
Ketika Pak Reynand meninggalkan aku dan ibu di depan ruang operasi, cerita tentang alasan ayah terkena serangan jantung akhirnya terbuka. Mas Dimas datang ke toko roti ayah sore tadi. Walaupun ayah tidak ingin menemuinya, mas Dimas memaksa dengan memohon-mohon di depan pelanggan ayah.
Terpaksa ayah membiarkannya masuk ke dalam rumah dan berbicara empat mata. Ibu berada di dapur dan mendengar pembicaraan keduanya dengan jelas. Mas Dimas berencana mendekatiku lagi dan meminta ijin ayah untuk merestuinya. Tentu saja ayah tidak menyetujuinya, tidak akan membiarkan anaknya merasa tersakiti lagi.
Mas Dimas mulai mengatakan banyak alasan seperti masih mencintaiku dan menginginkan aku menjadi ibu dari anak-anaknya. Dia bersikeras untuk mendekatiku dan akan mebawa hubungan kami kembali ke pernikahan. Ayah sangat marah mendengar niat mas Dimas itu.
Ketika ayah semakin marah dan mengusir mas Dimas keluar dari rumah, keluarlah kata-kata yang sangat mengejutkan untuk ayah. Kata mas Dimas, dia harus melepas keperawananku karena itu adalah haknya sebagai suami. Terjadi keheningan setelah mas Dimas mengatakannya dan ibu menemukan ayah pingsan di depan pintu rumah. Ibu tidak melihat mas Dimas atau mobilnya lagi di depan toko roti saat mengantar ayah ke rumah sakit.
"Apakah benar kau masih perawan?" Pertanyaan ibu mengejutkanku.
"Iya" kataku lemah.
"Ibu pikir kau tidak memilikinya lagi setelah berpacaran selama tiga tahun dengan DImas" nilai ibu.
"Aku menjaga untuknya, tapi semuanya berubah buruk dan aku tidak ingin disentuh oleh pria yang pernah menyentuh wanita lain" Dan saat itulah pak Reynand muncul dan kami terpaksa menyudahi pembicaraan tentang hal itu.
"Sudah terlalu malam, sebaiknya kau langsung tidur" ucap pak Reynand ketika kami berada di depan rumah.
"Apakah Saya diperbolehkan untuk tidur setelah membuat ayah mengalami serangan jantung seperti itu?' Aku sangat sedih karena akulah penyebab ayah mengalami penyakit seperti ini.
"Aku mengutus seseorang untuk berjaga di depan ruangan ayahmu. Tidak akan ada orang yang akan berani mengusik mereka malam ini. Ibumu bisa beristirahat di samping ayahmu dan kuharap kau juga bisa tidur" Aku melihatnya yang sangat menjagaku malam ini.
"Baiklah. Terima kasih atas segalanya" Aku berjalan dengan lesu masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuhku di tempat tidur.
"Kenapa kau tidak mengunci pintu rumahmu?' Aku terbangun dan terkejut melihat pak Reynand berada di dalam kamarku.
"Apa yang Pak Reynand lakukan disini?' tanyaku.
" Kau tidak menutup pintu rumah dengan baik dan saat ini mencurigaiku?" Sepertinya tadi aku memang tidak memperhatikan pintu rumah dengan seksama.
"Terima kasih sekali lagi, Pak. Sebaiknya sekarang Pak Reynand pergi dan beristirahat" Aku menjaga pintu kamarku tetap terbuka dan menunggunya keluar.
Tapi dia tidak keluar dan duduk di atas tempat tidurku. Apa yang akan dia lakukan malam ini? Bukankah dia tidak menyukaiku selama ini?
"Kau selalu berpikir saat aku berada di sekitarmu. Aku tidak suka dengan itu" Terserah aku, bagaimana aku mengelola tubuh dan otakku, pikirku.
"Tidurlah, aku akan berada disini sampai kau tertidur." ucapnya dengan tenang. Tentu saja aku menolaknya dan menunjuk pintu agar dia pergi.
Tetap saja dia tidak bergerak dari atas tempat tidurku. Rasanya aku ingin menariknya keluar, apa daya badanku semakin kurus selama dua bulan ini. "Saya ingin mandi dan mengganti pakaian, sebaiknya Pak Reynand pergi ke dapur dan membuat kopi panas" Aku tidak ingin dia berada di kamarku dalam waktu yang lama.
" Kau memperlakukan bos-mu sebagai pelayan di rumahmu?" katanya, membuat aku merasa bersalah.
" Aku tidak suka keduanya berada di dalam kopiku" Tiba-tiba dia berada di belakangku dan memperangkap aku di dalam tangan dan tubuhnya.
"Benar juga" Dengan tidak nyaman aku berusaha keluar dari perangkap tangannya. Hal itu mengakibatkan dia semakin menekanku dan aku berakhir berada di atas meja dapur dengan teko panas di tangan kananku.
"Cepatlah mandi dan tidur. kau pasti tidak ingin aku membuatmu terjaga semalaman" Ancaman yang sepertinya menjadi benar kalau aku tidak mematuhinya.
"Mandi dan tidur, sepertinya itu pilihan yang lebih baik, Saya tidak ingin melihat ayah dengan mata panda besok" jawabku gemetar lalu turun dari meja dapur. Tapi smeuanya tidak mudah, aku harus mendorong tubuhnya pergi dari hadpanku terlebih dahulu agar aku bisa ke kamarku.
"Sebaiknya Pak Reynand mundur" Kata-kataku seperti tertahan di kerongkonan.
"Apakah kau ingin aku membiarkanmu keluar?" Mencium bau tubuhnya yang sangat kurindukan dalam jarak sedekat ini, membuatku ingin menariknya dan tidak melepaskannya lagi. tapi dia tidak menginginkan aku dan melepasku pergi saat itu.
"Iya" Aku menatap lurus matanya dan merasakan daya tarik kuat memanggil perasaanku yang telah kutekan selama ini. Dia tidak akan melepasku pergi saat ini. Aku yakin itu.
Aku menariknya semakin mendekat dan mencoba mencium bibirnya. Sayangnya aksiku tertahan oleh kuatnya dia menahan badannya agar tidak mendekat. Aku tersenyum karena hal yang sama selalu terjadi padaku.
Dia menarik tangannya dari meja dan melepas tubuhku.
Tanpa kata, aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Apa salahku sehingga dia membenciku seperti itu. Aku merasa semakin bodoh ketika memikirkan tentang hal ini terus menerus.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku menatap diriku sendiri di cermin. Sejelek apakah aku bila dibandingkan drngan calon istrinya dulu? Dia bahkan tidak mau menyentuhku lagi.
Terdengar ketukan kuat di pintu kamarku. Kenapa pria itu belum juga pulang setelah melakukan hal yang membuatku semakin malu pada diriku sendiri.
"Aku membawakan teh panas untukmu. Minumlah sebelum tidur!" Itulah suaranya di balik pintu kamarku.
Tidak ingin terlihat seperti anak kecil, aku membuka pintu dan melihatnya tidak memakai jas kerja dan membuka dua kancing teratas kemejanya.
"Terima kasih tehnya. Saya akan segera tidur dan Pak Reynand dapat segera pergi dari sini" kataku.
"Tidurlah. Aku akan memutuskan kapan untuk pergi dari rumah ini" Dia masuk secara paksa ke dalam kamarku dan berbaring di atas tempat tidurku.
Aku meminum teh panas yang diberikannya lalu meletakkannya di atas meja. Masa bodoh dengan dirinya lagi, aku tidak akan mrngalah pada pria yang suka menyakiti hatiku.
Aku masuk ke dalam selimut dan membuka ponselku untuk memeriksa, apakah ibu membutuhkan bantuanku.
"Tidak perlu kau melihatnya" Dia mengambil ponselku dan meletakkannya di meja. Semua dilakukannya dengan melewati jalurku.
Tapi malam ini aku merasa capek dan hanya ingin tidur. Aku berbalik tanpa melihatnya lalu memejamkan mata untuk tidur.