My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Akting (2)



“Belum jadi pacar aja udah stalker, ganjen banget sih pakai segala kirim foto terus ke Vino ?” ucap Ivy tajam


“Sialan !” bentak Tiana dan sudah melayangkan tangannya


“Eh, maaf.. nggak sengaja” ucap Arness yang langsung memegang kencang tangan Tiana sampai pucat


“Ness” panggil Ikbal khawatir


“Udah Ness” ucap Vino yang sudah berdiri di tempatnya


“Aku nggak apa-apa” ucap Arness tanpa mengalihkan tatapan tajamnya ke Tiana


“Lepasin !” bentak Tiana memberontak


“Ness” ucap Ivy lembut dan memegang bahu Arness


“Ah, kakak ipar.. maafin aku ya kalau aku salah” ucap Arness kembali mendrama sambil merangkul bahu Ivy tanpa melepaskan tangan Tiana


“Lepasin Ness, aku bisa kok” ucap Ivy dengan yakin


Arness menatap dalam wajah Ivy, lalu melepaskan tangan Tiana dan berjalan mundur buat minum susunya.


“Tolong jangan ganggu Vino lagi ya.. mending kamu cari cowok lain yang tulus sama kamu, daripada harus ngejar-ngejar gini” ucap Ivy serius dengan suara tulus


“Tapi kenapa ? aku suka sama Vino, aku mau jadi pacarnya” ucap Tiana menahan kesalnya sambil menghilangkan sakit di tangannya


“Apa yang kamu suka dari Vino ?” tanya Ivy melirik sebentar ke Vino


Tiana diam. Dia nggak tahu harus jawab apa selain fakta kalau Vino ganteng.


“Kenapa nggak jawab ?” tanya Ivy lembut


“Cih.. nggak usah pura-pura baik deh, aku yakin kamu pasti selingkuh kan dibelakang Vino ? kamu cuma mainin perasaan Vino.. dasar cewek mur..” ucapan Tiana terputus


Pftttt..


Susu yang Arness minum itu tersembur tepat di wajah Tiana, dengan sengaja.


Boleh ketawa nggak sih ? -batin Vino, Ali, Ikbal, dan Panji


“Maaf maaf.. sengaja” ucap Arness dengan datar dan tanpa rasa bersalah


“Ness” ucap Ivy kaget


“Maaf kak.. kakak duduk aja deh sama kak Vino” ucap Arness dengan senyum lembutnya


Ivy khawatir tapi tetap menuruti kata-kata Arness. Dia duduk disamping Vino yang merangkul bahunya.


“Kurangajar !” bentak Tiana setelah membersihkan wajahnya dengan tissue diatas meja


“Kan udah aku bilang maaf, masa masih marah ? kak Vino aja yang kamu buntutin terus nggak marah kan ?” sindir Arness tajam


Tiana mengambil air putihnya lalu membuka tutup botol itu dengan geram melihat Arness.


Niat mau membalas dendam ke Arness tapi Arness langsung memegang tangan Tiana yang memegang botol itu setelah tutup botol terbuka lalu meremasnya erat dan berhasil membasahi wajah Tiana.


“Hati-hati kalau mau bales dendam, lihat-lihat dulu orangnya” ucap Arness sinis


“Vino !” teriak Tiana minta tolong


“Heh ! ngapain minta tolong sama kak Vino ? aku minta jangan pernah ganggu kak Vino lagi.. jangan munculin muka kamu di depan kak Vino ! kalau kamu masih cari muka sama kak Vino, aku bisa bantu kamu buat cari muka di luar sana.. walaupun tetep nggak laku ! ngerti ?” jelas Arness datar tapi sudah terlihat raut wajah kematiannya di depan Tiana


Tiana menelan ludah. Nggak bisa menjawab apa yang Arness jelaskan padanya.


“Minta Hp kamu.. buruan sialan !” ucap Arness yang sudah menadahkan tangannya


Diberikannya Hp itu ke tangan Arness dengan wajah takut dan tangan gemetar.


Arness menghapus bersih jejak tentang Vino di Hp Tiana lalu menyerahkan Hp itu lagi ke Tiana.


“Aku minta maaf” ucap Tiana menunduk takut


“Nggak usah minta maaf, telat.. lakuin aja apa yang aku jelasin tadi, ngerti ?” tanya Arness menahan kesal


“Iya.. maafin aku” ucap Tiana masih di posisinya


“Cih.. minta maaf sama mereka aja, terutama kak Vino sama pacarnya” ucap Arness yang langsung berjalan meninggalkan Tiana


“Aku.. minta maaf.. aku.. nggak bakalan ganggu Vino lagi” ucap Tiana takut


“Minta maaf yang bener, jangan ganggu pacarnya kak Vino juga” teriak Arness dari belakang Panji


Gila ya ! ngagetin aja ! -batin Panji, Ikbal, dan Ali


“Aku minta maaf.. pacarnya Vino.. aku nggak bakalan gangguin hubungan kalian lagi” ucap Tiana menatap Ivy dan Vino sungguh-sungguh


“Iya udah maafin” ucap Vino sekenanya


“Makasih Vin, makasih” ucap Tiana penuh syukur


Tiana berjalan cepat menuruni tangga diikuti Arness yang masih menatapnya tajam.


Tiana buru-buru menyalakan mesin motornya dan pergi dari sana.


Arness berdiri di depan pagar rumah Egi sampai Tiana nggak terlihat lagi lalu berjalan menaiki anak tangga.


Prok.. Prok.. Prok.. Prok. Prok..


“Tepuk tangan buat akting Arness yang makin keren aja” ucap Vino dengan senyum lebarnya


“Itu juga bagian kesukaan ku” tambah Ikbal


“Tapi bagian yang aku nggak suka pas Arness teriak di belakang ku, bikin kaget aja” keluh Panji


“Hahahahaha.. maaf ya” ucap Arness kembali duduk ke tempatnya lagi


“Arness, tadi nyeremin banget kayak waktu kamu mukul Rendi” ucap Ivy sedikit khawatir


“Rendi ?” tanya Vino kaget


“Kamu masih berhubungan sama dia ?” tanya Ali langsung kesal


“Kenapa nggak bilang ?” tanya Ikbal ikut kesal


“Duh Ivy keceplosan.. aku beneran nggak sengaja ketemu dia, aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi” jawab Arness lembut


“Maaf Ness, aku nggak tahu” ucap Ivy merasa bersalah


“Nggak apa-apa Vy” ucap Arness tersenyum tipis


“Arness, yang penting kamu nggak kenapa-napa kan ?” tanya Vino khawatir


“Aku nggak apa-apa, tanya aja Ivy” jawab Arness lalu menenggak susunya


“Iya Vin, Arness sama sekali nggak kenapa-napa” ucap Ivy tenang


Masalah berlalu, mereka bersenang-senang lagi sampai sudah waktunya mereka harus pulang.


**


Minggu siang Arness sudah rapih dengan penampilannya yang seperti biasa.


Menunggu Akbar dan Arka datang menjemputnya, sementara kedua orang tuanya tengah bersiap-siap mau ke rumah Akbar buat bersilahturahmi dan membicarakan persiapan pernikahan kedua anaknya.


..


Mobil Akbar sudah berhenti di depan rumah Arness.


Arness berlari kecil dan membukakan pintu pagar rumahnya agar mobil Akbar masuk.


Arka langsung berlari ke Arness setelah Akbar membukakan pintu mobil dan membantu Arka turun dari mobil.


Arness mengajak Akbar masuk sedangkan Arka sudah berhambur memeluk Fathir bergantian dengan Fera.


Arka cukup gampang dekat dengan orang lain yang sekiranya diijinkan buat dekat.


Tanpa berlama-lama, Arness, Akbar, dan Arka pamit ke kedua orang tua Arness.


Arka mengikuti Arness membukakan pagar rumahnya padahal Arness sudah menyuruhnya masuk mobil tapi tetap memilih mau sama Arness.


..


Arness duduk memangku Arka disamping Akbar yang mengemudikan mobilnya.


Suasana terasa nyaman, rasanya seperti telah menjadi sebuah keluarga kecil. Tawa dan candaan antara Arness dan Arka nggak ada hentinya sepanjang perjalanan.


Mobil terparkir dengan sempurna di basement tempat biasa Akbar memarkir mobilnya.


Ya, mereka pergi ke mall tempat mereka bekerja. Agenda hari ini mereka mau nonton, main funworld, dan makan bersama.


Akbar sudah turun dari mobil diikuti Arka, sedangkan Arness lagi merapihkan rambutnya yang diminta buat dijepit setengahnya sama Akbar dan dibiarkan rambut panjang, hitam, dan tebal itu terurai jatuh secara natural.


“Ka.. kita kerjasama lagi ya” ucap Akbar pelan di belakang mobil


“Apa om ?” tanya Arka bingung


“Kalau lagi diluar rumah cuma sama om Akbar sama aunty Ness, manggilnya harus mama papa” jawab Akbar menghasut anak kecil itu


“Oke om” ucap Arka mengacungkan ibu jarinya


“Kok masih manggil om sih ?” tanya Akbar cemberut


“Iya papa Abal, hehehehe..” ucap Arka memeluk Akbar


“Nah gitu dong.. panggil aunty Ness jadi.. ?” ucap Akbar sengaja menggantung


“Mama Ness.. yyeeyyy, aunty Ness jadi mama Ness nya Alka lagi” ucap Arka geregatan


“Yuk” ajak Arness yang baru keluar dari mobil


Mereka bertiga berjalan saling menggandeng Arka ditengahnya.


Masuk mall, sudah mulai terlihat orang-orang melihat mereka yang asik diajak Arka ngobrol.


“Little, kamu ngikutin aku ya ?” tanya Akbar tiba-tiba


“Ngikutin apaan ?” tanya Arness bingung


“Lihat.. sama-sama pakai jaket jeans, celana jeans juga” jawab Akbar melirik pakaiannya dan pakaian Arness


“Enak aja ngikutin, kan tadi pas kamu sampai aku udah rapih begini” protes Arness


“Hemm” gumam Akbar pasrah


Di eskalator, Arness menggandeng Arka yang berdiri di sebelahnya sedangkan Akbar berdiri sendiri di belakang mereka berdua yang asik ngobrol dengan gemasnya.


**