My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Perkelahian Arness Dengan Dua Laki-Laki Nggak Dikenal



Arness, Viona, dan Ivy duduk dibangku koridor sementara ketiga lelakinya membeli tiket nonton.


“Vy, kamu tahu nggak diantara kita outlet siapa yang kepala operasionalnya diganti ?” tanya Arness penasaran


“Kok kamu tahu ? itu outlet ku Ness” jawab Ivy mengernyitkan dahinya


“Serius Vy ? selamat ya” ucap Arness menjabat tangan Ivy dengan senyum lebarnya


“Kamu kenapa Ness ?” tanya Viona bingung


“Akbar jadi kepala operasional di outlet Ivy” jawab Arness dengan senangnya


“Serius ? aaaa.. senengnyaaa” ucap Viona dan Ivy bersamaan lalu memeluk Arness dari samping


“Vy, aku titip suami ku ya.. jangan sampai dia ngelihatin cewek lain dan jangan sampai cewek lain godain dia” jelas Arness serius


“Iya Ness, lagian aku bakalan kasih tahu kamu kok” jawab Ivy mengelus lembut bahu Arness


“Guys.. lihat mereka” ucap Viona membuyarkan obrolan tenang Arness dan Ivy


Arness dan Ivy menatap ke arah Viona dengan serius. Dilihat ketiga laki-lakinya itu dikerubuti banyak perempuan yang minta foto bareng.


Kok hawanya merinding banget ya ? -batin Akbar, Vino, dan Gio


Akbar, Vino, dan Gio langsung mencari pasangannya, dilihatnya tatapan tajam dan aura gelap yang membuat mereka merinding dari sana.


Mereka bertiga menelan ludahnya dan langsung berjalan cepat meninggalkan kumpulan perempuan itu lalu berlutut didepan pasangannya yang memalingkan wajahnya dari mereka dan melipat tangannya di dadanya.


Hastaga.. baru aja bikin Little tenang ada aja masalah baru.. alamat guling ditengah tempat tidur lagi ini mah -batin Akbar gelisah


Duhh.. bikin Vio nggak ngambek lagi itu susah banget, gimana nih ? -batin Gio panik


Gimana ya ? baru kali ini lihat Ivy semarah ini -batin Vino khawatir


“Aku mau ke toilet” ucap Viona ketus


“Aku juga” ucap Arness dan Ivy nggak kalah ketus


Akbar, Vino, dan Gio langsung duduk berjajar menundukkan kepalanya dan meremas rambutnya mengutuki kebodohannya tadi.


“Vin, gimana cara baikin Arness cara cepetnya ?” tanya Akbar frustasi


“Iya, gimana cara baikin Vio juga ?” tanya Gio ikut frustasi


“Jangan tanya aku.. aku lagi pusing gimana cara baikin Ivy” jawab Vino mengucek-ngucek wajahnya dengan kasar


Sekembalinya Arness, Viona, dan Ivy dari toilet, Akbar, Vino, dan Gio langsung merayu dengan cara mereka masing-masing.


Karena risih dilihat banyak orang, akhirnya Arness, Viona, dan Ivy memutuskan memaafkan lelakinya itu.


..


Sepanjang nonton, Arness memilih memakai headset mendengarkan lagu dan menutup matanya dengan slayernya, Viona dan Ivy sibuk makan popcorn sambil serius nonton membuat ketiga laki-laki yang duduk disampingnya dibuat merasa bersalah lagi.


Gimana cara bikin mood cewek baik lagiiiii !! -batin Akbar, Vino, dan Gio berteriak frustasi


..


Selesai nonton, mereka makan ringan sambil ngobrol di salah satu kafe tempat beberapa kali Arness dan sahabat SPIRITUALnya kumpul.


Hampir selesai makan, Arness mau memberikan menu makanan dan minuman yang Uma suka kerumahnya karena kebetulan rumah Uma nggak terlalu jauh dari sana dan jalan kaki pun sampai.


Arness diikuti Ivy dan Viona sudah bangun dari duduknya lalu pamit ke pasangannya masing-masing.


“Kalian yakin nggak mau kita ikut ?” tanya Gio khawatir


“Iya sayang.. kalian tunggu sini aja ya” jawab Viona mengelus lembut pipi Gio


“Lagian kita nggak lama kok” tambah Ivy meyakinkan ketiga laki-laki yang masih duduk dengan wajah khawatirnya


“Bener jangan lama ya ?” tanya Vino memastikan


“Iya Vino” jawab Ivy lembut


“Hati-hati dijalan ya Sylvia” ucap Vino khawatir


Ivy tersenyum lembut lalu mencubit kecil pipi Vino.


“Kalau ada apa-apa telefon aku ya Little” ucap Akbar khawatir


“Iya Amore.. lagian aku nggak bakalan kenapa-napa kok.. udah ya, nanti keburu malem” jawab Arness mencium kepala Akbar lembut


..


Setelah mengantar makanan dan minuman buat Uma, Arness, Ivy, dan Viona main sebentar lalu pamit pulang lagi.


Jalanan ke rumah Uma memang agak sepi karena kebanyakan tetangga Uma pun jarang sekali bertetangga.


Suasana yang remang karena lampu jalanan itu membuat Viona dan Ivy membayangkan hantu di film horor tadi membuat Arness merinding ketakutan dan mencubit pipi mereka.


“Hei cantik.. temenin abang dulu yuk” goda laki-laki 1 yang berdiri di depan Viona menghadang jalan mereka


“Nanti abang anter pulang ya” goda laki-laki 2 mencolek dagu Ivy


“Jangan berani sentuh dia” ucap Arness tajam


“Galak banget sih sayang.. kalau yang ini boleh dong” goda laki-laki 1 mengelus pipi Viona


“Lepasin sialan ! jangan pegang-pegang mereka” ucap Arness tajam


“Kalau gitu gimana kalau abang pegang kamu aja ?” goda laki-laki 2 hendak memegang tangan Arness


Arness langsung menarik tangan Viona dan Ivy mundur, menjauh dari sana tapi kedua laki-laki itu menghadang jalan mereka lagi.


“Kalian mundur, jangan sampai mereka bisa megang kalian” ucap Arness tegas


“Tapi Ness” ucap Viona berusaha protes


“Dengerin apa kata ku !” bentak Arness


Viona dan Ivy terpaksa mundur dari sana, saling berpegangan tangan khawatir sama Arness.


Kedua laki-laki itu kembali menggoda Arness tapi Arness langsung mengeles dan menonjok rahang satu laki-laki 1.


“Brengsek !!” bentak laki-laki 1


..


Arness terlibat perkelahian dengan dua laki-laki sekaligus. Awalnya Arness kalah karena sempat lengah dan laki-laki 1 berhasil menonjok bahu Arness.


Sedikit nyeri tapi Arness tahan karena kekesalannya kedua laki-laki itu memegang Viona dan Ivy.


Lelah, Arness memilih menendang kencang alat vital mereka dan menonjok ulu hati mereka agar mereka berhenti dengan perkelahiannya.


Sementara itu, Viona baru kepikiran menelefon Gio dan menceritakan kejadiannya.


Ketiga laki-laki itu langsung berlari keluar kafe menyusul tempat dimana Arness berkelahi.


..


Baru Arness mau memukul wajah laki-laki 2 yang sudah berdarah-darah itu, mereka langsung minta ampun.


“Maafin kita.. kita cuma disuruh” ucap laki-laki 2


“Siapa yang nyuruh kalian ?” tanya Arness dingin dengan ancang-ancang kepalan tangan akan mendarat di wajah laki-laki 2


“To.. tolong ampunin kita.. orang yang nyuruh kita ada disana” ucap laki-laki 1 menunjuk mobil van yang nggak jauh dari mereka


“Little !!” teriak Akbar langsung menarik tangan Arness berdiri dari sana


Sementara Gio sudah memborgol kedua laki-laki itu karena Andre pernah memberikan sepasang borgol ke Akbar dan Gio buat jaga-jaga.


Arness melihat Viona dan Ivy, mereka sudah aman karena ada Vino yang menjaganya.


Arness berdiri menghadap kedua laki-laki tadi sementara Akbar terus merangkul bahu Arness.


“Mobil van itu ?” tanya Arness dingin menunjuk mobil van berwarna putih yang terparkir di tepi jalan


“I.. iya” jawab laki-laki 1


..


“Arness !!” teriak Andre langsung berlari ke arah Arness


Ya, saat Gio mendapat kabar Arness berkelahi, Akbar dengan cepat menelefon Andre.


Arness cuma menatap Andre sebentar lalu tanpa basa basi, Arness langsung melepaskan tangan Akbar di bahunya.


Menatap tajam ke arah mobil van itu dengan kepalan tangan sudah erat.


Baru beberapa langkah Arness berjalan, tiga orang perempuan langsung keluar dari mobil van itu dan berlari ke arah berlawanan.


Arness langsung berlari dengan cepatnya dan fokus ke perempuan yang ditengah yang pernah dilihatnya dulu.


Arness langsung melompat dan menendang punggung perempuan itu membuat perempuan itu tersungkur dan dua perempuan lainnya berusaha kabur tapi Arness terus mengejarnya dan menyelengkat kaki mereka sampai terjatuh.


Itu.. bener-bener Arness ? -batin Akbar, Viona, Ivy, Vino, Gio, dan Andre


Siapa cewek itu sebenernya ? -batin kedua laki-laki tadi


Arness langsung menjambak ketiga perempuan itu dengan kejamnya dan menyeret mereka ke dekat teman-temannya itu dengan tatapan dingin sementara ketiga perempuan itu memberontak dan merintih kesakitan.


“Mereka siapa sayang ?” tanya Andre khawatir


“Kakak bawa temen kakak kan ?” tanya Arness dingin


“I.. iya.. kakak bawa polisi lain” jawab Andre sedikit merinding


“Bawa mereka duluan ke kantor polisi.. mereka babak belur karena Arness yang pukulin” ucap Arness masih dingin


“Iya sayang tenang aja, kamu nggak bakalan kenapa-napa kok, kakak bakalan urus semuanya” ucap Andre memegang kedua pipi Arness


**