My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Terkunci Di Dalam Toilet



Seperti biasa, Lucky menyebarkan kejadian itu ke grup chat.


Sahabat SPIRITUAL murka dan bermaksud buat balas dendam tapi Arness melarang. Arness masih terlalu sabar dengan kelakuan para haters itu.


**


Beberapa hari setelahnya, saat Arness masuk siang sama Uma, Ibraa libur, dan Lucky masuk pagi.


Arness dikunci di kamar mandi lagi saat jam 9 malam yang pasti Lucky sudah pulang.


..


Sungguh, toilet karyawan sangat gerah dan panas karena tertutup rapat, ada mesin Exhaust Fan di atas tembok tapi tetap pengap udaranya.


Arness menggedor-gedor pintu toilet pvc itu tapi nggak terbuka, minta tolong pun nggak ada yang dengar. Yang ada cuma suara tertawaan dari luar pintu toilet.


“Hahahaha.. rasain kamu !” teriak haters 3


“Siapa yang mau nolong kamu sekarang ? sahabat kamu udah nggak peduli lagi sama kamu !” teriak haters 2


“Siapa yang nyuruh kalian buat kayak gini !” teriak Arness dari dalam toilet


“Buat apa juga kita kasih tahu ke kamu cewek murahan !!” teriak haters 1


“Makannya jangan serakah ! pak Akbar itu nggak suka sama kamu, dia cuma mau jadiin kamu pelampiasan aja, hahahaha..” teriak haters 3


“Kenapa kalian bisa bilang kalau dia cuma permainin aku ?” tanya Arness menahan pengapnya udara


“Heh !! Lulu itu satu-satunya cewek yang pak Akbar suka” teriak haters 1


“Iyalah, Lulu tuh mantan kesayangannya pak Akbar” tambah haters 3


“Lulu yang mana lagi ?” tanya Arness datar dengan keringat mengucur di wajahnya


“Hahahaha !!” tawa haters 3


2 haters itu nggak jawab pertanyaan Arness dan meninggalkan Arness begitu saja.


Arness menelefon Uma berkali-kali tapi nggak di angkat. Arness sadar kalau Uma pasti sibuk kerja karena tadi dia tinggal ke toilet aja Uma masih banyak pekerjaan.


“Tolong aku.. aku kekunci di toilet” ucap Arness di grup chatnya


Nafasnya sudah sesak, tubuhnya lemas dengan keringat memenuhi wajah dan tengkuknya.


“Aku kesana sekarang Ness !” ucap Ibraa yang langsung menelefon Arness dan langsung menutup telefonnya lagi sebelum Arness jawab


“Tunggu sebentar lagi, aku kesana sekarang !” ucap Lucky yang melakukan hal yang sama seperti Ibraa


Arness makin lemas, tubuhnya sudah nggak ada tenaga buat berteriak minta tolong.


Akbar.. kakak.. aku takut.. -batin Arness menahan nangis


“Ness !! Arness !! Jawab saya Ness !!” teriak Aji dari ruang loker


Arness menekan tombol flush toilet agar Aji tahu dia ada di dalam toilet.


Tubuhnya makin lemah sampai akhirnya Arness pingsan kehabisan udara sebelum Aji berhasil membuka pintu toilet itu.


..


Arness terbangun sudah ada di bangku ruang loker, tubuhnya masih lemah.


Ibraa dan Lucky orang pertama yang dia lihat dengan pandangan yang masih buram.


Ibraa berjalan cepat meninggalkan Arness yang baru sadar lalu kembali membawa segelas air putih hangat.


Ibraa dan Lucky membantu Arness buat duduk. Ibraa membantu Arness minum sementara Lucky menopang bahu Arness yang masih lemas.


Setelahnya, Arness menyandarkan kepalanya ke bahu Ibraa, kedua tangannya di genggam lembut sama Ibraa dan Lucky.


..


Uma berlari dari ruang office ke ruang loker dengan air mata di pipinya dan langsung memeluk Arness yang masih lemas.


“Maafin aku Ness.. maafin.. hiks..” isak Uma dalam pelukan Arness


Arness berusaha menguatkan tubuhnya, perlahan Arness memeluk tubuh Uma walaupun masih lemas. Arness menitikkan air matanya, tubuhnya bergetar.


Ibraa dan Lucky mengelus lembut punggung Arness dan Uma secara bersamaan menenangkan mereka.


“Uma..” ucap Arness lirih


“Iya.. hiks.. maafin aku..” ucap Uma lembut melepas pelukannya pada Arness


“Hiks.. aku.. nggak nangis..” jawab Uma memegang kedua tangan Arness di pipinya dengan tangan gemetar


..


“Kamu udah sadar Ness ? gimana perasaan kamu sekarang ?” tanya Aji yang baru masuk ruang loker dengan wajah khawatir


“Aman” jawab Arness dengan senyum tipis dan lemah


“Dasar kamu ya, udah kayak gitu masih aja sok kuat” ledek Aji mengelus bahu Arness


“Pak Aji, Arness boleh ijin istirahat ?” tanya Ibraa khawatir


“Boleh, tenang aja.. Arness, kamu kumpulin tenaga kamu aja buat pulang ya.. masalah kerjaan kamu nanti saya yang back up” ucap Aji lembut


“Makasih banyak pak Aji” ucap Uma, Lucky, dan Ibraa bersamaan dengan wajah penuh terima kasih


“Kalian bener-bener sahabat.. saya bangga sama persahabatan kalian.. Uma, saya kasih waktu buat nenangin diri kamu habis itu kembali ke station kamu lagi” ucap Aji lembut


“Iya pak.. makasih banyak pak Aji” ucap Uma mengelap air matanya


Uma mencuci wajahnya di wastafel dengan air dingin lalu mengeringkannya tanpa merusak make upnya.


“Ness, aku kerja lagi ya” ucap Uma memeluk Arness lalu keluar ruangan


Arness mengangguk dan tersenyum tipis ke Uma.


..


“Aku udah mendingan” ucap Arness merentangkan kedua tangannya mendorong bahu Ibraa dan Lucky


“Kalau udah begini kayaknya emang udah sembuh Ky” ucap Ibraa menerawang


“Hei tomboy cengeng.. kamu beneran udah sembuh ?” ledek Lucky dengan tatapan khawatir


“Gila ya ! beraninya pas aku lagi kayak gini” ucap Arness setengah teriak


“Hahahahahaha..” Ibraa dan Lucky tertawa terbahak-bahak


“Arness beneran udah sembuh Ibraa” ucap Lucky sambil mengacak-acak rambut Arness


“Iya, cewek tomboy cengeng ini udah kuat lagi” ledek Ibraa sambil mencubit pipi Arness


“Terusin ajalah.. hah ? udah jam setengah 11 malam ?” ucap Arness kaget setelah melihat jam di pergelangan tangan kirinya


“Kamu pikir sekarang jam berapa ?” tanya Lucky menahan kesal


“Kamu itu pingsan dari pas pak Aji dobrak pintu toilet, kurang lebih 1 jam kamu pingsan” jelas Ibraa menimbang-nimbang


“Hah ??” Arness nggak percaya


“Aku nggak pernah pingsan sebelumnya.. pasti tadi aku ketiduran, bukan pingsan” ucap Arness berusaha nggak menerima fakta


“Hei ! terima aja nasib kamu.. kamu emang pingsan” ucap Lucky gemas


“Nggak ada salahnya kamu pingsan, kamu kehabisan udara” tambah Ibraa menahan kesal


“Iya deh iya aku pingsan.. aku ganti baju ya” ucap Arness sambil bangun dari duduknya


Arness sempoyongan, kakinya nggak imbang karena sedari tadi dia cuma tidur dan duduk.


“Ness.. Arness” teriak Ibraa dan Lucky yang langsung tanggap menahan tubuh Arness agar nggak jatuh


“Duduk dulu Ness.. mau aku ambilin minum lagi ?” tanya Ibraa khawatir


“Nanti aja, aku bisa sendiri kok..” ucap Arness berusaha berdiri tegap dan menahan tubuhnya agar nggak jatuh


“Sana kalian duduk aja, tungguin aku disini, aku mau ganti baju” ucap Arness sambil melepaskan tangan Ibraa dan Lucky yang menempel di bahu dan punggung Arness


Arness melepas sepatu kerjanya, menenteng pakaian gantinya dan masuk ke ruang ganti.


Bar.. nggak mungkin kan aku pingsan ?? aku nggak pernah pingsan sebelumnya..


Kakak.. aku takut.. tapi aku lebih takut cerita sama kakak.. -batin Arness menyandarkan kepala dan punggungnya di dalam ruang ganti


..


Sementara itu Akbar merasa dadanya tiba-tiba sesak dan ada perasaan yang mengganjal namun nggak tahu apa-apa.


**