
Ira yang sudah selesai menyiapkan tape uli di piring buat Roy langsung berjalan duluan ke ruang keluarga, sedangkan Arness menunggu Intan yang masih menyendok sayur dan semur, setelahnya mereka berdua berjalan berdampingan ke ruang keluarga dan duduk di samping pasangannya masing-masing.
..
“Nih kak” ucap Arness menyodorkan sepiring masakan Fera ke Akbar
“Makasih Little..” jawab Akbar sambil menerima piring dari Arness dan menyuap sesendok potongan ketupat dan sayur pepaya ke mulutnya
“Kamu makan juga Ntan ?” tanya Andre yang duduk di samping Intan
“Iya mas.. nih kamu makan juga, enak loh” ucap Intan yang langsung menyuapi Andre
“Enak bangeetttt..” ucap Akbar dan Andre bersamaan dan saling menatap
“Kalian bikin papa pengen aja” celetuk Roy yang lagi makan tape uli
“Pa.. papa makan aja, enak kok ini” ucap Andre semangat
“Enak banget malahan pa” tambah Akbar sambil menyuap makanannya
“Coba ma, papa jadi penasaran” ucap Roy
“Iya, sebentar ya pa” ucap Ira yang langsung bangun dan berjalan ke dapur buat menyiapkan makanan ke Roy
"Aunttyyy..” teriak Arka dan langsung duduk di pangkuan Arness
“Aunty.. besok lebalan (lebaran) lohh” ucap Arka gemas sambil memainkan kedua pipi Arness
“Arka puasa nggak ?” tanya Arness lembut
“Nggak, hehehe..” jawab Arka
“Kenapa ?” tanya Arness sedikit cemberut
“Alka masih kecil aunty, nggak kuat” jawab Arka gemas
“Nih pa, sini tape ulinya biarama yang habisin” uca Ira memberikan sepiring makanan masakan Fera
“Tapi tape ulinya masih ada lagi kan ?” tanya Roy khawatir nggak kebagian lagi
“Masih pa.. tadi Arness bawa lumayan banyak kok” jawab Arness sopan
“Wahh.. beneran enak banget.. mama udah makan ?” tanya Roy setelah menyuap suapan pertamanya
“Tadi mama sama Intan udah nyicip duluan di dapur.. semua masakan mamanya Arness enak loh pa..” puji Ira
“Mama kamu buka katering ya Ness ?” tanya Intan yang cuma duduk melihat makanannya di makan sendiri sama Andre
“Nggak kak, mama mana mau buka katering” jawab Arness sedikit kecewa sama Fera
“Loh, kenapa nggak mau Ness ?” tanya Ira bingung
“Dari dulu emang Arness suruhin buat buka katering, tapi mama selalu nolak, alesannya karena mama masak cuma buat keluarga dan beberapa temen deket” jelas Arness
“Ya nggak salah sih” celetuk Andre setelah menyuap suapan terakhirnya
“Mama kamu selalu masak banyak kalau lebaran gini Ness ?” tanya Roy yang masih makan
“Iya pa.. soalnya mama suka bagi ke om tante, tetangga deket, sama temen mama” jelas Arness jujur
“Makasih ya Little.. masakan mama enak semua” ucap Akbar setelah selesai makan dan masih memangku piring kotornya
“Masakan mama juga enak tauk” jawab Arness memuji masakan Ira
..
Setelah makan, Arness mencuci piring bekas Akbar, Roy, dan Andre.
Awalnya Intan dan Ira menolak tapi Arness sedikit memaksa dan akhirnya membiarkan Arness mencuci piring sendiri di dapur.
Sedangkan keluarga Akbar berdiri di teras rumahnya buat melihat kembang api di langit.
..
“Ness..” panggil Gio yang duduk di kursi dapur
“Apa kak ?” tanya Arness tanpa menoleh karena masih cuci piring
“Kamu kenapa manggil aku kak terus ?” tanya Gio penasaran
“Kakak umurnya berapa ?” tanya Arness balik tanpa menjawab pertanyaan Gio
“24 tahun” jawab Gio bingung
“Aku 23 tahun, jadi nggak salah kan kalau aku manggil kak Gio ?” ucap Arness datar
“Oke nggak salah” jawab Gio pasrah
“Ness..” panggil Gio lagi
“Apa ?” tanya Arness malas
“Kamu serius pacaran sama kak Akbar ?” tanya Gio serius
“Nggak” jawab Arness singkat dan sedikit ketus
“Kenapa ya ??” tanya Arness pada dirinya sendiri
Akbar menguping obrolan mereka dari balik tembok. Walaupun sakit hati sama jawaban Arness, tapi dia tetap mau menguping sampai selesai.
“Aku suka sama kamu Ness” ucap Gio cepat
Deg !!
Jantung Arness dan Akbar langsung kaget.
Akbar sudah mengepalkan kedua tangannya dan bersiap memaki adiknya itu dan bertanya alasannya, namun niatnya dia urungkan karena menunggu jawaban Arness.
“Maaf kak, Arness nggak suka sama kakak” jawab Arness datar sambil menata piring dan sendok yang habis dia cuci di tepi wastafel buat mengeringkannya
“Kenapa ? apa karena aku adiknya kak Akbar ?” tanya Gio bingung
“Kak.. ini nggak ada hubungannya sama kakak yang adiknya atau apanya kak Akbar” jawab Arness tegas dan bersandar di tepi wastafel
“Ya terus apa ? apa alesannya ? kasih tahu ke aku biar aku bisa gantiin posisi kak Akbar” ucap Gio kesal
“Apa alesan kakak suka sama aku ?” tanya Arness tegas dengan memicingkan matanya menatap tajam Gio
Gio terdiam nggak bisa menjawab pertanyaan Arness karena selama ini dia nggak punya alasan buat suka sama Arness, sementara Akbar sudah mengangkat kaki buat melangkah ke depan Arness dan Gio, namun sekali lagi niatnya dia urungkan karena Arness bicara.
“Maaf kak.. tapi harusnya kakak dukung hubungan Arness sama kak Akbar.. buat Arness, hubungan pacaran ini cuma jembatan.
Arness juga nggak mau pacaran sama kak Akbar, kalau bisa kalau boleh kalau jodoh, Arness mau langsung nikah aja, permisi” jelas Arness dengan tegas dan sedikit menekankan kata-katanya dengan tatapannya yang tajam dan membuat Gio nggak bisa menjawab apa-apa lagi
Arness berjalan ke teras rumah menyusul yang lainnya.
Akbar masih berdiri di balik tembok, kini wajahnya penuh dengan kemenangan dan tersenyum puas, tangannya yang sedari tadi mengepal kencang dan hatinya yang nggak tenang langsung berbunga-bunga mendengar ucapan Arness, pacar tersayangnya.
Sedangkan Gio masih terduduk di kursi dapur, menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menyesali setiap kata yang dia ucapkan ke Arness yang jelas-jelas nggak ada perasaan buatnya.
..
Akbar muncul dari belakang dengan senyum lebarnya dan langsung merangkul bahu Arness erat.
“Kamu kenapa ?” tanya Arness bingung
“Nggak apa-apa” jawab Akbar sambil senyum-senyum senang sendiri
“Kayak ada yang aneh” ucap Arness menatap Akbar sambil memicingkan matanya
“Aku sayang kamu” bisik Akbar tiba-tiba lalu mengecup lembut kedua pipi Arness
“Kak.. nggak lihat ada keluarga kamu ?” ucap Arness berteriak kecil
“Nggak wlee” ledek Akbar
“Aunntyyyy..” teriak Arka memeluk paha Arness
“Apa sayang ?” tanya Arness lembut
“Gendong” ucap Arka sambil menjulurkan kedua tangannya
“Kamu berat nggak ?” tanya Arness meledek
“Nggak kok auntyy..” jawab Arka sedikit kecewa
“Okee.. hup.. sedikit berat” ucap Arness setelah menggendong Arka
“Kamu mau lihat bedug nggak di ujung jalan ?” tanya Akbar
“Ayo kak” jawab Arness semangat
“Om.. Alka ikut yaa” rengek Arka dalam gendongan Arness
“Boleh, tapi ada syaratnya” ucap Akbar
“Apa ?” tanya Arka bingung
“Nggak boleh bandel dan Arka om yang gendong” jelas Akbar
“Alka nggak bandel Om, tapi Alka mau di gendong sama aunty” rengek Arka
“Kasihan aunty nya nanti capek gendong Arka” ucap Akbar membujuk Arka
“Eum.. okedeh yang penting Alka ikut” ucap Arka senang
..
“Mau kemana Bar ?” tanya Andre yang melihat Arka di gendong Akbar
“Mau lihat bedug di ujung jalan sama Arness sama Arka kak” jawab Akbar
“Nggak apa-apa Arka ikut kalian ?” tanya Intan khawatir
“Nggak apa-apa kak” jawab Arness sopan
“Ya udah, hati-hati di jalan” ucap Andre
**