
Arness melakukan ritual seperti biasa, tapi kali ini Arness cuci muka 2 kali karena terlalu banyak keringat.
Lalu dia menaruh seragamnya di loker dan memakai asal sepatu bootsnya.
Arness duduk di antara Ibraa dan Lucky sambil mengikat tali sepatunya.
“Kalian cuci muka sana, jangan khawatirin aku doang, muka kalian kusut gitu, sana buruan bangun cuci muka” usir Arness mendorong kedua punggung Lucky dan Ibraa
Kedua laki-laki itu menuruti kata-kata Arness.
Arness bangun dan mengambil gelas bekas minumnya lalu mengisinya lagi di dispenser office, dia minum air hangat beberapa gelas sampai rasanya perasaan dia mulai tenang.
..
“Sana duduk di depan aku” ucap Arness setelah duduk di bangku ruang loker lagi
Ya, Ibraa dan Lucky menuruti kata-kata Arness seperti anak kecil.
“Ceritain semua yang kalian lakuin sampai aku bangun dari pingsan tadi” ucap Arness datar
“Aku janjian sama Lucky, dia nelefon aku buat kesini” ucap Ibraa memulai pembicaraan
“Ibraa bilang dia emang udah mau kesini setelah nelefon kamu.. Ibraa sama paniknya kayak aku” ucap Lucky khawatir
“Aku nelefon pak Aji buat langsung nolong kamu, karena aku tahu aku sama Lucky nggak cukup waktu buat nolong kamu” tambah Ibraa dengan wajah khawatir
“Sampai sini, aku sama Ibraa langsung jagain dan bangunin kamu sampai kamu bangun dari pingsan tadi, selesai” jelas Lucky sedikit tersenyum tipis
“Apa-apaan cerita kayak gitu doang ?” tanya Arness kesal karena nggak percaya dengan cerita singkat mereka
..
Aji masuk dengan beberapa karyawan yang masuk siang.
“Kamu nggak apa-apa Ness ?” tanya Yuna khawatir
“Aku denger dari pak Aji katanya kamu pingsan” ucap Ines khawatir
“Aku nggak apa-apa, cuma masih agak lemah aja.. maaf ya ngerepotin” jawab Arness tersenyum tipis
“Ness.. bisa kita ngomong berdua ?” tanya Aji serius berdiri di depan Arness
“Boleh nanti aja pak ? nggak enak kalau sekarang” jawab Arness sopan dan langsung berdiri
“Ya udah, saya selesaiin kerjaan saya dulu ya” ucap Aji lembut
“Iya pak” jawab Arness sopan lalu duduk
..
2 haters itu masuk menatap Arness sinis dan tersenyum senang karena misi mereka berhasil.
Ibraa dan Lucky sudah mengepal erat tangannya, Arness langsung duduk di antara mereka dan memegang lembut tangan mereka, mengelusnya sampai kepalan tangan itu melonggar.
Uma ganti baju lalu memaksa duduk di samping Arness dan mengusir Ibraa dan Lucky buat duduk di bangku depannya.
Uma merangkul bahu Arness lembut, kepalanya bersandar di bahu Arness.
“Hei Uma.. harusnya yang kayak gitu tuh Arness ke kamu” protes Lucky
“Siapa yang habis pingsan siapa yang butuh sandaran” sindir Ibraa
“Sirik aja sih, wlee” ledek Uma
Satu persatu karyawan yang masuk siang pamit pulang ke Arness dan ketiga sahabatnya yang akrab saja.
“Duluan ya Ness, cepet sembuh” pamit Tito
“Iya To, hati-hati dijalan, makasih ya” jawab Arness ramah
“Kita temen kerja loh Ness, kalau ada apa-apa kamu bisa minta tolong ke aku” ucap Fahri
“Iya Fahri, makasih ya” jawab Arness ramah
“Aku duluan ya” pamit Yuna dan Ines
“Iya, hati-hati dijalan ya Yun.. Nes” ucap Arness ramah
Sampai akhirnya di ruangan itu cuma ada Arness, Uma, Ibraa, Lucky, dan Aji.
Aji meminta mereka buat duduk di ruang office sekalian membawa barang-barang mereka.
..
“Arness.. kamu tahu siapa yang kunciin kamu ? saya tahu itu pasti sengaja, nggak mungkin nggak sengaja kekunci kalau diluar aja di gembok” ucap Aji tegas
“Tahu pak, tapi maaf Arness belum bisa cerita ke bapak” jawab Arness sopan
“Kenapa ? sebenernya ada masalah apa ?” tanya Aji serius
“Pak..” ucap Uma terputus karena tangan Arness menggenggam erat tangan Uma yang duduk di sampingnya buat nggak kasih tahu kejadiannya ke Aji
“Kenapa Uma nggak jadi cerita ? kenapa kalian lebih milih nggak cerita ? ini termasuk tanggung jawab perusahaan” ucap Aji tegas setengah berteriak
“Haaaaahh..” Aji menghela nafas kasar
“Saya sangat berterima kasih sama kalian bertiga, terutama kamu Ibraa.. untung kamu cepet-cepet telefon saya.. gimana kalau harus nunggu kalian berdua dateng, Arness udah kehabisan udara, udah pingsan” jelas Aji ke Uma, Lucky, dan Ibraa
“Saya sebagai sahabat Arness bakalan jagain Arness, pak.. apapun itu” ucap Ibraa tegas
“Karena kita udah janji, bakalan tetep ada saat senang maupun sedih, saat anggota lainnya kena musibah atau masalah” tambah Lucky tegas
“Itu udah kewajiban kita sesama sahabat pak.. kita ini keluarga” ucap Uma tegas
Arness menyandarkan kepalanya ke bahu Uma yang duduk di sampingnya, tangannya sudah gemetar menahan nangis.
“Arness, apa kamu tahu khawatirnya mereka bertiga kayak apa ?” tanya Aji khawatir
Arness menggelengkan kepalanya.
..
Kejadian saat Arness pingsan..
Gimana nih ? Arness belum balik juga dari toilet.. aku mau nyusul, aku mau tinggalin station aku, tapi kerjaan aku masih banyak, kalau aku tinggal nanti malah diomelin pak Aji.. -batin Uma gelisah
..
“Ibraa ! kita ketemu sekarang di basement” ucap Lucky panik
“Iya Ky, aku mau kesana sekarang !” jawab Ibraa panik
Ibraa langsung memakai jaket dan celana jeans panjang, berlari menuruni tangga dengan kunci motor di tangan dan sudah mengantongi dompet, begitu juga Lucky.
Mereka ngebut buat cepat sampai di basement.
..
Untungnya, mereka sampai bersamaan, mereka memarkir asal motor mereka, mencabut kunci motornya dan melepas helm mereka.
Keduanya berlari dari basement, masuk mall, sampai ruang loker.
..
Keringat mereka sudah mengucur deras sampai rambut mereka basah kuyup seperti habis keramas, nafas mereka terengah-engah tapi tujuan mereka sama, tujuan mereka cuma satu, yaitu Arness, seseorang yang mereka sayangi dan mereka sadar nggak bisa memilikinya, mereka berusaha jadi sahabat yang terbaik dengan menjaga Arness.
Uma yang melihat Lucky dan Ibraa berlari seperti itu tentu saja membuatnya makin khawatir sama keadaan Arness.
..
“Ness.. Arness.. bangun Ness” ucap Lucky terengah-engah sambil menepuk pelan pipi Arness yang sudah pingsan
“Arness.. kamu kuat.. kamu harus bangun” ucap Ibraa terengah-engah sambil mengelus telapak tangan Arness
“Saya dobrak pintu toilet dan lihat Arness udah pingsan.. saya yakin ini sengaja, karena pintu itu di gembok dari luar” ucap Aji yang berdiri di dekat Arness
Lucky langsung duduk memangku kepala Arness, sedangkan Ibraa duduk di bawah di samping Arness.
Keduanya sama-sama memijat Arness pelan pakai minyak angin, Lucky memijat kening dan pelipis Arness sambil sesekali mengoleskan minyak angin di hidung Arness, sedangkan Ibraa memijat kedua pergelangan tangan Arness.
“Kalian bisa jaga Arness sampai dia bangun ?” tanya Aji
“BISA !!” jawab Lucky dan Ibraa tegas dan langsung menatap Aji dengan penuh keyakinan
Kamu orang baik Ness.. banyak orang yang sayang sama kamu.. -batin Aji
“Bisa saya tinggal kembali bekerja ?” tanya Aji
“Bisa, tapi boleh saya minta tolong sama bapak ?” tanya Ibraa penuh harap
“Iya, apa ?” tanya Aji datar
“Sebelumnya, apa bapak kasih tahu kejadian ini ke Chief lain ? pak Tyo ? atau bahkan pak Akbar ?” tanya Ibraa khawatir
“Belum, saya belum sempat hubungin mereka karena saya fokus menyadarkan Arness” jawab Aji datar
“Hhhhaaaaaaaahh..” Ibraa dan Lucky menghela nafas lega
“Tolong jangan sampai orang lain tahu tentang kejadian ini, terutama pak Akbar” ucap Lucky tegas
“Kenapa ? kenapa harus di rahasiain ?” tanya Aji setengah berteriak
“Ini kemauan Arness, permintaan Arness” jawab Ibraa tenang tapi sorot matanya meyakinkan
Ada apa ini sebenernya ? kenapa mereka tahu sedangkan Akbar, pacarnya sendiri nggak tahu masalah ini ? apa yang kamu rencanain Ness ? apa yang kamu pikirin sekarang ? -batin Aji
“Buat saat ini saya nggak akan kasih tahu siapa-siapa termasuk Akbar, tapi saya butuh alasan jelasnya, jangan sampai masalah ini berlarut-larut” ucap Aji tegas
“Iya pak.. terima kasih banyak” ucap Ibraa dan Lucky dengan sopan dan penuh terima kasih
“Iya sama-sama.. tolong jagain Arness, saya akan kembali bekerja” ucap Aji sebelum meninggalkan ruangan
**