My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 44. Orang Terpenting di Hidupku 2



"Bagaimana Anda mengenal Adam? Sejak kapan?" tanyaku. Dia membawaku pulang ke rumah ayah dan ibu.


"Sejak kau mengajarinya berjalan. Semua berita dan foto kudapatkan dari Graham" Dia menjawab tanpa berputar-putar. Ternyata pak Graham memang asisten keluarga Reynand yang paling bisa diandalkan.


"Jangan salahkan Graham. Dia tidak ingin melihatku hancur karena terlalu merindukanmu" Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti ini dengan santai.


"Apa yang Anda lakukan pada Manda?" Manda pasti tahu kalau pak Reynand akan ke klub malam ini dan dia sengaja mengajakku ke sana.


"Perusahaan suaminya sedang bekerja sama dengan Reynand Property. Dia pasti tidak mau suaminya rugi banyak ketika aku memutuskan menghentikan kerja sama" Pantas saja Manda tidak terlalu terkejut dengan kedatanganku di Jakarta, dia menantikannya.


Akhirnya kami sampai di depan rumah ayah dan ibu. Aku turun dan mengembalikan jas yang dipakainya untuk menutup tubuh bagian atasku.


"Pakailah, aku tidak suka tubuh wanitaku dilihat oleh orang lain" Dia menempatkan jasnya ke pundakku lagi.


"Saya bukanlah seorang perempuan berusia 25 tahun yang bisa dengan mudah terbuai dengan kata-kata seperti itu." Aku berjalan menjauhinya.


Dia menarikku kembali dalam pelukannya dan melihat ke dalam mataku. "Aku akan membuatmu menjadi perempuan itu lagi. Aku sangat merindukanmu Anna" Walaupun aku berusaha mengelak, dia berhasil menciumku lagi dan kali ini dia terus melakukannya.


"Ibu"


Suara itu menghentikannya dan akhirnya melepaskanku.


"Adam, kenapa kau keluar?" Aku gugup sekali, seperti ketahuan berselingkuh.


"Selamat malam, Adam" Aku menahan napas karena pak Reynand berani menyapa anakku.


"Siapa paman ini, Bu?" tanya Adam. Aku menggeleng dan berusaha tidak menganggap pak Reynand ada, tapi Adam berdiri dengan tegak dan terus melihatnya dari jauh. Sepertinya aku tidak bisa menghalanginya mengetahui siapa ayahnya sebenarnya sekarang.


"Namaku adalah Evan Harold Reynand. Bisakah aku melihatmu dari dekat?" Adam bergerak maju karena ingin tahu dan aku memegang tangannya karena takut pak Reynand akan merebutnya.


Pria itu berlutut dan membuat dirinya sama tinggi dengan Adam. "Paman memiliki mata yang sama denganku. Biru" Adam mengulurkan tangannya pada wajah pak Reynand, seperti ingin memastikan.


"Kau sangat tampan seperti paman" Cih, dia memuji dirinya sendiri dan memanfaatkan anakku.


"Seandainya besok paman mengajakmu dan ibumu makan siang di tempat yang bagus, apakah kau mau?" ajak pak Reynand tanpa meminta ijin dulu padaku.


"Iya. Boleh kan, Bu?" Mata biru Adam bersinar, apakah dia tahu kalau pak Reynand ayahnya. Tidak, pasti Adam hanya senang karena diajak jalan-jalan.


"Boleh. Tapi Adam harus selalu bersama ibu" Wajah Adam menjadi ceria karena mendengar persetujuanku. Aku memutuskan tanpa berkonsultasi dahulu dengan ayah dan ibu. Mereka pasti menentang keputusanku untuk ikut makan siang bersama pak Reynand besok.


"Apa kau ingin bersamanya lagi?" kata ayah di saat kami bekerja di toko roti dini hari. Benar, ayah dan ibu tidak akan pernah setuju kami berdekatan dengan pak Reynand.


"Tentu saja tidak. Aku bukanlah perempuan bodoh yang mengejar cintanya seperti dulu" jawabku untuk pertanyaan ayah.


"Ibu tidak bisa menentang kalaupun kau memutuskan bersama dengan Evan. Dia selalu memohon pada kami setiap harinya agar bisa bertemu denganmu. Sangat menyedihkan melihat pria sehebat Evan berlutut dan menangis seperti itu" Cerita ini tidak pernah sampai di telingaku, mungkin ayah dan ibu mencoba melindungi hatiku.


"Carilah pria lain yang setara denganmu. Biarkan ayah Evan yang sombong itu mencarikan istri untuk anaknya lagi. Dia sangat ahli dalam hal itu" Ayah meletakkan cangkir kopinya dengan keras dan pergi meletakkan roti di oven.


Keputusanku untuk menjauh darinya memang yang terbaik. Besok aku tidak akan pernah memperbolehkannya memegang atau menciumku lagi. Dia pernah melakukannya dengan banyak wanita dan aku menjadi jijik karena membayangkannya.


Perasaan sedih setiap kali aku merasa kesepian dan kelelahan sebagai seorang ibu membuatku tidak bisa menerima perasaan seseorang. Bahkan kalau itu adalah ayah kandung Adam.


Bagiku saat ini, yang terpenting adalah Adam. Aku harus melihat, bagaimana dia bisa menerima semua keadaan yang berkembang seperti ini. Semoga anakku tidak pernah marah padaku karena berbohong tentang ayahnya.


Adam bangun pagi-pagi sekali, dia menghubungi gurunya di Bali dan mengatakan akan berjalan-jalan di Jakarta hari ini. Benar dugaanku, Adam hanyalah anak yang suka kegiatan di luar rumah.


Tanpa disuruh, Adam mandi sendiri dan memakai kemeja, celana hitam lalu mencoba terlihat keren di depan kakek dan neneknya. Tentu saja hal itu membuat orang tuaku tertawa dan suasana rumah ini menjadi ramai.


"Ibu pakai baju ini saja" Sekarang dia bisa memilih baju untukku. Aku menuruti keinginannya dan memakai terusan bercorak garis berwarna biru muda.


Pak Reynand menjemput sekitar pukul 10 siang, dia menyapa ayah dan ibuku dengan sopan. Sama seperti dulu, tidak ada yang berubah darinya. Tapi raut muka ayahku menunjukkan bahwa dia sangat membenci pak Reynand.


"Kita akan pergi kemana, Paman?" Adam duduk bersama aku dan pak Reynand karena hari ini dia menggunakan sopir. Aku tidak pernah melihat pak Graham, mungkinkah dia dipecat karena aku?


"Kita hanya akan makan siang" jawabnya singkat sambil terus tersenyum karena melihat Adam yang berada di dekatnya.


Kami sampai di sebuah restoran Italia yang berada di tengah sebuah taman hijau, sejuk dan besar. Karena hal itu sangat sulit untuk ditemukan di Jakarta. Suasananya tenang dan rasa gugup yang dari tadi mengganggu perlahan menghilang.


"Apa kau suka suasana disini?" Tanpa kusadari dia berada tepat disampingku. Aku mengambil satu langkah mundur dan berkata "Suka. Tenang sekali sepertinya makan siang di tempat seperti ini"


Kami makan siang bersama dan Adam sangat menikmati makanan yang ada di piringnya. Ketika selesai makan, Adam berlari keluar restoran dan bermain di taman sendirian. Restoran ini pasti sudah dipesan oleh pak Reynand, karena tidak ada pengunjung yang lain.


"Kau cantik sekali" Dia selalu melihatku dari tadi, membuatku merasa kesal.


"Terima kasih" balasku untuk pujiannya.


"Kapan kau kembali ke Bali?" Aku meletakkan garpu dan pisau di piring dan tidak melanjutkan makanku.


"Sepertinya, saya tidak perlu memberitahu pak Reynand tentang apapun" Aku berdiri dan menyusul Adam untuk bermain dengan alam. Aku sangat menyukai bunga-bunga yang tumbuh di dekat jalan masuk.


"Kita akan melakukan kunjungan singkat ke suatu tempat kalau ibumu tidak keberatan, Adam" Tiba-tiba saja dia mengangkat Adam ke dalam gendongannya dan membuatku tidak tenang.


"Asyik. Ayo, Bu" Tawa Adam membuatku menyerah.


"Kita akan pulang setelah kunjungan singkat ini. Setuju?" Aku tidak ingin lagi berlama-lama dengan pria ini.


Mobil melaju dengan cepat dan aku melihat tempat-tempat asing yang tidak lernah kulihat setelah lima tahun jauh dari Jakarta. Tapi aku sangat mengenal gedung tinggi yang berada tepat di depan mataku. Kami berhenti tepat di depan lobi gedung dan aku tidak ingin turun dari mobil.