My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Haters (1)



Sampai basement, Arness langsung memarkir motor Akbar dan menggantungkan helmnya di motor Akbar.


Arness juga menurunkan slayernya dan memasukkan kunci motor Akbar ke dalam tas nya dan berjalan masuk ke mall.


Gila.. aku bukan pecinta sesama jenis !! kalau aku buka helm ku tadi malah bikin tambah malu !! -batin Arness kesal sendiri


..


“Arness !” teriak Lucky dari belakang


“Hem..” jawab Arness malas


“Kamu kenapa ? kok gitu ?” tanya Lucky bingung


Arness menceritakan kejadian memalukannya itu ke Lucky dengan wajah masam dan kesal.


“Hahahahaha..” Lucky tertawa terbahak-bahak menggema di lorong mall


“Gila ya !” bentak Arness sambil memukul pelan bahu Lucky


“Maaf Ness maaf.. makannya kamu kurang-kurangin penampilan kayak gini” ucap Lucky sambil menunjuk penampilan Arness dari atas ke bawah dan ke atas lagi


“Aku nyaman Ky” bela Arness sedikit berteriak


“Iya aku tahu, tapi lihat.. gimana kalau perempuan itu nekat naik ke jok belakang terus meluk kamu ?” ledek Lucky menahan tawa


“Hhiiii.. merinding !” gumam Arness sambil mengelus tangannya yang masih memakai jaket


“Kamu ganti aja lah tas kamu warna pink, helmnya gambar hello kitty, biar kelihatan ceweknya” ucap Lucky sambil mengelus kepala Arness


“Ogah banget ! udah warna pink, hello kitty lagi, nggak banget Ky nggak” jawab Arness protes dengan nada geli


“Hahahaha.. terus kamu maunya gimana ?” tanya Lucky menahan tawa


“Nggak pakai helm aja lah Ky, gimana menurut kamu ?” tanya Arness meminta saran


“Pakai helm, enak aja nggak pakai helm” protes Lucky menjitak kepala Arness


“Aww ! gila ya !” keluh Arness dengan nada kesal


“Udah ayo kita kerja” ajak Lucky merangkul bahu Arness


“Ini aja masih di lantai 2, hadeuh..” keluh Arness dan melipat kedua tangannya di dadanya


..


Arness menyapa Amin dari koridor pintu masuk karena Amin lagi keliling memeriksa outlet tapi tetap menyapa Arness dari kejauhan.


Arness dan Lucky langsung masuk ruang office buat absen lalu masuk ke ruang loker.


“Tumben belum pada dateng” gumam Arness membuka lokernya


“Salah terus ya kamu tuh mau ada orang apa nggak ada orang” gerutu Lucky yang duduk di bangku ruang loker


“Hehehe.. ya udah aku ganti baju dulu, kamu jagain, nanti gantian” ucap Arness tegas seperti memberi ancaman


“Iya baby” jawab Lucky lembut


Arness membiarkan Lucky dan masih sabar lalu masuk ruang ganti. Setelahnya, Arness keluar ruang ganti dan langsung menggantung pakaiannya di loker sedangkan Lucky sudah siap menenteng seragamnya dan masuk ruang ganti.


“Kebiasaan banget sih Ky ! kalau habis buka loker tuh langsung tutup lagi, gimana kalau ada orang iseng !” teriak Arness sambil menutup loker Lucky


“Iya maaf maaf” ucap Lucky pelan dari dalan ruang ganti


Beberapa saat, masuklah 3 orang perempuan yang selalu menutup diri dari karyawan lainnya dan dengan sengaja mendorong bahu Arness yang lagi berdiri di depan lokernya.


“Heh ! kenapa pak Akbar tiba-tiba mau di rolling ke Bandung ?” bentak haters 1


“Kamu apain pak Akbar hah ! kalian putus sampai pak Akbar ngejauh dari kamu ?” bentak haters 2


“Kita tuh udah perhatiin dari jauh ya, kita diemin kamu pegang-pegang pak Akbar, tapi malah bikin kita nggak bisa lihat pak Akbar !” bentak haters 3 sambil mendorong bahu Arness


“Kalian kenapa ?” tanya Arness datar dengan wajah ngeselinnya


“Kurang ajar kamu ya !” bentak haters 2


“Dasar cewek murahan !” bentak haters 3


“Kenapa ngatain aku cewek murahan ?” tanya Arness masih tenang


“Karena emang kamu murahan ! kurang ya 2 orang sahabat bego kamu itu yang suka sama kamu sampai harus ambil pak Akbar dari kita ?!” bentak haters 1


“Heh ! kurangajar banget kamu ! denger ya, selama pak Akbar belum kembali ke Jakarta, hidup kamu bakalan hancur !” ancam haters 3 dengan tatapan nanar


“Gini deh.. kalian kan berani lawan aku yang sendirian ini nih, ayo lah jangan ajak aku punya masalah di tempat kerja” ucap Arness tenang sambil melipat kedua tangannya di dadanya


“Brengsek !!” bentak haters 2 dan tangannya melayang ke udara mau menampar Arness


“Kalian berani lawan Arness sendiri ?” tanya Lucky datar dan menepis tangan haters itu


“Heh ! kamu tuh nggak ada masalahnya disini.. mendingan kamu keluar aja deh !” bentak haters 3 mengusir Lucky


“Heh lepasin ! sakit !” teriak haters 2 sambil berusaha melepaskan tangannya dari Lucky


“Udah Ky, lepasin aja, ikan teri kayak gini bisa apa sih” tantang Arness sambil menepuk pelan bahu Lucky


“Sialan ! ini belum apa-apa ya !” teriak haters 2 sambil mengelus tangannya yang sakit karena di pegang kencang sama Lucky


“Ayo kita pergi !” ajak haters 1


..


Setelah mereka keluar dari ruang loker dan ruang office, Arness membasahi wajahnya di wastafel dengan air dingin buat menenangkan pikirannya.


Lucky berdiri di sampingnya sambil mengelus lembut punggung Arness dan memberikan beberapa lembar tissue ke Arness. Arness bersandar di tepi wastafel sambil mengelap wajahnya dengan tissue dari Lucky.


“Aku salah apa ya Ky sama mereka ?” gumam Arness dengan raut wajah sedih, kesal, dan kecewa


“Mereka cuma iri sama kamu Ness, jangan dengerin mereka ya ?” pinta Lucky dengan tatapan khawatir


“Aku harap kamu, Ibraa, sama Ivy nggak kayak gitu ya” ucap Arness sambil berjalan ke loker


“Hei ! kenapa bawa-bawa aku, Ibraa, sama Ivy ?” tanya Lucky kesal


“Yaa.. karena kalian bertiga nggak jauh beda sama cewek-cewek tadi kan ? kamu sama Ibraa suka sama aku, Ivy tergila-gila sama kak Akbar, tapi kalian bertiga nggak bisa dapetin apa yang kalian mau” jelas Arness sambil mengambil tas make up dan sepatu kerjanya lalu duduk di bangku ruang loker


“Jangan sama-samain kita sama mereka ya Ness ! kita itu sahabat kamu ! walaupun aku sama Ibraa nggak bisa dapetin kamu tapi kita udah janji buat lindungin dan jagain kamu.. dan Ivy, jangan mikir kayak gitu Ness, kalau Ivy tahu dia pasti sakit hati” bentak Lucky yang mulai melembut dan duduk di samping Arness


“Maaf ya Ky.. aku malah ngerepotin kamu” ucap Arness sambil melepas sepatu bootsnya


“Ngerepotin gimana ? kapan kamu ngerepotin aku ?” tanya Lucky kesal


“Yaa.. kamu selalu ada aja buat aku, padahal perasaan kamu ke aku sama perasaan aku ke kamu beda” jelas Arness datar dengan wajah sedih


“Jangan ngomong kayak gitu Ness.. inget perjanjian kita apa ? ada saat senang dan sedih, bantu anggota lainnya kalau ada masalah apa musibah..” jelas Lucky dengan suara dan tatapan yang lembut


“Makasih Ky” ucap Arness dan memeluk Lucky seperti sahabat


Aku nggak akan ninggalin kamu Ness.. aku akan lindungin kamu.. -batin Lucky


..


Arness dan Lucky duduk di bangku ruang loker sambil ngobrol berdua dan Lucky cerita ke grup tentang kejadian tadi.


Beberapa karyawan yang masuk pagi mulai datang dan ganti seragam nggak terkecuali 3 haters tadi ikut masuk ruang loker dan menatap sinis ke Arness yang di balas dengan senyum jahat Arness dengan santainya.


..


Selesai briefing, Arness, Lucky dan yang lainnya bekerja seperti biasa.


Siang hari, Arness ijin buat istirahat ke Risky. Di ruang loker nggak ada orang, Lucky masuk menyusul Arness istirahat.


“Kamu belum istirahat ?” tanya Arness datar sambil membuka makanannya


“Belum.. aku sengaja nunggu kamu istirahat” jawab Lucky sambil membuka makanannya dan duduk di depan Arness


“Ngapain ? tumben ?” ledek Arness lalu menyuap makanannya ke dalam mulutnya


“Aku takut haters itu ganggu kamu” jawab Lucky khawatir


“Ky, makasih.. tapi aku nggak mau ngelibatin kamu sama yang lainnya ke masalah ini” ucap Arness serius


“Makan Ness, makan” jawab Lucky nggak mau melanjutkan omongan Arness


Benar saja dugaan Lucky, 3 haters itu masuk ke ruang office dengan langkah kasarnya dan berhenti di pintu ruang loker saat melihat Lucky makan sama Arness disana.


Sialan ini cewek.. sekarang jadiin sahabat noraknya itu jadi pengawalnya.. cih, ternyata nyalinya kecil juga.. -batin haters 3


**