My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Akad Nikah A Kuadrat



Arness dan Akbar sengaja mulai cuti kerja satu hari sebelum mereka menikah.


Hari pertama mereka cuti berharap bisa bertemu dan main seharian penuh, tapi dilarang sama kedua orang tua mereka.


Bahkan Arness malah diculik sama Intan ke salon dan spa, memanjakan kulit mereka, terutama kulit Arness.


“Kak.. kenapa ngajak aku beginian ? ini pertama kalinya dalam hidup aku tubuh aku dijamah” ucap Arness mendrama saat punggungnya di pijat


“Hahahaha.. gimana ? enak kan ? biar tubuh kamu tenang sayang, besok hari besar buat kamu” jawab Intan yang memejamkan matanya menikmati sentuhan pijatan


“Hemm.. aku pasrah kak” gumam Arness yang ikut menikmati sentuhan pijatan yang sudah pindah ke kakinya


**


Pagi hari, kamar Arness sudah penuh oleh lima orang perias dari MUA Zahra yang bertugas merias Arness dan Fera.


“Cantik banget kan” puji Zahra saat Arness selesai di make over


“Makasih banyak ya mbak Zahra” ucap Arness tulus


Zahra tersenyum tulus lalu mulai memfoto Arness bergantian dengan Fera.


Arness nggak dibolehkan keluar kamar, dia di dalam kamar ditemani Viona sama seperti waktu dia lamaran.


Sampai saat Fera mengetuk pintu kamar Arness lalu menyuruh Arness keluar dari kamarnya karena calon suaminya sudah datang.


Arness berjalan perlahan keluar rumah diapit Fera dan Viona. Senyumnya nggak hilang saat melihat Akbar tampak serasi dengan beskap akad nikahnya.


Keduanya saling melempar senyum lebar dan tatapannya nggak lepas dari pasangannya masing-masing.


Fera memberikan Arness ke Fathir, membiarkan Fathir mengantar anak semata wayangnya ke Akbar yang sudah berdiri bersama rombongannya di halaman rumah Arness.


“Anak papa cantik banget.. papa jadi nggak rela kamu nikah” bisik Fathir lirih


“Papaa” rengek Arness menahan senyum malunya


Dilingkarkan tangan Arness ke tangan Akbar.


Lalu mereka berjalan berombongan ke masjid tempat Arness dan Akbar melangsungkan akad pernikahannya yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah Arness.


“Little, kamu cantik banget” puji Akbar pelan


“Kamu juga ganteng banget Amore” puji Arness tersenyum malu


Akbar memegang tangan Arness erat begitu juga Arness yang mempererat melingkarkan tangannya di tangan Akbar.


“Mama terharu pa lihat Arness kita udah dewasa” ucap Fera mengelap air matanya dengan tissue


“Papa juga ma.. sekarang dia udah mau jadi istri Akbar” ucap Fathir merangkul lembut bahu Fera


“Mereka cocok banget ya ma” puji Papa Roy


“Mama nggak nyangka Akbar nikah sama pilihan yang tepat pa” ucap Ira mengelap air matanya dengan tissue


..


Sampai di masjid, Arness dan Akbar duduk bersebelahan di hadapan Fathir dan penghulu.


Para saksi dari sejumlah keluarga Arness dan Akbar sudah duduk di sekitar mereka, nggak lupa para sahabat SPIRITUAL Arness dan teman-teman rumah Arness yang sudah menunggu di masjid.


Layaknya pasangan yang akan menyusul Arness dan Akbar, Viona memilih duduk berdampingan dengan Gio, sama seperti Vino yang duduk disamping Ivy.


“Mereka cocok banget” puji Iza terharu


“Arness cantik banget kan” puji Uma mengelap air matanya


“Tomboy cengeng kita udah secantik sefeminin ini” tambah Irsya yang memegang tangan Raka


Akad nikah segera dimulai. Bukan cuma Akbar yang tegang, tapi Arness juga ikut tegang.


"Saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Pimelani Arnessta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan 33 gram dibayar tunai" ucap Fathir tegas walaupun ada genangan air mata yang harus ditahan di matanya


"Saya terima nikah dan kawinnya Pimelani Arnessta binti Fathir dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Akbar tegas dan penuh keyakinan


SAH !!


Alhamdulillah.. -batin Arness dan Akbar


Pertama kalinya Arness mencium tangan Akbar, dan Akbar mencium kening Arness sebagai istrinya.


Tangis haru dan bahagia menghiasi acara sakral mereka. Arness dan Akbar melakukan prosesi sungkeman sebagai tanda berbaktinya seorang anak ke kedua orang tuanya.


Selesai sungkeman dan mengelap air mata kedua pengantin, Arness dan Akbar dihampiri keluarga Andre.


“Selamat ya Bar, semoga kamu bisa jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab” ucap Andre memeluk Akbar


“Makasih banyak kak” jawab Akbar memeluk Andre


“Selamat ya sayang.. semoga kamu bisa jadi istri yang baik buat Akbar” ucap Intan tulus memeluk Arness


“Makasih banyak kak” jawab Arness terharu memeluk Intan


Begitu pun seterusnya bergantian dengan keluarga Arness dan keluarga Akbar yang memberikan ucapan selamat ke mereka.


..


Sampai akhirnya sahabat SPIRITUAL Arness memberikan ucapan selamat buat mereka.


“Arness.. selamat buat pernikahan kamu ya, semoga kamu selalu bahagia sama kak Akbar” ucap Lucky tulus


“Makasih Ky, makasih banyak” jawab Arness tersenyum haru


“Arness.. jadi istri yang bertanggung jawab, sholehah ya Ness” ucap Ibraa tersenyum tulus


“Makasih banyak Ibraa” jawab Arness tersenyum haru


“Selamat ya kak, udah berhasil dapetin Arness seutuhnya” ucap Lucky menepuk bahu Akbar pelan


“Iya, semoga kak Akbar suami yang bertanggung jawab buat Arness” tambah Ibraa tersenyum tipis


“Makasih banyak ya kalian.. semoga kalian bisa nemuin pengganti Arness” ucap Akbar tersenyum tulus


Sudah berfoto-foto dan menyalami tamu yang lain, Arness , Akbar, dan rombongan tadi yang mengantar mereka dari rumah Arness kembali pulang, sementara sahabat SPIRITUAL Arness langsung pamit dari masjid.


..


Sampai rumah Arness, Arness dan Akbar ganti baju, menghapus make up Arness juga lalu makan bersama keluarga inti mereka di rumah Arness.


Sedangkan para perias Arness tadi sudah pamit pulang setelah tugasnya selesai.


Selesai makan, Gio sudah kabur ke rumah Egi.


Arness, Akbar, dan keluarga mereka duduk di ruang tamu. Kedua orang tua mereka memberikan wejangan ke kedua anaknya yang baru saja menikah itu.


Keluarga Akbar pamit pulang, meninggalkan Akbar sendiri di rumah Arness.


“Kalian tidur aja, papa sama mama juga mau tidur.. nanti sore kita berangkat lagi” ucap Fathir lembut


“Iya pa.. Arness capek” keluh Arness meregangkan lehernya


Arness dan Akbar masuk ke kamar Arness setelah kedua orang tua Arness masuk ke kamarnya sendiri.


Arness langsung membanting tubuhnya di tempat tidur, mengguling-gulingkan tubuhnya sambil memeluk guling dan memejamkan matanya.


Akbar yang baru saja menutup pintu kamar itu cuma tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat istrinya seperti anak kecil.


Akbar tiduran di samping Arness dan memeluknya yang tiduran membelakangi tubuhnya.


“Kamu ngapain ?” tanya Arness kaget menjauhkan tubuhnya dari Akbar


“Kamu kenapa sih ? kita kan udah sah suami istri, sini peluk aku” ucap Akbar lembut


“Nggak mau, aku masih malu.. jangan lewatin guling ini, ini pembatas” ucap Arness menaruh guling lainnya di antara dia dan Akbar


Akbar langsung menaruh guling itu ke belakang tubuhnya lalu mendekatkan tubuhnya memeluk Arness lagi. Arness memberontak tapi Akbar makin erat memeluknya.


Pasrah karena Arness juga ngantuk, jadi dia membiarkan Akbar memeluknya.


Akbar iseng, dia mendekatkan wajahnya ke tengkuk Arness, menciumi aroma tubuh Arness yang sudah tertidur itu sambil tangannya mulai mencari benda yang pernah dia lihat dan rasakan itu.


“Little.. jangan tidur dulu dong sayang” bisik Akbar lirih


Nggak ada jawaban, Akbar makin panas dengan mainan barunya sementara Arness menggeliat seperti merasakan ada yang menyentuhnya tapi dia tetap memilih tidur.


Sudah dalam posisi terlentang dengan wajah yang membelakangi Akbar, membuat Akbar tergoda melihat leher putih bersih Arness.


Akbar menopang tubuhnya dengan satu tangannya lalu mulai menciumi leher Arness dan sesekali menggigitnya membuat Arness mendesah.


Kesal karena Arness memilih tidur padahal sudah digoda dengan sentuhan Akbar, akhirnya Akbar memilih mengalah lalu tidur memeluk Arness.


**