My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 32. Cerita Freya



Menjadi putri dari seorang pembantu rumah tangga di pinggiran kota Paris membuat Freya dan keluarganya tidak pernah bisa memenuhi kebutuhan.


Ayahnya pergi meninggalkan mereka sejak Freya berusia 10 tahun dan membuat ibunya bekerja tidak kenal lelah untuk membiayai kebutuhan rumah mereka. Setidaknya makan 3 x sehari masih bisa Freya nikmati setiap hari. Karena sekolah gratis sampai SMA, Freya berjuang keras menghemat uang makan untuk membantu ibunya.


Disaat itulah Freya bertemu dengan pekerjaan ini. Mungkin bukanlah pekerjaan yang diinginkan Freya selama ini, tapi dengan melakukannya, ibunya tidak perlu bekerja terlalu keras.


Menjadi model dewasa ketika umurnya bahkan belum mencapai 17 tahun mengajarkan banyak hal padanya. Dia banyak mengenal laki-laki hidung belang yang ingin memakainya, tapi dia bertahan.


Pergi ke Universitas kini bukanlah impian saja bagi Freya. Dari uang hasil bekerja, dia mendaftar ke jurusan bisnis di Universitas yang terkenal di Inggris. Tidak banyak yang akan mengenalnya disana dan banyak keuntungan yang bisa didapat ketika berkuliah di Universitas itu.


Di tahun kedua kuliah, sebenarnya Freya hampir menyerah karena tidak memiliki uang lagi untuk meneruskan. Ketika itulah Evan muncul dan menjadi pangeran yang menyelamatkannya.


Mereka jatuh cinta dan Evan tidak membiarkan Freya belerja lagi. Semua pengeluaran rumah dan sekolah, Evan yang menanggungnya. Bahkan ketika ayah Freya yang seorang penipu memiliki banyak hutang judi, Evan menyelesaikan semuanya tanpa mengeluh.


Freya sangat membutuhkan Evan dan bersedia memberikan segalanya termasuk kesuciannya. Hal itu membuat Evan semakin mencintainya dan membuat kehidupan Freya seperti seorang putri raja di Paris.


Lama kelamaan rasa suka Freya pada Evan berkurang karena sikap protektif-nya. Evan membatasi segala kegiatan Freya setelah kuliah dan membuatnya kesal. Ingin menghirup udara segar, Freya menghubungi pihak majalah yang dulu sering menggunakan jasanya.


Freya kembali menjadi model majalah dewasa dan semakin berani menerima ajakan pria lain karena menganggap Evan akan selalu percaya padanya. Semua menjadi berantakan ketika Arman, sahabat Evan memergokinya tidur dengan pria lain. Arman tidak mengatakan apa-apa pada Evan tapi mulai mengikuti langkah yang dibuat Freya.


Semua itu dilakukan Arman untuk melindungi Evan dan tidak ingin membuatnya kecewa. Tapi Freya tidak takut pada Arman, dia semakin melebarkan sayapnya untuk menjadi artis film yang tidak senonoh.


Saat akhirnya Evan mengetahuinya, seluruh usaha keluarganya dihancurkan dalam waktu semalam. Ayahnya dimasukkan ke dalam penjara karena tuduhan penipuan dan ibunya terpaksa menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan.


Freya ketakutan dengan keadaan yang sangat berbeda ini dan mulai memohon pada Evan untuk menerimanya kembali. Ketika Evan melamarnya, Freya terpaksa menerima karena tidak ingin menjadi miskin kembali.


Detik-detik sebelum menikah, Freya bertemu seorang pria yang memiliki kekayaan lebih besar dari Evan. Pria itu berjanji akan melindungi dia dan keluarganya dari ancaman Evan. Akhirnya Freya memutuskan untuk meninggalkan Evan di hari pernikahannya dan pergi ke Italia, tempat pria itu bermukim.


Kekecewaan kembali dirasakannya ketika mengetahui pria itu telah mempunyai istri dan 4 anak. Awalnya Freya tidak keberatan karena dijanjikan menjadi seorang pemeran utama di film yang diproduksi pria itu. Tapi setelah menunggu dua bulan, janji itu tidak pernah terkabul.


Freya kembali merasakan pahitnya menjadi warga miskin di pusat kota Paris dan mencari berbagai cara untuk bertahan hidup. Dia mendengar kedatangan Evan ke Belanda dan memakai semua sisa tabungannya untuk pergi. Tapi pria yang diharapkannya menjadi penyelamat itu telah mencintai perempuan lain dari negara sendiri dan melupakannya.


Freya terpaksa harus pergi dari negara Evan dan kembali ke Paris besok pagi. Evan telah memberikan bantuan pada keluarganya dan menyiapkan pekerjaan yang bisa dilakukan Freya di Paris.


.


.


.


"Berapa umurmu Anna?" tanya Freya tiba-tiba.


"Sebentar lagi 26 tahun" Lebih baik aku menghiburnya agar terhindar dari tamparan yang mengejutkan.


Freya kembali terdiam dan hanya tersenyum mendengar jawabanku. Kini, pukul 10 malam dan aku merasa bingung berada di depan tunangan bosku.


"Kenapa kau belum pulang ketika aku memerintahkanmu?" terdengar suara pak Reynand dari depanku. Sebaiknya sekarang aku pulang dan meninggalkan mereka berdua sendiri.


"Sekarang saya akan pergi" jawabku dan bergerak menjauh dari mereka berdua. Tapi pak Reynand tidak membiarkanku pergi dan memegang tanganku. Sepertinya dia gila karena melakukan semua ini dihadapan calon istrinya.


Freya tertawa melihat kelakuan pak Reynand dan mendekatiku. Karena takut ditampar, aku bergerak mendekati pak Reynand dan berlindung di punggungnya.


"Aku mengerti, aku akan pergi sekarang" kata Freya dengan tertawa. Jadi kata-kata pak Reynand itu ditujukan untuk Freya dan bukan aku. Tapi kenapa dia menyuruh calon istrinya pergi? Bukankah mereka akan menikah tidak lama lagi.


Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku dan Freya melangkah pergi sebelum aku sempat mengerti alasannya. Freya terlihat sangat terpuruk dari belakang dan aku tidak tega membiarkannya pergi begitu saja.


Pak Reynand menahan tubuhku dengan kedua tangannya dan membuatku tidak bisa bergerak. "Diamlah dan jangan terus bergerak" pak Reynand menarik tubuhku dalam pelukannya dan membuatku benar-benar tidak mengerti.


Calon istrinya pergi dengan wajah sedih dan dia memelukku di tengah-tengah tenda pesta di depan banyak pelayan yang bertugas. Aku merasa sangat malu dan bersembunyi di dada kekarnya agar tidak ada seorangpun tahu bahwa orang yang dipeluk tuan muda mereka adalah aku.


.


.


.


Keluar dari rumah keluarga Reynand membuat Freya sadar kalau dia menyia-nyiakan orang yang pernah mencintainya. Seharusnya dia setia pada Evan satu tahun yang lalu dan tidak membiarkan egonya untuk menjadi seorang model terkenal menguasai.


Graham mengantar Freya ke bandara dan tidak mengatakan apa-apa selain memberikan sebuah amplop kepadanya. "Semoga Evan bahagia" ucapnya dengan tulus mendoakan pria yang pernah dicintainya dapat bahagia dengan perempuan pilihannya.


"Semoga Nona bisa bahagia juga dimanapun nona berada" jawab Graham dan menunjukkan tempat masuk pesawat pada Freya. Setelah urusan tentang Freya selesai, tuan muda Evan akan melamar perempuan yang disukainya secepatnya. Graham sangat berharap putri pemilik toko roti yang cantik dan baik itu dapat mengimbangi kekerasan hati yang dimiliki tuan mudanya.


Tapi semua tidak akan berjalan lancar karena tuan mudanya terlalu menyakiti hati nona Hamid. Graham hanya dapat berdoa untuk kelangsungan keluarga Reynand.


Akhirnya Freya pergi meninggalkan Jakarta untuk pulang ke Paris. Ketika membuka amplop yang diserahkan Graham, Freya menangis di dalam pesawat. Di dalam amplop itu terdapat sertifikat kepemilikan apartemen di pusat kota Paris, atas nama dirinya. Evan adalah pria yang baik, batin Freya sambil terus menangis.