
Arness dan Viona menyusul Fera dan yang lainnya di ruang tamu.
Fera ke rumah Egi, ngobrol sama Yanti meninggalkan kaum muda di rumahnya.
“Ness.. kamu udah cerita sama si bucin ini ?” tanya Andre
“Cerita yang mana kak ?” tanya Arness bingung
“Orang tua kita itu loh” jawab Andre membuat penasaran
“Ada apa sih kak ?” tanya Gio penasaran
“Om Fathir sama tante Fera kenapa ?” tanya Viona khawatir
“Kalian sembunyiin apa dari aku ?” tanya Akbar menahan kesal
“Hahahahahahaha..” tawa Arness dan Andre bersamaan
“Jadi kamu belum kasih tahu ya ?” tanya Andre setelah puas tertawa
“Belum kak.. kakak juga belum cerita ya ke mereka ?” tanya Arness dengan senyum menahan tawa
“Cerita buruaaannnn” ucap Viona menggoyang-goyangkan kedua bahu Arness
“Apaan sih.. sana pulang, anak kecil nggak boleh tahu” usir Arness datar
“Ness.. Vio juga harus tahu” ucap Andre
“Oh iya ya kak.. om Egi terlibat nih soalnya” ucap Arness mulai serius
“Hei.. cerita.. kalian kenapa sih ?” gerutu Akbar mulai kesal
“Amore.. nih ya aku kasih tahu.. tapi kamu, kak Gio, sama kurcaci ini nggak boleh kaget” ucap Arness tenang
Akbar, Viona, dan Gio mengangguk semangat penuh penasaran di wajah mereka.
“Papa Roy sama mama Ira kenal sama papa sama om Egi, ayahnya Vio" ucap Arness datar
“HAH !!” Akbar, Gio, dan Viona membelalakkan matanya menatap Arness
“Cih.. tukang bohong.. kak Andre aja lah yang cerita” ucap Arness malas
Andre menceritakan secara garis besarnya, berapa lama mereka kenal, dimana, dan bagaimana mereka bisa kenal.
Ketiga orang itu fokus mendengarkan. Ada raut wajah senang, kecewa, sedih, kaget, semua campur aduk dan berubah-ubah.
“Ness..” ucap Viona dengan senyum lebarnya
“Hemm” jawab Arness malas
“Kalian pasti emang jodoh.. lihat, bukan cuma nama sama tempat kerja yang bikin kalian deket, tapi dari orang tua kalian sendiri” ucap Viona tersenyum lebar
“Cih.. mitos” gumam Arness
“Nggak salah sih Ness.. mungkin emang kalian jodoh” ucap Andre membenarkan ucapan Viona
“Kalau nggak, kenapa papa mama langsung suka sama kamu cuma lihat dari fotonya aja ?” ucap Gio menambahkan
“Papa juga langsung akrab kan sama aku ?” tambah Akbar
“Iya iya.. terserah teori kalian aja lah” jawab Arness malas
Tiba-tiba seekor anak kucing masuk ke rumah Arness.
Meong.. Meong..
“Aaaaaaaaa..” teriak Arness langsung berdiri diatas bangku
Haahh !! -batin Andre dan Gio kaget
“Hahahahaha.. jadi kayak gini aslinya.. hahahahaha..” ledek Akbar
“Amore.. lihat nanti !” ucap Arness tajam dengan wajah takut
“Vio.. usir Vi.. buruan !!” ucap Arness ketus tapi takut
“Sebentar lagi ya.. kucingnya juga nggak ngapa-ngapain kok” ucap Viona yang puas melihat Arness ketakutan
“Gila ya !! suaranya aja bikin aku merinding !!” ucap Arness dengan wajah pucat
Sekali lagi suara anak kucing itu berada tepat dibawah bangku Arness. Arness langsung melompat turun dan berlari masuk ke kamar dan mengunci dirinya disana.
“Bar.. gila ya ! Arness udah pucet gitu malah diketawain” omel Andre
“Vi.. usir kucingnya, kasihan Arness, dia baru keluar dari rumah sakit” tambah Gio
“Hahahahaha.. iya iya” jawab Viona menahan tawa
..
“Ness.. sini !! kucingnya udah aku usir keluar” teriak Viona dari depan kamar Arness
“Cuci tangan ! jangan sampai ada bulu kucing yang nempel di kamu !” teriak Arness dari dalam kamarnya
“Iya iya aku cuci tangan.. buruan keluar” ucap Viona makin jauh
Arness membuka sedikit pintu kamarnya dengan raket di tangannya kalau-kalau Viona bohong.
Arness memeriksa setiap kolong bangku dan meja di ruang tamu, setelah aman dia duduk di bangku tempat dia duduk tadi sambil masih memegang erat raket di tangannya.
“Arness..” panggil Gio pelan
“Kamu takut kucing ?” tanya Andre khawatir
“Arness bukan cuma takut kucing kak, dia takut segala hal yang berbulu.. anak ayam SD, kulit buah kiwi, gantungan kunci yang berbulu itu, sampai mainan yang yang berbulu aja dia takut” jelas Viona yang duduk di samping Arness setelah cuci tangan
“Vi.. aku takut” keluh Arness dengan keringat di wajahnya
“Iya iya.. kucingnya udah aku suruh keluar” ucap Viona lembut sambil merangkul bahu Arness
“Adem ya kalau lihat mereka berdua akur gini” gumam Andre
“Tapi lihat Arness ku.. dia pucet” jawab Akbar khawatir tapi menahan tawa
“Iya sih” tambah Gio
..
Arness menenangkan dirinya lalu ngobrol santai sambil mengenalkan kebiasaannya sama Viona dari kecil.
Jam sebelas siang, Akbar, Andre, dan Gio pamit pulang. Viona memanggil Fera dirumahnya sambil menemani ketiga laki-laki itu pulang.
..
Andre dan Gio langsung terduduk di ruang keluarga dengan yang lainnya sedangkan Akbar langsung berjalan gontai masuk ke kamarnya.
Wajar dia sangat lelah karena setelah bekerja langsung nginap di rumah sakit, paginya antar Arness pulang dan jam segini dia baru bisa merasakan tempat tidurnya.
..
Di dalam kamar yang cukup besar itu Akbar merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah ganti baju.
Memandangi foto kesayangannya yang masih bayi itu. Banyak senyuman yang dia tunjukkan. Gemas, sayang, dan rasa kangennya buat Arness. Foto itu dia selipkan di bingkai foto di kamarnya, diletakkannya di atas meja samping tempat tidurnya.
Akbar memandangi langit-langit kamarnya dengan penuh senyuman. Matanya membayangkan wajah Arness, tingkah kecil Arness yang selalu membuatnya deg deg an.
Perlahan, mata itu mulai lelah dan tertidur dengan sendirinya.
..
Sementara itu di rumah Arness mengusir Viona buat pulang setelah mobil Andre dan motor Akbar sudah nggak terlihat.
Arness masuk kamar, menggulingkan tubuhnya diatas tempat tidurnya sambil memeluk gulingnya.
Arness mengambil Hp nya, membuka album foto di galeri Hp nya. Dilihatnya sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta.
Ya.. Arness memandangi fotonya bersama Akbar sewaktu di Hutan Mangrove. Di belainya layar Hp itu dengan senyum manisnya.
Arness menaruh Hp nya lagi di meja samping tempat tidurnya. Pikirannya penuh dengan wajah Akbar kesayangannya.
Arness merekam kejadian-kejadian selama dia masih belum dekat dengan Akbar di kepalanya. Bagaimana laki-laki itu memperhatikannya dari jauh, ikut tersenyum setiap Arness tersenyum.
Arness mengukir nama Akbar dengan bayangannya sendiri di langit-langit kamarnya. Dirinya benar-benar sedang merasakan jatuh cinta buat kedua kalinya dengan Akbar lagi.
“Aku lupa.. padahal mau bikin kue sama masak buat Akbar, uangnya juga belum aku kasih ke SPIRITUAL, hufftt..” gumam Arness
Arness tertidur lelap dengan wajah Akbar dalam bayangannya.
**