
Arness nggak membalas pukulan mereka, dia cuma menghindar dari pukulan.
Arness iseng sehingga dia memukul angin tepat di depan wajah salah satu haters tanpa mengenai wajahnya lalu menepuk pelan pipi haters yang ketakutan itu.
Nggak cuma pukulan tangan, Arness juga melakukannya dengan tendangan. Tendangan Arness berhenti tepat 1 cm dari wajah lawan lalu menepuk pipi haters itu dengan sepatunya.
..
Arness di dorong paksa sampai tembok. Para haters itu berdiri di belakang Lulu yang berdiri sombong di depan Arness.
“Jangan disinilah, nggak enak.. mending main luaran aja, lebih aman, lebih bebas” ucap Arness malas
“Sualan !!” teriak Lulu kesal
“Ayo seret dia masukin ke toilet biar kehabisan nafas lagi dia !” teriak Lulu menyuruh para haters menarik dan mendorong paksa tubuh Arness
Arness berusaha melawan, dia nggak bisa memakai kekuatannya buat mukul dan menendang mereka.
Arness cuma mengelak dari tangan-tangan para haters yang menarik dan mendorong tubuhnya, tapi karena jumlah mereka yang lebih banyak dan Arness cuma sendiri yang tahu diri nggak bisa membalas perbuatan mereka akhirnya terkunci di dalam toilet lagi.
..
Arness menendang pintu toilet kayu tebal itu dengan sekuat tenaganya tapi pintu itu terlalu kuat sampai akhirnya kaki Arness lelah.
Arness juga memukul-mukul pintu toilet itu dengan kedua tangannya sampai punggung jari-jari tangannya memerah dan sedikit berdarah.
Keringat sudah mengucur deras di wajah Arness tapi Arness masih memukul-mukul pintu toilet itu.
Dia mendengar suara tertawaan dan hinaan yang sangat puas dari balik pintu toilet ini, tapi dia nggak hiraukan, karena yang di pikirannya dia cuma butuh keluar dari toilet ini, dia sadar nggak ada yang bisa menolongnya sekarang dan dia nggak mau pingsan lagi.
Aku nggak boleh hubungin sahabat SPIRITUAL ku, terutama Ibraa sama Lucky.. cukup pengorbanan kalian hari itu.. aku nggak mau ngerepotin kalian lagi.. kalian udah banyak peduli dan perhatian sama aku.. aku harus selesaiin masalah ini.. -batin Arness belum menyerah
Tenaga Arness habis karena kehabisan nafas.
Arness terduduk di atas toilet yang sudah dia tutup itu sambil mengumpulkan tenaganya lagi, tapi pandangannya buram.
Akbar.. kakak.. aku butuh kalian.. aku takut.. kalian janji nggak akan ninggalin aku.. tapi sekarang aku sendiri.. -batin Arness lemah
Terdengar suara seperti lemparan tempat sampah ke pintu toilet Arness berada.
Beberapa hinaan dan tawaan jahat lalu menghilang senyap.
Arness pingsan buat yang kedua kalinya. Dia sudah pasrah akan nasib tentang dirinya malam ini.
..
“Little !! Little !! kamu dimana ?” teriak Akbar panik
Akbar makin panik karena kursi dan meja ruang office berantakan, begitu juga bangku panjang di ruang loker.
Itu semua terjadi karena Arness memberontak buat lepas dari tangan-tangan para haters itu.
Akbar melihat tempat sampah yang berserakan di depan toilet. Dia langsung berlari dan melihat pintu toilet itu terkunci.
“Little !! kamu di dalam ? jawab aku !!” teriak Akbar panik dengan mata sudah berkaca-kaca
Akbar menelefon Hp Arness. Untungnya Hp Arness sudah di mode dering karena Arness selalu menunggu kabar dari Akbar.
Hastaga !! Little ada di dalam ! -batin Akbar tambah panik
Akbar mendobrak pintu toilet itu sampai keringat mengucur deras dan tenaganya habis namun pintu itu tetap utuh.
Akbar terduduk lemah di lantai ruang loker. Air mata sudah membanjiri pipinya.
Cari sesuatu yang berguna di office buat nolong Arness.. kamu pasti bisa Akbar.. kamu bisa jaga Arness secara langsung.. aku cuma bisa kasih semangat dari sini..
Akbar langsung berlari ke ruang office, mencari-cari barang berguna.
“Akbar ! apa yang kamu lakuin ?” tanya Risky kaget saat membuka pintu ruang office
“Cepet bantu aku cari benda tajam yang kuat buat buka pintu toilet sialan itu !!” teriak Akbar tanpa menoleh ke Risky
Beberapa karyawan laki-laki yang masuk ke office juga kaget lalu Risky langsung menyuruh mereka mencari barang yang di maksud Akbar.
Kapak ! pasti ada kapak disini ! itu pasti berguna..
Akbar langsung mengambil kapak yang berada di dalam lemari office lalu berlari buat merusak gembok di pintu toilet itu.
Yang lain mengikuti Akbar karena nggak tahu alasan apa Akbar sampai seperti ini.
Pintu toilet terbuka, terlihatlah Arness yang sudah pingsan dengan rambut lepek, wajahnya sudah mulai pucat, keringat dimana-mana, punggung jari tangannya terluka.
Hastaga Arness !! -batin Akbar
Akbar langsung menggendong Arness dan berlari turun sampai basement tempat dia memarkir mobilnya.
Risky dan yang lainnya kaget melihat Arness terkunci di dalam toilet, di tambah lagi ruang office dan ruang loker yang sudah berantakan.
..
Akbar mengemudikan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Wajah paniknya mengucur keringat, matanya merah menahan tangis..
Akbar.. jangan kasih tahu mama papa.. Arness nggak akan suka itu.. kamu pasti bisa nyelamatin Arness kita.. jangan menyerah..
“Aku nggak akan nyerah.. aku akan nyelamatin Arness..” gumam Akbar
..
Sampai rumah sakit, Akbar langsung menggendong Arness masuk rumah sakit.
“Suster ! dokter !” teriak Akbar
Beberapa suster datang membawa ranjang pasien dan membantu Akbar dan memasukkan Arness ke dalam ruangan UGD.
Tas dan sweater Arness di lepas dan di berikan ke Akbar yang terpaksa menunggu di luar ruangan.
Fathir sudah menelefon berkali-kali menanyakan Arness yang belum sampai rumah.
Akbar terpaksa berbohong, Akbar bilang kalau Arness menginap di rumahnya karena keluarganya mau kasih kejutan ke Arness.
Awalnya Fathir marah karena memang selama ini Arness nggak pernah boleh menginap di rumah orang lain, apalagi rumah pacarnya, namun Akbar memohon buat sekali ini saja membiarkan Arness menginap di rumahnya.
Dengan berat hati dan sedikit rasa kesal, Fathir mengiyakannya.
Apa aku harus hubungin sahabat-sahabatnya ?
Itu hak kamu.. mereka juga peduli sama Arness.. mendingan kasih kabar ke salah satu sahabatnya dan jangan kasih mereka buat kesini sekarang, itu juga bahaya buat mereka
Makasih udah nolong aku nyelamatin Arness, Bar..
Jaga Arness baik-baik, aku titip Arness ke kamu.. semoga kalian selalu bersama dan bahagia
Terima kasih banyak Akbar.. makasih udah percayain Arness ke aku..
Akbar langsung menelefon Uma, karena selain nomor WA sahabat perempuan Arness yang dia punya, Arness juga lebih dekat sama Uma.
“Assalamu’alaikum” salam Akbar
“Wa’alaikum salam” salam Hadi
“Ini siapa ya ?” tanya Hadi
“Saya Akbar, pacarnya Arness, boleh saya bicara sama Uma ?” tanya Akbar tenang
“Dia udah tidur.. ada urusan apa malem-malem gini telefon ?” tanya Hadi curiga
“Ini tentang Arness, tolong.. ini penting” ucap Akbar sedikit memohon
“Saya akan bangunin Uma, tapi obrolan kalian akan saya dengar juga” ucap Hadi tegas
“Silahkan” jawab Akbar nggak kalah tegas
“Halo pak ?” ucap Uma dengan suara serak bangun tidur
“Uma.. maaf saya ganggu tidur kamu, tapi ini tentang Arness” ucap Akbar panik
“Arness kenapa pak ? bapak udah pulang kan ? jadi jemput Arness kan ?” tanya Uma panik
“Dengerin saya Uma ! sekarang Arness di rumah sakit, dia pingsan dan tangannya luka” ucap Akbar
“Astaghfirullah.. Arness.. hiks..” ucap Uma dan Hadi khawatir
“Di rumah sakit mana ? biar saya kesana” ucap Hadi
“Di rumah sakit X.. dan saya harap tolong kabarin anggota lainnya ya Uma, tapi tolong jangan kesini sekarang, ini udah lewat tengah malam, akan bahaya juga buat kalian” ucap Akbar mengingatkan
“*Ta*pi.. saya mau kesana pak.. hiks..” ucap Uma terisak
“Kalau cuma kamu sama suami kamu saya rasa nggak apa-apa, tergantung suami kamu juga” ucap Akbar tegas
“Saya sama Uma kesana sekarang” ucap Hadi tegas
“Baiklah, hati-hati di jalan, sekarang Arness masih di UGD, saya akan kabarin secepatnya kalau Arness udah di pindah ke ruang rawat inap” ucap Akbar
“Iya, terima kasih, tolong jaga Arness” ucap Hadi tegas
“Assalamu’alaikum” salam Hadi
“Wa’alaikum salam” salam Akbar
**