
Sampai depan pagar rumah Arness dan Viona, mereka turun dari motor laki-lakinya.
“Ness.. main nggak ? udah lama nggak gitaran” teriak Ali dari warung samping rumah Arness
“Nggak, makasih.. lagi mau istirahat” teriak Arness dari depan pagar rumahnya
Akbar memajukan motornya mendekati Viona sementara Arness masih sahut-sahutan sama teman-teman rumahnya itu.
“Kenapa cuma Arness yang dipanggil ? kenapa kamu nggak ?” tanya Akbar pelan dengan wajah curiganya
“Yaa aku kan jarang main sama mereka kak, kalau Arness udah kayak bagian dari geng mereka” jawab Viona tenang
“Minta nomor WA kamu, kayaknya aku mesti banyak belajar tentang Arness dari kamu” ucap Akbar menyodorkan Hp nya ke Viona
“Kak, jangan frontal gini, gimana kalau Arness lihat ? nanti aja aku kasih di rumah” ucap Gio mendorong Hp Akbar
“Kalian ngomongin apaan ?” tanya Arness yang berjalan mendekati mereka
“Bukan apa-apa, udah teriak-teriaknya ?” sindir Akbar ketus
“Udah” jawab Arness datar
“Hulk lemot” gumam Viona
“Aku pulang ya Little” ucap Akbar mengelus lembut kepala Arness
“Hati-hati dijalan, jangan ngebut, dan kabarin aku pas udah dirumah ya” ucap Arness seperti biasanya
“Iya Little” ucap Akbar lembut
“Aku pamit ya Vi” ucap Gio dengan senyum lembutnya
“Iya kak, buruan sampai kamar ya” ucap Viona sudah nggak malu lagi
“Iya Viona ku” ucap Gio lembut
..
Di kamar masing-masing, Arness dan Viona membanting tubuhnya ke atas tempat tidur, senyum lebar di wajah mereka dan menatap langit-langit kamarnya seakan membayangkan sesuatu.
Amore kenapa ganteng banget sih kalau cuek gitu.. aku kan mau kasih lihat ke orang-orang kalau calon suami aku itu ganteng dan gagah kalau cuek gitu, bukan manja dan mesum.. cih, bikin aku makin cinta aja -batin Arness
Kak Gio.. lembut banget sih cara dia deket sama aku tuh.. dan, aaaaaa.. aku ciuman pertama kalinya sama kak Gio.. aaaaaaa.. aku ketagihan, gimana nih ? -batin Viona
..
Sampai rumah, Akbar dan Gio masuk bersama sambil Gio mengirim nomor WA Viona ke Akbar.
“Lihat ma, kayaknya mereka bakalan double date terus ya ?” goda Roy yang duduk di kursi dapur
“Iya pa, siapa sangka jodoh mereka sedeket itu” tambah Ira ikut senang melihat mereka
Akbar dan Gio masuk ke kamar masing-masing. Menyalakan AC kamar mereka lalu membanting tubuh mereka di atas tempat tidur. Sibuk dengan Hp yang sudah tergenggam di tangannya, mengabari pasangannya masing-masing.
Akbar mengirim pesan WA ke Viona, begitu juga Gio yang mengirim pesan WA ke Arness.
“Ness, Vio bilang dia suka belanja, dia belanja apa aja sih ?” tanya Gio
“Banyak, tapi dia lebih suka belanja baju cewek sama aksesoris cewek gitu, entah jepit rambut, bando, anting, cincin, gelang, kalung, gitu deh” jawab Arness menyebutkan kebiasaan Viona
“Oh gitu, warna kesukaan dia apa Ness ?” tanya Gio lagi
“Gitu aja nggak tahu.. dia suka warna pink sama ungu yang bikin sakit mata itu” jawab Arness mengeluh
“Warna yang kamu nggak suka itu berarti ya ?” tanya Gio memastikan
“Iyaa” jawab Arness tenang
..
“Vi, ini kakak” ucap Akbar diawal pesan WA nya ke Viona
“Iya kak, kenapa ?” tanya Viona tenang
“Apa Arness nggak pernah belanja ?” tanya Akbar penasaran
“Jarang banget kak, dia belanja kalau emang butuh aja, apa lagi ada barang yang dia incar” jawab Viona tenang
“Emang dia suka belanja apa ?” tanya Akbar makin penasaran
“Koleksi kak.. Arness suka koleksi sepatu” jawab Viona
“Oh gituu.. ya udah makasih ya, lain kali aku tanya kamu lagi” ucap Akbar lembut
“Iya kak sama-sama” balas Viona
**
Hari Senin pagi, Arness sudah berangkat ke galeri Zahra sama Akbar.
Sampai sana, Arness sudah diminta ganti pakaian dengan baju pengantin adat Minang Koto Gadang lengkap dengan berbagai aksesorisnya, ada dua perempuan lainnya yang juga akan bekerjasama dengan Arness.
Ketiganya sangat cantik dengan busana yang mereka pakai. Mereka foto satu persatu, bergantian sambil merapihkan sedikit riasan di wajahnya, bergaya dengan arahan dari fotographer.
Arness sengaja tampil terakhir karena riasan dan aksesoris untuk Arness dibuat se detail mungkin sesuai daerahnya.
Akbar dan kedua laki-laki yang ternyata pasangan sang model seperti Arness sudah duduk berjajar di ruang pemotretan.
Dua laki-laki itu terlihat sangat puas melihat pasangannya sangat cantik terbalut dalam baju pengantin adat yang mereka pakai.
Gumam-gumam dan saling menyanjung pasangannya, Akbar masih gelisah menunggu Arness yang belum muncul juga.
Arness memasuki ruang pemotretan dibantu dengan dua orang perempuan disampingnya.
Berdiri di tengah studio dengan lampu sorot di sekitarnya dan mulai berpose sesuai arahan koreo sekaligus fotografer disana.
Pemotretan Arness sesi pertama selesai, make up Arness diberikan sedikit tambahan agar terlihat makin cantik.
Arness tersenyum sambil menunggu kedua perempuan model lainnya merapihkan riasannya sebelum melakukan pemotretan pertamanya.
Hastaga !! cantik banget.. jantung ku kenapa nggak bisa diem gini sih -batin Akbar
“Itu calon istri kamu bukan ?” tanya seorang laki-laki yang duduk di samping Akbar
“Iya.. dia calon istri ku” jawab Akbar dengan senyum lebarnya
“Cantik banget sih” puji laki-laki lainnya
“Kamu udah punya ya, kita sama-sama udah punya, jangan aneh-aneh” protes Akbar kesal
“Iya.. cuma puji aja, pacar ku juga jauh lebih cantik” keluh laki-laki tadi
Arness berdiam diri, menunggu kedua model lainnya masuk ke frame lalu mereka berfoto bersama.
Menunjukkan pesona mereka masing-masing, sungguh, Arness menjadi pusat diantara mereka.
Hari pertama Arness telah selesai. Arness sudah berkenalan dengan dua model tadi karena saat mereka dirias, Zahra menjelaskan kalau mereka akan melakukan pemotretan bersama.
..
Jam dua belas siang, Arness dan Akbar sudah sampai di ruang loker tempat mereka kerja. Sepanjang jalan sampai ruang loker nggak hentinya Akbar memuji Arness.
Uma sampai ijin langsung istirahat saat melihat Arness dan Akbar sudah datang.
..
Arness merebahkan kepalanya di paha Akbar, membiarkan Akbar mengelus lembut kepalanya sedangkan Uma makan di depan mereka.
“Mana foto pertama kamu jadi model mereka ? aku mau lihat” ucap Uma nggak sabar
“Uma.. fotonya belum jadi, katanya besok baru jadi” jawab Arness tenang
“Kamu bakalan kaget Uma.. Arness cantik banget” ucap Akbar yang terus memuji Arness
“Eh kok cantik kak ?” tanya Uma bingung
“Iya, kalau Arness biasanya manis, kali ini cantik.. lebih cantik dari waktu dia jadi bridesmaid kamu dan acara lamaran itu” jawab Akbar mengelus lembut pipi Arness
“Aaaa.. aku makin nggak sabar, mau lihat cantiknya sahabat tersayang ku ini” ucap Uma dengan senyum nggak sabarnya
“Gimana sama kehamilan kamu ? udah cek up ?” tanya Arness lembut
“Minggu ini aku ke dokter sama mas Hadi, Ness” jawab Uma tenang
“Sehat-sehat ya debay.. jangan nyusahin sahabat aku ini” ucap Arness menatap tajam ke perut Uma
“Kalau kamu lihatnya kayak gitu yang ada nanti anak aku takut sama kamu Ness” keluh Uma
“Nggak mungkin.. dia pasti sayang banget sama aku” ucap Arness nggak sabar
**
Esok harinya saat Arness lagi istirahat setelah bekerja di ruang loker, dia dikirimi foto dari Zahra.
Foto-foto dia sendiri dan foto bersama model lainnya saat pemotretan.
Kok jadi beda gini ya ? ini kekuatan make up apa editan ya ? -batin Arness
“Makasih ya mbak Arness buat pemotretan pertamanya, hasilnya sangat memuaskan.. saya akan tag ke Instagram mbak Arness ya” ucap Zahra ramah
“Sama-sama mbak Zahra, tolong panggil Arness aja, saya nggak enak kalau terus-terusan dipanggil mbak” balas Arness ramah
“Iya Arness, hehehe.. semoga kedepannya bisa lebih akrab dan kerjasama dalam jangka panjang ya” ucap Zahra ramah
“Saya juga mengharapkan hal yang sama.. makasih udah percayain saya buat jadi model Mbak Zahra ya” ucap Arness ramah
“Sama-sama Arness.. selamat istirahat ya, sampai ketemu besok lagi” balas Zahra ramah
**