My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 37. Sesuatu yang Tidak Terduga



"Dia memilih untuk pergi?"


Evan menerima surat pengunduran diri Anna di hari Senin pagi. Graham tidak berani melihat wajah tuan mudanya ketika menyerahkan surat itu. Pantas saja dia tidak datang ke apartemen hari ini, pikir Evan.


Sebenarnya Evan sudah bisa membayangkan hal seperti ini terjadi. Dia tidak bisa memberikan apapun yang dibutuhkan seorang perempuan, terutama Anna.


Keinginannya memiliki Anna untuk seumur hidup terbentur dengan peringatan ayahnya setelah mengunjungi pak Hamid, ayah Anna di rumah sakit saat itu. Seorang pewaris perusahaan besar haruslah memiliki istri yang sejajar dan bukan dari kalangan lebih rendah.


Evan tidak mungkin mengecewakan ayahnya sekali lagi karena masalah Freya. Rasa malu yang ditanggung oleh orang tua dan keluarga besarnya waktu itu, memberikan tekanan besar di pundak Evan.


Walaupun akhirnya dia memiliki tubuh dan hati Anna, Evan tidak bisa memberikan janji pernikahan pada Anna. Semuanya telah ditentukan sejak dulu dan dia hanya bisa melaksanakannya.


Evan kembali ke meja kerjanya dan melihat semua berkas laporan yang harus ditandatanganinya, proyek selanjutnya yang harus diperiksa dan undangan beberapa pesta besar tempat calon istri Evan akan ditentukan.


Dia tidak bisa melihat satu katapun yang tertulis dan angka di atas kertas semakin membuatnya pusing. Evan melempar semua pekerjaan dan laptop mahalnya ke arah lantai dan baru kali ini dia tidak ingin bekerja. Bayangan Anna selalu berada di dalam pikirannya, menyiksanya dengan semua erangan dan jeritan yang selalu terdengar di telinganya.


Graham dan Ayu berdiri di depan pintu ruangan Evan tanpa berani masuk. Mereka sudah berusaha semampunya untuk membantu Evan mendapatkan Anna. Tapi Evan memilih untuk menjauhkannya sekali lagi, dan kali ini dia tidak akan kembali selamanya.


.


.


.


Teriakan dan kemarahan didengar Anna selama satu bulan penuh. Ayahnya tidak memberinya kelonggaran dalam melakukan kesalahan dan semua kerugian diharuskan dipotong dari gaji bulanannya. Bangun pukul 3 dini hari setiap harinya, membuat Anna menjadi lebih kurus. Tidak nafsu makan, mual saat pagi hari dan kebiasaan susah tidur membuatnya semakin lemah.


"Kau masih tidur?" Persiapan pernikahan Manda mulai dilakukan setelah mereka menentukan tanggal. Siang ini seharusnya aku menemaninya pergi membeli gaun pengantin yang akan dipakai tiga bulan kemudian.


"Apakah kau lupa, bagaimana perjuanganku membantu persiapan pernikahanmu satu tahun yang lalu?" rengekan Manda membuatku terpaksa bangun dan mempersiapkan diri. Tidur siang adalah satu-satunya waktu istirahatku satu bulan ini, dan Manda menghancurkannya.


Kami berangkat berdua dan akan bertemu ibu dan ibu mertua Manda di butik yang mereka pilih. Setelah melakukan beberapa pencarian gaun, aku duduk bersama kedua ibu untuk melihat betapa bagusnya gaun itu di badan Manda.


"Anna, kau terlihat sangat pucat. Apakah kau baik-baik saja?" Ibu Manda yang tidak pernah mempedulikanku sekarang mulai mengomentari wajahku.


"Mungkin riasan yang saya pakai kurang tebal" Alasan yang paling tepat untuk membungkam ibu Manda.


Setelah mencoba beberapa gaun pengantin, Manda dan kedua ibunya memilih princess gown dengan banyak bunga bertaburan di bagian bawah gaunnya. Manda terlihat sangat cantik memakainya dan aku mengeluarkan air mata. Kami berpelukan dan menangis bersama selama beberapa menit.


Tidak terasa persiapan pernikahan Manda selesai hampir 80%. Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu akan tiba hanya dalam 4 haru lagi. Manda sangat bersemangat menyambut hari dimana dia akan menjadi istri Randy, dan itu membuatku bahagia sebagai sahabatnya.


Akhir-akhir ini, aku tidak mengalami mual di pagi hari lagi. Nafsu makanku juga membaik walaupun tidak sebanyak sebelum aku berhenti bekerja di Reynand Property. Tapi raut mukaku tidak pucat lagi dan aku semakin senang. Aku bisa membantu pernikahan Manda sampai selesai nanti.


Setelah membantu ibu menutup toko, aku bermalas-malasan di sofa sambil menonton tv. Aku meminum teh panas dan memakan sedikit camilan sehat yang kubeli tempo hari. Ibu melihat ke arahku dan membuat wajahnya menjadi keriput. Apa yang sedang ibu pikirkan dari jauh?


Setelah melihatku seperti itu, ibu mendekat dan tiba-tiba menyentuh perutku. Aku terkejut dan mengajukan protes padanya. Hampir saja aku melompat dari sofa karena kaget.


"Apa kau mendapat haid secara teratur?" tanya ibu mendadak.


"Apa maksud ibu?" Aku memang tidak pernah menandai siklus haid bulanan, karena datangnya tidak pernah di tanggal yang sama di setiap bulannya.


"Mual pagi hari, tidak nafsu makan, insomnia dan perutmu membuncit. Apakah kau benar-benar haid setiap bulannya?" Aku mengingat-ingat siklus haid terakhirku dan sadar bahwa selama beberapa bulan ini aku tidak pernah membeli pembalut lagi.


"Kenapa ibu mencurigaiku seperti itu? Walaupun aku tidak haid, tapi aku tidak pernah melakukannya ... dengan siapapun" Pikiranku melayang ke malam saat aku melakukannya pertama kali dengan pak Reynand.


Seingatku memang kami tidak menggunakan pengaman. Tapi itu adalah kali pertamaku, tidak mungkin bisa hamil semudah itu.


"Siapa?" Aku ketakutan melihat wajah ibu yang semakin mendekat dan terus menanyakan hal yang sama.


"Kau melakukannya dengan siapa?" Aku tidak harus mengatakan hal itu pada ibu karena belum tentu kecurigaannya benar.


"Tunggu disini" Ibu keluar dengan sandal rumahnya dan menghilang dari halaman rumah. Aku mencoba mengingat kembali tentang siklus bulananku dan benar-benar tidak mengalaminya selama 4 bulan sejak kejadian malam itu.


Terdengar langkah cepat ibu masuk ke dalam rumah dan menyodorkan sesuatu padaku. Benda itu adalah tes kehamilan yang pernah aku beli sebelum menikah dengan mas Dimas dulu. Karena aku sangat ingin memiliki anak secepatnya dari mas Dimas, waktu itu.


"Cepat pergi ke kamar mandi dan lakukan tes ini. Ibu akan menunggu di kamarmu" perintah ibu membuatku tidak bisa mengelak lagi.


Aku pergi ke kamar mandi dengan perasaan yang saling menumpuk. Kaget, bingung, takut semua menjadi satu dan aku melakukan tes itu. Setelah menunggu beberapa detik, dua garis biru muncul dan tubuhku menjadi tidak bertenaga.


Tidak mungkin aku mengandung anak pria itu. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak malam itu dan aku sudah melupakannya. Kenapa juga bisa ada kejadian seperti ini? Setelah menetapkan hati, aku keluar dari kamar mandi lalu menunjukkan alat tes kehamilan itu pada ibuku.


Ibu memukul lenganku berulang kali dan terus menanyakan siapa yang membuat aku hamil. Aku tidak bisa menjawabnya karena kami tidak memiliki hubungan apapun baik dulu maupun sekarang.


Ayah tiba-tiba datang ke depanku yang sedang duduk dan menampar pipiku dengan keras. Tamparan itu tidak terasa sakit karena aku tidak bisa berpikir dengan benar saat ini. Kedua orang yang paling menyayangiku ini terus saja berteriak menanyakan ayah bayi yang berada di perutku. Aku menutup telingaku karena sudah tidak tahan lagi.