My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Kebersamaan Arness Ke Teman-Temannya



Arness menyelesaikan make up nya lalu membantu Akbar menyiapkan station sebelum bekerja seperti yang dia lakukan saat baru dekat sama Akbar.


“Jadi flashback Amore” ucap Arness senyum-senyum sendiri


“Masa-masa kamu masih manggil aku pak, formal, dan foto-foto absurd pertama kalinya ?” goda Akbar dengan senyum tipisnya


“Hehehehe.. aneh nggak sih kalau ngebayangin waktu itu ?” tanya Arness melirik ke atas dengan wajah serius


“Lebih aneh itu jauh sebelum itu, dimana aku cuma bisa lihat senyum kamu dari jauh, lihat kamu kerja, ngomong juga cuma karena ada keperluan kerja aja kan ?” jelas Akbar mengingat saat-saat pahit itu


“Nggak berani godain aku sih, padahal aku pengen banget digodain kamu” goda Arness mengelus lembut dagu Akbar


“Apanya mau godain ? kamu kalau ngomong sama Ibraa sama Lucky aja gitu.. dikit-dikit gila ya, mau mati ya, udah bosen hidup kamu..


Mana berani aku jadinya kalau sama yang kenal sama kamu aja kamu begitu, gimana aku yang belum tahu apa-apa tentang kamu” gerutu Akbar


“Cemen banget” gumam Arness berjalan cepat meninggalkan Akbar


“Hei.. Little, tunggu dong” panggil Akbar menyusul Arness


..


Pulang kerja, Arness mengajak Akbar mampir ke apotek yang ada di dalam mall itu. Arness membeli vitamin buat Akbar lalu pulang.


..


Sudah sampai rumah, Arness mandi lalu makan ditemani Fathir.


“Kamu nggak jalan sama Akbar ?” tanya Fathir memangku tangan menatap Arness


“Nggak pa, kasihan dia, biarin dia istirahat.. Arness mau main sama Vino" jawab Arness sambil makan


“Papa ikut ya ? papa ajak om Egi deh” ucap Fathir sedikit memelas


“Kali ini nggak boleh.. khusus buat anak-anak muda” jawab Arness meledek Fathir


“Biasanya kan boleh ?” tanya Fathir masih berusaha


“Papaaaa.. kali ini Ivy mau ikut main, masa papa mau ikut kumpul juga sih ? mending papa tanding catur aja, hahahaha..” jawab Arness meledek Fathir


“Tumben Ivy mau ikut, dia sendiri ?” tanya Fathir penasaran


“Iya, ada misi khusus soalnya, makannya jangan ganggu ya pa” jawab Arness menyudahi makannya


“Apa ? kasih tahu dong” rengek Fathir


“Enak aja, rahasia dong” jawab Arness mencuci piring


“Huh.. ya udah” ucap Fathir mengalah


Selesai makan, Arness mengambil Hp nya di kamar lalu duduk di ruang tamu.


“Assalamu’alaikum.. Arneessss.. ayo main” teriak Panji dari depan pagar rumah Arness


“Wa’alaikum salam, sini masuk dulu Ji” teriak Arness dari teras rumahnya


Panji membuka pagar rumah Arness lalu mendekati Arness yang berdiri di teras rumahnya.


“Aku ambil gitar dulu ya” ucap Arness tenang


“Nggak usah Ness, Ali sama Vino udah bawa gitarnya di atas, ayo” ajak Panji lembut


“Oke, sebentar, mau pamit dulu” ucap Arness buru-buru


Arness masuk sebentar buat pamit ke Fathir yang lagi nonton TV di ruang tamu lalu berjalan keluar rumah sama Panji.


Keduanya langsung naik ke atap rumah Egi karena yang lain sudah menunggu disana.


..


Sampai atas, Ikbal sudah memainkan lagu dengan gitar Ali, dipadu dengan permainan gitar Vino dan bernyanyi bersama.


Arness menarik bangku lalu duduk disamping Vino, menaikkan kedua kakinya ke atas bangku dan menyandarkan punggungnya disana.


Mereka terbiasa membuat lingkaran dengan jarak yang cukup buat memainkan gitar.


Vino memberikan gitarnya ke Panji, membiarkan ketiga laki-laki itu bermain sendiri sedangkan Vino mengajak Arness ngobrol.


“Gimana sama Ivy ? udah bilang ?” tanya Arness tenang


“Udah, aku udah cerita semuanya.. dia mau bantu aku sesuai apa kata kamu Ness” jawab Vino tersenyum tipis


“Aku pikir kamu mau pakai saran kedua aku, hahahaha..” ledek Arness


“Gila ya ! lihat nih aku udah merinding duluan” keluh Vino melihatkan bulu tangannya yang merinding


“Hahahahaha.. kapan si cewek itu dateng ?” tanya Arness kembali tenang


“Nggak tahu, biarin aja” jawab Vino ketus


“Cih” gumam Arness


“Ness, nih main, gantian” ucap Ikbal memberikan gitar Ali ketangannya


“Oke, lagu kalian yang pilih, aku ikut suara dua aja” ucap Arness memeluk gitar Ali


Baru mulai bernyanyi dan main gitar, Vino melihat layar Hp nya lalu dengan cepat turun tanpa pamit ke yang lainnya itu.


..


Vino kembali dengan Ivy.


Arness dan yang lainnya masih melanjutkan permainannya, cuma sedikit mengangguk dan tersenyum ramah tanda menerima kedatangan Ivy.


Ivy duduk disamping Arness dan Vino, mengikuti irama lagu sampai lagu itu habis.


“Sahabatnya Arness bukan sih ?” tanya Ali memastikan


“Iya, ini orangnya.. masih inget kan namanya ?” tanya Arness lembut


“Ivy bukan ya ?” tanya Panji sedikit ragu


“Iya” jawab Ivy malu-malu


“Kamu masih inget nama mereka ?” tanya Arness lagi


“Inget.. Panji, Ikbal, Ali” jawab Ivy menunjuk satu persatu nama teman-teman Arness


“Tapi kenapa datengnya sama Vino ? bukan kamu yang turun ke bawah Ness ?” tanya Ali penasaran


“Tanya Vino lah, jangan tanya aku, hahahahaha..” goda Arness


Vino pun menceritakan maksud kedatangan Ivy dan menceritakan kalau dia sudah kenalan pribadi sama Ivy.


Panji, Ali, dan Ikbal saling menyikut, tersenyum, dan menatap satu sama lain.


“Apa kamu juga mikirin apa yang kita pikirin Ness ?” tanya Ikbal menahan senyumnya


“Iya aku tahu.. jangan digodain, nanti gagal, hahahaha..” jawab Arness menggoda Ivy dan Vino yang malu-malu


“Nih dua puluh ribu pertama” ucap Ali menaruh uang di atas meja


Disusul sama Arness, Vino, Ikbal, dan Panji yang ikut menaruh uang senilai dua puluh ribu di atas meja.


Ivy baru mau mengeluarkan uang dari dompetnya tapi Vino menahan dan melarangnya buat ikut patungan.


“Buat kali ini kamu kan tamu pertama Vy, nggak usah ikut patungan” ucap Arness merangkul bahu Ivy


“Tapi kumpul ke dua dan seterusnya ikut patungan ya” tambah Ali dengan senyumnya


“Tapi aku nggak enak kalau nggak ikut patungan” ucap Ivy merasa nggak enak


“Kayak gitu nggak berlaku disini Vy, santai aja.. udah aku bilang kan, jadi diri sendiri” ucap Vino dengan senyum lembutnya


“Kali ini menunya apa ?” tanya Arness tenang


“Eum.. martabak yuk, kan ada Ivy.. masa makan ciki terus” jawab Ikbal menggerutu


“Boleh tuh martabak, martabak manis ya” ucap Ali dengan semangatnya


“Ya udah sana beli, hahahahaha..” ucap Arness dengan gaya duduknya seperti bos besar


“Gila ya !” celetuk Panji mengacak-acak rambut Arness disusul sama Ikbal dan Ali yang mencubit pipi dan mengacak-acak rambut Arness juga


“Hahahahahaha.. kalian udah gila” tawa Arness dengan rambut acak-acakan


“Kamu yang gila, lihat tuh rambut kamu” ucap Panji mencubit hidung Arness


“Bodo ! aku masih manis wlee” jawab Arness merapihkan rambutnya dan mengikatnya ulang


Kok Arness nggak marah ? apa mereka udah biasa kayak gitu ? -batin Ivy


“Ivy mau minum apa ?” tanya Vino lembut


“Apa aja, samain aja juga nggak apa-apa” jawab Ivy masih sedikit malu


“Aku nggak ditanya ?” tanya Arness penuh harap


“Nggak usah ditanya, udah tahu” jawab Ali ketus


“Susu dingin, air putih, sama ciki rumput laut” tambah Panji ketus


“Wiihhh.. keren.. keren kan Vy ? mereka ini para penggemar aku” ucap Arness dengan bangganya


“Gimana kalau kamu sama Ikbal pegangin tangan Arness, aku bawain kucing kesini ?” tanya Ali dengan rencana jahatnya


“Setuju banget” jawab Panji langsung semangat


“Ayolah Li, buruan cari kucing sana” ucap Ikbal


“Beneran gila ya ! mau bikin aku nggak waras ?” gerutu Arness kesal dan sudah panik


“Hahahahahaha..” tawa terbahak-bahak dari Ivy, Vino, dan ketiga teman Arness


Panji dan Ikbal belanja makanan dan minuman buat bareng-bareng, sedangkan Arness, Ivy, Vino dan Ali duduk ditempatnya.


Ali mengajak Arness buat duet membiarkan Ivy dan Vino ngobrol berdua.


“Jangan kaget sama sikap yang lain ke Arness ya, kita udah saling kenal dari kecil, kita tumbuh bareng karena rumah yang nggak pindah-pindah juga..


Aku sama yang lain itu anggap Arness adik sendiri, kita jagain Arness” jelas Vino lembut sebelum Ivy mulai salah paham


“Eh.. eum.. maaf ya, aku cuma kaget aja karena kalau sama sahabat lain kita nggak begini” ucap Ivy merasa bersalah


“Hahahaha.. mungkin karena persahabatan kalian baru sebentar, nggak kayak kita yang udah dari kecil ini” ucap Vino lembut


“Iya sih, mungkin” jawab Ivy menerima ucapan Vino


“Vin, gantian.. nanti aku lagi kalau Ikbal sama Panji udah balik” ucap Arness memberikan gitar ke Vino


“Mau request lagu apa ?” tanya Vino ke Ivy setelah memeluk gitarnya


“Eh.. boleh request ?” tanya Ivy tersenyum malu


“Request aja, Vino bakalan nyanyiin buat kamu” jawab Ali menggoda Ivy


“Eum.. lagunya Budi Doremi yang judulnya Tolong, boleh ?” tanya Ivy malu


“Boleh kok” jawab Vino dengan senyum lembutnya


**