
Aku masuk ke ruang pesta dengan gaun berbahan lace selutut berwarna peach. Mungkin gaun ini terlihat terlalu sederhana diantara tamu yang lain, tapi aku tidak berharap mendapatkan perhatian dari siapapun malam ini.
Ruangan pesta seperti hutan besar dengan banyak lampu taman yang redup. Di tengah terdapat lantai dansa dengan meja yang mengelilinginya. Megah dan terlihat sangat luar biasa pesta pemilik Reynand Property ini.
"Kita duduk di sebelah mana, bu?" Ayah dan ibu sepertinya juga terpukau dengan keadaan halaman rumah bibi Diana.
Akhirnya aku menemukan kursi bertuliskan nama toko roti ayah. Aku membawa ibu dan ayah ke tempat duduk dan melihat sekitar.
"Paman dan Bibi Hamid" Terdengar suara yang tidak asing bagiku. Di belakangku berdiri seorang pria memakai tuksedo hitam dengan gagahnya. Kehadirannya menyita perhatian dan seluruh mata memandang wajah tampannya.
"Evan" seru ibu.
Tentu saja dia memeluk ibuku seperti ibunya memelukku.
"Aku ingin berterima kasih untuk membiarkan Anna bekerja di perusahaanmu" Aku tertawa mendengarnya, pria inilah yang menyingkirkan aku dari hadapannya.
"Selamat malam, Pak. Pesta yang sangat meriah" Aku kembali duduk setelah menyapanya.
"Kau terlihat cantik dengan gaun itu" Seperti lelucon yang buruk, dia mengatakan itu di depan orang tuaku.
Dia pergi menyapa tamu yang lain dan berlaku sama. Semua itu hanyalah akting, dasar pria kaya yang tampan.
"Bu, aku ingin berjalan-jalan sebentar" kataku.
"Kembalilah segera, pesta akan segera dimulai" jawab ibu memperingatkan.
Aku sangat takjub melihat bagaimana mereka menyiapkan segalanya dengan baik. Pohon cemara sebanyak ini memberi suasana hening yang mistis. Dan aku sangat suka baunya.
"Sekretarisku yang menyiapkan pesta ini untuk kedua orang tuaku" Pria itu lagi. Aku berjalan menjauh dan melihat sebuah sungai buatan kecil yang menimbulkan suasana tenang.
"Sungai ini juga ide sekretarisku" Sampai kapan dia akan mengikutiku.
"Hebat sekali idenya. Benar-benar luar biasa" Tentu saja aku bicara tidak dari hati.
"Apa kau menyukai pekerjaanmu?" Aku memilih untuk berhenti dan menatapnya yang terus bicara padaku.
"Iya. Tidak membosankan" jawabku. Dia mendekatiku dan saat ini berada tepat di hadapanku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah dekorasi penuh daun dan bunga-bunga kecil.
"Kau benar-benar cantik hari ini" katanya lalu berjalan menjauh.
"Pak Reynand juga sangat tampan malam ini" bisikku. Dia menoleh ke arahku seakan mendengar suaraku lalu pergi ke orang tuanya.
Pesta sepertinya akan dimulai, sebaiknya aku kembali ke tempat dudukku.
Mereka memulai pesta dengan perayaan ulang tahun pernikahan suami istri Reynand. Lalu menayangkan rekaman pernikahan mereka yang terlihat sangat cantik.
Pasangan itu lalu berdansa di tengah ruangan dengan bahagia. Serasi sekali.
"Lihat Evan berdansa dengan seorang perempuan, pasti itu calon istrinya" Aku melihat pria itu benar-benar berdansa dengan seorang perempuan cantik yang memakai gaun berwarna merah. Bajunya lebih sexy dari baju yang kupakai pada malam itu.
"Aku akan ke kamar mandi" bisikku pada ibu. Ayah melotot melihatku selalu pergi. Tidak menghormati orang yang mengadakan pesta katanya.
"Bolehkah aku mengajakmu berdansa?" Aku melihat seorang pria dengan setelan jas berwarna putih menawarkan tangannya padaku. Wajahnya lumayan juga.
Aku menerima uluran tangannya dan masuk ke lantai dansa.
Pria ini sangat lihai berdansa dan dia bisa membantuku memperlihatkan kemampuanku.
"Ada yang cemburu" Arman menggoda Evan yang duduk dan melihat Anna berdansa.
"Salah sendiri. Berpura pura menjadi pria baik lalu melepas perempuan yang ingin menyerahkan dirinya. Sekarang memandangnya seakan ingin membunuh pria yang berdansa dengannya" goda Arman semakin membuat Evan marah.
"Hentikan bicaramu dan pergilah" Evan mengusir temannya lagi.
"Aku ingin berdansa dengan wanita yang kauinginkan tapi kau singkirkan" ucap Arman mengejek lalu mendatangi Anna dan memintanya berdansa.
"Aku tidak tahu kau sangat pandai berdansa" puji pak Sanjaya.
"Saya pernah mempelajarinya" jawabku singkat.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah mereka sesuai dengan seleramu?" Aku tertawa mendengar alasan sebenarnya pak Sanjaya mengirimku ke bagian logistik.
"Sangat baik. Tapi kebanyakan mereka memiliki pasangan" Aku mengatakannya dengan raut wajah kecewa.
"Aku senang sekali bisa berdansa denganmu, tapi sepertinya aku akan mati jika meneruskannya" Pak Sanjaya benar-benar melepasku. Aku melihat sekeliling dan melihat pak Reynand yang berdansa dengan wanita lain.
Lebih baik aku meneruskan niatku ke kamar kecil. Aku berjalan menjauhi ruangan pesta dan mencari toilet, tanpa tahu ada yang mengikuti langkahku.
Seingatku dulu aku pernah ke rumah ini dan kamar kecil berada di sebelah sini. Atau aku salah mengira? Aku berputar dan menabrak badan seseorang.
"Maaf" Kepalaku sakit tapi aku yang salah karena berputar-putar tanpa melihat sekitar.
"Apa yang kau lakukan di dalam rumah orang tuaku?" Pria ini lagi ternyata yang dadanya sekeras besi.
"Saya mencari kamar kecil. Seingat Saya berada di sebelah sini tapi mungkin salah" Aku berjalan lagi melihat sisi yang lainnya.
"Apa alasanmu selalu berada di sekitarku?" Sepertinya pak Reynand tidak mengerti kalau aku mencari kamar kecil atau toilet.
"Saya mencari ... " Belum selesai aku bicara, pak Reynand memotong dan mengatakan sesuatu yang menyakiti hatiku.
"Sebaiknya aku memecatmu waktu itu, kau tidak akan pernah menjadi calon kekasihku walaupun kita pernah berciuman" katanya tidak mendengar perkataanku.
"Apa?" Sepertinya pria ini salah sangka denganku.
Aku tertawa mencoba mengulangi apa yang kudengar darinya.
" Seingatku, kau yang menarik dan menciumku waktu itu wahai Evan Harold Reynand. Kau juga yang membawaku ke rumahmu saat aku tertidur" kataku kesal.
"Sebulan yang lalu, kau tahu aku diberi obat perangsang. Tapi kau membawaku ke rumahmu tidak ke rumah sakit. Dan kau menyalahkan semua yang terjadi, padaku?" Aku tidak percaya seeorang pemilik perusahaan besar berpikir seperti itu pada seorang perempuan.
"Terserah apakah kau akan memecatku atau tidak. Aku memang membutuhkan pekerjaan, tapi aku tidak akan mati bila kau memecatku" Aku menjauh dan meninggalkannya sendirian di rumah megah milik orang tuanya.
Samar aku melihat bibi Diana dan pak Sanjaya di atas tangga. Semuanya kabur ketika air mata mulai membasahi mataku.
Aku berlari keluar dari rumah keluarga kaya itu dan berjalan menuju gerbang besar mereka.
Tidak akan pernah aku menginjakkan kaki ke rumah ini lagi. Bahkan bayangan rumah mereka tidak akan kubiarkan menyentuh tubuhku.
Aku berhenti di tengah jalan menuju gerbang dan menangis sekeras-kerasnya. Semua pria memang jahat dan tidak tahu diri. Aku tidak akan menikah dan hanya terus bekerja sampai aku mati.