
"Kapan kau pulang?" Ibu melihatku di kamar. "Baru saja bu" aku menjawab tanpa mendekat.
"Sedang apa?" Ibu masuk ke dalam kamar dan memegang pundakku. "Ibu, sepertinya aku diterima kerja" aku melihat wajah ibu.
E-mail penerimaan pegawai kuterima kemarin sore setelah aku berangkat ke rumah Manda. Untunglah pria itu mengatakan tentang ini di mobil.
Aku bangun dari kursi dan memeluk ibu erat. "Aku pasti membuat ibu bangga kali ini" Ibu membaca surat penerimaan dan membalas pelukanku. "Bagus. Kau harus bahagia sekarang" Air mata mulai mengalir di pipi kami berdua.
Aku mengirim pesan kepada Manda bahwa aku diterima kerja di Reynand Property. Dia segera menelponku dan mengucapkan selamat.
Hari Sabtu, Aku mengajak Manda ke mall untuk membeli beberapa perlengkapan kerja. Manda mengajakku ke toko sepatu dan membelikan aku satu pasang. "Kenapa kau membelikanku sepatu?" Harganya agak diluar batas kemampuanku.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf. Maaf aku meninggalkanmu malam itu" Aku merasa kesal dengan jawaban Manda dan meninggalkannya dengan sepatu itu.
"Jangan marah Anna. Pak Sanjaya memaksa kami meninggalkanmu di pelukan Pak Reynand" Itu bukan alasan untuk meninggalkanku.
"Lagipula sepertinya kau mengenal Pak Reynand" Kata-kata Manda membuatku terdiam. "Apakah kalian saling mengenal sebelumnya?" Aku berbalik dan melihat Manda.
"Kami bertemu ketika wawancara pegawai" jawabku. "Tapi Pak Reynand perhatian sekali padamu" Aku duduk di salah satu restoran dan memesan minum tanpa memperhatikan perkataan Manda.
"Mungkin dia khawatir calon pegawainya terlibat masalah" Aku tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya.
Manda pasti menertawakanku ketika tahu kami berciuman di atas pasir dan yang kami lakukan kemarin malam.
Wajahnya menunjukkan keraguan tingkat tinggi. Kali ini aku tidak bisa mengatakannya pada sahabatku karena terlalu memalukan.
"Sebaiknya kita jalan-jalan lagi sebelum pulang, karena aku ingin membeli beberapa kemeja baru untuk bekerja" Kami meninggalkan restoran dan mencari kebutuhanku.
"Malam ini menginaplah di rumahku!" Aku memeluk Manda setelah dia membelikanku sebuah tas kerja cantik sebagai hadiah penerimaanku.
Manda mengangguk dan kami makan malam bersama orang tuaku di rumah.
.
.
.
Hari ini adalah hari pertama aku bekerja. Sejak pagi aku sibuk menyiapkan keperluanku dan mandi. Aku mengikuti saran Manda untuk merias wajahku, karena mulai saat ini aku menjadi sekretaris perusahaan besar.
Jam kantor dimulai pukul 09.00, satu jam lagi aku harus berangkat agar tidak terlambat.
"Ayah akan mengantarmu. Makanlah dengan tenang!" Ibu membuat makanan lengkap pagi ini dan memaksaku makan banyak.
"Aku harus berangkat sekarang Bu" Tak lupa aku memeluk Ibu sebelum berangkat.
Jalanan lancar membuat aku berada di kantor lebih awal dari yang kuperkirakan. Karena penerimaan yang dipercepat, aku belum menerima daftar pekerjaan yang harus kulakukan.
Yang lebih parah adalah tidak ada orang yang kukenal di perusahaan ini. "Apa yang kaucari?" aku melihat seseorang yang kukenal, kucoba mengingat-ingat namanya.
"Pak Sanjaya"
Arman Sanjaya adalah penerus perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Nilai kekayaan keluarganya tidak berbeda jauh dari Reynand Property.
"Sebaiknya kau banyak bertanya pada Graham. Dan kau harus menempel pada Evan setiap saat" Saran Pak Sanjaya sepertinya terlalu berlebihan dengan mengatakan aku harus menempel pada Pak Reynand.
"Itu bos mu datang" Pak Sanjaya menunjuk mobil sport yang biasa dibawa Pak Reynand.
Para pemimpin departemen datang dan menyambutnya selayaknya raja. Aku membungkuk bersama pegawai yang lain.
Tidak heran dia adalah pria tampan terpoluler selama beberapa tahun. Wajah, tubuh, keluarga dan kekayaan, masing-masing memiliki nilai sempurna.
"Apa yang kau lakukan disini?" Pak Reynand menghampiriku dan Pak Sanjaya. Dibelakangnya Pak Graham yang selalu berada di dekatnya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu" jawab Pak Sanjaya.
"Aku tidak bicara padamu. Apa yang kaulakukan disini?" Ternyata dia bicara padaku.
"Saya menunggu Pak Reynand sebelum masuk ke dalam" Sepertinya jawabanku salah besar.
"Graham. Berikan agendaku padanya dan pastikan tidak ada acara yang tertunda hari ini karena kebodohannya" Pria ini benar-benar menghinaku di hadapan pegawai lainnya. Dan hari ini adalah hari pertamaku.
"Maafkan Saya Pak. Saya tidak akan membuat kebodohan lainnya" Pria itu melewatiku. Begini nasib pegawai rendahan sepertiku.
Arman melihat ada yang aneh dengan Evan pagi ini. Di klub malam Evan sangat menjaga Anna. Tapi di hadapan pegawainya yang lain, dia merendahkannya.
"Lebih baik kau menempel padanya" Saran Pak Sanjaya adalah solusi terbaik saat ini. Aku berlari mengikuti langkah Pak Reynand. Tapi dia berhenti dan berbalik menatapku tajam.
"Graham, ajari wanita ini berjalan dengan sopan di perusahaan. Dan suruh dia melepas hak tinggi berisik itu" Aku tidak percaya dengan yang kudengar. Dia mengomentari masalah perilaku dan apa yang kupakai.
Ketika Pak Graham, pria itu dan Pak Sanjaya berada di lift yang sama, aku mengikuti mereka. "Graham, ajari wanita ini agar tidak menaiki lift yang sama dengan atasannya. Tapi dia harus tiba di ruangan sebelum atasannya"
Aku berbalik dan membungkuk pada pria itu. "Maafkan Saya sekali lagi Pak" Keluar dari lift, aku melihat lift yang lain penuh dengan pegawai lain yang melihatku dengan pandangan meremehkan.
Segera aku pergi ke tangga darurat dan berlari menuju ruangan tertinggi di Gedung berlantai 20 ini. Kakiku terasa sakit, dan aku terlambat tiba sebelum pria itu.
Graham menungguku di depan pintu tangga darurat dan menyerahkan agenda tebal. "Ini adalah agenda harian yang ditulis oleh Presdir selama ini. Diharapkan Nona Hamid dapat memperbaikinya"
Dia pasti gila. Tulisannya tidak terbaca dan berantakan. Bagaimana aku bisa memperbaikinya kalau aku tidak tahu bagaimana membaca tulisan jelek ini?
Dan saat ini dia menungguku di dalam ruangannya untuk memberi arahan sesuai dengan pesan Pak Graham sebelum pergi.
"Permisi Pak Reynand, Pak Sanjaya" aku masuk ke dalam ruangan. "Kau lihat meja penuh dengan berkas di luar sana?" tanyanya.
"Iya Pak" jawabku singkat. "Itu adalah mejamu. Selesaikan mengarsip dalam seminggu. Buat laporan dengan data yang kukirim di e-mailmu dan buatkan aku kopi untuk tamu"
Pria ini gila. Pasti kepalanya terbentur entah dimana. Aku pergi ke pantry dan membuat kopi sesuai pesanannya. Tidak ada komentar tentang kopinya.
Aku membuka email-ku di laptop dan mulai mengerjakan laporan. Aku mengerahkan semua kemampuanku selama menjadi sekretaris di pekerjaan sebelumnya dan menyelesaikan laporan dalam waktu singkat.
Pria itu keluar ruangan dan melihat aku mencetak laporan yang selesai kukerjakan. Dia merebutnya dari tanganku dan membalik tiap halaman laporan itu.
"Kaukira laporan yang dibuat cepat bisa memuaskanku?" Dia melempar kertas laporan tepat di wajahku. Karena laporan itu terbuat dari kertas baru, leherku tersayat sedikit oleh pinggirannya.
Pria ini benar-benar tidak masuk akal.