
“Assalamu’alaikum” salam Gio
“Wa’alaikum salam, kenapa ?” salam Akbar dingin
“Apa kakak ada masalah sama Arness ?” tanya Gio khawatir
“Nggak ada apa-apa” jawab Akbar
“Terus kenapa Arness nangis ! kenapa dia sendirian malem-malem gini ! seharusnya dia udah pulang !” bentak Gio tiba-tiba
“Dimana kamu lihat Arness ! jawab !” bentak Akbar nggak mau kalah
“Di tempat aku biasa latihan bulutangkis, tapi Arness udah pergi, dia nggak mau di ganggu” jelas Gio khawatir
Telefon langsung di matikan sama Akbar bahkan sebelum Gio menyelesaikan ucapannya.
Akbar yang sedari tadi mencari Arness langsung melajukan motornya ke tempat latihan Gio. Tapi nihil, Arness sudah nggak ada disana bahkan sudah nggak ada di area sekitar tempat itu lagi.
Little.. maafin aku.. aku terlalu emosi.. aku terlalu cemburu dan nggak mau kehilangan kamu.. tolong aku Little.. dimana aku mesti temuin kamu ? -batin Akbar khawatir
Akhirnya, Arness terpaksa harus pulang, karena tahu orang tuanya pasti sudah khawatir. Entah alasan apa yang harus dia buat nantinya dengan mata sembabnya ini.
..
Sampai rumah, orang tuanya sedang makan dan Arness langsung masuk kamar. Arness mengambil baju rumahnya lalu mandi.
“Mama lihat mata Arness sembab ?” tanya Fathir di meja makan
“Lihat pa.. Arness kenapa pa ?” tanya Fera khawatir
Selesai mandi dan perasaannya juga sudah tenang, Arness keluar kamar mandi lalu makan seperti biasanya.
“Kamu nangisin apa ?” tanya Fathir serius
“Bukan apa-apa pa, tadi Arness sama Uma ke rumah Ivy, terus nangis bareng, hehehe..” jawab Arness dengan tawa kecilnya
“Kenapa kalian nangis ?” tanya Fera khawatir
“Masalah cowok ma, jadi sedih gitu” jawab Arness berusaha mengembalikan perasaannya seperti biasa
Arness makan sampai nambah karena jam makannya telat. Kedua orang tuanya menemani dan menunggunya makan. Berharap Arness cerita detail apa yang dia tangisin.
Sayangnya setelah makan, Arness langsung masuk kamar.
“Aku nggak apa-apa, udah dirumah, udah dikamar” ucap Arness di grup chatnya
Arness langsung menaruh Hp nya tanpa mau tahu balasan apa dari sahabat SPIRITUALnya itu.
Arness mengambil gitarnya, menyanyikan beberapa lagu galau.
Sampai suaranya bergetar, Arness memilih buat memetik senar gitarnya dan menyanyikannya dalam hati agar air matanya nggak terkuras lagi.
Akbar masih terus menghubunginya. Rasa bersalah makin merasuki Arness. Arness menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga menahan rasa sesak di dadanya sampai akhirnya Arness tertidur begitu saja dengan gitar masih berada disampingnya.
Orang tua Arness khawatir sampai membuka pintu kamar Arness saat Arness sudah tertidur lalu menutupnya lagi dan membiarkan Arness terus tertidur.
**
Pagi hari jam tujuh bahkan Arness sudah pamit berangkat kerja.
Arness mampir ke sebuah minimarket buat membeli pengharum ruangan dan kertas kado sebelum sampai di tempat kerjanya.
..
Arness sudah sampai tempat kerjanya jam setengah delapan pagi.
Dia langsung membersihkan lokernya sendiri lalu memutar lagu pakai earphone dan merebahkan tubuhnya di bangku ruang loker seperti hari-hari lalu.
Arness nggak tidur, cuma sengaja memejamkan kedua matanya mendengarkan setiap lirik lagu galau yang dia putar.
..
Satu persatu karyawan yang masuk pagi mulai berdatangan. Arness masih tetap di tempatnya sampai alarm Hp nya bergetar.
“Arness” panggil seseorang disamping Arness
Arness nggak hiraukan suara itu padahal rasanya dia mau menangis sepuasnya di bahu itu.
Sekali lagi orang itu memanggil Arness lirih dan memaksa Arness buat terduduk.
Arness melepaskan slayer dan earphonenya lalu langsung memeluk erat orang itu dan menangis dalam pelukannya.
“Uma.. hiks.. Uma.. hiks..” isak Arness dengan tubuh bergetarnya
“Sstt.. nangis sepuas kamu tanpa ngomong ya.. aku disini buat kamu” ucap Uma lirih
Setelahnya, Arness mencuci muka sampai perasaannya tenang lalu ganti seragam.
Arness sengaja memakai eyeshadow warna bold agar matanya nggak terlalu terlihat sembab.
..
Arness juga sengaja istirahat sebelum karyawan shift siang datang.
Lambungnya mulai sakit karena Arness minum kopi instan itu. Dia sadar lambungnya akan kambuh lagi kalau dia minum kopi atau soda lagi. Arness menahan rasa sakit itu dan kembali bekerja lagi.
Uma merasa kasihan dan sedih melihat Arness.
Di station, di depan para pengunjung, Arness bisa menutupi kesedihannya dengan senyum palsu di bibirnya, tapi saat dia masuk ruang loker, hatinya menjerit, air matanya kembali keluar dan mata sembabnya nggak hilang dari wajah manisnya, ditambah keringat membanjiri tubuhnya menahan sakit di hati dan lambungnya.
..
Sore harinya, Arness langsung cepat-cepat ganti baju dengan karyawan masuk pagi lainnya, tanpa membantu shift siang seperti Uma.
Arness absen pulang dan hendak keluar pintu office.
“Ness, jangan pulang dulu.. cerita sama aku, cerita sama Lucky juga” ucap Ibraa menahan Arness keluar dari pintu office
“Kita khawatir sama kamu Ness” tambah Lucky
“Aku nggak apa-apa.. maaf udah ngerepotin kalian, maaf udah bikin khawatir.. aku pulang” jawab Arness menundukkan kepalanya menutupi wajahnya dengan topinya
Arness keluar ruang office, menyapa dan pamit ke karyawan lain dengan berjalan cepat karena sengaja menghindar dari seseorang yang mungkin telah dia sakiti hatinya.
“Ness..” panggil Aji yang berjalan cepat mengejar Arness
“Kenapa pak ?” tanya Arness sopan
“Ada masalah apa ?” tanya Aji khawatir
“Bapak kenapa sih ? Arness nggak apa-apa pak” ucap Arness berusaha tersenyum dan menutupi sedihnya
“Nggak usah bohong, cerita sama saya” ucap Aji serius
“Eh.. hahaha.. pak Tyo.. Arness pamit pulang ya” ucap Arness tiba-tiba melihat ke arah belakang Aji dan sengaja bicara agak kencang
Aji menoleh lalu Arness langsung berjalan menjauh dan hendak keluar koridor tempat kerjanya.
“Ness.. tungguin aku.. pulang bareng ya, mas Hadi nggak jemput aku” ucap Uma menarik tangan Arness
“Kenapa nggak dari tadi sih ?” keluh Arness
“Maaf dong.. tunggu ya, aku ganti baju cepet kok” ucap Uma buru-buru
“Aku tunggu di pos aja ya” ucap Arness gelisah
“Tunggu sini, duduk di sana sampai aku dateng lagi” ucap Uma menyuruh Arness duduk di bangku pengunjung
“Hhaaaahh.. ya udah nggak lama, sepuluh menit, lebih dari itu aku tinggal” ucap Arness mengancam
“Iya iyaa” jawab Uma lalu langsung berjalan ke arah office
Arness terduduk menunduk, memakai topinya dan menutupi wajahnya. Berharap nggak ada yang mendekati dia sampai Uma datang.
Perutnya kembali sakit, Arness memeluk perutnya erat dan menempelkan wajahnya ke lututnya sampai rasa sakit itu hilang.
..
Akbar memperhatikan Arness dari jauh, tepatnya dari ujung koridor lainnya.
Tatapannya sedih, kecewa, khawatir, dan gelisah. Ingin rasanya dia melangkahkan kakinya mendekati Arness dan mendekap tubuh mungil itu dalam pelukannya.
Little.. maafin aku.. maafin aku Little.. -batin Akbar kecewa
“Arness” panggil Lucky lembut
“Ky.. tolong, jangan ganggu aku” ucap Arness memohon dan berjalan menjauh
“Ness.. aku khawatir sama kamu, nggak kayak biasanya kamu ngehindar” ucap Lucky dengan wajah penuh khawatir
“Tinggalin aku sendiri Ky” jawab Arness tertunduk mundur
“Arness..” panggil Lucky dengan memegang kedua tangan Arness
“Ky.. tolong..” ucap Arness tertunduk mundur dan langsung menarik kedua tangannya ke dalam kantong jaketnya
“Ya udah, aku kerja lagi ya.. hubungin aku kapan aja, aku ada buat kamu” ucap Lucky lirih lalu berjalan menjauh dari Arness
**