My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Pujian



Arness mulai memetik senar gitar dengan jemari tangannya yang lembut. Di susul dengan suara Roy dan Andre yang mulai menyanyi.


Setelah reff pertama, Roy memberikan isyarat buat Arness bernyanyi sendiri.


Paint my love


You should paint my love


It's the picture of a thousand sunsets


It's the freedom of a thousand doves


Baby, you should paint my love


Since you came into my life


The days before all fade to black and white


Since you came into my life


Everything has changed


Paint my love


You should paint my love


It's the picture of a thousand sunsets


It's the freedom of a thousand doves


Baby, you should paint my love


Suaranya bagus banget gila, main gitarnya juga pro gitu.. -batin Gio


Aaa.. aku bangga sama pacar ku.. udah suaranya merdu, main gitarnya juga pro gitu.. apanya yang bisa cuma sedikit.. dasar Little.. -batin Akbar


Paint my love


You should paint my love


It’s the picture of a thousand sunsets


It’s the freedom of a thousand doves


Baby, you should paint my love


Suara ku nggak teriak-teriak banget kan ? nggak nyakitin telinga mereka kan ? aku nggak berani lihat muka mereka.. -batin Arness sambil memetik gitar buat intro penutup lagu


Sepanjang Arness mulai bernyanyi, matanya menatap Akbar dengan lembut dan sedikit tersenyum.


“Bagus banget Ness.. papa sampai merinding dengernya” ucap Roy terharu


“Mama suka Ness.. suara kamu bagus” ucap Ira dengan mata berkaca-kaca


“Keren Ness” sahut Andre sambil mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Arness di susul dengan Intan yang melakukan hal yang sama seperti Andre dengan tatapan kagum


“Minta nomor WA kamu dong, nanti kita VC atau ketemuan buat main gitar bareng” ucap Gio semangat sambil menyodorkan Hp nya ke Arness


“Kalau ada apa-apa, kamu bilang aja ke kakak, nanti kakak yang sampaiin ke Arness” jawab Akbar dingin


“Oke” jawab Gio kecewa


Arness cuma bisa tersenyum malu di depan keluarga Akbar yang memujinya.


Dia bingung harus bilang apa karena sebenarnya cuma keluarga, teman rumah, dan sahabat SPIRITUALnya saja yang pernah melihat Arness memainkan gitar sambil bernyanyi dan itu sudah terjadi cukup lama sehingga kini, Arness kembali canggung lagi.


..


“Aunty.. main sama Alka yuk” ajak Arka sambil menarik tangan Arness


“Disini aja mainnya” ucap Arness setelah menyandarkan gitar di kursi


“Alka mau main S (PS)” ucap Arka sambil menusuk-nusuk pipi Arness dengan jari tangannya sendiri


“S tuh apa ?” tanya Arness bingung


“PS.. Arka suka main PS sama aku” jelas Gio sambil tersenyum


“Nanti aku beli PS biar kalian main ke kamar ku” gerutu Akbar dingin


“Ehem..” dehem Roy


“Biarin aja lah pa” ucap Ira sambil tersenyum tipis


“Ayo auntyy” ucap Arka menarik kedua tangan Arness buat bangun


“Nggak apa-apa Ness.. naik aja ke atas, Arka emang suka main di atas” ucap Roy sambil tersenyum lebar


“Eum.. tapi..” Arness bingung karena nggak enak meninggalkan mereka


“Aunttyy ayoo..” rengek Arka


“Eum.. maaf ya semuanya, Arness tinggal ke atas sama Arka” ucap Arness sopan dan sedikit canggung


Arness bangun dan hendak mengikuti Arka yang sedari tadi menarik tangannya.


Akbar dan Gio langsung bangun dan saling bertatapan dingin dan mengikuti Arness ke atas.


“Ngapain ikut ke atas ?” tanya Akbar dingin ke Gio


“Mau naruh gitar, kakak ngapain ikut ke atas ?” tanya Gio nggak mau kalah


“Ngikutin Arness.. dia pacar aku” jelas Akbar melihat Gio dingin


..


“Auntyy.. Ayo masuk” ajak Arka membuka kamar


“Eehhh.. aunty nggak boleh masuk ke kamar itu” ucap Akbar sambil merangkul bahu Arness menahannya biar nggak masuk ke kamar itu


“Kenapa kak ? kamar ku bersih kok.. ayo Ness masuk aja” ajak Gio ramah


“Ini kamar kamu ?” tanya Arness serius


“Iya, ayo masuk” jawab Gio ramah dan membukakan pintu kamarnya lebar-lebar


“Maaf, tapi aku di ajarin buat nggak masuk ke kamar cowok” jawab Arness datar


“Hahahahahaha.. sukurin” tawa Akbar mendengar jawaban Arness


“Aunty..” teriak Arka yang sudah masuk ke kamar Gio dan berlari ke arah Arness


“Aunty nggak boleh masuk ke kamar ini sayang..” ucap Arness lembut dan berjongkok di depan Arka


“Kenapa nggak boleh ?” tanya Arka bingung


“Ini kamar cowok.. aunty nggak boleh masuk ke kamar cowok” jelas Arness lembut sambil mengelus kedua pipi tembem Arka


“Beati (berarti) ke kamal (kamar) itu juga nggak boleh ?” tanya Arka sambil menunjuk ke kamar seberangnya


“Emang itu kamar siapa ?” tanya Arness lembut setelah menoleh ke kamar yang Arka maksud


“Itu kamar ku” jawab Akbar dengan senyum nakalnya


“Itu nggak boleh banget” jawab Arness tegas mendongak ke arah Akbar yang berdiri di sampingnya


“Hahahahahahaha..” Gio tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya


“Teus (terus) kita nggak jadi main S ?” tanya Arka sedih


“Gio, pindahin PS kamu ke TV sana, kita main disana” ucap Akbar tegas sambil melirik ke arah yang dia maksud


“Iya iya..” jawab Gio malas sambil mencabut kabel-kabel PS nya


“Ka.. sini ikut om tunggu di tempat main” ucap Akbar sambil memegang tangan Arka


“Ayo aunty..” ucap Arka sambil menarik tangan Arness


Arness bangun dari jongkoknya dan membiarkan Arka menarik tangannya.


Setelah melewati kamar Akbar dan Gio, ada ruangan terbuka seperti ruang tamu tanpa kursi, bangku, ataupun meja.


Cuma ada TV ukuran besar yang menempel di tembok, Home Theater, karpet besar yang halus dan tebal, dan beberapa bantal kecil.


Arness duduk menyandarkan punggungnya ke tembok sedangkan Akbar dan Arka merebahkan tubuhnya di atas karpet halus dan tebal dengan beberapa tumpukan bantal kecil buat menopang kepala mereka.


“Aunty sini.. bobo sama Alka sama om Abal” ucap Arka gemas yang tiduran di samping Akbar


Arness melihat ke arah Akbar, Akbar tersenyum nakal seakan mengatakan ‘ayo sini sayang’ dengan wajah mesumnya.


“Nggak ah, aunty duduk disini aja” jawab Arness ramah melihat ke Arka


..


Gio datang membawa seperangkat alat PS nya dengan wajah masam.


Arness langsung berdiri dengan kedua lututnya dan membantu Gio memasang kabel PS nya.


“Yang kabel merah di colok kemana kak ?” tanya Arness sopan ke Gio


“Sini aku kasih tahu” ucap Gio semangat sambil memegang punggung tangan Arness


Akbar yang melihatnya langsung geram dan terduduk, hendak meneriaki atau bahkan langsung turun tangan ke Gio.


Tapi sangat mengagetkan, Arness langsung melepas kabel yang dia pegang tadi dan memutar cepat tangannya buat memegang tangan Gio yang menyentuh tangannya dengan kencang.


**