My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Membatalkan Pernikahan ?



Arness dan Akbar sama-sama masuk ke ruang ganti yang berhadapan itu. Tanpa sengaja mereka membuka pintu bersama, melihat dari bawah dan berhenti pada tatapan mata mereka.


“Manly banget” gumam Arness tanpa kedip


“Cantik banget” gumam Akbar tanpa kedip


Lamunan mereka terhenti saat Lena berjalan menghampiri mereka lalu mengajak keduanya untuk menunjukkannya ke Zahra.


“Apa menurut kalian ada yang kurang ?” tanya Zahra tersenyum tipis


“Saya sih cocok aja, ukurannya juga pas” jawab Akbar sambil memandangi dirinya di cermin


“Saya juga suka mbak, simpel tapi tetep kelihatan elegan” jawab Arness yang ikut bercermin


“Saya seneng banget ukurannya pas sama kalian.. ayo buruan coba busana resepsinya, saya jadi nggak sabar” ucap Zahra dengan senyum lebarnya


Akbar sudah membawa satu setel busana pengantin dan masuk ke ruang ganti sementara Lena membantu memakaikan gaun pengantin Arness di ruang ganti.


Akbar sudah keluar duluan dan memberikan penilaian yang sempurna ke Zahra.


Lena membuka pintu ruang ganti lalu keluar duluan, membiarkan Arness keluar dengan sendirinya.


“Wuuahhh.. cantik banget” gumam Akbar dan Zahra


“Gimana Ness ? apa ada yang kurang ?” tanya Zahra yang semangat mengamati manekin hidup di depannya


“Eum.. mbak Zahra, apa harus bagian bahunya terbuka gini ?” tanya Arness hati-hati sambil melihat dirinya di cermin


“Kenapa ? cantik kok, kamu cocok ya pakai apa aja, jadi iri” jawab Zahra memuji Arness


“Agak risih aja sih mbak” ucap Arness melirik dadanya


“Oh tentang itu.. tenang aja, ini pasti udah fit di tubuh kamu kan ? nggak akan turun Ness.. coba kamu perhatiin diri kamu di cermin, cantik kan ?” tanya Zahra meminta Arness menatap dalam-dalam ke cermin besar di depannya


“Makasih ya mbak Zahra, busana pengantinnya sempurna semuanya gini, lihat detailnya, bagus banget” puji Arness memutar tubuhnya


Jangan begitu Little.. kamu kelewat cantik jadinya.. -batin Akbar


“Terima kasih kembali Ness.. kita kan sama-sama kerjasama, nggak ada pihak yang dirugiin juga” ucap Zahra ramah


Arness tersenyum ramah lalu masuk ke ruang ganti lagi di bantu Lena dan keluar sudah memakai pakaian biasanya lagi.


Akbar sudah ganti pakaian duluan dan menunggu Arness sambil sedikit ngobrol sama Zahra.


Arness dan Akbar pamit setelah beberapa saat ngobrol tentang acara pernikahannya nanti sama Zahra.


..


Di perjalanan, Arness kembali seperti sebelumnya, membuat Akbar khawatir sampai nggak bisa menahan dirinya lagi.


“Kamu ada masalah apa ? cerita sama aku, jangan bikin aku khawatir” ucap Akbar lembut


“Amore.. aku minta maaf” ucap Arness dengan suara sedih


“Minta maaf buat apa ? emang kamu salah apa ?” tanya Akbar makin khawatir


“Amore, jujur aku bingung.. aku emang berharap banget pernikahan ini berlangsung dan aku udah jadi istri kamu, tapi rasanya dari semalem pikiran aku mendadak aneh..


Ada rasa ragu dalam diri aku yang nggak tahu kenapa nggak bisa hilang dari pikiran aku sampai sekarang..


Aku takut cerita sama kamu, takut kamu kecewa dan marah sama aku, ngerasa cuma dipermainin sama aku.. aku terlalu takut buat hadapin itu semua dari kamu” jelas Arness yang menunduk mengepalkan kedua tangannya menahan agar air matanya nggak keluar


“Apa kamu ragu sama aku ? sama hubungan kita ?” tanya Akbar datar


“Nggak ada perasaan kayak gitu Amore.. aku juga nggak ngerti kenapa rasa ragu itu baru muncul sekarang ? selama ini aku nggak pernah ngerasain itu” jawab Arness merasa bersalah


“Apa ada hal lain yang lagi kamu pikirin ?” tanya Akbar lagi


“Nggak ada, aku nggak mikirin apa-apa” jawab Arness masih tertunduk


“Apa kamu mau pernikahannya dibatalin ?” tanya Akbar mencengkram kemudinya erat, menyesali perkataannya barusan


Deg !!


“Amore.. aku minta maaf.. aku nggak mau batalin ini semua” ucap Arness dengan air mata sudah mulai menetes membasahi pipinya


“Amore.. aku nggak mau.. dibatalin.. aku.. sayang sama kamu” jawab Arness terbata menahan isak tangisnya


“Kita bicarain ini nanti, aku takut nggak bisa fokus nyetir” ucap Akbar masih dingin


Arness mengangguk lemah, tangannya masih mengepal erat, dia sudah berusaha menahan air matanya keluar lagi.


..


Suasana kembali hening sampai Akbar memarkir mobilnya di basement.


Sudah mematikan mesin mobilnya tapi Akbar masih menyandarkan kepalanya di kursi pengemudi, begitu juga dengan Arness yang bingung dengan tingkahnya sendiri.


“Ada lagi yang mau kamu sampaiin ?” tanya Akbar dingin dan nggak menoleh ke Arness


“Maafin aku” jawab Arness dengan tangan gemetar


“Huuhhh.. apa aku pernah ngelakuin kesalahan sampai kamu kayak gini ke aku ?” tanya Akbar datar


“Nggak Amore, ini salah aku sendiri” jawab Arness makin gemetar dengan tangannya yang terkepal


“Jadi apa masalahnya !” bentak Akbar tanpa sadar


Kaget, takut, Arness sudah dibanjiri air mata di pipinya.


Sudah nggak bisa menahan rasa takutnya lagi, bahkan tubuh Arness sampai lemas.


“Hiks.. maafin aku.. aku.. nggak tahu.. hiks.. perasaan ragu ini” ucap Arness menguatkan hatinya mengurangi isak tangisnya


“Bilang sekarang kalau kamu ragu berhubungan sama aku” ucap Akbar dingin


Arness menggelengkan kepalanya cepat.


“Bilang kalau kamu nggak sayang sama aku” ucap Akbar masih dingin


Arness tetap menggelengkan kepalanya, menahan isak tangisnya agar Akbar nggak mendengarnya.


“Bilang !” bentak Akbar memukul setir mobilnya


“Ng.. nggak” jawab Arness takut


“Jadi mau kamu apa ? ragu, tapi tetep nikah, disuruh bilang kamu ragu kamu nolak, disuruh bilang kamu nggak sayang sama aku kamu juga nolak.. aku mesti gimana !!” bentak Akbar lagi menjambak rambutnya


“Amore.. maafin aku.. hiks.. aku.. nggak bakalan.. hiks.. ragu lagi” jawab Arness masih menguatkan hatinya padahal sudah takut setengah mati


“Keluar, aku nggak mau lihat kamu” ucap Akbar datar dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil


“Amore.. hiks.. jangan batalin.. aku mohon.. hiks.. aku sayang kamu.. aku.. hiks.. minta maaf” ucap Arness berusaha memegang tangan Akbar dengan kedua tangannya yang gemetar


“Keluar” sekali lagi kata yang terucap dingin dari mulut Akbar dan menarik tangannya agar nggak disentuh Arness


Pasrah, Arness keluar dari mobil Akbar.


Menguatkan kakinya untuk berjalan menjauhi mobil Akbar dan mengelap air matanya agar nggak terlihat orang lain.


Nggak tahu arah mana yang akan Arness pilih.


Waktu masih jam sebelas siang. Arness nggak berani ke tempat kerjanya dengan raut wajah seperti ini, apalagi kalau sampai Akbar datang dengan wajah kesalnya.


..


Arness duduk di pos dimana tempat Uma biasanya dijemput sama Hadi.


Dia merogoh Hp nya, menelefon seseorang diseberang sana berusaha menyembunyikan suara tangisnya.


Telefon dimatikan, Arness memesan ojol dari aplikasi di Hp nya lalu pergi ke rumah yang dia telefon barusan itu.


..


Pertama kalinya Arness menginjakkan kaki di rumah besar ini, dia memencet bel di depan pagar rumah menunggu penghuninya membukakan pintu untuknya.


**