My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Ditonjok ?



Akbar langsung masuk ruang loker dan ganti seragam. Arness, Uma, dan ketiga perempuan itu masih si loker.


Arness bersikap biasa saja saat Akbar melewatinya, Akbar juga biasa saja tapi senyumnya nggak luntur dari wajahnya sementara Uma cerita tentang betapa galaunya Ibraa dan Lucky kemarin.


..


Akbar keluar ruang ganti dan 3 perempuan itu menatap Akbar seperti mengagumi dan memuja Akbar.


Arness yang nggak suka dengan tatapan itu langsung menatap sinis ke Akbar sampai Akbar menoleh ke arah Arness.


Arness memberikan tatapan tajam ke Akbar seperti mengatakan ‘jangan macam-macam, cepat selesaikan dandan kamu itu dan langsung keluar dari ruangan ini !’ begitulah.


“Kamu kenapa Ness ? tiba-tiba auranya jadi gelap gitu ?” tanya Uma menggoyangkan tangan Arness


“Tuh !” jawab Arness ketus sambil masih menatap Akbar tajam


“Yang salah bukan pak Akbar, tapi cewek disana” bisik Uma setelah menoleh ke Akbar lalu ke ketiga perempuan disana


“Ya.. ya.. ya..” jawab Arness malas


“Nggak nyangka ih sahabat ku ini hatinya cemburuan gini” ucap Uma gemas mencubit kedua pipi Arness


“Aaww..” keluh Arness


..


Arness dan Uma keluar ruang loker setelah Akbar keluar ruang loker dan menyusul Aji yang memeriksa sistem operasional.


Arness dan Uma duduk di bangku station mereka dengan sedikit ngobrol sambil menunggu karyawan lainnya datang.


..


Setelah briefing, Arness, Uma dan karyawan lainnya yang masuk pagi bekerja sesuai job desknya masing-masing.


..


Siang hari, setelah Uma istirahat dan sudah kembali kerja, gantian Arness yang istirahat.


Arness masuk ruang loker yang nggak ada satu orangpun disana. Dia melepas sepatu kerjanya lalu merentangkan kedua tangannya ke atas melepas pegalnya duduk terus.


Bagus.. goda terus.. untung nggak ada orang disini.. *li*hat itu badan kamu ngebentuk banget.. -batin Akbar


Ya, Akbar mengikuti Arness diam-diam buat ikut istirahat karena dia memang sengaja belum istirahat buat menunggu Arness istirahat bareng.


Arness masih belum menyadari adanya Akbar yang berdiri bersandar di pintu ruang loker.


Arness membuka bungkus makannya lalu makan sambil menyalakan lagu dari Hp nya.


“Aaaa..” ucap Akbar yang tiba-tiba duduk di depan Arness dan membuka mulutnya menunggu Arness menyuapi makanannya itu ke mulutnya


“Hhiihhh !” tanpa sadar Arness menonjok pipi Akbar karena kaget sampai Akbar menyandarkan kedua tangannya ke belakang punggungnya


“Aaawww..” keluh Akbar sambil memegang pipinya yang kena pukul


“Maaf kak.. aku nggak sengaja..” ucap Arness khawatir


“Tega kamu Little” ucap Akbar sedih


“Kak, berdarah kak.. sini ikut aku” ucap Arness khawatir dan menarik tangan Akbar ke wastafel


Arness membuka satu persatu kancing kemeja Akbar dengan cepat dan melepas kemeja itu dari Akbar karena takut darahnya menetes ke kemeja Akbar.


Agresif banget.. bisa khilaf aku.. junior ku tolong tahan.. -batin Akbar


“Kamu ngapain buka kemeja ku ?” tanya Akbar menahan sakit


“Biar darahnya nggak kena kemeja, susah ngilanginnya” jawab Arness jujur dengan wajah khawatir


“Kamu lebih peduli darahnya kena kemeja ku daripada pipi aku yang baru kamu tonjok ini ?” tanya Akbar kesal


“Jangan cerewet, diem” ucap Arness tegas


Little.. aku malu loh padahal cuma pakai kaos dalem kayak gini di depan kamu.. tapi kayaknya kamu nggak perhatiin itu.. -batin Akbar


Arness mengarahkan kepala Akbar sampai ke atas wastafel agar darahnya menetes ke wastafel lalu membersihkan darah Akbar dengan telaten dan wajahnya benar-benar serius.


Setelah sudah bersih dan darahnya sudah nggak keluar lagi, Arness menuntun tangan Akbar buat duduk di bangku tadi.


..


Arness berjalan ke ruang office buat mengambil kotak P3K secepat mungkin buat mengobati pipi Akbar dengan sedikit salep biar nggak bengkak atau infeksi.


Setelahnya, dia mencium sekilas bibir Akbar lalu menaruh kotak P3K itu lagi ke ruang office dan menyuruh Akbar memakai kemejanya lagi.


..


“Kenapa nonjok aku ?” tanya Akbar kesal


“Ya tapi kan aku cuma minta di suapin sama kamu” ucap Akbar nggak mau kalah


“Iya, tapi muncul tiba-tiba gitu, untung aku lagi nggak ngunyah makanan” keluh Arness sambil bersiap menyuap makanannya


“Kenapa kalau kamu lagi ngunyah ?” tanya Akbar


“Kejadian kayak semalem” ucap Arness malas


“Ya udah aku juga minta maaf, lagian kamu kenapa nggak ngeh kalau ada aku ?” tanya Akbar lembut


“Mana aku tahu..” jawab Arness datar sambil menyuap makanannya


“Aku juga mau” ucap Akbar manja


“Makanan kakak mana ?” tanya Arness setelah menelan makanannya


“Ini aja, nanti kalau kurang buka punya aku” ucap Akbar


“Buka ? buka punya kakak ?” tanya Arness menggoda dengan senyum nakalnya


“Jangan mikir aneh-aneh, dasar mesum” ucap Akbar sambil mencubit hidung Arness


“Hahahaha.. nih aaaa..” tawa Arness lalu menyuapkan sesuap nasi beserta lauknya ke mulut Akbar


Mereka makan berdua, dan karena kurang jadi Akbar mengambil jatah makannya lalu makan bareng lagi sama pacarnya itu.


..


Sore hari, Arness dan Uma sudah serah terima ke Akbar. Arness menemani Uma ke toilet dan muncullah Ibraa dan Lucky dengan segudang alasannya buat ketemu Arness.


“Arness..” panggil Ibraa dan Lucky yang berjalan ke arah Arness


“Apa ?” tanya Arness datar di bangku ruang loker


“Aku kangen” ucap Lucky manja duduk di samping kiri Arness


“Gila apa ya, mau ku tonjok muka kamu ?!” ucap Arness kesal


“Kamu kok jadi galak gini Ness ?” tanya Ibraa bingung


“Kamu ada masalah ?” tanya Lucky khawatir


“Nggak ada apa-apa.. aku minta sama kalian jangan bertingkah aneh-aneh, aku udah punya pacar” jelas Arness sedikit tegas


“Terus kenapa kalau kamu udah punya pacar ?” tanya Ibraa menahan kesal


“Apa karena kamu udah punya pacar terus kita nggak boleh deket-deket sama kamu lagi ?” tanya Lucky kesal


“Wow wow.. ada apaan nih ribut-ribut ?” celetuk Uma yang baru keluar dari toilet


“Denger ya Ibraa.. Lucky.. aku bukannya ngelarang kalian buat deket sama aku, tapi tolong ucapan kalian di rem, hargain hubungan ku sama pacar ku” ucap Arness menjelaskan dengan tenang


“Siapa pacar kamu ?” tanya Ibraa


“Kalian kenal” jawab Arness tenang


“Kamu sayang sama pacar kamu ?” tanya Lucky


“Sayang” jawab Arness singkat dengan wajah tersenyum


“Apa kalau kamu pacaran sama aku kamu juga bakalan lakuin hal ini ?” tanya Lucky geram


“Iya.. dan apa kalau kamu pacar aku kamu rela lihat pacar kamu deket-deket sama sahabat yang suka sama aku ? kamu rela kalau aku deket-deket sama Ibraa dan biarin Ibraa manggil panggilan sayangnya ke aku terus bersikap kayak aku nggak punya pacar ?” ucap Arness tegas dan mematikan


Deg !!


“Kamu nggak salah Ness” ucap Ibraa lembut


“Tapi kamu nggak ngelarang kita buat deket sama kamu kan ?” tanya Lucky


“Aku nggak ngelarang selama sikap kalian nggak keterlaluan.. dan kalian coba deh buat akrab, aku makin seneng jadinya” ucap Arness tersenyum manis


“Oke Ness, karena kamu yang minta jadi aku bakalan akrab sama Ibraa” ucap Lucky semangat


“Jangan karena aku Ky, kita sahabatan loh.. masa iya sahabatan tapi nggak akrab ? kalian kan sama-sama aku tolak, harusnya kalian kerjasama, hahahaha..” ucap Arness menyakitkan


“Ness.. sakit banget ucapan kamu” celetuk Uma


“Hahahaha.. aku kesal sama mereka.. mereka selalu deketin aku berduaan terus, tapi mereka nggak akrab” jelas Arness datar


“Udah ayo kerja lagi” ajak Uma menarik tangan Arness keluar ruangan


**