My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Ujian Lagi



“Kak Akbar pasti udah keluar kamar ku dan udah duduk di ruang tamu lagi..


Aku harus buru-buru masuk ke kamar ku tanpa suara dan langsung kunci pintu kamar ku biar si mesum itu nggak bisa masuk ke kamar ku” gumam Arness di dapur


Arness berjalan mengendap-endap dari dapur ke kamarnya.


Arness nggak lihat ke ruang tamu lagi dan langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya, dia langsung menyandarkan keningnya di pintu kamarnya sambil menarik nafas lega.


“Si mesum itu nggak lihat aku masuk kamar kan ?” gumam Arness


Arness berjalan gontai sambil memejamkan wajahnya karena sudah hafal letak barang-barang di dalam kamarnya.


Arness berjalan ke lemarinya yang membelakangi tempat tidurnya lalu membuka pintu lemarinya lebar-lebar.


“Pakai baju ini.. eum.. celananya..” gumam Arness sambil melempar asal bajunya ke tempat tidur


“Little..” bisik suara laki-laki yang menyentuh pinggang Arness lembut dari belakang


“Aaaaaa !!” teriak Arness saat menoleh ke belakang


“Ssttt.. jangan teriak Little..” ucap laki-laki itu sangat lembut menutup mulut Arness dengan satu tangannya


Ya, laki-laki itu adalah Akbar. Semenjak Arness berlari ke dapur, Akbar masih merebahkan tubuhnya di tempat tidur Arness.


Awalnya dia kaget pas Arness buru-buru masuk ke kamar dan mengunci pintunya.


Namun ternyata Arness nggak sadar kalau Akbar masih ada di tempat tidurnya.


Akbar bertumpu pada kedua lututnya yang berdiri di tepi tempat tidur Arness.


“Tolong jangan goda aku terus Little.. kalau kayak gini terus iman aku bener-bener habis karena kamu sayang..” bisik Akbar lirih di depan wajah Arness dengan tatapan sendunya lalu melepaskan tangannya dari mulut Arness


“Kakak sana keluar !” ucap Arness berjalan menjauh dari sana


Tapi nyatanya, Akbar malah merebahkan tubuhnya lagi di atas tempat tidur Arness tanpa menghiraukan kata-kata Arness.


Arness membuka kunci dan pintu kamarnya agar Akbar keluar dari kamarnya tapi Akbar sengaja nggak mau mendengarkan ucapannya.


Arness berjalan mendekat dengan geramnya dan menarik kedua tangan Akbar agar bangun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya, tapi tenaga Akbar lebih besar darinya sehingga Arness terjatuh berlutut di atas tubuh Akbar.


“Little..” panggil Akbar dengan tatapan sendu di bawah Arness dengan kedua tangannya sudah memegang pinggang Arness dengan lembut


“Kakkk.. kakak mesum !” ucap Arness takut dan berusaha bangun tapi tangan Akbar makin kencang memegang pinggangnya


“Lihat ke cermin siapa yang bikin aku mesum” ucap Akbar sendu sambil melirik ke meja rias Arness


Arness menoleh ke cermin di meja riasnya dan terlihat lekuk tubuhnya di atas tubuh Akbar. Kini dia tahu siapa yang sebenarnya mesum.


Arness langsung menelan ludahnya lalu menatap Akbar.


Akbar menarik tengkuk Arness dan mencium bibir yang manis itu dengan penuh perasaan.


“Tangan kamu pegel kalau terus kayak gitu, peluk aku sayang..” bisik Akbar di sela ciumannya


Arness nggak menjawab dan menuruti kata-kata Akbar.


Akbar menggulingkan tubuh Arness membuatnya berada di bawahnya.


Tatapan Arness ikut sendu dan nafasnya sudah nggak teratur, Akbar memperhatikan setiap inci lekuk tubuh Arness.


Maafin aku Little.. aku bener-bener khilaf.. tapi tubuh kamu bagus banget.. di tambah kamu yang hari ini pakai tanktop.. lihat itu isinya menyembul.. kulit kamu putih bersih.. eehhnnggg.. sabar junior.. -batin Akbar


Baru mau mencium Arness, Hp Akbar bergetar.


Ddrrttt.. Dddrrtttttt..


Akbar langsung tersadar dari mesumnya dan melihat layar Hp nya, dia duduk di tepi tempat tidur Arness menjawab telefon di Hp nya.


“Assalamu’alaikum” salam Akbar


“Wa’alaikum salam.. gimana ? jadi ajak Arness ke rumah ?” tanya Roy


“Iya jadi pa.. Akbar masih di rumah Arness” jawab Akbar menenangkan pikirannya


“Wa’alaikum salam pa” salam Akbar lalu mematikan telefonnya


“Hhuuuuhhh.. maafin aku Little” ucap Akbar tertunduk malu


“Aku.. aku juga minta maaf kak” ucap Arness duduk di samping Akbar


“Aku tunggu di ruang tamu, kamu buruan mandi” ucap Akbar langsung berjalan keluar ke ruang tamu


Arness langsung mengambil pakaiannya yang sudah dia pilih tadi dan membawanya ke kamar mandi.


Dia memakai pakaiannya itu langsung dari kamar mandi agar lebih cepat dan nggak mungkin dia masuk ke kamar pakai pakaian rumahnya lagi saat ada Akbar.


Setelah mandi, Arness duduk di bangku ruang tamu samping Akbar.


“Kak, minum kakak udah habis, kakak mau minum apa lagi ?” tanya Arness sopan


“Nggak usah Littld, makasih” jawab Akbar


“Nggak apa-apa kak, aku juga mau bikin minum soalnya” ucap Arness tenang


“Air putih aja kalau gitu, dingin” ucap Akbar


“Oke..” ucap Arness sambil bangun dan membawa gelas kosong Akbar ke wastafel


..


“Minum dulu kak” ucap Arness setelah kembali dari dapur membuat minum


“Makasih Little” ucap Akbar


“Iya kak..” jawab Arness sambil duduk di samping Akbar dan meminum susunya


“Kenapa kamu suka banget minum susu ?” tanya Akbar


“Enak” jawab Arness singkat lalu meminum susu putihnya lagi


Arness nggak sengaja mengalirkan setetes susunya lewat ujung bibirnya dan sudah mengalir melewati dagunya dan sudah sampai ke setengah lehernya.


Hastaagaaa.. cobaan apa lagi ini.. setelah tadi, Arness lakuin ini.. junior ku mulai berkembang lagi.. siapa yang mau tanggung jawab kalau begini.. -batin Akbar


Arness langsung berhenti minum dan meraih selembar tissue di atas meja ruang tamu tapi tangannya di pegang sama Akbar.


Akbar mengambil tissue lalu mengelap lembut tetesan susu dari wajah Arness dengan lembut walaupun sesekali dia menelan ludah.


“Little..” panggil Akbar serius


“Apa kak ?” tanya Arness tenang


“Sekarang Ibraa sama Lucky tambah deket sama kamu.. apa ada kemungkinan kalau aku bakalan kalah saing sama mereka ?” tanya Akbar gelisah


“Menurut kakak gimana ?” tanya Arness duduk menghadap Akbar


“Aku pesimis, setiap kali lihat kamu deket sama mereka, rasanya nyali ku langsung ciut” jawab Akbar menunduk


“Cemen banget sih kak jadi cowok” gerutu Arness


“Ya terus aku harus gimana Little ? aku aja nggak tahu hati kamu buat siapa sekarang ?” ucap Akbar serius


“Hati aku buat Akbar.. selalu buat Akbar..” ucap Arness tersenyum menatap Akbar


“Jadi nggak ada celah buat aku Ness ?” tanya Akbar sedih dan menunduk lagi


“Nama kakak siapa sih ?” tanya Arness geregetan


“Akbar Dwi Mahendra..” jawab Akbar bingung


Arness cuma menatap Akbar sambil menyandarkan kepalanya ke bangku menunggu Akbar sadar.


**