
“Kak Akbar ngapain ya ? aku ngantuk” gumam Arness lalu tertidur
..
“Ness.. kamu tidur apa pingsan ?” teriak Fera dari luar pintu kamar Arness
“Heemmm..” gumam Arness yang masih ngantuk
“Bangun, udah siang” ucap Fera lalu suaranya langsung lenyap
Ah mama.. aku masih ngantuk.. jam berapa sih.. -batin Arness belum sadar
Arness duduk lalu mengucek matanya dan melihat jam dinding di kamarnya.
Jam 1 siang gini kenapa malah bangunin aku ? kan ini jam tidur siang -batin Arness
Arness melihat Hp nya tapi nggak ada WA dari Akbar, sedangkan grup chat SPIRITUALnya ramai mencari Arness.
“Aku nggak apa-apa guys.. makasih ya udah perhatian sama aku” balas Arness
“Kamu kerja Ness ?” tanya Iza khawatir
“Nggak.. pak Tyo nyuruh aku istirahat di rumah” jawab Arness
“Para haters itu bully kamu lagi Ness ?” tanya Tristan sedikit kesal
“Iya.. mereka dateng sekitar 10 orang, termasuk Lulu” jelas Arness
Lalu Arness menceritakan kejadian yang dia alami semalam ke sahabat SPIRITUALnya.
Mereka langsung kaget, marah, kesal, dan ada rasa balas dendam tapi Arness melarang mereka, karena bagi Arness, selama sahabat SPIRITUALnya nggak jadi korban, dia anggap masalah itu selesai.
..
“Assalamu’alaikum” salam Akbar
“Wa’alaikum salam” salam Tyo
“Pak.. gimana ? kalau sekarang bisa nggak ?” tanya Akbar
“Oke.. kamu kesini aja, saya baru sampai outlet” ucap Tyo
“Iya pak.. saya kesana sekarang.. saya sama kakak saya ya pak kesananya” ucap Akbar seperti minta ijin
“Iya, silahkan” jawab Tyo tenang
“Assalamu’alaikum” salam Akbar
“Wa’alaikum salam” salam Tyo
Akbar yang sudah mandi itu langsung ganti pakaiannya, hari ini dia nggak pakai jaket, cuma kaos lengan pendek dengan celana jeans panjang, sepatu kets dan waistbag.
Akbar turun tangga buat manggil Andre.
Andre juga terlihat tampan bahkan gaya pakaiannya hampir sama dengan Akbar, cuma kaosnya yang lengan panjang di gulung ¾ itu yang membuatnya berbeda dengan Akbar.
Setelah pamit sama kedua orang tua dan Intan, mereka pergi pakai mobil.
..
“Menurut kamu siapa yang lakuin ini sama Arness ?” tanya Andre di perjalanan
“Aku masih belum tahu kak, selama ini Arness nggak cerita kalau dia ada masalah di tempat kerja” jawab Akbar sambil menyetir
“Haaahhh.. bahkan kamu pacarnya sendiri aja nggak tahu kalau Arness ada masalah” Andre mendengus kecewa
“Kamu nggak curiga apa-apa tentang Arness ?” tanya Andre
“Aku sempet berasa perasaan aku nggak enak aja kak waktu aku di Bandung, tapi aku hirauin aja, aku pikir itu cuma perasaan aku aja” cerita Akbar khawatir
“Berarti Arness nggak ngalamin kayak gini baru kali ini aja Bar.. kemungkinan selama kamu pergi Arness udah ngalamin hal yang lain lagi” curiga Andre
“Hastaga kak, ucapan kakak bikin aku keinget sama ucapan Arness, dia pernah di bully sama para penggemar mantannya dulu, apa sekarang Arness ngalamin itu lagi kak ?" tanya Akbar khawatir
“Kemungkinan gitu, kamu nggak tanya sama sahabatnya Arness ?” tanya Andre khawatir
“Mereka nggak ada yang mau cerita.. mereka bilang kalau Arness yang bakalan cerita” jawab Akbar
..
Sesampainya di mall, mereka berdua jadi pusat perhatian orang-orang sekitar karena keduanya yang tampan dan gagah berjalan berdampingan.
..
Masuk tempat kerja Akbar langsung minta ijin ke security buat masuk office karena dia sudah janjian sama Tyo.
Semua mata memandang mereka berdua, mulai dari karyawan, pengunjung, bahkan orang-orang yang lewat di lorong mall depan pintu outlet.
Tok tok.. Tok tok..
Pintu ruang office di ketuk lembut sama Akbar. Risky membukakan pintu ruang office dan mempersilahkan Akbar dan Andre masuk.
Akbar mengenalkan Andre ke Tyo dan Risky lalu duduk di depan meja office Tyo.
Tyo menyuruh Rama buat operasional dan melarang karyawan manapun buat masuk office.
“Bar.. kamu mau lihat dari mana ?” tanya Tyo khawatir karena sudah melihat rekaman CCTV duluan
“Dari awal saya berangkat ke Bandung, pak” jawab Akbar dengan pasti
“Dan biarkan saya merekam kejadian-kejadian yang mencurigakan pakai Hp saya” ucap Andre tegas
“Baiklah, silahkan” ucap Tyo yang memulai rekaman CCTV sejak kepergian Akbar ke Bandung
Layar monitor di hadapkan ke tengah, sehingga Akbar, Andre, Tyo, dan Risky bisa ikut menontonnya bersama.
Awal-awal nggak ada kejadian yang nggak terlalu mencurigakan, cuma saat Ibraa memegang kedua bahu Arness dan terlihat sangat khawatir.
Memasuki bulan kedua terlihat Lucky berlari dari koridor sampai ruang loker, sekitar 15 menit sebelumnya Arness masuk sendirian tanpa ada yang mencurigakan.
Lalu terlihat Lucky merangkul bahu Arness dengan hati-hati dan di dudukkan ke kursi di ruang office.
Lucky mengambil air dari dispenser lalu berlutut di depan Arness dan memberikan gelas itu ke Arness.
Lucky juga terlihat mengelus pipi Arness, lebih tepatnya mengelus bawah mata Arness yang di duga Arness menangis.
Apa yang kalian lakuin selama aku nggak ada ?? -batin Akbar geram
Entah sudah hari ke berapa, sekitar jam 9 malam Arness masuk ke ruang loker sendiri lagi.
Nggak lama masuklah 2 karyawan perempuan, cukup lama mereka nggak keluar dari ruang loker lalu 2 perempuan itu keluar sambil tepuk tangan senang lalu keluar office.
Arness masih belum keluar juga sampai akhirnya Aji setengah berlari dan terlihat panik di wajahnya.
Beberapa menit kemudian pintu ruang office terbuka dengan kasar, Lucky dan Ibraa berlari dengan wajah panik ke ruang loker.
Sekitar 10 menit kemudian Aji keluar dari ruang loker dengan wajah sedih dan khawatir lalu keluar office.
..
Hampir 1 jam Arness, Lucky, dan Ibraa nggak kelihatan batang hidungnya sampai akhirmya Ibraa berjalan cepat ke ruang office, mengambil segelas air putih hangat dengan wajah panik dan khawatir lalu bergegas kembali ke ruang loker.
“Kak Aji nggak cerita apa-apa sama saya, padahal kelihatannya ini masalah serius” gumam Akbar khawatir
“Ky, telefon Aji, Uma, Ibrahim, dan Lucky.. suruh ke sini sekarang !” ucap Tyo tegas
“Baik pak” jawab Risky dan langsung menuruti kata-kata Tyo
..
Kembali ke layar CCTV..
Uma berlari masuk ke ruang loker dengan wajah menangis di ikuti Aji, lalu Aji keluar duluan disusul sama Uma beberapa menit kemudian.
Tapi Arness, Lucky, sama Ibraa masih belum keluar juga.
Apa yang mereka bertiga lakuin ? kenapa nggak keluar-keluar ?? apa yang kamu sembunyiin dari aku Little ? -batin Akbar khawatir
Rekaman CCTV sementara di tunda sampai Aji, Uma, Ibraa, dan Lucky sampai.
**