My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Ketemu Mantan



Arness berjalan memasuki ballroom mencari sahabat-sahabatnya itu.


Mereka ngapain sih lihat aku kayak gitu ? bikin malu aja -batin Arness risih


Bagaimana nggak ? Semua mata terpana melihat Arness berjalan sendiri memasuki ballroom.


Arness melihat sahabat-sahabatnya berdiri sambil ngobrol di sisi kanan ballroom, awalnya mereka nggak lihat Arness berjalan ke arah mereka, namun setelah Irsya melihat Arness, satu persatu yang lainnya ikut melihat Arness tanpa kedip dan hampir saja rahang mereka mau lepas.


..


“Wei !” ucap Arness membuyarkan lamunan ketujuh sahabatnya


“Manis banget Ness” puji Tristan mengacungkan kedua ibu jarinya


“Aku pangling loh Ness” tambah Raka yang menepuk pelan bahu Arness


“Makasih Tan, makasih Ka” ucap Arness tersenyum manis


Ibraa dan Lucky masih melamun melihat Arness, dan yang lainnya sengaja membiarkannya.


Nggak lama, ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang Arness.


“Permisi” ucap laki-laki itu


“Ya..” ucap Arness datar setelah menoleh ke laki-laki itu


“Boleh kenalan ?” tanya laki-laki itu sambil menjulurkan tangan kanannya


“Arness..” jawab Arness datar sambil menjabat tangan laki-laki itu


“Ricko.. salam kenal ya Arness” ucap Ricko dengan senyumnya


“Iya, salam kenal juga” jawab Arness dengan kakunya


“Eum.. boleh ngobrol berdua sebentar ?” tanya Ricko


Ibraa dan Lucky secara bersamaan tersadar dari lamunannya dan mau menjawab pertanyaan laki-laki itu.


“Maaf, saya nggak bisa.. saya mau ngobrol sama keluarga saya” ucap Arness dingin


“Dimana keluarga kamu ?” tanya Ricko bingung


“Mereka.. mereka keluarga saya” ucap Arness dingin sambil merentangkan tangan kanannya memperlihatkan sahabat-sahabatnya yang dia anggap sebagai keluarga


“Baiklah, kalau gitu permisi” ucap Ricko menahan kesal lalu berjalan meninggalkan Arness dan yang lainnya


“Aww.. keluargaa” ucap Ivy sambil memeluk Arness dan disusul dengan Iza dan Irsya


“Hati-hati nanti make up nya luntur” ucap Arness dan seketika Ivy, Iza, dan Irsya langsung melepaskan pelukannya


“Gantiaaannnn..” ucap Lucky semangat sambil merentangkan kedua tangannya buat memeluk Arness


“Nih peluk.. mau ?” ucap Arness dingin sambil mengepalkan tangan kanannya di depan wajah Lucky


“Hahahaha.. rasain Ky” ledek Raka


“Kalau aku jadi keluarga kamu, aku mau jadi menantu om sama tante, Ness” ucap Ibraa senang


“Nih menantu..” sekali lagi Arness mengepalkan tangan kanannya di depan wajah Ibraa


“Hahahaha.. jangan macem-macem udah sama Arness mah” ledek Tristan


Mereka tertawa bareng sampai akhirnya mereka minta tolong pihak hotel buat memfoto mereka dengan berbagai gaya sebanyak mungkin.


Setelahnya Lucky dan Ibraa minta foto berdua dengan Arness. Tristan memfoto Lucky dan Arness setelahnya memfoto Ibraa dan Arness.


Hasil foto mereka berdua langsung di masukkan ke story WA nya, Arness cuma menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ibraa dan Lucky.


Dan akhirnya Arness meminta Irsya buat memfotonya dengan Ibraa dan Lucky buat kenang-kenangannya. Arness sengaja berdiri di tengah-tengah Ibraa dan Lucky lalu melingkarkan tangannya di tangan mereka dan senyum manis.


..


Tepat jam 7 malam, semua tamu bersiap menyambut kedatangan pasangan pengantin dan orangtuanya.


Arness dan sahabat SPIRITUALnya berdiri di ujung barisan di dekat pelaminan.


Arness, Ivy, Iza, dan Irsya saling merangkul dan menangis bahagia melihat Uma berjalan di karpet merah dengan gaun cantiknya sambil merangkul Hadi, pacarnya yang kini telah sah menjadi suaminya.


Setelah acara inti sudah di laksanakan, semua tamu di minta berbaris di sepanjang karpet merah buat menyalami dan memberi ucapan ke pengantin dan orang tuanya.


Satu persatu tamu mulai menikmati hidangan yang sudah di sediakan dan duduk di beberapa kursi yang sudah di sediakan juga.


Pak Akbar mana sih ?? ok belum dateng juga, hhuuuhh.. -batin Arness gelisah


“Kalau mau makan gantian aja, biar kursinya nggak banyak-banyak” ucap Ivy


“Iya, biar gantian sama tamu yang lain” tambah Iza


“Ya udah sana kalian ambil makan, kita dudukin kursinya, nanti gantian” ucap Raka


“Setuju” ucap Arness datar


..


Arness, Ivy, Iza, dan Irsya berbaris mengambil makanan sedangkan Ibraa, Lucky, Raka, dan Tristan duduk buat menjaga kursinya.


Setelah Arness, Ivy, Iza, dan Irsya hampir selesai makan, Ibraa, Lucky, Tristan, dan Raka langsung berbaris mengambil makanan lalu duduk di kursi yang tadi di duduki sama Arness, Ivy, Iza, dan Irsya.


“Oke” jawab Irsya


Daripada bolak-balik, mending minum disini aja lah sekalian ambil buah, seger banget tuh.. -batin Arness


Setelah Arness menghabiskan segelas air putih, tiba-tiba ada yang menepuk pelan bahunya dari belakang.


“Melan” panggil laki-laki itu


Deg..


Rasanya dada Arness langsung sesak mendengar suara itu padahal Arness masih belum menoleh ke arah suara itu


Cuma dia yang manggil aku kayak gitu.. -batin Arness


“Melan, aku tahu ini kamu, kenapa nggak lihat aku ?” tanya laki-laki itu


“Siapa yang ngundang kamu ?” tanya Arness dingin setelah menoleh ke laki-laki itu


“Kamu masih marah sama aku ? ya ampun Melan.. itu udah lama kejadiannya” ucap laki-laki itu


“Jangan sok akrab, permisi” ucap Arness dingin beranjak pergi dari sana


“Arness.. mau kemana ?” tanya laki-laki lainnya


“Oh.. bapak.. mau ke sana lagi pak” jawab Arness ramah dan menyalami tangan laki-laki itu


“Arnneesss..” teriak suara perempuan dari samping Arness


“Wuahh.. bu Ria, apa kabar bu ?” tanya Arness ramah sambil menyalami tangannya


“Baik Ness, kamu kemana aja ? ada yang nyariin loh” ucap Ria menggoda Arness


“Siapa bu ?” tanya Arness mengernyitkan dahinya


“Aden, dia masih nungguin kamu tuh Ness” goda Ria


“Hahaha.. bisa aja bu..” jawab Arness seadanya


“Melan, ngobrol sebentar yuk” ajak laki-laki yang pertama menepuk bahu Arness


Arness mengikuti langkah laki-laki itu, mereka berdua ngobrol nggak jauh dari sana karena Arness menolak buat jauh-jauh dan lama-lama.


“Melan, aku udah nggak sama Lia lagi.. aku sadar selama ini dia cuma manfaatin aku” ucap laki-laki itu sambil memegang kedua tangan Arness


“Udah ya Ren, kamu sendiri yang bilang kejadian itu udah lama” ucap Arness dingin sambil menarik tangannya dari pegangan Rendi


“Tapi kamu masih marah sama aku Melan.. harusnya kalau itu udah lama kamu juga udah lupain kayak aku” ucap Rendi


“Aku lupain, tapi yang aku lupain itu kamu, kejadian itu sampai sekarang nggak pernah aku hilangin dari otak aku, permisi aku mesti ke sana lagi” jawab Arness dingin menahan kesal dan langsung berjalan menjauh dari Rendi


..


Arness berjalan keluar ballroom dengan kedua tangannya yang mengepal erat dan tatapan tajam.


“Aku susul Arness” ucap Ibraa cepat


“Aku juga” sahut Lucky


“Jangan !” ucap Iza


“Kenapa ?” tanya Lucky dan Ibraa bersamaan


“Biar Arness tenangin diri dia sendiri dulu” ucap Ivy


“Guys.. aku nggak tahu kalian lihat apa nggak, tapi aku baik-baik aja.. aku cuma di luar ballroom nenangin diri aku sendiri.. jangan ada yang kesini, terutama Ibraa sama Lucky” ucap Arness di grup chat


“Kabarin kita kalau ada apa-apa Ness” ucap Lucky


Arness nggak balas ucapan Lucky. Dia melamun melihat lurus ke luar kaca yang besar.


Rendi sialan !! ngapain sih dia harus ada di sini ?? di saat aku udah nggak mau tahu tentang dia lagi dia malah muncul sendiri di kehidupan aku !! -batin Arness merasa kesal


“Assalamu’alaikum Arness” salam Irsya


“Wa’alaikum salam Sya, kenapa ?” tanya Arness malas


“Ada pak Akbar nyariin kamu” ucap Irsya


“Bilang aja aku di luar” jawab Arness datar


“Aku suruh ke sana aja ya, kamu udah nggak marah lagi kan ?” tanya Irsya hati-hati


“Iya Sya, aku udah agak tenang sekarang” jawab Arness mulai melembut


“Ya udah, Assalamu’alaikum” salam Irsya


“Wa’alaikum salam” salam Arness


Arness menghela nafas panjang buat menenangkan perasaannya yang emosi karena Rendi.


Dia nggak mau nunjukkin amarahnya ke Akbar yang nggak tahu apa-apa.


**