My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Haters (3)



“Kamu nggak apa-apa kan Ness ?” tanya Ibraa khawatir


“Lihat dong.. aku nggak apa-apa begini, kenapa kamu yang khawatir ?” tanya Arness senyum tipis


“Gimana kalau tadi aku nggak dateng ?” tanya Ibraa memegang kedua bahu Arness dengan tatapan khawatir


“Yang aku pikirin, gimana kalau tadi yang masuk bukan kamu ? masalah yang ada” jawab Arness datar


“Hhuuuuhh..” Ibraa menghela nafas panjang


“Intinya aku nggak apa-apa okeee” ucap Arness dengan senyumnya menenangkan perasaan Ibraa


“Iya iya..” jawab Ibraa pasrah


“Absen sana, kamu kan belum absen tadi” ucap Arness mendorong bahu Ibraa buat bangun


“Iya, untung kamu ingetin” jawab Ibraa sambil berdiri lalu absen


..


Arness dan Ibraa menunggu 2 haters itu keluar ruang office lalu mereka berdua masuk ruang loker.


Seperti Lucky, Ibraa menyuruh Arness buat ganti baju duluan, dan giliran dia ganti baju, gerakannya lebih cepat dari biasanya karena nggak mau ngebiarin Arness sendiri lagi.


..


Arness dan Ibraa bekerja santai seperti biasanya, 2 haters itu nggak berani deketin Arness tapi melihat sinis Arness dari jauh dan menyindirnya.


Ibraa menceritakan kejadian tadi ke Uma dan Lucky saat mereka sudah sampai di outlet yang pasti saat nggak ada orang.


Ibraa juga kasih kabar ke grup chat tentang kejadian tadi, Ibraa meminta buat lebih hati-hati karena sepertinya para haters itu lagi buat rencana buat Arness.


**


2 minggu kemudian..


Arness full pakai motor Akbar karena sahabat-sahabatnya takut mereka mencelakai motor Arness, dan kalau Arness pakai motor Akbar mereka nggak akan berani apa-apain, ya kan ?


Para haters itu nggak berhenti membully Arness walaupun melabrak Arness cuma sekali 2 kali karena takut, mungkin.


Mereka memasukkan sampah ke dalam loker Arness, Arness masih biasa saja karena dia pikir untungnya dia nggak taruh barang-barangnya di dalam loker.


Tapi beda sama semua sahabat SPIRITUALnya, terutama Uma, Lucky, dan Ibraa yang melihat langsung.


Arness sengaja nggak mau membersihkan lokernya, Arness meminjam loker Akbar karena kebetulan kunci lokernya di jadi satu sama kunci motornya.


Sahabat SPIRITUALnya itu bingung sama sikap Arness meladeni para haters itu, mereka berpikir kenapa Arness nggak balas mereka jelas-jelas Arness lebih kuat dan galak daripada mereka, ya kan ?


“Ladenin ikan teri kayak mereka nggak usah pakai urat, tontonin aja kelakuan mereka sampai mereka capek sendiri, kalau nggak capek-capek juga ya udah bagus berarti mereka semangat..


Kalau kita ladenin mereka pakai urat, pakai tenaga, sayang banget sama tubuh sendiri” jelas Arness tenang ke sahabat SPIRITUALnya itu


**


Selama Arness memakai loker Akbar, mereka sama sekali nggak nyentuh loker itu walaupun tahu barang-barang Arness ada di dalam loker itu.


Arness juga kasih tahu ke Akbar kalau dia pakai motor sama lokernya terus karena kangen. Ya, alasan klise yang dibuat Arness bisa bikin Akbar percaya.


Semakin hari loker Arness makin berbau busuk karena sampah yang nggak pernah Arness buang dan para haters itu menambahkannya lagi setiap hari.


Beberapa karyawan mencium bau busuk itu tapi nggak tahu ada di dalam loker mana karena ada beberapa loker kosong yang sudah lama nggak dipakai dan di bersihkan juga.


..


Sampai sekarang Arness nggak pernah cerita masalahnya ini ke Akbar walaupun terkadang saat di rumah dia sedikit terasa sesak mengingat kejadian-kejadian yang dia alami setiap hari di tempat kerja.


Arness mengalihkan rasa sakit itu dengan gitarnya, bernyanyi sebanyak-banyaknya meluapkan perasaannya lewat lagu yang dia nyanyikan sampai terasa lega.


Arness sedikit merasa gelisah karena Aji, Rama, Risky, sampai Tyo nggak tahu masalah ini.


Rasanya imbang antara perasaan tenang dan gelisah bagaimana kalau sampai mereka tahu tentang semua kejadian ini. Hanya itu yang ada di pikiran Arness selama ini.


Bar.. kak Akbar.. aku kangen kalian.. -batin Arness takut


Itulah mantra yang Arness ucapkan setiap merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rasanya agak perih mereka meninggalkan Arness.


**


Para haters merasa kurang puas dengan kelakuannya ke Arness yang masih tenang-tenang saja tanpa ada pembalasan.


..


Sejak beberapa hari yang lalu Tyo menyusul Akbar ke Bandung, entah ada urusan apa yang pasti mereka akan kembali ke Jakarta bersama.


**


Hari ini Arness masuk pagi sama Lucky. Risky sibuk keliling koridor memeriksa pekerjaan bawahannya.


Masih jam 1 siang Arness mau ke toilet, Arness sudah terbiasa membawa Hp nya karena disuruh sama sahabat SPIRITUALnya itu.


..


Tiba-tiba pintu toilet terkunci dari luar, Arness bingung dan ketakutan karena dia sendirian.


Arness langsung menelefon Lucky karena takut.


“Lucky !! aku kekunci di toilet” ucap Arness panik tanpa salam


“Aku kesana sekarang !” jawab Lucky langsung panik dan mematikan telefonnya


..


“Arness !!” teriak Lucky saat sampai di ruang loker


“Luckyy..” teriak Arness dengan suara bergetar menahan nangis karena takut


“Jangan takut Ness, aku udah disini” ucap Lucky dari balik pintu toilet Arness terkunci


Lucky memutar-mutar keras gagang pintu toilet itu tapi nggak terbuka.


“Ness.. mundur ya, ngejauh dari pintu.. aku mau dobrak pintunya” ucap Lucky panik


“I.. iya Ky” jawab Arness takut


Lucky berhasil mendobrak pintu toilet sialan itu setelah beberapa kali dia dorong dengan bahu dan kakinya.


Arness langsung keluar toilet dan memeluk Lucky, Lucky memeluk Arness dengan hangat dan mengelus lembut punggung Arness.


“Aku takut sendirian Ky” ucap Arness dengan suara getar


“Ada aku Ness.. jangan takut lagi ya” ucap Lucky lembut menenangkan perasaan Arness


Arness mengangguk pelan, tangannya sudah mengepal erat di punggung Lucky penuh gemetar menahan air matanya keluar.


“Ayo minum dulu, tenangin diri kamu, jangan nangis.. mau aku minta ijin ke pak Risky ?” tanya Lucky lembut menuntun bahu Arness ke ruang office


“Jangan Ky.. aku nggak mau.. aku mau balik kerja lagi” jawab Arness panik


“Ya udah iya, duduk sini, aku ambil minum buat kamu” ucap Lucky lembut mendudukkan Arness di kursi ruang office


“Minum dulu Ness.. pelan-pelan” ucap Lucky berlutut di depan Arness dan memberikan segelas air putih hangat ke tangan Arness


Air mata jatuh menetes di pelipis Arness tanpa sadar.


“Ssttt.. jangan nangis Ness.. kamu kan kuat..” ucap Lucky lembut dan menyeka air mata Arness dengan ibu jarinya


“Maaf ya Ky..” ucap Arness menunduk


“Jangan minta maaf, ini bukan salah kamu” ucap Lucky mengambil gelas dari tangan Arness dan menggenggam kedua tangan Arness dengan hangat


“Aku udah tenang Ky, ayo kita kerja lagi” ucap Arness dengan senyum tipisnya


“Gitu dong” ucap Lucky ikut tersenyum sambil mencubit pipi Arness


“Sakit Ky.. mau aku tonjok hah ?” tantang Arness


“Hahahaha.. udah ayo kerja lagi” ajak Lucky mendorong punggung Arness keluar office


Percayalah, CCTV ruang office nggak pernah mati sekalipun outlet sudah tutup. Dan cuma Tyo yang boleh memutar CCTV karena cuma dia juga yang tahu kata sandi dari CCTV di outlet itu.


**