My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Kelahiran Bayi Ke 3 & 4 Arness



Sampai rumah, Arness membuat sop buah dibantu Viona sementara Ivy menyiapkan kue yang tadi Arness beli di piring dan membawanya ke ruang keluarga.


“Kata dokter apa Ness ?” tanya Viona sambil membuang biji anggur buat sop buahnya


“Alhamdulillah kita semua sehat Vi” jawab Arness dengan tenangnya


“Tadi pas mama papa dateng sama om dan tante mereka bilang kalian nyuruh dateng karena kalian mau ngasih tahu sesuatu” ucap Viona curiga


“Emang” jawab Arness sekenanya membuat Viona kesal


Viona membawa beberapa gelas dan wadah sop buahnya sendiri karena bagaimana pun dia kesal sama Arness, Arness tetaplah sepupu sekaligus kakak iparnya yang lagi mengandung calon keponakannya.


“Maa.. kenapa lama banget ?” protes Zayn mengerucutkan bibirnya


“Maaf ya sayang” ucap Arness mencium lembut pipi Zayn


“Dedek bayi gimana ma ?” tanya Zanna mengelus lembut perut Arness


“Sini mama bisikin” ucap Arness menyuruh Zanna dan Zayn naik ke atas bangku


“Mama sama papa mau kasih kalian dua adik” bisik Arness penuh senang


“Beneran ma ?” tanya Zanna berteriak


“Stt.. jangan kasih tahu siapa-siapa sebelum mama kasih tahu semuanya, oke ?” ucap Arness tos sama kedua anaknya


“Jadi ada apa ini Ness ? Bar ?” tanya Roy khawatir


“Mama.. papa.. Akbar sama Arness mau kasih kalian cucu” jawab Akbar melihat penuh senang ke kedua pasang orang tuanya


“Ya iyalah kak, Arness kan lagi hamil, gimana sih ?” protes Viona kesal


“Maksudnya apa ini Bar ? kenapa kalian nyuruh papa sama mama kesini ?” tanya Fathir sedikit kesal


“Papa jangan marah-marah, nanti mereka takut sama papa” ucap Arness sedih sambil mengelus perutnya


“Mereka ?” tanya kedua pasang orang tua Arness, Viona, Gio, Vino, dan Ivy


“Arness mengandung dua bayi sekaligus ma.. pa” ucap Akbar terharu dan memeluk lembut Arness dari samping


Fera, Ira, Viona, sampai Ivy menangis terharu mendengar kabar dari Arness dan Akbar.


Sementara suami mereka yang ikut terharu memeluk lembut istrinya dengan mata berkaca-kaca.


“Gimana bisa sayang ?” tanya Fera dengan tangisnya


Akbar menaruh hasil usg Arness tadi di atas meja sambil menceritakan bagaimana Arness bisa mengandung dua anak untuknya dan keluarga besarnya.


“Mama seneng banget Ness” ucap Fera dengan mata berkaca-kaca


“Jaga diri kamu baik-baik ya Ness” ucap Fathir terharu


“Akbar, kamu harus ekstra jagain Arness” ucap Roy tegas


“Dan kasih Arness makanan yang sehat” ucap Ira mengelap air matanya


“Aaaa.. aunty janji aunty bakalan turutin apa kata mama kalian biar aunty bisa ketemu kalian ya” ucap Viona yang berlutut di depan Arness dan bicara dengan perut Arness


“Istri kamu udah nggak waras Gio” ucap Arness menggelengkan kepalanya prihatin


“Biarin, yang penting disini ada dua ponakan aku” ucap Viona mengelus perut Arness


“Selamat ya Arness ku.. aku seneng banget denger kabar baik dari kalian” ucap Ivy memeluk Arness dari samping


“Makasih ya Vy masih sadar dan nggak ketularan adik ipar kamu ini” ucap Arness mengelus tangan Ivy


“Arness” ucap Vino tajam


“Hehehehe.. ampun kakak” ucap Arness dengan tawa kecilnya


..


“Kek, Zanna sama Yuda sama Bhanu mau belajar gitar” ucap Zanna mengadu ke Fathir


“Oh ya ? kamu mau belajar sama siapa sayang ?” tanya Fathir lembut dan memangku Zanna


“Eum.. iya ya sama siapa ya ?” gumam Zanna bingung sendiri


“Kamu kenapa mirip mama kamu banget sih ? Arness makasih ya udah kasih papa miniatur kamu” ucap Fathir memeluk Zanna gemas


“Papa, Yuda boleh kan belajar main gitar ?” tanya Yuda ke Vino


“Boleh dong, tapi nanti kalau kamu udah besar ya biar tangan kamu nggak sakit” jawab Vino lembut


“Mama Ness juga bilang begitu om, Zayn juga mau minta diajalin sama mama” ucap Zayn dengan polosnya


“Kenapa nggak minta ajarin sama papa ?” tanya Akbar cemberut


“Bhanu boleh belajar gital juga nggak pa ?” tanya Bhanu ragu-ragu


“Nggak boleh, kamu nggak boleh ikut-ikutan sama mereka” ucap Dira ketus


“Ya udah deh kak” jawab Bhanu mengalah


“Nanti kita belajar diem-diem aja ya” bisik Gio menyemangati Bhanu


“Dira, kenapa adik kamu nggak boleh ikutan ?” tanya Roy yang baru saja memangku Dira


“Soalnya Dira mau ajak Bhanu main masak-masakkan sama Dira” jawab Dira dengan senangnya


“Sayang, anak cowok nggak boleh main masak-masakkan” ucap Ira mengelus lembut kepala Dira


“Kamu main masak-masakkan sama Zanna aja sayang” ucap Fera tersenyum lembut


“Nggak mau nek, Zanna isengin Dira terus” ucap Dira mengadu


“Mana ada” celetuk Arness mendengus malas


“Itu kelihatan jelas kamu banget ya Ness, jangan membela diri kamu” protes Viona kesal


“Vin, emang waktu kecil aku main masak-masakkan sama Vio ? kan nggak” tanya Arness memastikan


“Kalian emang nggak pernah main masak-masakkan waktu kecil tapi kalau kamu isengin Vio dari kecil iya” jawab Vino menggelengkan kepalanya


**


Arness pun memberitahukan kehamilan kembarnya ke para sahabat SPIRITUAL dan beberapa teman dekatnya.


Semenjak tahu kalau Arness mengandung dua bayi untuknya, Akbar selalu pulang kerja tepat waktu, nggak membiarkan Arness mengerjakan pekerjaan biasanya selain masak, dan benar-benar menjaga pola makan Arness.


**


Pada saat usia kehamilan memasuki tiga puluh lima minggu, Arness memilih melahirkan secara normal.


Sebenarnya Akbar sangat khawatir saat Arness memilih buat melahirkan secara normal, Akbar selalu membujuk istrinya itu buat melahirkan secara operasi caesar buat memperkecil bahayanya tapi Arness tetap menolaknya.


**


Di hari Arness melahirkan ini, Arness ditemani Akbar di dalam ruang bersalin, kedua anaknya ikut datang ke rumah sakit dan menunggu diluar bersama orang tua mereka.


“Nek, Zanna takut mama teriak-teriak terus” ucap Zanna menangis dalam pelukan Ira


“Mama nggak kenapa-kenapa sayang, kita doain aja ya buat mama sama adik-adik kamu” ucap Ira yang sebenarnya khawatir


“Kek, mama kenapa ?” tanya Zayn menangis kencang di pangkuan Fathir


“Mama lagi melahirkan adik-adik kamu sayang” jawab Fathir khawatir sama keadaan Arness


“Tapi mama teliak kenceng gitu, Zayn sedih kek” ucap Zayn terisak


“Kita doain mama dan adik-adik kamu ya semoga mereka semua selamat dan sehat” ucap Fathir memeluk Zayn dan menenangkannya


Sementara itu di dalam ruang bersalin Arness sudah bermandikan keringat, begitu juga Akbar sampai menangis melihat perjuangan istrinya melahirkan anak-anaknya.


Terdengar tangis bayi pertama keluar membuat Arness kembali bersemangat melahirkan bayi ke duanya.


“Aku nggak kuat Amore” ucap Arness lirih sambil memegang tangan Akbar yang sedari tadi dipegangnya


“Kamu pasti kuat Little, kamu selalu kuat dalam hal apapun.. aku ada disini buat kamu sayang” ucap Akbar meyakinkan Arness lalu mencium lembut kening Arness


“Sedikit lagi nyonya Arness, sekali dorongan lagi dan bayi kedua lahir dengan selamat” ucap dokter Risa menyemangati Arness


Arness mengumpulkan tenaganya lalu kembali mengejan sekuat mungkin sampai terdengar tangisan anak ke empatnya membuat Arness tersenyum dan langsung pingsan karena kelelahan.


“Dok, istri saya kenapa ?” tanya Akbar panik


“Tenang pak Akbar, nyonya Arness hanya kelelahan, dia pingsan” jawab dokter Risa setelah mengecek denyut nadi Arness


“Tapi nggak apa-apa kan dok ? istri saya nggak kenapa-kenapa kan ?” tanya Akbar dengan mata berkaca-kaca


“Insyaa Allah tidak apa-apa pak Akbar.. silahkan bertemu dua buah hati anda dan mengadzaninya” jawab dokter Risa tersenyum ramah


Akbar mengadzani kedua bayinya dengan merdu sama seperti saat dia mengadzani Zanna dan Zayn. Air matanya juga kembali menetes setiap kali dia melakukannya mengingat perjuangan Arness melahirkan anaknya dengan selamat.


..


Akbar menemani Arness sampai Arness tersadar dan sudah dipindah ke ruang perawatan sementara kedua pasang orang tuanya dan kedua anaknya melihat kedua bayi yang baru Arness lahirkan.


Little.. aku bangga banget sama kamu.. kamu bener-bener hebat sebagai seorang perempuan yang selama ini aku kenal.. kamu.. aku nggak tahu harus gimana buat balas semua yang kamu kasih ke aku.. kamu udah jadi istri dan ibu yang baik buat keluarga kita.. aku mencintaimu Pimelani Arnessta.. jangan pernah ninggalin aku, aku nggak mau hidup tanpa kamu di dalam kehidupan ku.. -batin Akbar menangis sambil memegang tangan Arness


**