
"Kau masih tidak bisa menemukan Anna?" Amarah Evan memuncak dan melempar berkas yang dipegangnya pada Graham. "Seorang asisiten keluarga Reynand, tidak dapat menemukan seorang perempuan?" teriak Evan di tengah-tengah ruangannya. Ayu yang berada di luar ruangannya sangat terkejut dengan kemarahan atasannya.
Sudah berbulan-ulan Evan mencari Anna, bahkan sebelum dia menikah. Setelah mengintai beberapa hari di toko dan rumah keluarga Hamid, Evan yakin Anna tidak ada lagi di kota ini. Saat ayah dan ibu Anna datang ke pernikahannya, Anna tidak tampak mengikuti mereka.
Ketika menanyakan keberadaan Anna pada orang tuanya, mereka menjadi kasar dan kelihatan sekali membenci Evan. Tidak pernah Evan menerima perilaku kasar ini selain ada masalah dengan Anna yang tidak diketahui Evan.
"Apakah kau masih bisa dianggap asisten yang hebat?" Evan berteriak sekali lagi di depan wajah Graham untuk mengeluarkan amarahnya karena kehilangan Anna. Pekerjaannya terbengkalai, tidak ada proyek yang disetujuinya dan keadaan Reynand Property semakin memburuk.
Yang bisa dilakukannya hanyalah datang ke apartemen tempat Anna menyerahkan dirinya dulu dan tidur. Istri yang dinikahinya dua bulan lalu hanya seperti pajangan di rumah ibunya. Evan tidak ingin berbicara atau menyentuh istri barunya.
Graham hanya bisa diam walaupun dia selalu mengikuti perkembangan keadaan Anna. Keputusannya menempatkan dua orang untuk mengikuti Anna selama ini benar. Anna tidak pergi ke luar negeri dan memilih melahirkan di dalam negeri. Jauh dari perkiraan banyak orang.
Graham mengantar tuan mudanya ke apartemen lalu pergi menuju rumah keluarga Reynand. Memberi laporan keadaan tuan mudanya adalah suatu keharusan yng dilakukan Graham sejak dua puluh tahun yang lalu.
Karena khawatir dengan keadaan tuan mudanya, Graham memutuskan tidur di mobil dan berjaga dekat dengan apartemen Evan. Sekitar dua jam setelah menutup mata, Graham menerima laporan dari bawahannya bahwa Anna pergi ke rumah sakit untuk melahirkan.
Graham menyalakan mobil dan pergi ke bandara, dia naik pesawat pertama dari Jakarta dan berniat melihat kelahiran penerus kelaurga Reynand yang pertama. Karena menurut berita yang diterimanya, Anna akan melahirkan anak laki-laki.
.
.
.
Kukira melahirkan itu sangat mudah, tapi rasa sakit ini seperti tidak ada akhirnya dan membuatku menjadi kesal. Kenapa anak ini tidak lahir juga. "Aaaah" teriakku marah.
"Sabar ya bu, sabar" Dokter ini juga terus menyuruhku sabar. Memangnya kau yang merasakan sakit? Rasanya ingin sekali aku menampar mulutnya dan menyuruhnya memberiku obat agar rasa sakit ini menghilang.
Aku mendorong sekali lagi karena suster yang baik hati itu menyuruhku dan rasa sakit itu memuncak. Teriakan panjangku berakhir ketika aku mendengar tangisan yang terdengar lemah. Perlahan tangisan itu bertambah kencang dan aku sadar telah melahirkan anakku.
"Selamat, anaknya laki-laki yang sangat tampan" Rasanya ingin sekali aku memeluk dokter ini ketika dia meletakkan bayi kecil itu di dadaku. Semua jari tangan dan kakinya sempurna, wajahnya tampan dengan rambut yang sangat hitam dan kulitnya putih. Tak terasa aku menangis bahagia memeluk bayi kecil itu.
Aku melihat bayi kecil itu mengeliat dan membuat suara yang sangat lucu. Akhirnya aku bisa melihatmu, anakku. Kita akan hidup di dunia yang keras ini sendiri. Tapi ibu akan sangat menyayangimu sehingga kau tidak akan pernah merasa kekurangan apapun juga.
Langkah pertama ketika aku berada di kamar perawatan adalah menghubungi ayah dan ibu. Mereka merasa sangat senang melihat wajah tampan cucu mereka dan keadaanku yang sehat.
Saat kukira menghubungi kedua orang tuaku adalah hal yang membahagiakan setelah aku melahirkan anakku, datanglah banyak buket bunga yang ditujukan untukku.
"Pak Graham, bagaimana ... " Pak Graham meletakkan boneka besar itu di lantai lalu melihat bayi yang sedang tertidur itu.
"Bayi kecil yang sangat tampan. Anda telah berjuang dengan sekuat tenaga melahirkannya. Selamat" Ucapan pak Graham yang tulus membuatku sangat senang dan tak terasa aku meneteskan air mata.
"Saya menempatkan dua penjaga di dekat nona Hamid. Tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun. Tapi saya tidak akan mungkin membiarkan Nona Hamid dan anak ini sendiri mulai saat ini. Sebaiknya ... " Belum selesai pak Graham berbicara, aku terpaksa memotongnya.
"Anak ini adalah anak saya. Tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Reynand. Seandainya pak Grham ingin menjadi kakek baru anak ini maka saya akan senang sekali. Tapi hanya itu yang bisa saya janjikan. Dia akan dibesarkan sesuai dengan cara yang saya tentukan" Pak Graham mengerti dan mengangguk.
"Saya belum menemukan nama yang cocok untuk anak ini, apakah pak Graham ... eh bukan, kakek Graham punya ide?" Terlihat sedikit senyuman di sudut bibir pak Graham.
"Adam" Aku terkejut dengan nama yang diberikan pak Graham. Sepertinya Adam akan sangat sesuai dengan tampannya wajah anakku.
"Baiklah, namanya adalah Adam. Tapi saya harus mencari nama yang lain" Aku mengeluarkan ponsel dan mencari ide nama anak laki-laki.
"Sudah saya putuskan, namanya adalah Adam Malik Hamid" Pak Graham terkejut dengan pilihan nama itu tapi dia terlihat menyukainya.
"Saya pergi. Saya akan tetap menempatkan orang untuk menjaga nona dan tuan muda kecil disini. Semoga Nona sehat" pamit pak Graham setelah mengambil gambar Adam yang ada di pangkuanku. Kamar ini kembali sepi dan aku melihat Adam. Kau sangat disayangi oleh banyak orang. Tumbuhlah dengan sehat dan jadilah anak kebanggaan ibu.
Tak lama suster masuk dan mengambil Adam dari pelukanku. Bayi kecil itu butuh mandi dan tambahan susu. Kesempatan ini kupakai untuk tidur. Kelelahan selama persalinan dan belajar merawat anak membuatku sangat mengantuk.
.
.
.
"Dari mana saja kau?" Evan kembali marah karrna tidak menemukan Graham dimanapun saat berangkat kerja sampai tengah hari. Untunglah pesawat yang dinaiki Graham tidak terlambat dan dia sampai di perusahaan tanpa membutuhkan banyak waktu.
"Saya ada keperluan keluarga" jawab Graham pada tuan mudanya. Ingin sekali Graham mengucapkan selamat pada tuan mudanya karena menjadi ayah seorang bayi yang sangat lucu dan tampan. Karena janjinya pada Anna-lah yang membungkam mulutnya.
"Aku tidak pernah tahu kau menikah, darimana kau mendapat keluarga? tanya Evan curiga.
"Dialah yang membuat saya menjadi keluarga. Seorang bayi kecil yang sangat lucu" Evan menatap lurus dan kejam pada Graham yang terlihat sangat bahagia. Bagaimana bisa dia bahagia disaat tuan yang dilayani merasa begitu menderita?
Karena kesal, Evan membanting semua yang ada di atas mejanya dan memerintahkan Graham untu keluar.