
“Gimana kalau kita update dan postingnya pakai Hp mereka ?” tanya Arness menunjuk kedua laki-laki itu
“Ahh !! pikiran kamu sama kayak aku Ness” ucap Viona menepuk tangan kesenangan
“Apa !!” kaget Akbar dan Gio
“Pinjem Hp kamu Amore” ucap Arness lembut menadahkan tangannya di depan Akbar
“Minta Hp kamu sebentar sayang” ucap Viona lembut dan menadahkan tangannya di depan Gio seperti Arness
Dengan berat hati dan banyak perlawanan yang sia-sia, Akbar dan Gio menyerahkan Hp nya ke tangan Arness dan Viona.
Kedua perempuan itu serius mengerjai pasangannya. Bahkan mereka berdua sepakat buat update di story WA dan posting di Instagram dengan caption yang berbeda.
Sekembalinya Hp itu ke pemiliknya masing-masing, keduanya langsung berniat buat langsung menghapus kelakuan Arness dan Viona.
“Jangan berani hapus” ucap Arness tajam
“Kalau dihapus kita berantem” tambah Viona ketus
“Kaakkk..” rengek Gio ke Akbar
“Udah ih, kakak juga nggak bisa apa-apa” gerutu Akbar
Belum puas melihat kedua laki-laki itu dipenuhi make up di wajahnya, terpaksa harus dibersihkan karena keduanya sudah merengek risih.
Akbar, Viona, dan Gio turun, meninggalkan Arness sendiri diatas, lalu Akbar kembali sendiri dengan beberapa kapas yang dipenuhi micellar water.
Akbar menarik tangan Arness ke kamarnya. Dibersihkannya dengan telaten make up di wajah Akbar itu sama Arness.
Sudah bersih, Arness duduk di sofa kamar Akbar sambil memejamkan matanya sementara Akbar mencuci mukanya di kamar mandi.
..
“Little” ucap Akbar lirih dan sudah memeluk Arness dari samping
“Hemm” jawab Arness malas
“Cium” rengek Akbar mendekatkan wajahnya ke wajah Arness
“Vio sama Gio mana ?” tanya Arness datar
“Dibawah, mereka butuh privasi sendiri kayak kita” jawab Akbar mulai fokus ke bibir Arness
Sudah mendapatkan apa yang Akbar mau dengan durasi yang terhitung lama dari pengalaman mereka lalu keluar kamar.
“Amore.. belanja yuk” ajak Arness tiba-tiba
“Serius ?” tanya Akbar kaget
“Iya, ayo” jawab Arness dengan senangnya
“Ya udah sini masuk kamar lagi” ucap Akbar menarik tangan Arness langsung masuk kamarnya lagi
Ngapain masuk kamar lagi ? dia nggak macem-macem kan ? -batin Arness
Arness duduk di sofa dengan melipat kedua kakinya di atas sofa dan memeluk bantal di dadanya.
Dilihatnya pemandangan yang baru pertama kali dia lihat. Pemandangan dimana Akbar mengganti bajunya di depan Arness.
Memamerkan dada putih bersih, bidang dan otot yang menghiasi dada itu. Berbalik, punggung yang membuat air liur Arness hampir menetes.
Ditatapnya tanpa ada kedip dari mata Arness. Bagian Akbar mengganti celananya, Arness langsung menutup wajahnya dengan bantal yang dia peluk tadi.
Aku gila.. nggak, dia udah gila !! -batin Arness
“Kenapa malu sayang ?” bisik Akbar yang sudah berdiri di depan Arness dan sengaja belum memakai celananya dengan benar
“Kamu nggak malu ?” gumam Arness dibalik bantal
“Nggak.. kenapa kamu malu ? lihat, telinga kamu, muka kamu, semuanya merah gini” ucap Akbar lirih sambil membelai telinga Arness sampai leher Arness
Arness mendorong tubuh Akbar tanpa melihatnya lalu beranjak bangun dan kabur, pikirnya.
Tapi Akbar lebih cepat melempar bantal menjauh dari Arness, ditatapnya dalam wajah Arness lalu diciumi bibir lembut Arness.
“Aku boleh ya pegang apa yang biasanya Arka peluk ?” bisik Akbar disela-sela ciumannya
Arness menggelengkan kepalanya dengan nafas sudah nggak teratur. Tapi tangan Akbar tetap menggerayangi apa yang dia mau, membuat Arness melenguh.
Ditutupnya bibir Arness dengan bibirnya sendiri. Arness sudah hilang kesadarannya, membuat Akbar menuruni ciumannya ke leher Arness dan membuat Arness makin melenguh dan menjambak rambut Akbar.
Tangan sudah nggak terfokus, sudah merambat masuk ke dalam kaos Arness, dicarinya benda yang membuat Arness melenguh itu. Dapat !!
“Amore..” panggil Arness lirih
“Boleh aku ?” tanya Akbar menggantung
“Nggak.. aahh.. udah Amoorree” jawab Arness menggigit bibirnya
Bimbang dirasakan sama Akbar. Antara lanjut atau berhenti, dia merasa makin tertantang karena Arness, tapi dia juga nggak memaksakan apa yang Arness nggak kasih.
Kesadarannya menang, Akbar melepaskan dan merapihkan lagi apa yang sudah di lakukan.
Akbar bangun dari sofa, membereskan celananya lalu langsung mengajak Arness keluar dari kamarnya sebelum dia melakukan hal aneh lainnya.
..
“Ikut ya” ucap Viona memelas
“Ya udah tapi jangan ganggu aku milih” ucap Arness mengancam
“Cih, iya” jawab Viona kesal
..
Kedua pasangan itu masuk mobil dan dikendarai sama Akbar. Meninggalkan rumahnya yang masih kosong itu.
..
“Kamu mau beli apa Ness ?” tanya Gio di tengah perjalanannya
“Arness nggak jauh belinya sepatu” jawab Viona menggerutu
“Kamu berharap aku beli apa ? dress ? heels ?” tanya Arness kesal
“Iya.. sesekali beli itu kenapa sih Ness” jawab Viona memohon
“Emang Arness nggak pernah belanja selain sepatu ?” tanya Akbar yang masih menyetir mobilnya
“Mana pernah.. kado dari aku aja baru dipakai sama Arness” gerutu Viona
“Kado ?” tanya Akbar bingung
“Mini dress yang waktu itu loh kak.. itu kado dari aku tiga tahun lalu, mungkin karena udah kelamaan jadinya udah agak kekecilan sama Arness” jawab Viona tenang
“Hahahahaha.. masih mending sayang daripada nggak dipakai sama sekali” ucap Gio mengelus lembut kepala Viona
..
Sampai lah di mall yang Arness inginkan. Langsung store terbesar di mall itu. Berpisah sama Viona dan Gio yang langsung ke bagian make up.
“Amore” panggil Arness dengan senangnya
“Apa sayang ?” tanya Akbar lembut sambil terus menggenggam erat tangan Arness
“Aku mau nunjukkin sesuatu ke kamu” jawab Arness dengan senyum nggak sabarnya
“Nunjukkin apa ?” tanya Akbar bingung
“Sini” ucap Arness menarik tangan Akbar ke pakaian perempuan
..
Arness melepaskan genggaman tangannya lalu menenteng beberapa tumpuk gantungan baju di kedua tangannya dengan raut wajah malas.
“Pertama kali aku lihat cowok itu disini Amore, persis kayak gini” ucap Arness menirukan gaya laki-laki yang dia maksud
“Siapa cowok itu ? kapan ? kok bilang aku ?” tanya Akbar curiga
“Udah lama, sebelum kamu kenal aku” jawab Arness dengan senyumnya
Arness menaruh kedua tangannya ke atas bahunya seperti yang dilakukan laki-laki itu dan menunjukkannya ke Akbar.
Akbar cuma mengernyitkan dahinya kesal tapi masih sabar menunggu Arness cerita.
Arness menaruh kembali gantungan baju itu ketempatnya lalu menarik Akbar ke bagian sepatu perempuan.
Membiarkan Akbar bingung dan kesal sendiri menebak apa yang Arness lakukan.
Arness mengambil salah satu sepatu heels lalu ditunjukkannya ke Akbar.
“Sayang, aku cantik nggak ya kalau pakai heels ini ? apa aku beli yang itu ? apa yang itu ? menurut kamu gimana sayang ?” tanya Arness menirukan gaya bicara seorang perempuan yang di lihatnya saat itu
“Little, kamu nggak kenapa-napa ?” tanya Akbar khawatir
“Kamu pikir aku kenapa ? aku cuma niru cewek itu di depan cowok yang aku perhatiin” jawab Arness sambil menaruh sepatu heels tadi ketempatnya
“Siapa sih ? kenapa kamu cerita ke aku ? kamu mau bikin aku cemburu ?” tanya Akbar yang menahan kesalnya
“Nggak nggak nggak.. nggak sekarang, aku pengen kamu lihat baik-baik kemampuan ingetan ku ini” jawab Arness menggelengkan kepalanya
Arness menarik tangan Akbar lagi ke arah ruang ganti. Menyuruhnya bersandar dengan sikap seperti laki-laki yang Arness ceritakan itu.
“Aku lihat cowok itu tepat kayak kamu gitu, ditempat itu juga.. ngelihat jam terus-terusan, nunggu cewek tadi keluar dari ruang ganti nunjukkin baju yang dia coba, berkali-kali begitu” ucap Arness
Akbar mengernyitkan dahinya bingung.
Arness sudah menarik tangannya lagi dan mulai mencari sepatu untuknya.
“Amore, bagusan ini apa ini ?” tanya Arness lembut menunjuk dua sepatu boots di depannya
“Kamu nanya beneran ?” tanya Akbar bingung
“Iya beneran.. aku udah selesai aktingnya” jawab Arness mencubit pipi Akbar
“Jadi aku udah boleh tahu kamu ceritain siapa ?” tanya Akbar penasaran
“Belum boleh.. masih ada scene lain yang belum aku tunjukkin, jadi sepatunya yang mana ?” tanya Arness lagi
“Ini” jawab Akbar mengambil sepatu yang dia suka
**