
Sementara itu, Arness bosan di rumah karena seharusnya dia masuk kerja.
Akhirnya Arness pamit sama Fera buat ke rumah Akbar dengan alasan mau main sama keponakannya.
..
Sampai rumah Akbar, Intan membukakan pintu dan melihat Arness kaget.
“Assalamu’alaikum kak” salam Arness tersenyum senang sambil mencium tangan Intan
“Wa’alaikum salam” salam Intan kaget
“Kak, mama sama papa mana ? kok sepi banget ?” tanya Arness bingung
“Sini masuk, kakak panggilin mama dulu, kamu duduk sini aja ya” ucap Intan berusaha bersikap tenang dan menyuruh Arness duduk di ruang keluarga
“Arness sayang” teriak Ira lalu berjalan cepat memeluk Arness dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya
“Mama.. mama kenapa ?” tanya Arness bingung dalam pelukan Ira
“Kamu nggak apa-apa sayang ?” tanya Ira khawatir setelah melepas pelukannya
“Arness nggak apa-apa ma” jawab Arness tenang
“Arness..” panggil Roy lalu memeluk Arness
“Pa..” jawab Arness dalam pelukan hangat Roy
“Eum.. kak Akbar sama kak Andre lagi pergi ya ?” tanya Arness setelah celingak celinguk
“Iya sayang” jawab Ira lembut
“Kemana ma ?” tanya Arness penasaran
Semuanya menunduk diam. Arness makin bingung.
Arness menggoyang-goyangkan tangan Ira dan Intan yang duduk di sebelahnya buat menjawab pertanyaannya karena Arness merasa ada yang mereka tutupin dari Arness.
“Pa.. kak Akbar sama kak Andre kemana ? Arness lihat mobilnya kak Akbar nggak ada di garasi" tanya Arness khawatir
Roy, Ira, dan Intan saling bertukar pandangan khawatir membuat Arness semakin bingung, curiga, juga khawatir.
“Ada apa pa ? ma ? kak Intan ? kenapa malah diem ? Arness jadi khawatir” ucap Arness dengan raut wajah khawatir
“Arness.. Andre sama Akbar ke tempat kerja kalian” ucap Roy sedih
“Ngapain pa ?” tanya Arness bingung
“Mereka.. mereka mau cari tahu pelaku yang bikin kamu sampai masuk rumah sakit” jawab Roy ragu-ragu dan khawatir
“Hah ?!” Arness kaget
Arness langsung mencium tangan Roy, Ira dan juga Intan dengan cepat lalu pamit pergi.
Arness berlari kecil keluar rumah Akbar.
Intan mengejar Arness dan menahannya tapi Arness nggak mau kalah dan melepaskan pegangan Intan dengan wajah gelisahnya.
Arness yang cuma pakai kaos lengan pendek dengan celana jeans panjang, waistbag dan sandal bata andalannya langsung memakai slayer dan helmnya lalu menyalakan mesin motor Akbar karena emang niat mau ke rumah Akbar.
Dia melajukan motor Akbar sedikit kencang buat sampai ke tempat kerjanya.
Kenapa kakak kayak gini ? aku juga bakalan cerita sama kakak.. tapi nggak gini caranya.. -batin Arness khawatir
..
Satu persatu mereka datang lalu bersalaman dengan semuanya termasuk ke Andre.
Kenapa kakaknya pak Akbar sampai dateng kesini ? -batin Uma
Apa orang tua itu tahu tentang Arness di bully ? -batin Lucky dan Ibraa
Risky memutar layar monitornya ke arah yang cukup ruang sehingga semuanya bisa melihat dengan jelas rekaman CCTV.
Part terakhir..
Saat Arness di keroyok sama Lulu dan para haters. Semuanya melihat kejadian itu, mereka tercengang melihat sikap Arness yang santai terutama Akbar.
Kamu selalu begitu begitu Ness.. nggak mau punya masalah di tempat kerja padahal kesempatan kamu menang lebih besar.. -batin Uma, Lucky, dan Ibraa
Kenapa Arness cuma main-main ? di lihat dari manapun pukulan sama tendangannya udah cukup kuat buat ngalahin mereka sekaligus -batin Andre
Gila !! ini beneran Arness ? tapi kenapa dia sengaja nggak mukul ? dia cuma ngehindar dari pukulan.. -batin Tyo, Aji, dan Risky
Suasana di ruang office semalam benar-benar sudah berantakan.
Arness terpojok sendirian tapi dia tetap terlihat santai tanpa takut apapun sampai beberapa haters menarik dan mendorong paksa tubuh Arness ke ruang loker.
Arness cuma memberontak tanpa menyakiti mereka tapi dia kalah sampai akhirnya terkunci lagi di dalam toilet.
Andre yang masih setia merekam setiap kejadian di CCTV langsung mengirimkan ke Roy.
“Hiks.. Arness..” isak Uma melihat kejadian yang Arness alami semalam sampai masuk rumah sakit
Lucky dan Ibraa yang duduk mengapit Uma langsung menenangkan Uma, mengelus lembut punggung Uma agar hatinya tenang.
..
Arness memarkir motor Akbar, lalu berlari ke dalam mall sambil menurunkan slayernya ke lehernya.
Arness tetap berlari walaupun di eskalator sampai dia harus menyerobot melewati orang-orang yang sedang berdiri di eskalator.
Security outlet yang melihat Arness lari langsung membukakan pintu tapi Rama menaan Arness masuk ke dalam office.
“Pak.. Arness mesti.. hah.. hah.. masuk sekarang” ucap Arness dengan nafas terengah-engah
“Bapak.. ijinin Arness masuk.. hah.. hah.. hah.. Arness tahu.. hah.. hah.. kak Akbar.. hah.. sama kak Andre.. hah.. hah.. ada di dalem.. hah.. hah..” ucap Arness masih terengah-terengah dengan keringat mengalir dari kening sampai lehernya
“Tapi Ness.. pak Tyo ngelarang siapa aja buat masuk tanpa ijin dia” ucap Rama khawatir melihat Arness
Arness nggak mau mendengarkan omongan Rama, dia langsung membuka pintu office dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Arness !” ucap semua orang yang ada di dalam ruangan berdiri kaget melihat Arness
Akbar langsung berjalan mendekati Arness lalu memeluknya.
“Kenapa kesini ? kenapa bisa tahu aku disini ?” tanya Akbar dengan suara bergetar dalam pelukannya
“Aku.. hah.. hah.. ke rumah..” jawab Arness sebisanya
Akbar melepaskan pelukannya lalu Arness menyalami satu persatu orang di sana sampai memeluk Uma yang masih menangis.
Rama yang mengikuti Arness masuk ke ruang office langsung kembali bekerja lagi karena Tyo memperbolehkan Arness masuk.
Arness cuci muka lali duduk di antara Akbar dan Andre lalu Akbar memberikan segelas air putih buat Arness.
Dia mengatur nafasnya sampai terasa tenang sedangkan yang lain menunggu Arness dengan sabar.
“Sampai mana.. kalian lihat rekaman ?” tanya Arness yang masih sedikit mengatur nafasnya
“Kejadian kamu semalem” jawab Akbar sedih
“Hhaaaaahh..” Arness menghela nafas panjang sambil menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
“Uma, Lucky, Ibraa.. apa kalian udah cerita ?” tanya Arness datar
“Belum Ness” jawab Uma
“Kita kan udah janji buat nggak cerita” ucap Lucky
“Uya, sebelum kamu ijinin buat cerita” tambah Ibraa
“Apa yang kalian tutupin ? cerita apa yang kalian maksud ?” tanya Tyo menahan kesal
“Pak Tyo.. Arness mau cerita semuanya, di bantu sama ketiga sahabat Arness..
Makasih buat kalian karena udah nepatin janji buat nggak cerita sama siapa-siapa, terutama orang ini” ucap Arness melirik ke Akbar
“Ya ! itu ! kenapa aku orang pertama yang nggak boleh tahu tentang ini ?” tanya Akbar menahan kesal
“Hhaaaaaaaaahhh” Arness menghela nafas panjang lagi
**