My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Terbongkar Semuanya



“Sebelumnya Arness mau minta maaf terutama sama pak Tyo, pak Risky, pak Aji, dan pak Rama yang lagi operasional sebagai atasan kerja Arness, juga kak Akbar, atasan kerja Arness dan pacar Arness.. kak Andre, maaf udah ngerepotin sampai kesini juga..


Arness rasa kalian semua pasti udah lihat kejadian yang Arness alamin, sebut aja ini pem bully an..


Dari awal kak Akbar pergi ke Bandung, Arness langsung jadi korban bully..


Kalau di lihat dari CCTV mungkin nggak terlalu kelihatan, cuma pas Lucky nyuruh Arness duduk di sini, dia ambil minum buat Arness terus berlutut di depan Arness, itu pas Arness kekunci.. di dalam toilet.. buat pertama kalinya..” cerita Arness yang mulai nangis dan nggak sanggup melanjutkan ceritanya


“Dari awal Arness di bully, saya, Lucky dan Uma minta Arness buat selalu membawa Hp nya sekalipun dia ke toilet” ucap Ibraa


“Iya, karena kita tahu, Arness paling risih membawa Hp kalau ke toilet” tambah Uma


“Dan saat kejadian itu, Arness menelefon saya dan bilang kalau dia kekunci di toilet.. saya langsung berlari dan mendobrak pintu toilet sialan itu” ucap Lucky terbawa emosi


“Apa harus mengelus pipi Arness ?” tanya Akbar tajam


“Bapak salah paham.. karena di posisi itu, Arness menangis.. saya cuma mengelap air mata Arness..


Apa bapak nggak tahu kalau Arness takut sendirian ? Arness nangis karena takut sendirian, bukan karena habis di bully” sindir Lucky


Deg !!


Jantung Akbar langsung terhentak


“Aji.. jelasin kenapa kamu lari-larian ke ruang loker ?” tanya Tyo


“Saya ngelakuin itu karena Arness kekunci lagi di toilet.. saya tahu karena Ibrahim telefon saya” ucap Aji khawatir


“Kenapa Ibrahim bisa telefon kamu ?” tanya Tyo bingung


“Karena Arness bilang ke grup kalau dia kekunci di toilet.. saya langsung menelefon Arness dan bilang kalau saya langsung kesini terus langsung matiin telefonnya karena saya panik, habis itu saya langsung telefon pak Aji” jelas Ibraa


“Dan saya juga telefon Arness tapi sama kayak Ibraa, Arness cuma angkat tanpa jawab.. firasat saya itu karena Arness sudah kehabisan tenaga” tambah Lucky


“Saya nyesel.. karena Arness.. telefonin saya.. hikss.. tapi saya malah.. nggak tahu..” isak Uma


“Saya sama Ibraa langsung kesini saat itu juga.. sampai sini Arness udah pingsan di bangku ruang loker di temenin sama pak Aji” jelas Lucky


“Itu karena pas saya dobrak pintu toilet, Arness udah pingsan” tambah Aji


“Astaghfirullah Arness.. kenapa nggak cerita sama aku ? apa kamu nggak anggap aku ? kamu pernah ngalamin ini sebelumnya, kenapa kali ini nggak cerita sama aku ? aku bukan Akbar kamu yang dulu, yang tahu semua hal yang kamu tutupin” ucap Akbar kesal dengan air mata sudah mengalir di pipinya sambil menggoyang-goyangkan kedua bahu Arness yang masih menangis


“Bar.. jangan kayak gitu.. lepasin Arness” ucap Andre tegas lalu menyandarkan Arness ke bahunya dan mengelus lembut kepalanya


“Ness.. aku minta keluarin kertas itu” ucap Ibraa


Arness mengambil kertas dari dalam tas nya lalu memberikannya ke Akbar.


Akbar membacanya dalam hati, Andre mengintip isi tulisan kertas itu lalu dengan kasar Akbar menaruhnya ke atas meja agar yang lain baca juga.


Raut wajah Akbar penuh amarah tapi Arness berusaha menenangkannya, Arness menggenggam erat tangan Akbar.


“Arness.. siapa yang lakuin ini sama kamu ?” tanya Andre lembut


Arness menggelengkan kepalanya tanda dia nggak mau kasih tahu.


“Bapak tahu kenapa Arness pakai loker bapak ? kalau Arness bilang karena kangen sama bapak, itu salah !” ucap Ibraa kesal


“Silahkan bapak lihat sendiri alasan sebenernya !” tambah Lucky kesal


Akbar langsung berdiri berjalan ke ruang loker di susul sama semuanya termasuk Arness yang berada di pelukan Uma.


Arness memberikan kunci lokernya dengan tangan gemetar.


Akbar, Andre, Tyo, Aji, dan Risky membelalakkan matanya melihat pemandangan isi loker Arness yang penuh dengan sampah yang sudah membusuk.


“Arness.. jawab kakak.. siapa yang lakuin ini sama kamu ?!” tanya Andre memegang erat kedua bahu Arness dengan mata yang sudah berkaca-kaca


“Kak.. hiks.. Lulu..” ucap Arness terisak


“Siapa Lulu ? kamu kenal sama Lulu ?” tanya Andre


Arness menggelengkan kepalanya tanda dia nggak tahu.


“Lulu.. cewek yang ngaku-ngaku mantan kesayangannya orang tua itu !” sindir Lucky melirik Akbar


“Haters di outlet ini ada tiga, di dua outlet lainnya ada empat orang !” ucap Ibraa kesal


Akbar langsung berlutut lemas mendengar semua jawaban dan melihat kenyataan kalau dia benar-benar nggak bisa menjaga dan melindungi Arness seperti janjinya sendiri.


Air mata terus mengalir membasahi pipi Akbar.


“Apa alasan kamu nggak mau cerita sama Akbar, Ness ?” tanya Andre lembut dengan air mata mengalir di pipinya


“Kak.. aku nggak berani cerita sama kak Akbar.. aku pikir, aku pikir aku pernah alamin kejadian kayak gini dulu.. pasti sekarang aku bisa lewatin lagi.. aku.. mereka nggak suka sama aku kak.. mereka nggak suka aku pacaran sama kak Akbar.. aku nggak mau.. aku nggak mau lapor karena mereka pasti mikirnya aku manfaatin jabatan kak Akbar disini” ucap Arness terisak lalu membenamkan kepalanya di dada Andre


Ctarr.. Ctarrr.. !!


Rasanya dada Akbar langsung terhenti mendengar ucapan Arness


Apa yang selama ini aku lakuin ? kenapa aku sampai nggak bisa tahu tentang ini semua ? apa jadinya kalau sampai akhir aku nggak tahu sama sekali.. -batin Akbar


“Ssttt.. jangan nangis adik kakak.. kamu kuat.. kamu nggak cengeng” ucap Andre menenangkan Arness dalam pelukannya sambil mengelus lembut kepala Arness


“Uma, Ibraa, Lucky.. kalian pasti tahu kan siapa aja orangnya ?” tanya Tyo tegas


“Tahu.. tapi kalau Lulu, kita semua nggak tahu.. karena di lihat dari rekaman CCTV, kita nggak kenal dan nggak pernah lihat Lulu” jawab Lucky


“Risky ! telefon kepala operasional dari outlet-outlet yang lakuin ini, sekarang ! dan suruh pada pelaku itu kesini sekarang juga !” ucap Tyo emosi


“Baik pak.. Lucky, kasih tahu saya outlet mana aja yang harus saya telefon dan siapa orang-orangnya.. ikut saya ke office” ucap Risky


“Dan siapa tiga orang pelaku dari outlet ini ?” tanya Tyo emosi


“Mereka dari divisi FnB, sayangnya kita nggak tahu nama mereka karena mereka nggak pernah berbaur sama yang lainnya” ucap Ibraa


“Lebih baik kita lihat dari rekaman CCTV pak” ucap Aji memberi saran


“Pak.. coba lihat CCTV hari pertama aja.. karena mereka labrak Arness di loker saat itu” jawab Arness terisak


“Terima kasih Ness.. lebih baik kamu duduk disini, tenangkan pikiran dan perasaan kamu.. saya tinggal ke office, ayo Ji !” ucap Tyo lembut ke Arness lalu mengajak Aji ke office


“Ka.. kakak.. hiks..” panggil Arness pelan ke Akbar yang masih berlutut dan menangis


Andre, Uma, dan Ibraa sengaja keluar ruang loker meninggalkan Arness sama Akbar berdua.


Uma melihat Arness sebentar lalu menutup pintu ruang loker.


**