My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Kehamilan Pertama Arness



Besok paginya, Arness langsung berlari ke kamar mandi membuat Akbar terbangun dan panik lalu menyusul Arness.


Di dalam kamar mandi, Arness sudah berlutut di depan toilet memuntahkan isi perutnya dan Akbar memijit tengkuk Arness sampai Arness merasa lega.


“Udah ?” tanya Akbar khawatir


“Udah, gendong” pinta Arness menjulurkan kedua tangannya


Akbar menggendong Arness dan mendudukkannya di tempat tidur sementara Akbar mengambil minyak angin buat dibalurkan di pelipis, dada, dan perut Arness.


Belum selesai, Arness langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya lagi.


“Sayang kamu kenapa sih ? kita ke dokter aja yuk” ajak Akbar khawatir


“Nggak mau, aku mau mandi.. mandiin Amore” rengek Arness


“Habis itu ke rumah sakit ya, jangan bikin aku khawatir sayang” ucap Akbar dengan raut wajah khawatirnya


“Aku nggak sakit” jawab Arness mengerucutkan bibirnya


“Nggak sakit apanya kamu muntah-muntah gitu” ucap Akbar sedikit berteriak


“Huummm” gumam Arness dengan mata berkaca-kaca


“Maaf Little, aku nggak marah sama kamu sayang ku.. nurut ya sama aku” ucap Akbar memeluk Arness


“Kamu galak” ucap Arness sedih


“Maaf Little” ucap Akbar mencium kepala Arness


Setelah meluluhkan Arness dengan susah payah akhirnya Akbar berhasil memandikan Arness lalu dia mandi sementara Arness menunggunya duduk di tepi bathup.


..


Sampai di rumah sakit, Akbar mendaftar ke dokter kandungan. Dan benar saja saat diperiksa Arness positif hamil dengan usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke empat.


Mereka berdua pulang membawa kabar bahagia membuat kedua orang tua Arness datang kerumahnya setelah Fathir pulang kerja.


Arness yang mau dipeluk cium sama kedua pasang orang tuanya itu menolak dan memilih memeluk dan dipeluk Akbar dengan manjanya.


“Kamu nggak kangen papa ?” tanya Fathir sedih


“Kangen” jawab Arness lembut


“Ya udah sini peluk, papa kangen” ucap Fathir memelas


“Nggak mau, Arness maunya dipeluk suami Arness” jawab Arness dengan manjanya


“Udahlah pa, biarin aja” ucap Fera mengalah


“Hemm, kangen loh ma sama anak itu” ucap Fathir sedih


“Sabar ya Fath, mbak mau peluk aja pas dia pulang langsung nolak” ucap Ira menghela nafas pasrah


“Yang penting Arness sekarang mau kasih kita cucu Fath” ucap Roy tersenyum hangat


..


Malam hari, Arness nggak bisa tidur. Akbar yang tadinya sudah tertidur jadi bangun.


“Kenapa Little ?” tanya Akbar dengan suara serak baru bangun tidurnya


“Uummm kamu ganteng banget” ucap Arness memainkan kedua pipi Akbar


“Hemm, tidur lagi yuk” ajak Akbar mencium kening Arness


“Nggak mau” rengek Arness


“Terus kamu mau ngapain kalau nggak mau tidur ?” tanya Akbar mengucek matanya


“Eum.. aku mau.. eum..” jawab Arness malu-malu ambil memainkan dada Akbar dengan telunjuknya


“Mau apa Little ?” tanya Akbar lembut


“Eum.. mau itu..” jawab Arness malu-malu


“Apa ?” tanya Akbar memegang dagu Arness dan dihadapkan ke wajahnya


Arness langsung mencium bibir Akbar.


“Aku.. mau lebih dari itu” ucap Arness langsung membenamkan wajahnya di dada Akbar


“Kenapa nggak bilang sayang ? aku bisa kasih langsung” ucap Akbar memulai permainannya


“Tunggu” ucap Arness menahan bibir Akbar yang mulai mencari mainannya


“Kenapa istri ku ?” tanya Akbar lirih


Arness bangun dari tidurannya lalu mengambil Hp Akbar dan membuka sesuatu yang mau ditunjukkan ke Akbar.


“Aku mau kayak gini” rengek Arness menunjuk ke layar Hp Akbar


“Little.. darimana kamu tahu itu ? kamu lihat itu kapan ?” tanya Akbar menahan kesal karena selama ini Arness nggak pernah membuka Hp nya tanpa seijinnya


“Kamu marah ?” tanya Arness cemberut takut


“Aku nggak marah, sekarang jawab pertanyaan aku Little” jawab Akbar berusaha menenangkan pikirannya


“Hhaaahh.. Little, kamu bisik-bisik gitu gimana aku bisa tahu ?” tanya Akbar pasrah


“Tapi kamu lebih parah, kamu nyimpen cewek lain nggak pakai baju gini di Hp kamu, kamu jahat” ucap Arness langsung menitikkan air matanya


“Little nggak gitu.. ya udah aku hapus ya” ucap Akbar gelisah


“Semuanya” ucap Arness ngambek


“Hah ?” tanya Akbar kaget


“Tuhkan” keluh Arness makin menangis seperti anak kecil


“Tapi sayang..” protes Akbar bingung mau menjelaskan ke Arness


“Huummm.. kamu tidur di sofa, aku nggak mau tidur sama kamu” ucap Arness dalam tangisannya


“Iya aku hapus semua ya sayang, jangan nangis” ucap Akbar mengalah


Sepanjang Akbar menghapusnya, Arness terus melihatnya.


“Udah kan Little ? yuk lanjut yang tadi” ajak Akbar dengan lembutnya


“Di folder lain belum kamu hapus, buruan hapus” ucap Arness ketus


Tahu aja lagi -batin Akbar panik


Setelah di Hp Akbar sudah bersih, kini giliran laptop dan flashdisk Akbar yang jadi sasaran Arness.


Sampai jam dua pagi ketiga barang itu baru bersih.


Udahlah.. ngalah aja.. nanti minta kirimin koleksi sama yang lain aja -batin Akbar pasrah


“Kalau sampai kamu berani nyimpen begituan lagi, aku bakalan pulang ke rumah dan nggak mau temuin kamu lagi” ancam Arness


“Loh.. s.. sayang.. jangan gitu dong.. ya udah ya aku nggak simpen itu lagi, jangan marah lagi ya istri ku” ucap Akbar memohon


“Hemm, aku mau tidur” ucap Arness ketus


“Tapi tadi..” ucap Akbar panik


“Nggak kepengen lagi” jawab Arness yang sudah tiduran membelakangi Akbar


Arghh.. parah banget sih, teori nggak punya lagi, praktek gagal -batin Akbar kesal sendiri


**


Pagi harinya Akbar terbangun karena Arness menggesekkan wajahnya di dada Akbar.


“Sayang” panggil Akbar dengan suara serak baru bangun tidurnya


“Aku suka suara kamu sayang.. apalagi pas baru bangun tidur gini” ucap Arness langsung mencium bibir Akbar


Arness duduk di pangkuan Akbar lalu mencium bibir Akbar lagi dan memeluk erat kepala Akbar.


“Sayang” panggil Akbar lirih


“Aku mau kamu suami ku” ucap Arness lirih dan menarik kedua tangan Akbar ke pinggangnya


Nafas Arness makin nggak teratur membuat Akbar merasa terpanggil.


Akbar menidurkan Arness dan melakukannya dengan agresif karena nafsunya sudah tertahan dari semalam.


Akbar terus menerus membuat Arness mendesah tanpa jeda.


Aahhh.. cantik banget istri ku.. ini semua milik ku -batin Akbar menatap setiap inci tubuh Arness


Akbar menarik paksa tangan Arness turun dari tempat tidur dan diajaknya berdiri di depan standing cerminnya agar terlihat semua lekuk tubuh polos mereka berdua.


“Aaahhh.. kamu seksi banget sayang.. aku suka kamu.. aku suka tubuh kamu” bisik Akbar sambil menggerayangi tubuh Arness dari belakang


Akbar menggendong Arness dan dirapatkan ke tembok sambil terus bermain.


Belum puas, Akbar bermain di sana sini di dalam kamar dengan agresifnya sampai akhirnya dia melepaskan semuanya.


..


Keduanya tiduran ditempat tidur, mengumpulkan nyawa mereka yang baru bangun langsung olahraga itu.


“Aku mau lagi” rengek Arness


Dengan cepat Akbar mengulang kejadian tadi sampai puas.


Seharian ini mereka berdua nggak keluar kamar membuat kedua orang tuanya khawatir.


**


Selama hamil, Arness sangat manja sama Akbar, Akbar selalu membujuk Arness setiap kali mau berangkat kerja karena Arness minta ikut.


Arness juga minta Akbar buat selalu pakai bandonya setiap Arness melihatnya.


Kedua orang tua mereka yang melihatnya bingung harus apa, mereka senang tapi khawatir.


Arness juga menolak memakai celana seperti penampilan biasanya itu, dia memilih memakai mini dress dengan sepatu kets setiap keluar rumah.


**