My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Akting (1)



Suaranya bagus banget.. kenapa aku jadi grogi sendiri gini sih ? -batin Ivy


“Kayaknya Vino berhasil bikin Ivy klepek-klepek ya Ness ?” bisik Ali


“Iya Li, apa Vino bakalan suka sama Ivy ?” bisik Arness lagi


“Nggak tahu, apa kamu yakin Ivy bisa dapetin hati Vino ?” bisik Ali lagi


“Nggak tahu Li, hati Vino kan sama kayak aku, susah ditebak” bisik Arness


Keduanya menganggukkan kepalanya pelan melihat Ivy dan Vino lalu tos tanpa menatap ataupun ngomong sesuatu satu sama lain.


..


Panji dan Ikbal sudah kembali. Arness membantu membuka bungkus martabak sedangkan Ali mengambil meja satu lagi buat menaruh minuman dan cemilan lainnya.


“Ini nggak salah beliin aku susu seliter gini ?” tanya Arness membelalakkan matanya menatap susu di tangannya


“Iya, uangnya masih cukup” jawab Panji tenang


“Kok nggak beli yang lain aja ?” tanya Vino menebak apa yang mau Arness tanyakan


“Nggak apa-apalah, lagian udah banyak kan makanannya” jawab Panji melirik sesajen di atas meja


“Sekali-kali beliin Arness yang seliter gitu” tambah Ikbal dengan tenangnya


“Baik banget duh, jadi terharu” ucap Arness mendrama


“Nyesel aku ngomong gitu” gumam Ikbal memalingkan wajahnya


Mereka mulai membuka minumannya masing-masing lalu bersulang dan makan martabak bersama.


Ivy sudah mulai bisa membiasakan dirinya di lingkungan ini. Dia sudah bisa tertawa lepas dan menyahut omongan yang lainnya.


..


Saat mereka lagi asiknya bernyanyi bersama dengan alunan petikan gitar dari Ali dan Ikbal, tamu nggak diundang datang dengan kasarnya.


“Vinooo.. jahat banget sih, aku udah nunggu dari tadi dibawah” rengek seorang perempuan yang langsung mengambil bangku dan duduk disamping Vino


“Jangan kepancing emosi, aku sama yang lain bakalan lindungin kamu” bisik Arness ke Ivy yang melihat nggak suka ke perempuan yang baru datang itu


Perempuan dengan dandanan tebal dan pakaian feminin seakan dipakai buat menarik pandangan Vino itu memperhatikan satu persatu wajah orang-orang yang duduk disana.


Cuma Arness yang tersenyum dan melambaikan tangannya ke perempuan itu.


Ya, kalau ketiga teman rumah Arness itu sudah nggak kaget melihat sikap Arness setiap ada perempuan yang bikin Vino atau mereka risih.


“Mereka siapa sih Vin ? kamu nggak mau kenalin aku ke mereka ?” tanya perempuan itu dengan manjanya


“Tiana, mereka temen-temen rumah ku, ini adik ku, dan ini.. pacar ku” jawab Vino berdiri sambil menunjuk satu persatu orang disana dan sengaja menggantung saat menyebutkan kalau Ivy pacarnya


“Hah ? pacar ? nggak mungkin Vin.. emang aku nggak tahu kalau kamu nggak punya pacar” ucap Tiana yang nggak percaya dan langsung berdiri memegang tangan Vino


“Hubungan ku sama pacar ku emang tertutup, cuma yang deket aja yang tahu” jawab Vino dengan tenangnya


“Nggak mungkin ! heh, nama kamu siapa ?” tanya Tiana membentak Ivy


“Ugh.. kenapa mesti marah-marah sih ?” keluh Arness datar yang ikut berdiri


Arness berdiri disamping Vino, mengisyaratkan buat menggeser tempat duduknya sama Ivy sedangkan dia masih berdiri di depan Tiana dengan tenangnya.


“Hei, namanya siapa ? aku Arness” ucap Arness ramah seperti biasanya dan menjulurkan tangannya


Drama dimulai.. -batin Vino, Panji, Ali, dan Ikbal


Kenapa Arness setenang itu ? -batin Ivy


“Tiana” jawab dengan ketus dan terpaksa menyalami tangan Arness


“Tiana, duduk dulu yuk, kita ngobrol bareng, main bareng” ucap Arness yang menarik tangan Tiana buat duduk disampingnya


“Aku mau duduk disitu, disamping Vino, bisa kamu duduk disini ?” tanya Tiana menahan kesalnya


“Yahh.. nggak bisa, masa adiknya harus duduk dipisah dari kakaknya” jawab Arness memelas


“Oh iya, nih minum dulu, maaf ya cuma air putih, soalnya nggak tahu kalau kamu mau dateng” ucap Arness lembut sambil menyodorkan sebotol air putih yang masih tersegel ke Tiana


“Makasih” ucap Tiana ketus sambil menerima botol air putih dari Arness


Sial.. aku mesti deketin adiknya Vino ini biar bisa deket sama Vini dan bikin hubungan Vino sama cewek itu putus -batin Tiana


“Maaf ya, aku nggak sengaja.. aku cuma kesel lihat pacarnya Vino itu” tatapan Tiana yang tajam ke arah Ivy


“Hemm, kenapa ? dia manis kok” ucap Arness yang memangku dagu melihat Ivy dengan senyum menahan tawanya


Gila Arness bikin aku pengen ketawa aja -batin Ivy


“Vin, biasanya kamu suap-suapan sama Ivy, kenapa sekarang malu-malu ?” goda Ali sambil memakan sepotong martabak manis ke mulutnya


Deg !!


Malu-maluin -batin Ivy dan Vino


“Udahh nggak usah malu sama kita, kita sih udah biasa lihat kalian pamer kemesraan” tambah Ikbal tersenyum tipis


Dengan perasaan berat hati, Vino menyuapi sepotong martabak manis ke mulut Ivy.


Lalu karena belepotan, Vino langsung membersihkan sisa-sisa coklat yang ada di sekitar bibir Ivy dengan ibu jarinya lalu memasukkannya ke mulutnya sendiri.


Wah.. wah.. kebablasan ya ?? -batin Arness, Ikbal, Panji, dan Ali


“Vino !” bentak Tiana kesal


“Aduhhh.. bikin telinga sakit aja, kenapa sih Tiana ?” tanya Arness mulai kesal


“Kalian pasti kerjasama kan buat bikin aku nyerah dari Vino ?” bentak Tiana langsung berdiri


“Kerjasama apaan sih ?” tanya Ali kesal


“Dia bukan pacarnya Vino kan ? nggak mungkin Vino suka sama cewek kayak gitu !” bentak Tiana menunjuk Ivy dengan kesal


“Jaga ya mulutnya ! emang kenapa kalau Vino suka sama aku ? kamu ngerasa kalah saing ?” bentak Ivy yang langsung berdiri karena tersulut omongan Tiana


Wow.. Ivy.. kereenn.. -batin Arness, Vino, Ali, Panji, dan Ikbal


“Sialan !” bentak Tiana kesal


“Udah udah.. duduk lagi yuk” ucap Arness menepuk-nepuk pelan bahu Tiana


“Kamu juga ! kamu pasti ikut permainan mereka kan ?” tanya Tiana menunjuk Arness dan memicingkan matanya kesal


“Wah.. wah.. udah tiba-tiba dateng nggak diundang, marah-marah karena kak Vino udah punya pacar, sekarang berani bentak aku hah ?” tanya Arness datar tapi auranya sudah mendung


“Arness udah mulai keluarin kekuatannya” bisik Ikbal


“Aku pengen sesekali rekam Arness menggila” bisik Ali


“Aku udah merinding” bisik Panji


“Ness, udah.. biarin aja, biar kakak yang selesaiin” ucap Vino merangkul bahu Arness dan menyuruhnya duduk disamping Ivy


“Terusin Vy, keluarin akting kamu” bisik Arness yang sudah duduk disamping Ivy


“Gila ya !” bisik Ivy


“Tiana, mending kamu pulang aja.. kamu udah lihat sendiri kalau aku udah punya orang lain, jangan ganggu aku lagi” ucap Vino tulus


“Nggak Vin.. aku sayang sama kamu.. aku mau jadi pacar kamu Vin” ucap Tiana memohon sambil memegang kedua tangan Vino


“Akting !” bisik Arness ke Ivy


Ivy menghela nafas berat, berdiri dan berjalan ke arah Vino dan Tiana. Dengan memasang wajah penuh emosi, Ivy menarik tangan Vino lalu di genggamnya tangan itu.


“Tangannya di jaga ya ! nggak lihat ada pacarnya yang lihatin kelakuan kamu ?” tanya Ivy kesal


“Vin.. tolong.. ijinin aku gantiin dia.. aku bakalan bahagiain kamu Vin” ucap Tiana memohon tanpa menghiraukan ucapan Ivy


“Sayang, kamu duduk aja sama yang lain.. aku bisa urus dia kok, lagian Arness bakalan bantuin aku, ya kan Ness ?” tanya Ivy selembut mungkin dengan senyum manisnya


“Pasti dong kakak ipar.. kak Vino sini duduk” panggil Arness dengan senyum lebarnya


Vino menghela nafas pasrah lalu duduk di tempat Ivy duduk tadi.


**