
“Kok pada sedih gini ? Arness salah ngomong ya ? maaf ya pa, ma, kak Andre, kak Intan, kak Akbar” ucap Arness merasa bersalah
“Arness.. mama minta maaf ya” ucap Ira tiba-tiba
“Kok mama minta maaf ? emang mama salah apa ?” tanya Arness bingung
“Semuanya udah tahu Ness kalau Gio suka sama kamu” jelas Akbar sedikit kesal
“Hah ?” Arness kaget
“Kakak yang cerita ?” tanya Arness pindah duduk ke samping Akbar dan memegang tangan Akbar
“Bukan Ness.. Gio sendiri yang bilang” jawab Andre
“Maafin Arness ya pa.. ma.. Arness udah tolak kak Gio kok, Arness beneran nggak ada perasaan sama kak Gio” jelas Arness merasa bersalah
“Yang salah Gio, Ness.. kamu nggak perlu minta maaf” ucap Roy lembut
“Tapi pa.. gimana perasaan Ivy ? kalau Ivy sampai tahu..” ucapan Arness menggantung karena sudah nggak tahu gimana rasanya di posisi Ivy
“Wuahh.. keluarga besar lagi pada kumpul, cocok banget ya” celetuk Gio yang baru masuk rumah dan berdiri di ruang keluarga
“Gio !!” bentak Roy dan langsung berdiri
Semua langsung ikut berdiri. Ira dan Intan mengelus lembut bahu Roy.
Andre berdiri disamping Arness merangkul bahunya sedangkan Akbar menggenggam erat tangan Arness dengan tatapan tajam melihat Gio.
“Arness.. gimana keadaan kamu sekarang ?” tanya Gio lembut yang langsung berjalan mendekati Arness
“Nggak usah deket-deket !” ucap Akbar tegas
“Arness juga diem aja kok, kenapa kakak yang marah ?” jelas Gio dengan senyum sinisnya
Akbar hendak melangkah dan melepaskan genggaman tangannya sama Arness, tapi Arness menggenggam erat tangan Akbar dan menahannya.
“Ness.. aku mau ngomong berdua sama kamu” ucap Gio lembut
“Ngomong apaan ?” tanya Arness dingin
“Jangan disini, ayo ikut aku” ucap Gio tersenyum sambil memegang tangan Arness
“Kak, nggak apa-apa.. aku bisa jaga diri” ucap Arness lembut melepaskan genggaman tangannya sama Akbar
“Ngomong disini aja !” ucap Andre tegas
“Oke disini.. tapi aku tetep mau ngomong berdua sama Arness tanpa kak Andre sama kak Akbar di deket Arness” jelas Gio tanpa melepaskan tangannya dari tangan Arness
“Gio !!” bentak Ira marah
“Nggak apa-apa ma, Arness kan ngomong disini juga” ucap Arness tersenyum lembut
Akbar dan Andre berdiri berjajar sama Roy, Ira, dan Intan.
Tangan Akbar sudah mengepal erat menahan emosinya dengan tatapannya yang tajam menatap Gio.
Sampai dia berani macem-macem sama Arness, aku nggak akan diem aja walaupun dia adik aku sendiri.. -batin Akbar
Jangan bertingkah aneh Gio.. Arness sama Akbar sama-sama saling sayang, jangan ganggu hubungan mereka.. -batin Roy
Walaupun Gio adik aku sendiri, tapi aku akan jaga Arness.. Arness juga adik aku dan aku nggak mau dia kenapa-napa lagi.. -batin Andre
“Arness..” ucap Gio lembut memegang kedua tangan Arness
“Ngomong aja kak, nggak usah megang-megang” ucap Arness dingin dan melipat kedua tangannya ke belakang punggungnya
“Ness.. aku khawatir sama kamu” ucap Gio serius
“Ness.. kamu mau jadi pacar aku ?” tanya Gio tersenyum lebar
Sialan !! -batin Akbar dan Andre
Arness menoleh ke arah Akbar dan yang lainnya. Tatapannya tenang lalu tersenyum tipis sambil menganggukkan pelan kepalanya.
“Aman” ucap Arness menatap Akbar sambil tersenyum manis
Bisa-bisanya Arness setenang itu disaat kayak gini.. -batin Roy, Ira, Andre, dan Intan
“Kak Gio.. gimana hubungan kakak sama Ivy ?” tanya Arness lembut
“Ness, aku udah putus sama Ivy” ucap Gio tersenyum lembar sambil memegang kedua bahu Arness
Deg !!
“Eum.. Ivy putusin kakak ?” tanya Arness berusaha tenang walaupun kedua tangannya sudah mengepal erat di balik punggungnya
“Nggak.. aku yang putusin Ivy.. aku bilang sama dia kalau aku suka sama kamu” ucap Gio tanpa rasa bersalah
“Ma.. pa.. Arness boleh ngobrol sama kak Gio di halaman belakang ? apa di atas ?” tanya Arness lembut
“Nggak boleh !!” bentak Akbar dan Andre
Arness berjalan mendekati Akbar lalu menarik tangan Akbar dan Andre menjauh dari orang tuanya dan Intan.
“Aku nggak mau mama papa lihat aku mukul kak Gio.. aku udah kesel sama dia, pasti sekarang Ivy sakit hati” bisik Arness sedih
“Ma.. pa.. Intan.. kalian disini aja, aku, Akbar, Arness, sama Gio mau ke halaman belakang” ucap Andre tiba-tiba dengan sorot mata yang tajam
“Tapi kenapa Ndre ? kenapa papa juga nggak boleh ikut ?” tanya Roy kesal
Andre memberikan isyarat ke Akbar buat ajak Arness sama Gio ke halaman belakang duluan.
..
Sepeninggal Arness, Akbar, dan Gio ke halaman belakang, Andre memberi tahukan alasan Arness tapi Roy dan Ira tetap mau ikut campur dan melihatnya langsung.
Mau nggak mau, Andre menyusul ke halaman belakang bersama orang tua dan istrinya.
Arness melepaskan tas nya dan menitipkannya ke Akbar yang berdiri di sampingnya.
“Kakak.. aku titip Hp sama dompet ku di dalam tas ini.. anggap aja ini tas kakak sendiri, tapi kalau mama apa papa telefon jangan bilang kelakuan aku dan angkat ke dalam rumah sampai mereka nggak denger, ya kak ?” jelas Arness dengan tatapan lembut dan tulus
“Gimana kalau orang lain yang telefon ?” tanya Akbar khawatir
“Angkat aja.. udah aku bilang anggap itu punya kakak sendiri” jawab Arness lembut
“Arness.. gimana ? kenapa kita harus pindah ke halaman belakang ? mereka tetep ikutin kamu” panggil Gio dan menarik tangan Arness buat menjauh dari Akbar
Sekarang, Akbar dan keluarganya sudah berkumpul di halaman belakang. Arness dan Gio berdiri agak jauh dari mereka, tepatnya berdiri di tengah halaman.
“Arness.. kamu mau kan jadi pacar ku ?” tanya Gio lembut memegang kedua tangan Arness
Arness langsung memutar kedua tangannya dan memegang erat kedua pergelangan tangan Gio dengan tatapannya yang penuh emosi.
Keluarga Akbar kaget. Roy merangkul Ira, Andre merangkul Intan dan berdiri disamping Akbar.
Hp Arness bergetar panjang, mau nggak mau Akbar merogohnya dan mengambilnya dari dalam tas Arness.
Deg !!
Ivy telefon.. kalau aku angkat, apa nggak apa-apa ? -batin Akbar
**