
Arness tetap profesional menyelesaikan pekerjaannya.
Sesekali hilang fokus saat melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
Hatinya terasa sesak, susah digigitnya kencang bibir bawahnya itu sampai tidak bisa merasakan sakitnya lagi.
..
Arness sengaja istirahat saat karyawan shift pagi baru mau ganti baju dan bersiap pulang.
Kalau ramai dia akan tenang dan nggak terganggu sama suasana hatinya, begitu pikir Arness.
Setelah makan pun Arness langsung make up sedikit merapihkan dandanannya yang mulai luntur lalu langsung kembali kerja.
..
Makin malam makin ramai, makin menghilangkan sejenak beban pikiran ini. Pikir Arness.
Dari sudut lain, Akbar merindukan sosok wajah gemas yang selalu membuat perasaannya tenang.
Wajahnya menunjukkan kegelisahan, sedih, kecewa, dan kerinduan ke perempuan yang lagi dia pandangi ini.
..
“Namanya Arness ? cantik banget namanya” goda seorang laki-laki yang hendak memesan tiket nonton
“Makasih mas” jawab Arness sopan
“Boleh kenalan ?” tanya laki-laki disampingnya sambil menjulurkan tangannya
“Nama saya Arness, sesuai name tag” jawab Arness sopan sambil mengatupkan kedua tangannya di dadanya
“Kenalan langsung maksudnya” ucap laki-laki tadi dengan lembut
“Maaf mas, saya sudah menikah” jawab Arness masih di posisi tadi
“Huh, sayang banget” keluh laki-laki sebelumnya
Mereka memesan tiket sengaja menunggu antrian di station Arness.
Melihat kejadian itu, membuat Akbar geram. Tangannya sudah mengepal erat tapi dia kembali tersadar dengan perkataannya yang menyakiti Arness.
Diurungkan niatnya mau menghampiri station Arness itu, lalu pergi meninggalkan Arness kembali bekerja setelah kedua laki-laki itu sudah selesai dengan urusannya.
..
Beberapa menit sebelum jam kerjanya selesai, Arness menghubungi Fathir buat menjemputnya kerja, bingung dan aneh mendengar permintaan anaknya itu tapi Fathir tetap menjemput Arness.
..
Arness masuk ke ruang loker bersama karyawan perempuan lainnya. Mereka juga keluar bersama termasuk Uma.
“Mas Hadi udah dateng jemput ?” tanya Arness yang berjalan disamping Uma
“Kayaknya udah, kenapa ? mau cerita ?” tanya Uma serius
“Nggak, aku nggak mau bikin bumil ku menderita” jawab Arness mendrama dan memeluknya dari samping
“Sebentar, ada pesan WA masuk” ucap Uma kaget
“Ya udah” jawab Arness yang memberikan privasi ke Uma
“Arness sama kamu ?” tanya Akbar
“Iya kak” jawab Uma seadanya
“Apa dia udah mau cerita ?” tanya Akbar lagi
“Nggak, dia malah nunjukkin sikapnya kayak biasa” jawab Uma cepat
“Dia pulang sama siapa ? apa dia mau nunggu di basement ?” tanya Akbar khawatir
“Nggak tahu kak, dari tadi Arness nggak bilang apa-apa tentang masalah kak Akbar yang tadi kak Akbar ceritain itu” jawab Uma merasa ikut sedih
“Ness, kamu nggak pulang bareng kak Akbar ?” tanya Uma hati-hati
“Aku udah minta jemput papa” jawab Arness tertunduk sedih
“Arness udah minta jemput sama om, kak” balas Uma lagi
Nggak ada balasan dari Akbar lagi.
Arness menggenggam tangan Uma erat membuat Uma kaget.
“Arness” panggil Uma sedih
“Jangan tanya apa-apa, aku cuma mau kayak gini” ucap Arness dengan mata berkaca-kaca
Uma menuruti ucapan Arness, malah mempererat genggaman tangannya dan menghangatkan perasaan Arness.
..
Sudah di pos tempat tadi siang Arness meratapi tangisnya.
Fathir dan Hadi sudah menunggu Arness dan Uma keluar, lalu mereka saling pamit dan pulang.
“Ness, apa kamu ada masalah sama Akbar ?” tanya Fathir khawatir
“Eh, kenapa tiba-tiba pa ?” tanya Arness tanpa menjawab pertanyaan Fathir
“Kenapa tiba-tiba minta papa jemput padahal kata mama tadi pagi kalian berangkat bareng” tanya Fathir curiga
“Pa, Arness cuma kangen dijemput sama papa, sebentar lagi Arness nikah dan nggak bisa dianter jemput lagi kerjanya sama papa” jawab Arness berbohong
“Jangan bohong sama papa ya Ness.. cerita kalau ada apa-apa, papa pasti bantu” ucap Fathir tulus
..
Sampai rumah, Arness masih berakting memamerkan senyum palsunya sampai akhirnya dia masuk kamar.
Arness masih nggak berani membuka WA nya mau itu notifikasi dari siapapun. Arness memilih tidur dan melupakan masalahnya itu.
**
Pagi sudah datang memaksa Arness untuk masih mengingat masalahnya lagi.
Setelah sarapan, Arness sudah pamit memanasi mesin motornya dan bersiap pergi ke studio.
“Nggak nunggu Akbar dulu Ness ?” tanya Fera khawatir
“Nggak ma, Arness sendiri aja, Arness berangkat ya ma, Assalamu’alaikum” salam Arness sambil menurunkan standar motornya
“Iya Wa’alaikum salam, hati-hati dijalan ya” ucap Fera dari teras rumahnya
“Iya” jawab Arness setelah menutup pagar rumahnya lagi
..
Pagi ini Arness mengendarai motor matic yang sudah sangat jarang dia pakai ini.
Menyusuri jalanan dengan tenangnya, membiarkan angin menusuk-nusuk kulit tangannya dan melepaskan beban pikirannya sejenak.
..
Sudah sampai di halaman parkir galeri Zahra. Pertama kalinya Arness memasuki galeri besar itu sendirian.
Benar saja dugaan Arness, pertanyaan banyak terucap dari hampir semua orang yang terlibat dalam kerjasama Arness. Arness menanggapinya dengan baik, seperti kemarin, dia masih mampu memamerkan senyum palsunya sampai pekerjaannya selesai.
..
Arness pamit lalu melajukan motornya perlahan dan berhenti di atas fly over.
Rasanya sudah lama sekali Arness nggak melakukan hal ini.
Dulu Arness sering ke atas fly over setiap perasaannya lagi nggak tenang.
Entah kenapa rasanya melegakan duduk di motor menatap kendaraan yang sibuk mengantri di jalan raya sambil menikmati hembusan angin meniup masalahnya.
“Aku cinta kamu Bar” gumam Arness lalu menggigit bibir bawahnya
Sudah merasa lega, Arness kembali melajukan motornya kembali ke jalan raya.
..
Sampai di basement tempat Arness kerja.
Arness sudah memarkir rapih motornya dan melepaskan helmnya, tapi dia masih duduk tertunduk di atas jok motornya.
Aku bisa.. aku bisa.. aku bisa !! -batin Arness menyemangati dirinya sendiri
Arness menghela nafas panjang beberapa kali sebelum akhirnya memasang senyum palsunya lagi dan meninggalkan motornya itu.
Arness berjalan seperti biasanya, tanpa menunjukkan masalah yang ada dipikirannya.
“Kenapa nggak nunggu aku jemput ?” tanya Akbar dingin dan sudah berjalan di belakang Arness
Deg !!
Arness terus berjalan dan menundukkan kepalanya sambil melepaskan ikat rambutnya dan membiarkan wajahnya nggak kelihatan dari samping ataupun dari belakang.
“Kenapa nggak nunggu aku jemput ?” tanya Akbar lagi
“Bisa omongin nanti aja ? aku mau kerja, nggak mau telat lagi” jawab Arness tanpa menoleh ke belakang
..
Masuk mall, terlihat kedua bahu Arness terangkat seperti Arness lagi menarik nafas dalam-dalam. Terus memasang senyum palsu dan berjalan riang sampai masuk ruang office.
Wajahnya langsung terlihat lelah setelah melakukan kebohongan itu.
Arness langsung duduk santai di bangku ruang loker dan menyandarkan kepalanya ke tembok.
“Arneeesss” teriak Uma yang setengah berlari ke arah Arness
“Hemm, kenapa sih bumil ? jangan lari-lari gitu, bahaya” ucap Arness melirik perut Uma itu
“Apa kamu mau cerita ?” tanya Uma memegang kedua pipi Arness menghadap ke wajahnya
“Cerita apaan sih Uma ? kenapa kamu udah disini ? kan masih lama ?” tanya Arness berusaha mengalihkan obrolan
“Jangan bohong sama aku Ness, aku tahu persis kalau kamu ada masalah” jawab Uma khawatir
“Jawab pertanyaan aku yang lain juga dong, gimana sih, curang banget” gerutu Arness melepaskan tangan Uma
“Aku sengaja, karena kamu pasti udah dateng” jawab Uma sedikit kesal
“Aww manis bangett.. kalau gitu temenin aku makan yuk, aku laper” ucap Arness mengelus perutnya
“Ya udah ayo tapi aku nggak makan ya, aku udah makan sebelum berangkat” ucap Uma lembut
“Cih, nggak asik.. ya udahlah ayo” ajak Arness cepat
Arness nggak tahu kalau ternyata Akbar duduk di ruang office dengan wajah penuh kekesalan.
Dia pasti sengaja kan beneran nggak mau lihat aku ? makannya dia duduk disitu, nggak mau ke loker -batin Arness
**