-"
"Negara ini, kota ini tidak ada perubahan sama sekali, hanya saja Ayah bekerja sama dengan Regan".
"Regan? bukannya Ayah tidak percaya dengan dia?"
"Tidak ada pilihan lain. Dia tahu keberadaanmu. Karena itu, ayah bekerja sama dengannya dengan memberikan sebagian saham perusahaan,".
Keheningan menyeruak beberapa saat.
Kania tidak tahu lagi harus mengatakan apa, bisa saja dia membunuh Regan si penghianat The Bloods tapi Kania tidak ingin membayakan ayahnya dan membuat pengorbanan lebih banyak lagi untuknya.
"Besok, ayah harap kau kembali ke indonesia, di sini sangat tidak aman Yolan,"
"Ayah, aku akan ke indonesia tapi ayah harus ikut. Ayah bersembunyi di sana saja dan hidup normal"
Guzman mendengar itu terdiam.
"ayah...."
"Yolan, ada saat kita kuat apabila bersatu dan ada saat kita harus berpencar untuk mempertahankan hidup bahkan terkadang bersembunyi di markas musuh adalah perlindungan terbaik. Bagaimana kabar Prabu?," tanya Guzman.
"Aku tidak tahu," jawab Kania dengan menaikkan bahunya.
Kania merasa tidak sanggup bertemu muka dengan pria itu setelah Prabu menciumnya dengan sedemikian rupa. Rasa itu masih berkesan di kepala Kania, lembut, hangat, mendalam dan menguasai tanpa batas. Membuatnya lemah sekaligus melambung.
Kania merasa Prabu sangat serius untuk hubungan mereka tanpa melihat kebenaran masa depan yang jelas akan terjadi pada hubungan mereka. Kania mengingat setelah ciuman itu, dia menampar Prabu hingga bibirkan pecah mengeluarkan darah saat Prabu melonggarkan pelukannya.
"Ayah tidak akan memaksa kamu, tapi bagusnya besok kamu kembali ke Indonesia, Ayah yakin kamu kuat dan selalu kuat," ucap Guzman lalu meninggalkan Kania di ruangan itu.
Kania menatap punggung ayahnya yang beranjak keluar.
Malam menjelang, Guzman tidak menunjukan tanda-tanda dia akan pulang, Kania merebahkan diri di kasurnya, menarik selimut dan berusaha memejamkan matanya. Menyingkirkan sejenak wajah Prabu yang ingin membuatnya merasa mengeluarkan air mata.
Pikiran Kania mengembara ke hal lain,. Kania sanat ingin tahu apa kabar lelaki yang di tusuknya oleh belatinya terakhir kali, target pertama yang Kania tidak bisa pastikan dia terbunuh taupun masih hidup, selama satu tahun meninggalkan Negaranya tidak ada informasi appaun yang ayahnya berikan.
"apakah dia benar sudah mati?".
Pikirannya yang lain adalah kembali kepada Prabu. Kania membuka mata dan berpikir apa yang mesti dia lakukan untuk hubungannya, beberapa hari lagi mereka akan bertemu di atas pelaminan. Kania mengetuk-ngetuk dahinya mengingat ekspresit erakhir kali Prabu mendapatkan tamparan itu: Kemarahan yang tidak bisa di gambarkan!
......................
Esok harinya, Kania menyambut pagi dengan senyum dan bermalas-malasan di tempat tidur. Dia merasa tidak pernah mendapatkan tidur yang lebih baik dari tidur sehari itu selama satu minggu terakhir.
Kania merasa belum pernah mendapatkan mimpi saat malam ini dia tertidur dan sejak bertahun-tahun lamanya. Kania belum sesantai itu menatap matahari yang mulaimuncul di ufuk timur dengan cahaya sendunya memasuki kamar tidur Kania di sela jendela, yang menerangi mata enggan untuk terbuka.
Kania menggeliat untuk ke sekian kalinya namun dia kembali menelusup ke dalmselimut walau hawa tidak terasa dingin. Lebih baik menurunkan suhu pemanas dan kembali dengan sedikit suasana dingin dan membuatnya kembali tertidur.
Suara mesin pembuat kopi, suara roti melompat dari pemanggangan, suara juicer menggerus sesuatu, berisik! yang membuat Kania mengumpulkan bantal dan menutup telinganya rapat-rapat.
Kania tidak rela meninggalkan tempat tidurnya yang empuk setelah melakukan perjalanan dua puluh tujuh jam yang melelahkan dalam pesawat dan baru bisa berhenti memikirkan Prabu jam dua malam!
"Cobalah siapapun! coba saja kalau bisa membuatku meninggalkan tempat tidur ini," batin Kania.
Beberapa menit kemudin Guzman masuk kedalam kamar Kania dengan membawa nampang berisi sarapan pagi.
"Pagi yang manis, liat ayah membuatkan apa untukmu, omlet dan susu sehat,"
Kania mendengar itu. Untuk pertama kalinya seorang Guzman yang memiliki tingkat kekejaman tertinggi saat memberi misi pembunuhan membuat sarapan untuknya, GUzman kemudian meletakkan nampang tersebut dan menarik selimut Kania.
Kania sedikit membuka matanya malas dan melihat isi nampang yang tidka berada jauh di depannya. Nampang berisi apa yang di sebutkan ayahnya di tambah dengan satu buah apel hijau yang di letakkan di sampingnya.
Rasanya tadi dia mendengar suara roti yang sedang di panggang tapi itu tidak terlihat di atas nampang.
"Rotinya gosong," ucap Guzman yang menjawab apa yang berada di pikiran Kania.
"Wah keren, ayah menjawab apa yang aku pikiran, Kalau ternyata aku memiliki kemampuan lain semisal mentrasnfer apa yang aku pikirkan ke kepala ornag lain, aku tidak perlu bicara, aku cukup berpikir saja," batin Kania.
"Melamun?" tegus Guzman
Kania tersenyum kecut dengan menimpali Guzman bahwa dia ingin minumjus tomat.
"Memangnya ini warung? cepat bangun selesaikan sarapanmu dan segera ke bandara," gerutu Guzman.