My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Kehidupan Bahagia Arness & Akbar



Sekitar delapan bulan kemudian..


“Perut aku saakiittt” keluh Arness dengan keringat mengucur di wajahnya


“Kita ke rumah sakit sekarang ya, tahan sebentar ya istri ku” ucap Akbar yang panik


“Gio mana ? aku mau Gio temenin aku” tanya Arness sedikit berteriak


“Gio lagi nggak ada dirumah sayang, aku telefon suruh ke rumah sakit aja ya” jawab Akbar dengan sabarnya


“Aku mau Giiooo !” teriak Arness


“Iya sayang iya aku telefon ya” ucap Akbar mengalah


“Bar, kenapa Arness teriak-teriak ?” tanya Ira khawatir


“Ma tolong tenangin Arness sebentar ya, Akbar mesti telefon Gio” ucap Akbar panik


Ira langsung menemani Arness yang sudah mandi keringat sementara Akbar menelefon Gio.


“Arness, apa kamu udah mau ngelahirin ?” tanya Andre yang ikut panik dan masuk ke kamar Arness


“Arness nggak tahu kak.. sakitt” keluh Arness


“Bar, telefon siapa ? ayo buruan bawa Arness ke rumah sakit” ucap Andre menahan kesal


“Arness mau ditemenin Gio kak, Gio lagi berangkat kesini” jawab Akbar gelisah


“Telefon papa Fathir sana, biar ketemu di rumah sakit” ucap Andre mengelap keringat Arness


..


Sepuluh menit kemudian Gio sampai dirumah setelah terpaksa ijin buru-buru dari tempat kerjanya. Gio juga ngebut karena panik dan khawatir sama Arness.


“Arness” panggil Gio yang langsung duduk disamping Arness


“Temenin aku ke rumah sakit” ucap Arness lirih


“Iya iya ayo kita berangkat sekarang” ucap Gio panik


Dimobil, Arness duduk di bangku belakang sama Gio sementara Akbar menyetir dan Andre duduk didepan.


Di mobil lain Ira, Roy, dan Intan diantar supirnya tapi Intan langsung pulang ke rumah Mamanya karena kedua anaknya ada disana.


“Giioooo saakiitttt” teriak Arness memegang tangan Gio erat


“Aaaaaaaa.. tangan aku juga sakit Ness” teriak Gio kesakitan


“Kakaaakkkkk, Arness ngerasa bayinya udah mau keluar” teriak Arness


“Sabar sedikit lagi ya sayang, kita bakalan sampai dirumah sakit” ucap Andre panik


“Kak, kenapa Arness nggak butuh aku ? dari rumah tadi Arness minta ditemenin di mobil sama kakak sama Gio” tanya Akbar sedih


“Entah, bawaan bayinya kali bosen deket-deket kamu terus” jawab Andre asal


Sepanjang jalan Arness terus mengejan dan memegang tangan Gio erat. Arness juga menarik kemeja Gio sampai sobek saking sakitnya Arness menahan.


..


Saat masuk ke ruang bersalin, Arness cuma ditemani sama Akbar.


Dokter bilang kalau sudah waktunya Arness melahirkan.


Arness terus mengejan sambil memegang tangan Akbar erat membuat Akbar berteriak kesakitan.


“Aku nggak kuat” lirih Arness bicara


“Kamu pasti kuat sayang” ucap Akbar mencium lembut kening Arness


“Ayo sedikit lagi bayinya akan keluar, kepalanya sudah terlihat” ucap sang dokter


Dengan susah payah Arness terus mengejan sambil memegang erat tangan Akbar yang sudah pucat itu.


Tangisan bayi mengganti teriakan Arness dan Akbar tadi.


Kedua orang tua Arness dan Akbar, Andre dan Gio yang menunggu mereka diluar menangis haru mendengar Arness berhasil melahirkan.


..


Bayi cantik sangat mirip dengan Arness lahir dengan selamat dan sehat.


Penantian mereka akhirnya menunjukkan kebahagiaan.


Arness dipindah ke ruang perawatan sementara Akbar mengadzani putrinya yang cantik itu.


“Kita punya cucu ma” ucap Fathir menangis haru


“Iya pa.. mirip banget sama Arness waktu bayi” ucap Fera mengelap air matanya


“Namanya siapa sayang ?” tanya Ira menangis haru


“Namanya Zanna Kirania Mahendra, ma” jawab Akbar mencium lembut kening Arness


Dokter menyuruh Arness menyusui bayinya dengan tenang.


Melihat putrinya dalam gendongan istrinya yang lagi menyusui membuat Akbar menangis bahagia.


“Makasih banyak ya Little Arnessta ku.. makasih udah kasih keluarga kita mini Arness seimut ini” ucap Akbar mencium kening Arness lembut


“Makasih juga ya sayang, semoga kamu bisa jadi kepala keluarga yang lebih baik lagi” ucap Arness menyandarkan kepalanya di bahu Akbar


**


Beberapa hari setelahnya Arness sudah diperbolehkan pulang.


Banyak yang datang menjenguk keluarga kecilnya itu dengan hadiah buat baby Zanna.


“Aww.. lucu banget” ucap Ivy gemas


“Mirip Arness banget ya” ucap Raka terharu


Melihat baby Zanna tersenyum membuat mereka makin gemas.


**


Akbar membantu segala keperluan putrinya. Dia nggak membiarkan Arness melakukan semuanya sendiri.


Hampir setiap malam Akbar bangun dari tidurnya karena baby Zanna menangis.


Kini Arness sudah fokus sebagai ibu rumah tangga semenjak usia kehamilannya tujuh bulan.


**


Satu persatu sahabat SPIRITUAL Arness menyusulnya dan Uma menikah. Begitu juga dengan Viona dan Gio.


..


Waktu cepat berlalu, nggak terasa usia Zanna sudah dua tahun..


Dirumah suasana makin ramai dengan adanya anak Viona dan Gio yang cerewet seperti Viona.


Zanna mewarisi semua hal tentang Arness, dia sering kali mencubit pipi Anindira, putri Viona dan Gio sampai menangis dan Zanna malah tertawa senang.


“Ih hulk banget” gerutu Viona kesal


“Siap-siap aja anak kamu nurunin bakat kamu Vi" ucap Arness tersenyum sinis


“Bakat apa Ness ?” tanya Gio penasaran


“Bakat jadi korban kejahilan Zanna, hahahahaha..” jawab Arness tertawa puas


“Hulk ngeselin” gerutu Viona


**


Arness senang karena semuanya berjalan sesuai apa yang dia rencanakan.


Lucky dan Ibraa pun baru saja melangsungkan pernikahan mereka.


Siapa sangka Lucky menemukan jodohnya di tempat kerja, sementara Ibraa entah darimana benih cinta itu, dia menikah dengan Defi, teman kerja Arness dulu.


Kini, setiap kali SPIRITUAL kumpul akan ada cekikikan bayi di antara mereka, terlebih usia anak mereka yang nggak terlalu jauh itu.


Cuma Lucky dan Ibraa yang masih menunggu kehadiran seorang bayi di keluarga kecilnya.


**


Berbeda lima bulan saat Zanna dan Anindira sudah berusia dua tahun, Viona menyusul Arness melahirkan anak kedua mereka.


Bayi kedua Arness dan Viona sama-sama laki-laki.


Zayn Kresna Mahendra, bayi setampan Akbar yang dewasa karena dia paham saat kakaknya menangis atau sedih Zayn akan memeluknya hangat dan menenangkan kakaknya itu.


Sementara Bhanu, putra kedua Viona dan Gio yang juga mewarisi ketampanan Gio tapi selalu mengalah dengan kakaknya.


Arness dan Akbar pindah ke rumah yang dulu Roy dan Ira ceritakan yang masih berada dalam satu perumahan dengan mereka saat Zanna sudah berusia lima tahun dan Zayn berusia tiga tahun.


Sementara Viona dan Gio memilih tinggal bersama kedua orang tuanya.


**


Arness dan Akbar membiasakan anak mereka tidur sendiri sejak umur tiga tahun.


Mereka bergantian menidurkan anak mereka, seperti hari ini Arness menidurkan Zayn dan Akbar menidurkan Zanna.


“Zayn, kamu mesti bisa jagain kakak kamu ya.. jangan sampai dia disakitin sama orang lain” ucap Arness saat menemani anak keduanya tidur


“Iya ma.. Zayn mau jagain mama sama nenek juga.. kayak papa yang jagain mama sama kak Zanna” jawab Zayn dengan gemasnya


“Makasih ya sayang” ucap Arness mencium lembut Zayn


**