
Arness bangun dari duduknya, menyuruh Akbar mengambil kursi kayu panjang buat mengganti tempat duduk mereka lalu dia tiduran dan merebahkan kepalanya di paha Akbar sambil memejamkan mata sedangkan Akbar mulai membelai lembut rambut Arness.
Viona dan Gio yang melihatnya cuma bisa berdecak dan menggelengkan kepala mereka melihat keajaiban dari Arness yang baru pertama kali mereka lihat itu.
“Lanjutin Vi" ucap Akbar serius
“Hemm.. oke.. Arness itu primadona sekolah, banyak yang nembak Arness padahal masih bocah, Arness udah pasti nolak, sikapnya juga dingin nolak mereka, tapi dia tetep ramah kalau main sama yang lain sekalipun itu cowok..
Banyak yang ngasih Arness hadiah, kayak gelang tali mainan, jajanan SD kesukaan Arness, beliin Arness alat tulis, buku..
Dan setiap istirahat apa papasan sama Arness, mereka selalu nyapa Arness, ya Arness nggak dingin banget sih, masih sedikit senyum ke mereka dan bikin mereka makin tergila-gila sama Arness” jelas Viona lalu meminum es coklatnya
“Kenapa Arness cuma cerita kalau dia rangking dan berbakat doang sama aku ?” protes Akbar cemburu
“Karena aku nggak suka pamer Amore” jawab Arness masih memejamkan matanya
“Arness bener kak, dia nggak suka pamer.. tapi yang dia ceritain ke kakak itu juga namanya pamer” ucap Viona memikirkan
“Kenapa Arness pamer tentang itu ?” tanya Gio heran
“Karena itu pantes buat dipamerin, rangking tiga besar terus, jadi wakil ketua kelas, ikut cerdas cermat, kesenian, bagus kan ? aku bakalan warisin semua yang aku punya buat anak-anak ku nanti” jawab Arness masih di posisinya
“Aww.. muach muach muach muach” ciuman bertubi-tubi di kening Arness dari Akbar
“Bucin” gumam Viona dan Gio
..
Mereka berempat turun, dilihatnya Vino sudah pulang.
Arness dan Akbar pamit pulang, meninggalkan Gio yang masih dirumah Egi buat meminta ijin dari keluarganya itu.
Akbar langsung pulang karena seharian ini dia nggak ada istirahatnya sama seperti Arness yang belum menyentuh tempat tidur.
..
Di ruang tamu rumah Egi..
“Ma.. yah.. kak.. ada yang mau kak Gio bicarain” ucap Viona ragu-ragu
“Gio adiknya Akbar kan ?” tanya Vino yang baru duduk di ruang tamu
“Iya kak” jawab Gio dengan pasti
“Nggak usah panggil kak gitu, umur kita sepantaran, panggil Vino aja” ucap Vino tenang
“Iya, Vin” ucap Gio hati-hati
“Jadi, apa yang mau kamu bicarain Gio ?” tanya Egi
“Gini om, saya mau minta ijin dari om, tante, sama Vini kalau Gio mau pacaran sama Vio..
Walaupun kita baru kenalan dan baru banget deket, Gio serius suka sama Vio..
Di usia kita yang udah segini, Gio sama Vio nggak mau main-main lagi, apa om, tante, sama Vino ijinin Gio buat pacaran sama Vio ?” tanya Gio hati-hati
“Seserius apa kamu sama Vio ?” tanya Egi serius
“Seserius Gio minta ijin ke keluarga Viona” jawab Gio dengan pasti
“Kenapa kamu suka sama Vio ?” tanya Vino tajam
“Aku nyaman sama Vio, walaupun baru kenal tapi obrolan kita nyambung, bercanda kita juga.. aku juga suka sifat Vio yang terbuka, sama kayak perasaannya buatku” jawab Gio tanpa grogi
“Apa kamu suka sama Gio, Vi ?” tanya Yanti
“Suka ma” jawab Viona sedikit malu tapi tetap serius
“Gio, kenapa buat pacaran aja kamu minta ijin ?” tanya Egi bingung
“Karena Gio serius sama Vio, om.. Gio juga berharap semoga bisa secepatnya nyusul kak Akbar sama Arness” jawab Gio tegas
“Kalau aku sih ijinin aja selama pacaran, asal kamu bisa jaga diri Viona” ucap Vino tegas dan tajam
“Mama juga dukung hubungan kamu Vi, yang penting kamu seneng” tambah Yanti tersenyum lembut
“Dan yang penting orang tua kamu restuin hubungan kalian, ayah nggak suka kalau hubungan kalian serius tapi harus putus gitu aja” ucap Egi menyindir hubungan Viona dan Ricky
“Mama papa restuin hubungan kita berdua kok om, dari pas lamaran kak Akbar sama Arness, mama papa udah suka sama Vio deket sama Gio” ucap Gio menjelaskan sikap kedua orang tuanya
“Iya, om tahu banget sifat kedua orang tua kamu Gio.. om ijinin kalian pacaran” ucap Egi lembut
“Beneran yah ?” tanya Viona dengan mata berbinar-binar
“Iya Viona.. dan Gio, om percayain Vio sama kamu, jangan sakitin dia” ucap Egi tegas
“Iya om, makasih banyak.. Gio bakalan jagain Vio dan nggak akan pernah sakitin Vio” jawab Gio dengan semangat dan senyum lebarnya
Saat Gio sudah hendak menjalankan motornya, Vino keluar dan menyuruh Viona masuk.
“Aku nggak tahu seserius apa kamu sama Vio, aku udah tahu cerita tentang kamu dari Arness, kalau sampai sedikit aja kamu nyakitin Vio, aku nggak tanggung-tanggung bikin kamu babak belur lebih dari yang Arness lakuin” ucap Vino pelan tapi tajam
“Iya, Arness udah sering peringatin aku, aku udah sadar dan nggak akan sakitin Vio, aku bakalan tunjukkin kalau aku emang serius sama Vio” jawab Gio dengan tatapan seriusnya
“Masukin nomor WA kamu.. kapan-kapan ikut main dirumah sama anak-anak, nanti aku kenalin” ucap Vino tenang menyodorkan Hp nya ke Gio
“Iya makasih, aku pulang, Assalamu’alaikum” salam Gio tenang dan mengembalikan Hp Vino setelah mengetikkan nomor Hp nya
“Wa’alaikum salam, hati-hati dijalan pulang” salam Vino sambil menepuk-nepuk bahu Gio lembut
..
Viona yang senangnya nggak bisa terbendung lagi langsung menelefon Arness yang lagi asik main game itu.
“Arness.. aku diijinin pacaran sama kak Gio !!” teriak Viona membuat Arness menjauhkan telinganya dari Hp nya
“Hemm.. ya udah” jawab Arness datar dan langsung mematikan telefonnya
Pamer -batin Arness
..
Sampai rumah, Gio langsung berlari menaiki anak tangga rumahnya dan langsung mengetuk kencang pintu kamar Akbar dengan wajah senangnya.
“Apa ?” tanya Akbar malas yang membuka setengah pintu kamarnya
“Aku diijinin pacaran sama Vio, kak” jawab Gio dengan senyum lebarnya
“Hemm.. ya udah” ucap Akbar malas dan langsung menutup pintu kamarnya
Cih -batin Akbar
**
Hari silih berganti, sudah memasuki hari Minggu lagi. Tepat satu minggu Arness dan Akbar lamaran.
Hari ini juga mereka libur kerja, sama hal nya dengan Viona dan Gio.
Pagi hari, Arness sudah jogging dan latihan fisiknya sendiri.
Setelahnya, Arness duduk sebentar di bangku teras rumahnya.
“Hulk !!” teriak Viona dari depan pagar
“Masuk !” teriak Arness sambil menyandarkan kepalanya di bangku teras rumahnya
“Hulk, kepasar yuk, aku mau belanja, mau masak buat kak Gio” ajak Viona setengah merengek
“Eh iya juga, janji aku sampai sekarang belum kesampaian” ucap Arness yang baru tersadar
Arness langsung masuk rumah, mencari Fera yang lagi menyeduhkan kopi buat Fathir.
“Ma, Arness sama Vio mau ke pasar, mama mau nitip ?” tanya Arness lembut
“Tumben.. emang kalian mau beli apa ?” tanya Fera bingung
“Kalau Vio sih nggak tahu, cuma bilang mau masakin Gio.. Arness juga ada janji sama Akbar mau masakin dia terus bikinin dia kue bolu kayak kemarin” jawab Arness tenang
“Kamu mau masak apa ?” tanya Fera lembut
“Akbar minta dibikinin sayur sop sama perkedel ma” jawab Arness duduk di meja makan memangku tangan
“Ya udah masak itu aja buat hari ini, mama nggak bantuin ya ?” ucap Fera memastikan
“Bantuin sedikit deh ma, pas bagian perkedelnya aja, oke” ucap Arness dengan senyum manisnya
“Ness, ayooo” ajak Viona yang menyusul masuk
“Ya udah sana, mama titip cabai rawit aja sama ketimun” ucap Fera
“Ya udah.. aku ambil uang dulu, sana kamu pulang siap-siap” usir Arness
“Oke, pakai motor aku aja ya” ucap Viona tenang
“Ya udah terserah yang penting kamu yang di bonceng, aku nggak tega dibonceng kurcaci” ledek Arness
“Cih” gumam Viona yang melengos keluar rumah Arness
..
Di pasar, mereka tawar menawar harga seperti ibu-ibu biasanya, setelah Arness dan Viona selesai dengan urusan perbelanjaan, mereka menikmati sebatang es goyang sebelum pulang.
**