My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 34. Caranya Mencintai



Menahan tubuh di posisi seperti ini membuat tanganku terasa pegal. Dia membelai rambut, garis wajah dan bibirku. Walaupun aku bersikeras menekan perasaan itu, melihat mata birunya membuatku lemah.


Di dalam keheningan yang menyiksa ini, peeutku tiba-tiba berbunyi lagi dan membuatnya tersenyum. "Bisakah saya pulang sekarang?" pintaku memelas.


Dia melepas tangan yang menahan pinggangku dan aku bisa berdiri lagi dengan tegak. Dia mendekati mejanya, memasukkan laptop ke dalam tas dan menungguku di pintu. Aku mengerti maksudnya dan buru-buru keluar dari ruangannya untuk pulang.


"Aku akan mengantarmu hari ini, sudah terlalu malam untuk pulang sendirian" katanya saat kami berada di dalam lift. Kalau saja aku tidak ingat membawa mobil ayah, maka aku akan menyetujuinya. Tapi tidak bisa, ayah akan marah kalau mobilnya menginap di tempat lain.


"Anna, aku sedang sedih" Manda menghubungi ketika aku berada di mobil, sebentar lagi sampai di depan rumah.


"Aku belum pulang sekarang, nanti setelah sampai rumah, aku akan menghubungimu" Aku menutup telepon dari Manda dan segera memacu mobil pulang. Ayah dan ibu menonton tv ketika aku datang.


"Malam sekali kau pulang" tanya ayah sedikit curiga.


"Aku harus mengerjakan laporan yang diminta pak Reynand. Tentu saja butuh waktu" kataku menjawab kecurigaan ayah. Aku makan seperti orang kelaparan lalu pergi mandi dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


Kuambil ponsel dan menghubungi Manda, yang sedang ada masalah dengan pacarnya, Randy. Mereka akan pergi ke pantai, lebih tepatnya ke villa keluarga Randy untuk berbaikan akhir pekan ini. Sebenarnya Manda ingin aku ikut akhir pekan ini, tapi aku takut menganggu.


Tak terasa aku tertidur mendengar cerita Manda dan terbangun karena suara keras dari pintu depan rumah. Terdengar seorang laki-laki meneriakkan namaku dan itu membuatku kembali tersadar dengan cepat.


Ketika aku mendekati tempat sumber suara, ayah dan ibu berada di depan seorang pria yang mengacungkan pisau dan membuatku takut. Saat aku mendekat ke arah punggung ayah, terkejut aku melihat seseorang yang kukenal.


"Mas Dimas" Lama sekali aku tidak melihatnya, sejak ayah terkena serangan jantung karena ulahnya.


Manda berkata keluarganya bangkrut secara tiba-tiba dan dia pergi entah kemana.


"Anna. Tolong aku" Dia mengarahkan ujung pisau ke tubuhku dan aku perlahan mengambil langkah mundur.


"Beritahu Evan Reynand untuk melepaskan aku dan keluargaku" Wajah mas Dimas menjadi sangat tidak terurus, beda dengan yang terakhir kuingat. Aku memberi sinyal kepada ayah dan ibu untuk menjauh saat perhatian mas Dimas tertuju padaku.


"Apa maksud mas Dimas?" tanyaku ingin tahu.


"Mustahil kau tidak tahu" Dia mengayunkan pisau itu tepat di depan wajahku, untung aku tidak terluka.


"Evan Reynand telah membuat keluargaku bangkrut demi kau" Kali ini ujung pisau itu mengenai leherku dan rasa pedih mulai muncul.


"Aku tidak tahu dan pak Reynand tidak mungkin melakukan itu" kataku membela diri. Aku memegang bagian leher yang terasa sakit dan melihat darah di telapak tanganku. Tanpa kutahu, ayah dan ibu perlahan dapat mengambil ponsel dan pergi menjauh untuk memanggil polisi.


"Mustahil. Suruhannya membuat aku pergi ke Cina dan kami hidup tidak lebih baik dari anjing disana" Mas Dimas semakin marah dan membuatku tidak bisa bergerak karena ketakutan. Terasa sakit di bahu kiriku dan terlihat darah mengucur dari pisau yang menancap di dada kiriku.


Terlihat wajah mas Dimas yang ketakutan karena tidak sengaja melukaiku.1


Teriakan ibu terdengar di telingaku setelah mas Dimas dilumpuhkan oleh ayah. Tak lama kemudian terdengar suara sirine polisi dan tangisan ibu mengisi telingaku. Tanpa melawan, mas Dimas dibawa oleh polisi dan seseorang berlari ke arahku.


Sosoknya begitu besar dan mengerikan, membuat ayah sedikit terkejut tapi tidak dengan ibu.


"Nona Hamid, saya akan mengantar Anda ke rumah sakit" Pak Graham mengangkat tubuhku dan dengan berjalan aku masuk ke dalam mobil Bentley milik keluarga Reynand. Ayah dan ibu tidak mempedulikan rumah dan toko lalu ikut mengantarku.


Sesampainya kami di rumah sakit, para perawat dan dokter telah bersiap dan segera membawaku ke ruang pemeriksaan.


Banyak pertanyaan muncul di dalam kepalaku, tapi aku menahannya karena perlahan rasa sakit itu tidak dapat kutahan lagi.


Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan luka lebih serius dari tusukan itu. Dokter membawaku ke dalam ruangan operasi untuk menjahit luka dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ketika tersadar, aku telah berada di sebuah kamar yang lebih bagus beberapa kali lipat dari kamarku.


Terlihat ibu yang masih menangis melihatku, ayah duduk di kursi yang agak jauh. Takut mereka semakin khawatir, aku tersenyum dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


"Evan dan Graham sedang mengurus semuanya di kantor polisi. Dimas akan diberikan hukuman setimpal karena melakukan semua ini pada keluarga kita" ujar ibu geram.


"Sebaiknya ibu dan ayah juga bersitirahat, jangan khawatirkan hal lainnya" kataku lemah karena pengaruh obat bius. Ayah perlahan mendekatiku dan melihat perban yang membungkus bahu dan dada kiriku.


"Apakah benar yang dikatakan Dimas tentang Evan?" tanya ayah. Ibu memukul ayah karena tidak khawatir padaku dan mempermasalahkan sesuatu yang lain.


"Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu" Mendengar jawabanku, ayah merasa tenang dan mengajak ibu pergi ke arah sofa yang berada di kamar perawatan mewah ini.


Seandainya benar pak Reynand yang melakukan semua itu pada keluarga mas Dimas, apa alasannya? Kenapa dia mencampuri sesuatu yang bukan urusannya?


Sekarang pukul 1 dini hari dan aku tidak bisa tidur. Aku menyarankan ayah dan ibu untuk pulang karena sangat sulit menunggu di rumah sakit untuk mereka. Lagipula aku bukanlah anak kecil lagi, besok pagi mereka akan datang membawa pakaian dan kebutuhan lainnya.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan pria yang sangat ingin kutemui berada disana. Dia mendekati ranjang tempat aku berbaring lalu duduk dan melihat perban yang melingkari dada dan bahu kiriku.


"Apakah benar pak Reynand menghancurkan usaha keluarga mas Dimas?" tanyaku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku harus tahu alasannya melakukan itu.


Dia tidak menjawab dan masuk ke dalam selimut dan berbaring tepat disebelahku. Dengan hati-hati, dia memeluk tubuhku dan menghindari bagian yang sakit.


"Tidurlah" Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Pasti dia tidak akan mau mengatakan alasannya, lalu dari mana aku bisa mendapat jawaban atas semua rasa penasaran ini.


Aku teringat satu orang yang mengetahui segalanya tentang pak Reynand. Bukan pak Graham yang selalu setia padanya, teman baik atau sahabatnya yang bermulut besar. Pak Arman. Besok akan kuminta dia datang kesini dan ... .


Menghirup aroma parfum pak Reynand membuatku tenang dan mengantuk. Lebih baik sekarang aku tertidur dan memikirkan hal lain besok.