
Betapa besar lelahku setelah melewati seluruh perjalanan ini. Aku menyeret tubuh dan koperku pulang di hari Minggu sore. Seluruh kelelahan tampak di wajahku dan aku tidak ingin diganggu oleh siapapun malam ini.
"Aku pulang" Hanya dua kata yang sanggup kukatakan pada ayah dan ibu lalu aku terjatuh ke atas tempat tidur. Membawa sepuluh orang ke dalam perjalanan lima hari empat malam bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Semua adalah rencana pria yang meninggalkan kami untuk menjalin asmara kembali dengan kekasihnya.
Sama sekali aku tidak bertemu dengannya sejak bertemu dengan Freya. Mungkin mereka melakukan adegan bulan madu yang tertunda karena pernikahan mereka gagal digelar. Dan pria itu mengorbankan aku untuk mengatur semua hal sendirian setelah sebelumnya merubah segala akomodasi kami.
Teleponku berdering ketika aku hampir tertidur.
"Anna" Aku melihat layar ponsel dan nama bos jelek itu ada disana.
"Apa kau sudah sampai di rumah?" tanyanya. Bukankah hal bodoh ketika kau meninggalkan rombongan dan menanyakan sesuatu padaku.
"Sudah" jawabku singkat.
"Baiklah. Aku akan menemuimu di kantor besok pagi" Aku tidak dapat mendengarnya lagi karena mataku terasa sangat berat.
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 3 pagi, aku bangun dengan wajah dan rambut kusut. Aku mencium bau roti yang enak dan berjalan ke arah toko roti. Ayah dan dua pegawainya sangat terkejut melihatku masuk ke dalam dapur mereka, mungkin mereka pikir aku hantu.
"Mandilah dengan air hangat dan perbaiki penampilanmu!" Suara keras ayah yang memarahiku kembali masuk ke dalam telingaku. Aku merasa sangat bahagia dan memeluk ayah.
Sebelum aku kembali dimarahi, ibu menyeretku ke ruang makan dan menyiapkan berbagai makanan kesukaanku.
"Ini baru jam tiga pagi, Bu" kataku memegang garpu.
"Begitu pulang kau tertidur, pasti perutmu lapar sekali. Makan yang banyak dan Ibu telah menyiapkan air panas di kamar mandi" Aku merasa terharu dengan kebaikan kedua orang tuaku dan merasa gembira.
Tanpa batas, aku makan segalanya yang ada di atas meja makan kecuali peralatan makan. Aku bergerak kembali ke dalam kamar dan membuka koper setelah mencuci piring yang kupakai makan.
Keuntungan dengan tidak adanya bos saat kami ke luar negeri adalah, kebebasan melakukan segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan tugas. Kami sempatkan waktu untuk membeli oleh-oleh di tiga negara yang kami kunjungi.
Semuanya aku keluarkan dan kuletakkan di atas meja makan. Teringat lagi disaat kami pergi kemanapun kami mau, pak Reynand juga tidak ada disana untuk mengawasi kami.
Tumpukan baju yang dibsrikan pak Reynand masih tersisa sangat banyak di ujung kamar. Entah kapan aku bisa menyelesaikan membereskannya. Aku pergi mandi dan menikmati hangatnya air yang menyentuh kulitku.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi ketika aku beristirahat kembali di atas tempat tidur. Akupun bersiap-siap untuk berangkat kerja dan mendatangi apartemen baru pak Reynand untuk ketiga kalinya.
Aku menekan bel dua kali karena tidak ada tanggapan dari dalam apartemen pak Reynand. Apakah dia tidak kembali dari Eropa dan melanjutkan bulan madu mereka disana?
Terdengar langkah kaki dan suara pintu terbuka. Tapi aku tidak menyangka orang lain yang membuka pintu.
"Maafkan bila saya menganggu istirahat Anda, tapi saya tidak mengira pak Reynand akan ... " Belum selesai berbicara, pak Reynand muncul di belakangnya dengan setelan jas rapi. Rupanya mereka tinggal bersama bahkan sebelum resmi menikah.
"Aku sudah memberitahumu kalau aku akan menemuimu di kantor. Untuk apa kau kesini?" Freya terlihat terkejut calon suaminya bisa berkata kasar pada seorang perempuan. Hal inilah yang kuhadapi setiap harinya dan kini aku terbiasa.
"Maafkan saya, Pak" Aku terpaksa turun dari lantai teratas apartemen tanpa bisa berpikir apapun saat ini. Aku menekan perasaanku selama ini dan berakhir merasakan sakit setiap kali bertemu dengannya. Apalagi dengan kehadiran perempuan yang selama ini selalu menjadi alasan penolakannya padaku.
Sebaiknya aku benar-benar menyerah sekarang dan tidak memikirkannya selain sebagai atasan atau bos.
"Kenapa kau datang sendiri?" tanya Ayu ketika melihatku keluar dari lift.
"Pak Reynand akan datang sebentar lagi" Aku memilih duduk di kursiku dan memeriksa kembali agenda pak Reynand.
Tak lama, pak Graham menghubungi karena tuan mudanya baru saja mrninggalkan tempat parkir apartemen. Aku bergegas turun dan pergi menyambutnya. Ternyata perempuan itu mengikutinya sampai ke perusahaan dan menimbulkan keributan luar biasa dengan wartawan.
Seorang pewaris kerajaan properti membawa perempuan cantik yang menempel di lengannya ke perusahaan. Aku melihat mereka dan hatiku terasa aneh, sepertinya aku benar-benar telah melupakannya.
"Selamat pagi, Pak dan Nona Freya" sapaku dan mengantar mereka langsung ke dalam ruangan Presdir. Perempuan itu bergelayut manja dan sesekali mencium bibir pak Reynand dibelakangku.
Ayu berdiri dan membungkuk ketika pak Reynand dan Freya masuk ke dalam ruangan. Aku mengikuti mereka masuk dengan membawa agenda dan menerima sesuatu yang sangat mengejutkan.
Tamparan keras mendarat di pipiku tanpa aku tahu alasannya. Tentu saja aku terkejut melihat orang yang menamparku. Freya memasang wajah kesal dihadapanku dan pak Reynand tidak mengatakan apa-apa berada di belakang calon istrinya.
"Kau selalu menganggu kami berdua. Apakah kau tidak tahu bagaimana bersikap di depan atasanmu?" Kemaraha Freya membuatku tidak mengerti, inilah pekerjaanku dan dia tidak menyukai aku berada di dekat pak Reynand.
"Maafkan saya apabila menganggu kegiatan Anda berdua. Yang saya lakukan hanyalah sebatas pekerjaan dan seandainya Nona Freya keberatan, maka saya akan mengambil jarak yang dibutuhkan" Pipiku terasa sakit dan aku memaksakan diri keluar dari ruangan pria itu.
Ayu menatapku dengan khawatir karena melihat betapa merahnya pipiku. Dia mendengar suara tamparan keras dan teriakan Freya dari dalam ruangan Presdir, tapi tak bisa melakukan apa-pa untuk membantuku.
"Apa kau membutuhkan es untuk pipimu?" Aku menggeleng dan merasa tidak membutuhkan bantuannya.
Betapa marahnya aku menerima kecemburuan Freya tanpa alasan yang jelas. Dan yang lebih membuatku kesal adalah pak Reynand tidak melakukan apapun ketika tunangannya melakukan ini padaku.
Walaupun dia tidak menyukaiku, setidaknya antara sesama manusia dia akan bersikap lebih baik dengan menghalangi tunangannya melakukan itu.
Karena bekas tamparan itu semakin sakit, aku meminta ijin Ayu untuk pergi ke mesin penjual minuman otomatis. Kaleng minuman bersoda ini begitu dingin menyentuh pipiku dan aku merasakan sedikit perih, tapi masih bisa kutahan.
Mulai saat ini, aku harus berhati-hati pada Freya. Orang yang cantik bukan berarti memiliki sifat baik juga, hal ini juga berlaku pada pak Reynand. Saat kembali ke meja kerja, Ayu memberitahuku untuk segera masuk ke dalam ruangan karena pak Reynand memanggil. Aku meletakkan kaleng soda dan membawa agenda sebagai tameng, seandainya aku akan ditampar lagi.