
Arness pamit sama Uma, Ivy, dan Hadi lalu pulang sama Akbar yang masih cemberut.
..
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Akbar berhenti di fly over tempat Arness dulu menenangkan perasaannya setelah dari rumah alm. Akbar.
“Hhaaaaaaahh” Akbar memulai obrolan dengan menghela nafas panjang
“Bar ?” panggil Arness sedikit takut
“Kamu cerita aja, aku nggak marah” ucap Akbar lembut
“Cerita apa ?” tanya Arness lemot
“Little.. jangan ngeselin.. cerita tentang Rendi dan para cowok yang suka sama kamu itu” jawab Akbar sedikit kesal
Arness menceritakan tentang hubungannya dulu sama Rendi dan para laki-laki yang menyukainya.
Tapi Arness nggak cerita tentang dia mukul Rendi dan beberapa DM Instagram yang isinya para laki-laki yang menyukainya dan lainnya minta kenalan sama Arness.
“Itu aja yang mau kamu ceritain sama aku ?” tanya Akbar tajam
“Eum.. apa lagi ?” tanya Arness mulai takut
“Apa ada kejadian yang kamu nggak ceritain ke aku ?” tanya Akbar menatap Arness
“Eh.. eum.. cerita.. apa ?” tanya Arness memalingkan wajahnya dan tambah takut
“Jadi kamu beneran nggak mau cerita alesan kamu mukul cowok itu ?” tanya Akbar tanpa menatap Arness
Gimana bisa ? siapa yang kasih tahu dia ? aku udah ancem semuanya buat nggak kasih tahu Akbar.. -batin Arness
“Eum.. kamu udah tahu ?” tanya Arness pelan dan takut
“Kenapa nggak jujur sama aku ? kenapa kamu banyak nutupin masalah kamu dari aku ?” tanya Akbar tajam tanpa menoleh ke Arness lagi
“Aku..” Arness bingung mau jelasin apa
“Apa kamu nggak ngehargain hubungan kita ? kenapa setiap kamu ada masalah, selalu aku orang pertama yang nggak boleh tahu ? apa gunanya aku jadi pacar kamu ? bocah itu tahu semuanya, bahkan mereka yang paling depan ngelindungin kamu.. sedangkan aku ? entahlah” jelas Akbar yang sudah marah tanpa menatap Arness
Baru kali ini lihat Akbar marah.. -batin Arness lirih
“Bar.. bukan kayak gitu maksud aku.. aku..” lagi-lagi Arness nggak tahu harus jelasin apa
“Kenapa nggak bisa jelasin ? apa aku emang nggak sepenting itu buat kamu ? apa mereka lebih penting dari aku ? apa perasaan kamu ke aku selama ini bohong ?” tanya Akbar makin kesal
Deg !!
Dada Arness langsung terasa sesak, tubuhnya bergetar lemas, pertanyaan Akbar langsung tepat mengenai hati Arness.
Akbar sekalipun nggak menatap Arness. Pandangannya lurus jauh kedepan, seperti waktu Arness meluapkan perasaannya sendiri.
Akbar benar-benar marah dan kecewa, tatapannya tajam, niat buat menyentuhnya pun Arness nggak punya keberanian itu.
“Bar..” ucap Arness pelan menahan tangisnya
“Apa ? kamu nyesel nggak cerita ? apa kamu lebih nyesel sama hubungan ini ? mau kamu apa ? aku nggak ada gunanya jadi pacar kamu.. sama aja kayak aku belum berusaha buat deket sama kamu.. cuma bisa lihat kamu dari jauh tanpa lakuin apa-apa.. pendam perasaan ini sendiri ternyata lebih baik” jelas Akbar kecewa
“Aku.. minta maaf.. aku tahu.. semua.. salah aku.. nutupin masalah aku dari kamu..
aku.. nggak suka bikin kamu.. khawatir.. kayak.. mama papa..
Aku takut.. kalau perasaan kamu.. berubah.. karena tahu.. sikap asli aku..” jelas Arness lirih dengan suara dan tubuhnya yang sudah bergetar menahan air mata keluar dari mata bulatnya
“Kamu selalu bilang yang hal sama ! kenapa kamu nggak mau aku khawatir sedangkan mereka boleh lakuin itu ! sepenting apa aku di mata kamu ! sepenting apa mereka buat kamu ! apa artinya hubungan yang serius kalau sahabat kamu lebih tahu segalanya !” bentak Akbar tanpa menatap Arness
Deg !!
Dada Arness makin terasa sesak, tubuhnya lemas, tapi dia tetap berusaha kuat.
Nggak ada satu kalimat pun yang bisa Arness jawab.
“Nggak perlu cerita lagi.. aku tahu semuanya.. bahkan aku tahu ini tempat dimana kamu menyendiri dan luapin emosi kamu.. dari sebelum deket sama kamu.. sampai kamu kesini dari rumah Akbar..
Haaahhh.. berharap apa sih aku ini.. suka sama cewek yang bahkan nolak banyak cowok.. apa bedanya aku sama mereka.. mereka di tolak tapi perasaannya jauh lebih tenang ketimbang diterima tapi nggak tahu apa-apa.. jadi.. apa boleh kalau aku jadi sahabat kamu aja ?” gumam Akbar menoleh ke Arness dan kembali memandang kelap-kelip lampu kendaraan
Arness nggak sanggup menahan air matanya lagi. Setetes sudah keluar dan langsung dihujani tanpa aba-aba.
Arness mengepal tangannya erat. Mata merahnya menatap berharap belas kasih dari Akbar. Arness menahan isak tangisnya sampai akhirnya dia memilih berlari meninggalkan tempat itu ke arah yang berlawanan.
Arness berlari sekencang-kencangnya dihujani perasaan bersalah. Bahkan Akbar pun nggak mengejar dia. Rasanya, Arness sudah kalah telak.
Apa yang dia yakini selama ini atas perasaannya buat Akbar, ketulusan hatinya melupakan alm. Akbar dari hatinya.
Arness berlari tanpa arah tujuan yang pasti. Dia nggak punya tempat bersandar.
..
Cukup jauh Arness berlari melawan arah agar Akbar nggak bisa mengejarnya. Arness memakai topi yang selalu dia bawa itu buat menutupi matanya yang sembab.
Arness berhenti di salah satu minimarket. Dia cuci muka, menenangkan dirinya, dan membeli sebotol kopi instan yang jelas-jelas dia nggak boleh minum.
Arness duduk di salah satu bangku disana, bersandar dengan tatapan kosong.
Orang yang melihatnya bahkan merasa kasihan dan membujuknya buat pulang, tapi Arness selalu bilang kalau dia nggak apa-apa, ya, kalimat klise dengan maksud membuat orang-orang berhenti merasa kasihan padanya.
..
Sudah hampir jam sembilan malam. Sudah setengah jam Arness berlari jauh dan menyendiri.
Arness merogoh Hp nya, dilihatnya banyak pesan dari Akbar dan sahabat SPIRITUALnya, bukan cuma pesan, tapi banyak panggilan juga yang Arness nggak angkat.
Rupanya Akbar sudah menghubungi sahabat Arness.
Arness memasukkan Hp nya lagi ke dalam tas tanpa menghiraukan kekhawatiran mereka.
Dia membeli dua botol kopi instan lagi dan sebotol air putih sebelum memutuskan berjalan tanpa tujuan pulang.
Arness berhenti di sebuah lapangan umum tempat dia dulu sering main bulutangkis sama alm. Akbar.
Arness terduduk menyendiri di bangku taman depan lapangan itu. Tatapannya masih kosong, perasaannya hancur, bahkan dia sudah nggak peduli sama kesehatannya sendiri.
Bar.. aku kangen.. aku takut sendiri.. aku butuh kamu.. aku nggak berani pulang dengan kondisi kayak gini.. aku mesti gimana ?? -batin Arness terisak
“Arness” panggil seseorang dari jarak yang nggak terlalu jauh dari Arness duduk
Arness mendongak melihat ke arah suara itu berasal. Dia langsung berdiri dan berjalan cepat menjauh dari sana.
“Ness tunggu aku Ness.. aku nggak ada niat jahat sama kamu.. tolong jangan lari” ucap laki-laki itu menahan Arness
“Kenapa bisa disini ?” tanya Arness dengan suara bergetar
“Aku lagi main sama temen-temen aku, aku nggak sengaja lihat kamu.. kamu kenapa ?” tanya laki-laki itu khawatir
“Arness nggak apa-apa kak.. Permisi” ucap Arness tertunduk menutupi wajahnya dan hendak pergi dari sana
“Nggak bisa Ness.. cerita sama aku.. tolong..” mohon Gio
“Nggak ada yang mesti di ceritain kak” ucap Arness lirih
“Ness, aku minta maaf buat semuanya, aku juga bakalan minta maaf langsung sama Ivy.. maafin aku Ness” ucap Gio sungguh-sungguh
“Iya, udah dimaafin.. permisi kak, jangan ganggu Arness” ucap Arness dingin
“Kamu mau kemana ? aku anter pulang ya” ucap Gio khawatir
“Berhenti ikutin Arness.. Arness nggak mau diganggu” ucap Arness dingin dan langsung berjalan menjauh dari sana
“Arness kenapa ? apa ada hubungannya sama kak Akbar ?” gumam Gio
**