My First And Last 'Akbar'

My First And Last 'Akbar'
Akhir Pekan Bersama Arka



Sudah duduk di bangku yang Akbar pesan dengan Arka di tengah-tengah mereka. Film yang mereka tonton aman buat anak kecil seusia Arka.


Sepanjang nonton, cuma Arka yang fokus sambil makan popcorn, sedangkan Arness nggak bisa fokus karena tangan jahil Akbar mengganggu konsentrasinya.


..


Keluar teater, Akbar mengajak Arka ke toilet karena Arka sudah terbiasa nggak pakai pampers dan dibiasakan buat buang air kecil sebelum diminta.


Arness juga ke toilet sebentar, sekedar melihat dandanannya lalu keluar toilet.


Arness dan kedua laki-laki itu pamit ke Uma, Tyo, Aji, dan beberapa karyawan lainnya sebelum keluar dari koridor.


..


Destinasi berikutnya, funworld.


Akbar sudah berjalan cepat ke arah kasir buat mengisi kartu funworldnya meninggalkan Arness yang masih menuntun Arka memasuki area funworld.


Arka memainkan pistol mainan ke layar monitor yang belum bisa dimainkan itu sedangkan Arness duduk di bangku memperhatikan Arka.


“Hei” sapa seorang laki-laki yang langsung duduk disamping Arness


Arness menoleh, mengernyitkan dahinya, menatap penuh bingung ke laki-laki itu dan kembali fokus melihat Arka.


“Cuma mau kenalan aja kok.. kesini sama siapa ?” tanya laki-laki itu sopan


“Suami dan anak” jawab Arness datar tanpa menoleh ke laki-laki itu


“Masa sih masih muda udah punya anak ? nikah muda ?” tanya laki-laki itu nggak percaya


“Mamaaa” teriak Arka yang berlari dan memeluk Arness


“Dia siapa sayang ?” tanya Akbar lembut yang ikut berjalan mengikuti Arka


Arness tersenyum dan menggelengkan kepalanya setelah berdiri.


“Lihat kan ? aku nggak bohong.. ini anak dan suami ku” ucap Arness datar ke laki-laki tadi


Laki-laki itu langsung berlalu begitu saja. Lalu Arka sudah menarik tangan Arness dan Akbar buat mulai bermain.


Semua permainan mereka mainkan sampai tiket yang mereka dapatkan langsung dimasukkan ke kartu funworld Akbar.


Nggak lupa, mereka foto box sebagai kenang-kenangan pertama mereka jalan-jalan bersama.


Dua lembar foto tercetak, satu buat Akbar, dan satunya buat Arness.


..


Destinasi terakhir, makan malam bersama.


Arka duduk disamping Arness sedangkan Akbar memilih duduk di depan Arness.


Arness telaten menyuapi Arka sambil makan sendiri. Dia nggak mengeluh harus menyuapi buat Arka dan dirinya sendiri. Bahkan dia terlihat senang karena bisa menyuapi Arka sambil mengajak anak itu bercerita tentang permainannya tadi di funworld.


Hati ku kok adem banget ya lihat Little kayak gini ke Arka ? naluri keibuannya berasa banget.. aaaa calon istri dan ibu dari anak-anak ku kelak, kenapa kamu begitu sempurna sih ? aku pengen kamu kelihatan manis dan cantiknya ke aku doang.. aku pengen setiap cowok yang lihat kamu tuh biasa aja, nggak suka, dan nggak deketin kamu kayak tadi -batin Akbar


..


Setelah makan, mereka berjalan ke basement lalu mengantar Arness pulang.


Di perjalanan, Arka sudah tertidur dalam pelukan Arness yang mengelus lembut kepala dan punggungnya.


“Little” panggil Akbar lembut


“Kenapa Amore ?” tanya Arness lembut


“Makasih ya buat hari ini, aku seneng banget” ucap Akbar tersenyum tulus


“Harusnya kan aku yang bilang gitu” ucap Arness mengelus lembut pipi Akbar


“Jangan.. aku aja, kamu udah banyak kasih aku kebahagiaan” ucap Akbar meraih tangan Arness lalu menciumi punggung tangan itu sambil fokus menyetir


“Little” panggil Akbar lagi


“Iya Amore” jawab Arness masih mengelus kepala Arka dalam pelukannya


“Kamu mau punya anak berapa ?” tanya Akbar serius


“Nikah aja belum udah mikirin anak” protes Arness


“Nggak apa-apa.. aku seneng lihat kamu sedeket ini sama Arka, rasanya kayak sama anak sendiri” ucap Akbar tulus


“Bukannya emang anak sendiri ? kan kamu yang nyuruh Arka buat manggil papa mama” sindir Arness tajam


“Hehehehe.. tapi cocok kan ? lihat, papanya ganteng, mamanya manis, cantik juga, anaknya ganteng gini, gemesin” ucap Akbar menggambarkan faktanya


“Ini anak kak Andre sama kak Intan, Amore.. nanti bikin aja yang lebih gemes dari Arka sama Shira” ucap Arness tersenyum malu sendiri dan memilih menunduk malu


“Nakal ya Little sekarang.. tadi aku ajak ngomongin anak malah ngelak, sekarang malah ngomongin sendiri” goda Akbar mencubit pipi Arness


“Udah ah, aku malu” ucap Arness memalingkan wajahnya


“Kok aku jadi gemes gini” ucap Akbar gemas mencubit pipi Arness


“Hehehehe..” tawa Akbar tanpa dosa sambil mengelus lembut pipi Arness


..


Sampai rumah Arness, perlahan Arness menaruh Arka ke kursi penumpang dan memakaikan seat belt. Mencium kening Arka sebelum mobil Akbar melaju pulang.


..


Arness masuk rumah setelah mobil Akbar sudah nggak terlihat lagi plat nomornya.


Arness buru-buru ganti baju dan cuci muka dan ke ruang tamu karena dipanggil kedua orang tuanya, dia duduk di bangku biasa dia duduk didepan kedua orang tuanya.


“Kenapa pa ? ma ?” tanya Arness bingung dengan kedua kaki sudah dilipat diatas bangku


“Coba kamu pilih desain undangan yang kamu mau” ucap Fera memberikan Hp nya


“Apa ajalah ma, Arness nggak begitu tertarik, yang penting kan tulisannya bener” ucap Arness langsung mendorong Hp ke Fera lagi tanpa melihat lagi


“Bener nih ? ya udah mama yang pilih ya ?” tanya Fera meyakinkan


“Iya ma, asal jangan warna pink apa ungu aja” jawab Arness datar


“Lagian mana ada undangan warna kayak gitu Ness ?” gerutu Fathir


“Ya kan kali aja pa” jawab Arness mengangkat kedua bahunya


“Oh iya, kalian mau foto prawedding kapan ?” tanya Fathir serius


“Besok pa, sekalian pemotretan” jawab Arness sekenanya


“Bajunya ?” tanya Fera penasaran


“Dari sana juga ma.. yaa intinya sih Arness kerja cuma boleh pakai foto itu buat prawedding.. atau Arness foto prawedding beneran gratis dan mereka pakai foto Arness buat mereka post.. sama ajalah” jawab Arness yang bingung menjelaskan


“Baik banget Ness mereka” puji Fera


“Iya ma, kru disana juga baik-baik.. Arness sampai dikasih MUA sama editor sendiri” ucap Arness menambahkan pujian Fera


“Papa jadi penasaran dimana sih kamu kerja ?” tanya Fathir penasaran


“Arness ada kartu namanya sih, sebentar ya Arness ambil di kamar” jawab Arness yang buru-buru bangun dan berlari masuk ke kamar


..


“Nih pa” ucap Arness memberikan sebuah kartu nama ke Fathir setelah kembali dari kamar


“Kayaknya bukan galeri kecil ya Ness ?” tanya Fathir memastikan


“Iya pa, itu galeri yang cukup terkenal, selain make up, mereka juga sewa dan bisa kostum busana pengantin” jawab Arness lembut


“Perancang busana gitu Ness ?” tanya Fera memastikan


“Iya ma.. dan semua busana yang ada disana itu mereka sendiri yang buat, kecuali aksesoris pakaian adat ya” jawab Arness masih lembut


“Keren Ness.. tapi, apa nggak sebaiknya kamu pikirin pekerjaan kamu ? kamu nggak capek kerja dua tempat gitu ?” tanya Fathir khawatir


“Arness belum sempet pikirin itu sih pa, Arness masih nikmatin aja alurnya” jawab Arness dengan yakin


“Ya udah, tapi pikirin setelah kamu nikah ya, kamu nggak mungkin harus kerja dua tempat gitu apalagi harus ngurusin rumah tangga kamu juga” ucap Fera mengingatkan


“Iya ma.. pasti salah satu ada yang Arness lepasin kok” jawab Arness lembut


“Ya udah sana kamu istirahat, besok kan kamu udah sibuk lagi” ucap Fathir dengan senyum lembutnya


“Siap bos” ucap Arness sambil hormat lalu berjalan masuk ke kamarnya


..


Arness langsung tertidur pulang setelah mengabari Akbar yang sudah sampai rumah itu.


**


Pagi hari sudah tiba memaksa Arness sudah meninggalkan tempat tidurnya lagi.


Dia sudah sampai di kantor galeri Zahra lebih pagi dari biasanya sama Akbar. Mereka membicarakan konsep foto prawedding hari ini.


Ya, dia sudah mengkonfirmasi sebelumnya lewat pesan WA sebelum membicarakan langsung ke Zahra hari ini.


Arness dan Akbar foto prawedding di dalam studio.


Keduanya mengenakan setelan jas warna putih, lengkap dengan sepatu pantofel dan heels putih. Riasan bold dan rambut Arness yang terikat rapih menunjukkan garis wajahnya yang dibuat tegas, sama hal nya seperti Akbar.


Bukan cuma karena buat foto prawedding Arness dan Akbar, tapi memang hari ini tema pemotretan adalah foto prawedding dengan pasangannya masing-masing tentunya.


Selesai pemotretan, Zahra menunjukkan desain busana pengantin Arness dan Akbar.


Untuk busana akad mereka sudah jadi, tinggal menunggu sedikit lagi hasil busana resepsi mereka berdua.


Puas membicarakan semuanya, Arness dan Akbar pamit lalu berangkat kerja.


**