My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Arness Jadi Model



Zahra menjelaskan bagaimana sistem mereka akan bekerjasama dengan Arness kedepannya. Mereka cuma meminta Arness untuk jadi model make up dan gaun pengantin terbarunya.


Bayaran dari mereka lumayan besar, bahkan mereka akan mengajak Akbar untuk ikut pemotretan kalau diperlukan.


Arness menanyakan bagaimana dengan jadwal yang akan mereka berikan. Zahra menjelaskan kalau mereka cuma minta pemotretan tiga kali selama seminggu.


Pemotretan akan dilakukan pagi hari setiap hari Senin, Rabu, dan Kamis. Pemotretan cuma akan memakan waktu empat jam, ditambah dengan make up dan ganti busana total bisa lima sampai enam jam.


Arness sedikit berdiskusi dengan Akbar sebelum memutuskan.


Akbar akan membantu Arness buat mengatur jadwal kerjanya ke Tyo dan akan menemani Arness setiap melakukan pemotretan itu.


Arness juga bertanya tentang bagaimana dengan acara pernikahannya yang akan berlangsung dua bulan lagi, dia takut mengganggu masa kontraknya, bila memang nggak dibolehin Arness akan mundur dan nggak menerima kerjasama itu.


Tapi, Zahra malah makin senang dengan berita itu, dia nggak protes sama sekali tentang pernikahan Arness dan Akbar, dia mendoakan hal-hal baik buat keduanya.


Setelah banyak pertimbangan, Arness dan Akbar menyetujui kontrak kerjasama mereka. Kerjasama mereka akan dimulai minggu depan.


Zahra juga menambahkan kalau pemotretan bisa saja dilakukan di luar ruangan.


Akbar meminta jadwal pemotretan Arness, agar dia bisa mengatur kapan saja Arness harus ambil libur atau masuk siang.


Jadwal akan dikirimkan akhir Minggu ini sebelum mereka memulai pemotretan pertama kalimya.


Setelah tandatangan kontrak perjanjian dan bersalaman sebagai tanda ikatan, Arness dan Akbar undur diri.


..


Arness menceritakan semuanya ke sahabat SPIRITUALnya melalui grup chat.


Semuanya sangat senang mendengar kabar baik dari Arness, bahkan sampai nggak sabar menunggu hasil pemotretan pertama Arness.


..


Sampai rumah Arness, Akbar ikut masuk karena hari yang cukup melelahkan ini.


Arness menyeduh secangkir kopi panas buat Akbar dan segelas es coklat untuknya.


Arness dan Akbar menceritakan kontrak kerjasamanya ke kedua orang tua Arness.


“Anak papa jadi model” ucap Fathir terharu


“Apaan sih pa” ucap Arness malu-malu


“Mama seneng dengernya sayang” ucap Fera dengan mata berkaca-kaca


“Hehehe.. makasih ma, pa.. Arness jadi makin ekstra kerja keras” ucap Arness semangat


“Iya ya.. apa kamu nggak capek Ness ?” tanya Fathir khawatir


“Eum.. belum pa” jawab Arness setelah berpikir


“Jaga kesehatan kamu Ness, walaupun kerja sana sini yang penting jangan telat makan dan jangan makan sembarangan” jelas Fera khawatir


“Iya ma.. Arness nggak mau masuk rumah sakit lagi” jawab Arness mengacungkan dua jari tangannya tanda sumpah


Terdengar suara motor yang buat Akbar nggak asing.


Dilihatnya dari luar teras rumah Arness, motor Gio yang berhenti di depan rumah Egi dengan Viona yang baru turun dari motornya.


Karena penasaran, Arness menyusul Akbar dan melihat sendiri apa yang Akbar lihat.


“Cih, habis jalan” gumam Arness


“Mau panggil mereka nggak ?” tanya Akbar lembut


“Kurcaci !!” teriak Arness


Aku kan nawarin, bukan nyuruh kamu teriak.. -batin Akbar


Viona dan Gio refleks menoleh ke arah suara Arness.


Arness melambaikan tangannya menyuruh mereka masuk tapi Viona cuma membuka sedikit pagar rumah Arness dan berdiri disana.


“Ke atas aja yuk” teriak Viona


“Ide bagus ! aku ambil minum dulu nanti aku kesana” teriak Arness lagi


“Oke” teriak Viona dan pergi membukakan pagar rumahnya agar Gio memarkirkan motornya di halaman rumahnya


“Emang harus teriak-teriak begitu ya ?” tanya Akbar


Arness tertawa kecil dan masuk ke kamarnya.


Dia ganti baju rumahan dan meninggalkan Akbar di ruang tamu sama orang tuanya.


“Jangan kaget Bar, biasanya mereka bisa teriak-teriakkan dari depan teras masing-masing padahal mereka pegang hp” jawab Fera


“Serius ma ? hastaga.. itu nggak ganggu tetangga yang lain ?” tanya Akbar kaget


“Papa yang kena tegur Bar” keluh Fathir


“Tuh kan.. apa sampai sekarang mereka masih kayak gitu ?” tanya Akbar makin khawatir


“Sekarang udah nggak Bar, mereka teriak-teriakkan dari Hp, kalau nggak salah satu dari mereka main ke kamar lainnya” jawab Fera


“Ayo Amore.. ” ucap Arness membawa dua gelas minumannya


“Sini, aku aja yang bawa” ucap Akbar mengambil dua minuman itu dari tangan Arness


“Mau kemana Ness ?” tanya Fathir bingung


“Ke atas rumah om Egi, ada Vio sama kak Gio juga soalnya pa” jawab Arness bersemangat


..


“Assalamu’alaikum om.. tanteee” salam Arness ceria seperti biasanya


“Assalamu’alaikum om.. tante” salam Akbar sopan


“Wa’alaikum salam.. sini masuk Bar” ucap Egi lembut


“Kok Akbar doang om ? Arness kan tadi salam juga” protes Arness cemberut


“Udahlah, kamu kan udah biasa” ucap Egi tertawa tipis


“Tante Yanti, Vio mana ?” tanya Arness yang langsung berpaling dari Egi


“Masih di kamar, kamu ke atas aja langsung sama Akbar, Gio udah disana” jawab Yanti ramah


“Okee.. ayo Amore” ajak Arness semangat


..


Di lantai dua rumah Egi itu cuma seperti halaman dengan beberapa bangku kayu dan dua buah meja kecil dibawah kanopi yang besarnya kurang lebih sepertiga halaman itu.


Arness biasanya main gitar, ngobrol, bercanda, sampai mengadakan beberapa acara seperti acara ulang tahun, malam tahun baru atau malam takbiran disana.


..


Arness menyuruh Akbar buat menaruh minumannya di atas meja lalu menarik bangku kayu itu ke tengah lapangan karena terlihat malam ini cuacanya sejuk dan nggak mendung.


Lalu membuat lingkaran dengan meja kecil ditengah mereka.


“Kalian darimana ?” tanya Akbar membuka obrolan setelah membenarkan posisi duduknya


“Habis jemput Vio kerja terus aku ajak ke rumah” jawab Gio tanpa rasa malu


“Emang kalian udah pacaran ?” tanya Arness penasaran


“Belum, hehehe..” jawab Gio dengan tawa tanpa dosa itu


“Kok udah diajak ke rumah ?” tanya Arness lagi


“Mau kenalin ke mama papa aja Ness, sama kayak waktu kak Akbar ajak kamu ke rumah” jawab Gio dengan senyum tipisnya


“Pertama kali kakak ajak Arness ke rumah itu hari pertama kita jadian” protes Akbar


“Loh, waktu itu kan kak Akbar sendiri yang bilang kalau belum pacaran sama Arness” ucap Gio bingung


“Waktu itunya kamu kan pas kakak kasih lihat foto-foto Arness, itu jamannya dia ini lagi seneng-senengnya godain kakak” gerutu Akbar mencubit pipi Arness gemas


“Hah ? Arness godain kakak ? hahahaha..” tawa Gio nggak percaya


“Apa yang aku lewatin nih ? kok kak Gio ketawa gitu ?” tanya Viona yang baru datang menaruh dua gelas minuman di meja lalu duduk


“Kamu percaya Arness godain kak Akbar ?” tanya Gio menahan tawa


“Eum.. mungkin aja” jawab Viona setelah menimbang-nimbang


“Kenapa kamu percaya ? dia aja tomboy gini” kekeuh Gio masih nggak percaya


“Udahlah, Vio yang tahu Arness dari kecil aja percaya” ucap Akbar mencoba menyadarkan Gio


“Tapi gimana bisa ? Arness yang tomboy gini loh” ucap Gio masih kekeuh dengan pendapatnya


“Kenapa nggak percaya banget sih ? masa aku mesti tunjukkin di depan kalian” protes Arness


“Kak, Arness aja sekarang udah mulai berubah feminin, itu artinya dia nggak bohong kalau pernah godain kak Akbar” jelas Viona membela Arness


“Cih.. nggak ada yang bela aku” gumam Gio


“Kamu lihat kan foto-foto kakak sama Arness pas di Hutan Mangrove ? semenjak itu dia berubah banget jadi manja, banyak kelakuan yang baru pertama kali dia lakuin dan bikin kakak deg-degan” jelas Akbar memegang dadanya yang ikut deg-degan saat mengingat momen-momen itu


“Udah ih, bikin malu aja.. daripada ngomongin itu, gimana hubungan kalian berdua ?” tanya Arness mengalihkan obrolan


“Gimana Vi ketemu mama papa tadi ?” tanya Akbar bersemangat


“Eh.. kok tahu ?” tanya Viona kaget


“Kan aku kasih tahu Vi" jawab Gio datar


“Malu.. apalagi sama Arness” ucap Viona menunduk malu


“Hah ? hahahahahahahaha.. hei kurcaci, emang kamu punya urat malu ?” tawa Arness terbahak-bahak meledek Viona


“Cih.. emang kapan aku nggak punya urat malu ? bukannya kamu yang nggak punya urat malu ?” protes Viona nggak mau kalah


“Gila ya ! siapa yang sering asal masuk ke kamar ku pas waktunya pas banget lagi ganti baju ?” tanya Arness menantang Viona


“Kamu juga sering kayak gitu ya hulk ! bukan aku aja yang begitu sama kamu” bantah Viona


“Itu kan karena kamu duluan.. sekarang aku tanya, kalau kamu masih punya urat malu, kemana urat malu kamu itu pas tidur bareng aku ?” tanya Arness memicingkan matanya


“Apa ? kenapa ? aku kan cuma pegang-pegang dada kamu, kamu juga malah bales kan bukannya marah ?” tanya Viona nggak mau kalah


“Nggak inget ya waktu aku marah-marah ? kamu masih kayak gitu juga bikin aku capek ladeninnya” keluh Arness kesal


“Lagian siapa suruh tidur nggak pakai bra ? yaa aku juga sih, tapi kan jadinya begitu” protes Viona yang masih nggak mau kalah


Hastaga.. kenapa mereka frontal banget sih ? -batin Akbar


Apaan lagi ini ? apa mereka selalu kayak gini di depan orang lain ? -batin Gio


**