My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Penyesalan Akbar



Tubuh Arness kembali bergetar, dia langsung berlari masuk ke toilet wanita. Membasuh wajahnya agar air mata kembali masuk dan nggak jadi mengalir melewati pipinya.


Arness berjongkok di dalam toilet dengan wajah penuh keringat, wajahnya mulai pucat, tapi Arness tetap menahan rasa sakit itu.


Arness keluar toilet menunduk dengan topi masih menutupi wajahnya.


“Ness, kamu dari mana ? aku baru mau telefon kamu” ucap Uma khawatir


“Aku habis dari toilet, nunggu kamu lama lagian.. ayo pulang” ucap Arness memaksakan bibirnya tersenyum lalu mendorong punggung Uma keluar dari koridor


“Ness, tunggu.. muka kamu pucet, kenapa ?” tanya Uma khawatir melihat Arness


“Nggak apa-apa, ayo pulang” jawab Arness tersenyum


Apa yang harus aku lakuin Little ? aku khawatir sama kamu.. maafin aku.. aku nggak suka kayak gini.. aku kangen kamu.. -batin Akbar dengan mata berkaca-kaca


Belum sampai ujung koridor, perut Arness kembali sakit, dan rasa sakitnya lebih parah dari sebelumnya.


Arness berlutut memeluk perut perihnya, menggigit bibir bawahnya agar rasa sakitnya itu berpindah ke bibirnya, wajahnya makin pucat sampai keringat sudah membasahi wajahnya membuat beberapa pengunjung melihatnya.


“Ness.. kamu kenapa Ness ?” tanya Uma berlutut di depan Arness dengan wajah khawatir


Arness nggak menjawab, dia cuma menandakan tanda OK dari tangannya dengan wajah tertunduk.


Uma membopong Arness kembali ke ruang loker biar Arness bisa istirahat.


..


“Minum dulu Ness” ucap Uma lirih


“Uma..” panggil Arness lirih setelah meminum air putih dari Uma


“Iya, kenapa Ness ?” tanya Uma khawatir dengan mata berkaca-kaca


“Aku nggak bisa anter kamu pulang” jawab Arness lirih dan masih memeluk erat perutnya


“Nggak apa-apa Ness, aku naik ojol aja.. kamu kenapa ?” tanya Uma khawatir mengelap keringat di pipi Arness


“Uma.. semalem.. aku minum kopi.. tiga botol” ucap Arness lirih menahan air matanya menetes


“Arness..” ucap Uma lirih dan langsung memeluk Arness


“Kamu tahu.. kamu sakit lambung.. hiks.. kamu.. nggak boleh.. minum kopi.. hiks..” isak Uma


“Aku.. takut..” ucap Arness lirih menahan tangisnya dan sakitnya


..


“Uma.. pulang yuk” ajak Arness setelah Uma mulai berhenti menangis


“Ayo.. kamu butuh istirahat.. aku bakalan anter kamu pulang” ucap Uma bersemangat penuh khawatir


Mereka berdua berjalan keluar office. Walaupun rasa sakitnya mulai berkurang, tapi wajah pucatnya dan keringat masih tertinggal di wajah Arness. Uma berjalan pelan membopong Arness dan memberikan kekuatan buat sahabatnya itu.


"Ness, aku panggil pak Akbar ya buat bantu kamu pulang" ucap Uma hati-hati


Arness cuma bisa menggelengkan kepalanya pelan karena sudah kehabisan tenaga terlebih pandangannya mulai buram.


Uma.. aku nggak kuat.. buram.. -batin Arness


Arness terjatuh pingsan tepat sebelum keluar koridor.


Akbar langsung berlari dan menggendong Arness tanpa ijin ke Tyo. Dia menggendong Arness pakai tangga darurat lalu naik taksi menuju rumah sakit terdekat.


..


“Uma.. Arness kenapa ?” tanya Tyo khawatir


“Dia.. hiks.. minum kopi..” jawab Uma terisak


Lucky dan Ibraa yang mendengarnya langsung lemas.


“Kasih tahu saya.. jelasin apa parahnya Arness minum kopi Uma ?” tanya Tyo khawatir


“Pak.. hiks..” Uma nggak sanggup berkata


“Arness sakit lambung” ucap Ibraa lemas


“Arness nggak boleh minum kopi sama soda” tambah Lucky dengan suara bergetar


“Arness.. minum.. hiks.. tiga botol..” isak Uma makin menjadi


Karena saat mereka baru berteman sama Arness dan belum tahu penyakit Arness, mereka minum kopi bersama, bahkan Arness sempat meminumnya setengah gelas karena haus.


Arness langsung kambuh dan di bawa ke rumah sakit.


..


Arness langsung di periksa dokter sedangkan Akbar menangis di luar ruangan nggak tenang.


“Assalamu’alaikum” salam Uma


“Wa’alaikum salam” salam Akbar


“Bapak dimana ?” tanya Uma


“Di rumah Sakit C” jawab Akbar


“Saya kesana sekarang pak, Assalamu’alaikum” salam Uma


“Wa’alaikum salam” salam Akbar


Kamu sakit apa Little ? kenapa nggak cerita sama aku ? aku khawatir.. -batin Akbar terisak


..


Uma, Tyo, dan Aji pergi ke rumah sakit yang dibilang Akbar.


Mereka semua panik, Uma masih menangis terisak sampai mereka menemukan Akbar lagi terduduk lemas dengan air mata mengalir di pipinya.


“Akbar” panggil Tyo


“Pak.. kenapa semalem kalian berantem ? cerita ke Uma, pak.. Uma harus tahu alesan Arness kayak gini” ucap Uma lirih menahan air mata kembali mengalir


“Jadi Arness kayak gini gara-gara saya ? Arness kenapa Uma ? kasih tahu saya” ucap Akbar setengah berteriak dengan suara getarnya


“Bar.. kamu harus ceritain kejadian kalian dulu” ucap Aji tenang


Akbar mengalah dan menceritakan semuanya.


Mulai dari dia meminta Arness buat cerita tentang masa lalunya, ke iri an hatinya ke sahabat SPIRITUAL Arness, perasaan yang nggak di anggap sampai membentak Arness.


“Bar ! kamu padahal udah denger sendiri kalau Arness nggak bisa di bentak” ucap Aji setengah kesal


“Pak.. Arness kayak gitu bukan karena pilih kasih, tapi dia trauma karena Akbar, mantannya itu selalu khawatir sama Arness..


Akbar selalu cerita ke om Fathir kalau Arness kenapa-napa, Arness nggak mau bapak kayak gitu juga..


Arness cerita ke saya dan lainnya karena Arness percaya kalau saya sama yang lainnya nggak akan berani buat kasih tahu orang tuanya.. karena janji tetep janji yang harus ditepatin pak..


Arness bahkan nggak ijinin sahabatnya punya nomor WA orang tuanya, dan dia juga nggak ngasih tahu nomor saya sama yang lainnya ke orang tuanya” jelas Uma


“Tapi saya juga bisa tepatin janji saya Uma.. kenapa selalu saya yang nggak tahu apa-apa tentang Arness ?" keluh Akbar menahan air matanya keluar


“Pak.. mendingan bapak sekarang hubungin orang tua Arness biar mereka kesini” ucap Uma sedikit memohon


Akbar langsung menelefon Fathir dan berusaha tegar menjelaskannya.


“Assalamu’alaikum” salam Akbar


“Wa’alaikum salam” salam Fathir


“Pa..” ucap Akbar pelan


“Kenapa Bar ?” tanya Fathir tenang


“Pa.. Arness masuk rumah sakit” ucap Akbar hati-hati


“Apa ! kenapa ? Arness kenapa Bar ?” tanya Fathir khawatir


“Arness.. lambungnya kambuh” jawab Akbar dengan suara bergetar


“Astaghfirullah.. di rumah sakit mana ? papa kesana sekarang” tanya Fathir makin khawatir


“Rumah sakit C, pa” jawab Akbar pelan


“Jaga Arness.. papa sama mama kesana sekarang, Assalamu’alaikum” salam Fathir buru-buru


“Wa’alaikum salam” salam Akbar lalu menutup telefonnya


**